
"Antar aku ke panti asuhan, Lang. Setelah itu pergilah ke hotel tempatmu menginap. Kita istirahat sampai besok," titah Adrian yang melarikan pandangannya keluar jendela. Cuaca Bandung yang dingin, rintik hujan yang tak berkesudahan membuat syahdu suasana. Namun hal itu tentu tidak berlaku untuk sosok di dalam mobil yanng nampak melamun itu.
"Saya tidak apa-apa jika harus tidur di dalam mobil, Tuan. Barangkali Tuan membutuhkan sesuatu nanti malam. Karena lokasi panti lumayan jauh dari pusat kota," jawab Elang beralasan.
Dia adalah pengawal, meskipun juga merangkap asisten sang majikan. Bagaimana mungkin ia bisa tidur nyenyak di hotel sementara sang majikan malah menginap di panti dengan segala keterbatasan fasilitas.
Sebenarnya, Elang tidak memesan hotel di manapun. Ia masih menunggu keputusan sang majikan apakah benar-benar akan menginap di panti asuhan seperti yang lelaki itu katakan saat masih di Jakarta. Rupanya Adrian tidak main-main dengan ucapannya.
"Tidak usah. Belikan saja beberapa makanan untuk anak-anak disana. Setelah itu tugasmu hari ini selesai."
"Siap, Tuan."
Elang memacu mobilnya menuju panti asuhan. Setelah sang majikan turun, ia segera meluncur membeli bermacam makanan sesuai pesanan Adrian.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ini banyak sekali, Nak?" Bu Fatimah kaget melihat Elang kembali dengan beberapa mobil box yang mengantar pesanan lelaki itu.
"Dari Tuan Adrian, Bu. Untuk anak-anak." Elang nampak menandatangani serah Terima pesanannya mewakili Adrian.
"Terimakasih, Tuhan. Lalu Nak Adrian dimana?" Bu Fatimah melihat kesana kemari mencari sosok Adrian yang tidak terlihat.
"Mungkin Tuan langsung istirahat di kamar Nyonya. Tadi saya hanya mengantarkannya sampai depan. Karena beliau meminta saya memesan semua ini, Bu." Elang ikut membantu pengurus panti memindahkan kotak-kotak itu ke ruang makan.
"Ayo bergabunglah bersama kami. Ajak juga Nak Adrian. Ibu ingat hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. Meskipun tidak ada perayaan, paling tidak kita langitkan doa." Bu Fatimah menunjukkan jalan ke kamar Ara yang ditempati Adrian dan Elang mengikutinya.
Menyusuri beberapa lorong panjang yang nampak terang dan melewati beberapa anak yang nampak hilir mudik, sampailah Elang di sebuah kamar sederhana dengan cat warna hijau tua.
"Tuan, ibu kepala panti mengundang Anda bergabung." Elang menyampaikan undangan bu Fatimah setelah mengetik pintu beberapa kali.
"Pergilah lebih dulu. Nanti aku menyusul," jawab Adrian sambil menghela napas pelan.
"Baik, Tuan."
Sepeninggal Elang, Adrian berjalan menuju kopernya. Mengambil beberapa pakaian ganti juga tidak lupa pakaian hangatnya. Sejak lelaki itu datang kemudian masuk ke dalam kamar, rasanya dia ingin berlama-lama kesana.
Semua yang ada di kamar ini menggambarkan istrinya. Sederhana dan menenangkan. Apalagi sekilas, ia mencium wangi parfum sang istri yang menguar samar. Tapi mana mungkin? Entahlah, mungkin Adrian saja yang sedang berada di puncak rindunya.
Lelaki itu masih memangku pakaiannya dan terpekur di sudut ranjang. Perasaanya mengatakan ia sangat dekat dengan Ara. Hal yang tidak mungkin bukan? Karena bahkan kabarnya saja ia tidak bisa mendapatkannya. Ara bagai hilang ditelan bumi.
Adrian keluar dari kamar beberapa menit kemudian. Menyusuri lorong menuju ruang makan. Saat ia berjalan dalam keheningan, lelaki itu mendengar sesuatu, seperti ada seseorang yang mengikutinya. Namun ketika ia menengok ke belakang, tidak ada apapun disana.
Berjalan beberap langkah lagi, terdengar kembali langkah kaki berjingkat, dan yang pasti bukan miliknya. Kali ini, Adrian benar-benar yakin, jika ia sedang diikuti.
Lelaki itu berhenti mendadak. Hingga seseorang yang mengikutinya sepertinya kaget dan langsung bersembunyi dibalik dinding yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Siapa disana?" teriak Adrian keras. Ia menoleh dan menyipitkan matanya. Samar terlihat seseorang bersembunyi disana. Ujung pakaiannya nampak berkibar, namun orang itu sangat pandai menyembunyikan sosok hingga wajahnya. Motif bunga- bunga yang membuat Adrian yakin, jika sosok di balik dinding itu pasti wanita.
"Keluarlah!" Sama sekali tidak ada pergerakan.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tidak ada jawaban yang terdengar, bahkan sepatah katapun tak keluar. Sosok itu hanya diam dan bertahan disana.
Adrian hampir saja melangkah mendekati, ketika tiba- tiba ia mengingat sedang berada dimana ia sekarang.Lelaki itu meraup wajahnya kasar menyadarkan dirinya sendiri.
Di panti asuhan, hanya berisi anak-anak. Ada sebagian orang dewasa namun mereka bertugas sebagai pengurus. Lalu siapa yang berani mengikutinya? Tidak mungkin para orang dewasa itu bukan? Adrian berpikir positif, mungkin hanya anak-anak yang iseng.
Setelah melapangkan hatinya, lelaki itu berucap, "Apa kau tak ikut makan malam bersama?"
Tidak lama kemudian, Adrian tersenyum miris. Sosok yang dipikirnya seorang anak itu tetap pada pendiriannya, diam dan tidak menunjukkan dirinya. Dia pasti takut dengannya yang sejak awal tidak ramah dalam bertanya.
"Apa kau ingin bersama denganku kesana? Ah tidak, menyusul saja, semua teman-temanmu ada disana." Setelah berucap demikian, Adrian memutar tubuhnya melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Ruang makan begitu ramai malam itu. Semua penghuni panti asuhan berkumpul disana tanpa kecuali. Sorak sorai anak-anak membuat bahagia siapapun yang melihatnya. Mereka tertawa tanpa beban dan saling bercanda dengan teman-teman di dekatnya. Sekilas tidak ada yang menyangka jika nasib mereka tak sebaik teman sebayanya yang lain, memiliki orang tua lengkap dan masa depan yang terjamin.
Adrian masuk kesana tanpa suara. Lelaki itu mengambil duduk di sebelah ibu kepala panti karena dipersilahkan oleh wanita sepuh itu. Kemudian Adrian mengangguk memberi kode untuk melanjutkan, tanpa terganggu kehadirannya.
Tidak ada acara meriah. Karena memang tidak ada perayaan apapun. Setelah sambutan dari ibu kepala panti, Adrian dipersilahkan untuk mengucapkan beberapa pesan dan kesan sebagai donatur tetap hingga saat ini.
Lelaki itu menghela napas panjang. Menetralkan suasana hatinya yang tentu tidak baik-baik saja saat ini. "Saya ... ikhlas untuk semua peristiwa dalam hidup saya. Saya sangat berterima kasih pada panti asuhan ini. Karena telah membesarkan sosok istimewa seperti istri saya, seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan saya. Di ulang tahun pernikahan kami yang ke-tujuh ini, saya hanya memohon keikhlasan kalian mendoakan istri saya. Agar dia selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan dimanapun ia berada. Serta tali jodoh untuk dipertemukan kembali dalam keadaan apapun dan kapanpun, Terima kasih."
Pidato singkat Adrian bagaikan menikam hati setiap orang yang mengetahui cerita rumah tangganya. Mereka diam terpaku dengan mata basah, menatap pilu lelaki tampan yang duduk di kursinya dengan tatapan rindu.
Apalagi ibu panti, hatinya bagaikan tersindir karena wanita sepuh itu memiliki peran penting membantu menyembunyikan Ara.
"Sabar ya, Nak, pasrah pada jalan kehendakNya." Bu Fatimah mengusap lembut punggung Adrian. Sungguh ia tidak tega, namun juga tidak tahu harus berbuat apa. Ara yang keras kepala bertekat untuk tetap pergi dari sang suami.
Lelaki itu mengangguk, "Silahkan diteruskan, Bu. Kasihan anak-anak," ucapnya lirih.
Bu Fatimah memimpin doa bersama dengan khidmat. Kemudian mereka melangsungkan makan bersama.
Suasana sangat ramai namun tertib. Selesai makan, beberapa anak batita yang duduk tiba-tiba menghampiri Adrian dan Elang. Kedua sosok itu memang asing untuk mereka.
Anak-anak yang terbiasa melihat pak Sapto menjadi takjub saat menatap kedua lelaki dari kota itu.
"O ... om," panggil salah satu dari mereka. Kemudian anak-anak itu menghampiri Adrian dan ingin duduk di pangkuannya.
Sebisa mungkin, lelaki itu menampakkan wajah ramahnya pada segerombolan anak kecil yang ada didepanya.
"Biar saya saja, Tuan."
"Apa kau tak menyadari jika dia takut denganmu? Tersenyumlah sedikit, wajahmu menakutkan untuk anak-anak," kelakar Adrian pada asistennya yang akhirnya menampakkan senyum terpaksanya.
"Maaf, Pak. Diiturunkan saja biar saya yang menggendong," ucap bu Sri yang tidak enak, karena ulah para batita itu.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar sama saya saja." Bu Sri akhirnya berbalik dan mengurus anak-anak yang lain.
Disana diujung pintu, ada seorang wanita terisak. Mendengar pidato sang suami yang bahkan uraian kata-katanya hanya berisi doa untuknya, tanpa memikirkan dirinya sendiri, membuat hatinya teremas.
Adrian tiba-tiba berdiri. Lelaki itu menggendong batita yang ada di pangkuannya menuju pintu masuk ruang makan. Pintu yang saat ini dalam keadaan terbuka sedikit itu sempat diperhatikannya dari tadi.
"Mencari apa, Pak?" Suara Sinta yang mendekat mengagetkan lelaki itu.
"Sepertinya aku melihat seseorang melintas diluar." Mata Adrian masih mengawasi keadaan luar.
Sinta terhenyak, "Mungkin hanya angin, Pak." Tidak mungkin ada orang. Semua penghuni panti ada didalam ruangan ini, tidak ada yang ketinggalan satupun?.Sinta meyakinkan dengan ucapannya.
"Kamu yakin?"
Lirikan tajam Adrian mengintimidasi, "Em... sangat yakin
Pak, bahkan pak Sapto ada disini," tunjuknya pada lelaki yang sedang bermain dengan anak-anak itu.
"Tapi aku tadi bertemu seseorang dibelakang. Tak bisa melihat wajahnya karena dia bersembunyi, tapi dia mengikutiku kesini."
Mata Sinta melotot dengan saliva yang terpaksa tertelan. Dia sudah memastikan jika semua penghuni panti ada di dalam ruangan terbesar nomor dua setelah ruang pertemuan itu. Jika ada yang tertinggal itu sudah pasti, Ara.
"Ohh...." Sinta mendadak berkeringat, matanya mengerjap memikirkan sebuah alasan. "Mungkin ada yang sakit Pak. Sehingga kembali lebih dulu. Sebenarnya saya juga kurang tahu, karena satu pengurus bertanggung jawab pada 20 anak. Mungkin bukan adik-adik yang dibawah asuhan saya."
Adrian tidak menjawab. Namun matanya masih mengawasi sekitar.
"Mungkin," sahutnya singkat sambil berlalu melewati Sinta begitu saja, dan duduk kembali di kurainya.
Sinta bernapas lega. Namun dalam hati ia khawatir. Mengapa Ara sampai keluar dari kamar? Jangan-jangan wanita yang ia panggil kakak itu kelaparan. Karena yang ia baca di internet, ibu hamil sering merasa lapar apalagi di usia kehamilannya seperti saat ini.
__ADS_1
"Biar saya periksa Pak. Saya jadi khawatir," ucap Sinta yang sejenak mendekati Adrian untuk pamit kemudian melesat keluar ruangan menembus lorong demi lorong melewati banyak ruangan.
Dan benar saja, ia menemukan Ara yang tengah menyeret kakinya untuk kembali ke kamar paling belakang dekat dengan dapur.
"Kak ... ya ampun Kak Ara," teriaknya sambil mengawasi sekeliling. Sinta takut diikuti oleh Adrian dan pengawalnya yang misterius itu. Karena sedari awal Elang datang, Sinta sama sekali tidak melihat senyum tulus sang pengawal.
Ara menghentikan langkahnya, "Kamu kenapa disini? Sudah balik sana, nanti mas Adrian curiga." Ara kembali melangkahkan kakinya perlahan. Berjalan cukup jauh ke ruang makan, membuatnya lelah.
"Kakak lapar? Aku masih menyisihkan makanan yang dibawa suami kakak tadi. Aku simpan di dapur,"
"Benarkah? Iya aku lapar, Sin," Ara menunduk. "Tapi sebenarnya aku keluar bukan hanya karena itu. Semua karena dia," Wanita itu menunjuk perutnya kemudian mengusap lembut bagian yang nampak bergerak menonjol.
Sinta takjub, kemudian tanpa sadar tangannya terulur ikut membelai perut Ara. "Bisa begini ya Kak, dia bergerak!" pekik Sinta yang kemudian membungkam mulutnya sendiri ketika mengingat suaranya terlalu kencang.
"Begini terus sedari pagi. Sinyalnya benar-benar kuat terhubung dengan ayahnya." Ara menghela napas panjang. Kadang-kadang terasa sakit jika calon anaknya itu mendorong tepat diulu hati, dan terdiam disana tanpa mau berputar lagi.
"Dia pasti sangat rindu, Kak. Belum sekalipun ayahnya membelainya," ucap Sinta tanpa sadar.
Ara menangkup tangan Sinta yang bergerak lembut di perutnya. "Kamu kembali saja, nanti mereka mencarimu. Jangan cemas, aku bisa sendiri."
Ara terpaksa mendorong Sinta untuk kembali karena wanita itu takut dicurigai. Meski jarak ke kamar yang ia tempati saat ini lumayan jauh, tapi tidak mengapa, hitung-hitung olahraga malam.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sin, mas Adrian sudah bangun?"
"Aku tidak tahu, Kak."
"Sudah bangun belum ya? Aku ingin membuatkannya nasi goreng."
"Duduklah, Ra. Nanti pasti ada yang memberitahu jika pak Adrian mau sarapan. Kamu sudah mengulang pertanyaanmu berkali-kali pada ibu tadi. "
"Maaf bu, aku__"
"Bu Sli, pak Adlian sudah bangun. Kata ibu kepala, bu Sli disuluh mengambilkan salapan." Tiba-tiba seorang gadis kecil yang masih cadel masuk kedapur memberitahu.
"Iya sayang," jawab bu Sri Pada anak kecil yang berlari pergi setelah menyampaikannya.
Hanya butuh waktu sebentar Ara memasaknya. Ia begitu antusias setelah sekian lama tidak membuatkan sesuatu untuk suaminya itu.
"Sin, tolong ya antar ke suamiku." Ara menata sepiring nasi goreng dengan telor ceplok dan segelas air hangat.
"Kak, kok cuma air putih. Kan ada teh, kopi atau susu,?" Sinta heran dengan Ara, padahal Adrian termasuk tamu penting di sini meski lelaki itu tidak mau dianggap demikian. Tapi rasanya tidak elok hanya menyuguhkan minuman tanpa warna dan juga tanpa rasa itu.
"Dia jarang minum kopi ataupun teh.
Mas Adrian lebih menyukai air putih hangat jika sarapan paginya makanan berat dan berlemak." kebiasaan Adrian tentu masih terekam jelas di otaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Siapa yang menyuruhmu mengantarnya kemari?"
"Ka- emm maksud saya ibu kepala, Pak." Hampir saja Sinta keceplosan. Ia ingin segera menghilang dari hadapan lelaki itu setelah meletakkan nampan yang ia bawa diatas nakas. Karena pasti akan banyak pertanyaan yang sudah pasti susah untuk dijawab gadis berperawakan kurus itu.
Adrian menatap nampan itu sekilas. Sepiring nasi goreng dan juga segelas air putih. Tanpa sadar tangan lelaki itu terulur menyentuh gelas. Hangat.
"Siapa yang memasak makanan di dapur?" Adrian berjalan cepat keluar kamar untuk menghentikan Sinta.
"Emmm. .. bu Sri pak,dan dibantu kami para pengurus. banyak orang," jawab Sinta. Ia sudah menduga lelaki itu pasti curiga.
"Air putih ini?"
__ADS_1
❤️makasih readers, semoga berkenan. thank you so much for like and comment❤️