
Hari ini seperti biasanya, Adrian pergi ke kantor dan Ara di rumah tidak ada kegiatan berarti. Hanya saja, pagi tadi Elang mengabarkan jika Dani telah mendapatkan visa untuk melanjutkan sekolahnya di Swiss.
Ya, anak lelaki Adrian memilih negara itu sebagai tujuannya. Bahkan ide sang ayah untuk mengirimnya ke Jepang sama seperti dirinya dulu, ditolak mentah-mentah oleh anak itu.
Seharian ini, pikiran Adrian bercabang kemana-mana. Memikirkan tentang hari dimana sang anak harus segera berangkat ke luar negeri, Akio dan juga permasalahannya dengan sang tante, Laila.
"Sudah kau kirimkan visa itu padanya?" tanya Adrian pada lelaki yang berdiri disebelahnya itu.
"Sudah Tuan," jawab Elang yang masih konsentrasi dengan berkas-berkas yang ada ditangannya.
"Apa reaksinya?" Adrian penasaran dengan tanggapan Dani, namun ia malah menyuruh Elang yang mengantarkan segala kelengkapan surat-surat itu pada sang anak.
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Muda senang sekali," jawab Elang hati-hati. Namun tak urung, ucapannya malah membuat sang majikan menghentikan tangannya yang menggenggam pena yang berada di atas tumpukan berkas itu.
"Menurutmu atau kelihatannya seperti itu?" Mendongakkan kepalanya, Adrian melempar kembali pertanyaan ambigu.
"Tuan Muda tersenyum saat menerimanya, Tuan."
Adrian meneruskan kembali pekerjaannya. Berpura-pura tidak mendengar, ataupun menanggapi ucapan Elang.
"Siapkan data yang aku minta kemarin, siang ini kita ke kantor polisi," titah Adrian. Ia ingin segera melaporkan pemilik Rumah Sakit Victoria yang telah dengan berani membantu tantenya dalam menipunya.
"Baik, Tuan."
Adrian termenung, sepeninggal sang asisten yang keluar dari ruangannya. Jemarinya memutar-mutar ponsel yang ada dalam genggamannya. Saat ini, ingin sekali ia menghubungi sang bibi yang pasti sudah harap-harap cemas mempersiapkan operasi sepupunya.
Namun tentu saja, lelaki itu mengurungkan niatnya. Dirinya saja melarang sang istri menghubungi mereka, apa ia akan melanggar ucapannya sendiri? Karena ia mengatakan pada sang istri untuk menunggu saja kabar dari Jepang. Bukan maksud apapun, hal itu juga sebagai toleransi memberi kesempatan untuk kebersamaan mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sekembalinya dari kantor polisi, Adrian tidak ingin segera pulang. Namun ia hanya melamun tanpa menyampaikan sepatah katapun pada sang asisten yang ada di depan. Pikirannya masih berkecamuk memikirkan tentang Akio. Jika menilik waktu dimana Tokyo 2 jam lebih awal dari Jakarta, seharusnya tepat saat inilah operasi dimulai.
"Jangan ke rumah, Lang," titah Adrian tiba-tiba yang membuat Elang segera menghentikan laju mobil yang ia kemudikan. Bagaimana tidak, mereka sudah setengah perjalanan lebih hampir sampai ke rumah.
Elang juga ikut diam, menunggu titah selanjutnya dari sang majikan yang nampak masih bingung hendak kemana.
"Putar balik ke apartemen saja." Akhirnya ia memutuskan untuk menemui sang anak, yang sebentar lagi akan pergi jauh meninggalkan dirinya.
Padahal Dani hanya pergi untuk menuntut ilmu, namun rasanya seperti pergi jauh yang tak tahu kapan kembalinya. Mungkin ini hanya efek dirinya saja yang tidak pernah jauh dari anaknya. Sekilas, bayangan masa kecil Dani dimana ia merawatnya sendirian saat Andina meninggalkannya begitu saja melintas di benaknya. Meski hubungan ayah dan anak itu tidak seperti selayaknya, namun cinta seorang ayah pada buah hatinya tidak pernah berubah.
Sampai di basement apartemen, Adrian sempat mengatur ponselnya dengan nada diam. Ia benar-benar ingin berbicara dari hati ke hati dengan sang anak tanpa ada gangguan. Bukan untuk melarangnya pergi, namun hanya ingin menyampaikan apa yang seharusnya seorang ayah sampaikan kepada anaknya yang akan pergi jauh untuk menuntut ilmu. Hanya itu saja.
Begitu keluar dari mobil, lelaki itu segera melangkahkan kakinya menuju lift. Kemudian naik ke lantai teratas apartemen miliknya itu.
Ting!
Suara lift yang menandakan ia sampai di lantai apartemen yang ia tuju, terdengar. Langkah kakinya terasa ringan, sejenak Adrian menyunggingkam senyum samarnya. Namun tiba-tiba langkah itu melambat seiring bayangan tentang Ara menyelinap dibenaknya.
"Aku selalu bahagia saat mengingatmu. Kau wanita baik, Ra. Namun mengapa menyandingkan dirimu dengan anakku benar-benar membutuhkan perjuangan," gumam Adrian lirih.
"Dad," panggilan Dani mengagetkan Adrian yang menyandarkan tubuhnya di dinding dekat kaca jendela, dimana dari posisi itu kita bisa melihat pemandangan luar yang nampak kecil dan menakjubkan.
Bahkan lelaki itu tidak mendengar sang anak membuka pintu kamar apartemennya tadi. Karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kau dari dalam?" tanya Adrian, gestur tubuhnya menunjuk pintu kamar apartemen miliknya.
"Ck ... Daddy memikirkan apa? Aku dari luar, bahkan Daddy tidak mengetahui kedatanganku?" jawab Dani kesal. Sang ayah tidak kelihatan melamun saat ia datang tadi, namun ternyata lelaki itu tidak melihatnya.
Adrian hanya tersenyum masam. Ia memang tidak mendengar apapun tadi, jadi jika disalahkan ia memang salah. Namun bukan Adrian namanya jika ia tidak bisa berkelit.
__ADS_1
"Ayo masuk. Apa kau tidak kangen dengan daddy? Bahkan sama sekali kau tidak pulang ke rumah beberapa bulan ini." Ayah dan anak itu berjalan bersama. Kemudian setelah Dani berhasil membuka pintu, Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu apartemennya itu.
"Daddy yang tidak kangen denganku. Karena sibuk!" jawab Dani ketus. Anak lelaki itu beranjak menuju dapur untuk mengambilkan sang ayah minuman dingin dalam gelas.
Adrian tersenyum samar menanggapi protes anak lelakinya itu. "Kau sudah siap, Dan?"
"Siap apa, Dad? Aku sudah memperdalam bahasa Inggrisku, yang lainnya Daddy yang menyiapkannya bukan?" jawab Dani seraya menyerahkan air dalam gelas yang ia bawa.
"Siap jauh dari Daddy? Selama ini kau tak pernah kemana-mana," Adrian menenggak habis minuman yang ia terima. Rasanya sangat segar, sedikit mendinginkan otaknya yang bekerja keras hari ini.
"Aku bukan anak kecil, Dad. Lihatlah, aku sudah 16 tahun. Daddy seperti mau melepas anak lima tahun saja." Dani berucap malas. Lagi-lagi ayahnya itu seperti omanya saja. Yang selalu khawatir tiap Dani ada kegiatan sekolah, yang mengharuskan dirinya menginap apalagi jauh dari rumah.
"Bagi daddy, kau tetap jagoan kecil daddy." Adrian mengacak rambut Dani yang ikut menyandarkan tubuhnya pada sofa disebelahnya.
"I'm okay, Dad. Bukankah kita seperti kembar yang beda usia? Semasa hidupnya oma selalu mengatakan begitu bukan. Apa yang menjadi pikiranku, aku yakin Daddy juga menganggapnya sama."
Memang benar yang diucapkan Dani. Selain wajah mereka yang sama-sama tampan. Sifat mereka juga sebelas duabelas alias tidak beda jauh.
"Lebih keras kepala kamu, daripada daddy."
Dani sampai menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Daddy mengataiku?"
Adrian meraup wajah anaknya, kemudian sang anak yang tidak terima membalas memukul ringan dada sang ayah. Begitulah seterusnya, mereka saling membalas hingga pada akhirnya keduanya tertawa terbahak-bahak menyadari tingkah konyol mereka.
"Kau bahagia, Dan?" tanya Adrian begitu tawa mereka reda.
"Aku selalu bahagia, Dad. Tapi lebih bahagia jika kita tetap seperti dahulu," ucapan Dani membuat sang ayah menatap heran. Tanpa bertanya lebih lanjut, Dani tahu jika sang ayah mempertanyakan makna ucapannya.
"Hanya ada aku, Daddy dan oma. Meski kini, oma sudah tidak ada bersama kita," ucap Dani menerawang jauh.
__ADS_1
Waktu seakan berhenti. Secara tidak langsung, Dani mengatakan ia tidak bisa menerima kehadiran Ara bersama mereka. Adrian tahu itu, dan terlebih kejadian kehilangan sang oma membuat anak itu semakin membenci ibu sambungnya.
Namun, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia berada dalam persimpangan dimana ia tidak bisa memilih salah satunya. Keduanya sudah seperti nyawa dalam hidupnya. Haruskah ia memilih?