Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 239


__ADS_3

Mobil yang membawa mereka bertiga memasuki halaman rumah Ara. Ketiganya nampak tertawa riang saat turun, bahkan Merra berada dalam gendongan Ori. Keduanya terlihat seperti seorang ayah dan anak perempuannya.


"Sayang ... turun. Kamu sudah besar, kasihan Om Ori." Ara mengerjap khawatir, bagaimanapun postur tubuh putrinya itu melebihi teman- teman sebayanya.


"Tidak apa-apa, aku masih kuat. Tapi benar kata kamu. Aku hanya beberapa minggu tidak bertemu dengannya, tapi kurasa dia cepat sekali pertumbuhannya. Tinggi juga ya." Ori menoleh, menatap gadis kecil yang berada dalam gendongannya itu dari atas ke bawah.


"Kamu juga lama tidak kesini Sin, kemarin pun saat aku ke panti kau tidak ada," sapa Ara pada sahabat yang ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


"Maaf, Kak. Pesanan banyak sekali. Aku harus kesana kemari mengantarnya," Sinta merasa bersalah, dia yang awalnya sudah berjanji untuk ikut membantu menjaga Merra malah repot dengan kesibukannya sendiri. "Demi masa depan." Gadis berperawakan kurus itu menaikturunkan alisnya dengan senyum menggoda.


"Iya, percaya. Ayo masuk, minum dulu baru boleh pulang," ajak Ara pada mereka berdua.


"Kenalkan.Ini mamiku, Ri," ucap Ara saat Esther keluar menghidangkan minuman untuk mereka.


"Mami? Oh .. salam kenal Tante, saya Oryza." Selepas menurunkan Merra, Ori mengulurkan tangan menjabat tangan Esther.


"Salam kenal juga. Ayo silahkan diminum." Esther mempersilahkan tamu Ara.


"Main kemana saja kalian tadi? Sampai malam begini."


"Kita berdua baru saja menghabiskan uang Dokter Ori, Kak. Ups!" Sinta membungkam mulutnya.


"Apa? Merra?"


"Bukan, Ma. Merra tidak tahu apa-apa. Merra cuma main di time*one, makan dan dibeliin barbie sama Om ori." Merra tertawa sumbang. Ia sudah tahu jika sang ibu akan marah mendengarnya.


"Sudah ... Sudah. Tidak apa-apa, Ra. Tidak setiap hari ini. Tenang saja," ucap Ori menganggap bahwa yang ia lakukan bukanlah hal yang besar.


"Tapi ... Merra! lain kali jangan seperti ini ya,"


"Aku yang mengajaknya. Jangan salahkan Merra."


"Kau selalu membelanya."


"Dia sudah seperti anakku, Ra. Apa aku salah jika ingin memberinya sesuatu?"


"Bukan begitu." Mendadak kenangan saat Ori mengumandangkan adzan untuk Merra membayangi. Hemm?bersamaan dengan ucapan bu Fatimah dan juga mami. "Tidak ... Tidak." ia tidak akan membuat lelaki itu salah paham.


"Kenapa?" Dahi kiri Ori mengkerut mendengar Ara yang berbicara aneh.


"Tidak apa-apa, kalian teruskan aku siapkan makan malam dulu, Merra mandi dulu sama oma ya, Sayang," pamit Ara meninggalkan tamunya dan menyuruh putrinya untuk membersihkan diri.


"Aku bantu ya Kak," Ara mengangguk dan mengajak Sinta ke ruang makan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sehari sebelumnya,

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya seorang lelaki pada Oryza.


"Entahlah. Tapi aku tidak salah kan jika mencoba peruntunganku?"


"Tidak. Tapi aku yang merasa bersalah." Lelaki itu menghembuskan asap rokoknya jauh, membuat Oryza terbatuk -batuk hanya karena tanpa sengaja menghirupnya.


"Sejak kapan kau merokok?" Oryza langsung merampas rokok ditangan kakak sepupunya itu. Kemudian membuangnya begitu saja.


"Hei!" ucap lelaki itu karena tangannya kalah cepat dengan Ori. "Baru saja dua isapan, kau asal buang saja. Jangan karena kau dokter, kau ikut posesif padaku," hardik lelaki itu.


"Bukan karena aku dokter, tapi karena kau kakakku. Apa kau bosan hidup? Sini aku suntik mati sekalian," sarkas Oryza yang membuat kakak sepupunya itu mati kutu.


Lelaki itu berdecak kesal pada ori. Hanya hembusan napas kasar lelaki itu yang berikutnya terdengar. "Kembali ke topik, apa kau mulai menyukainya?"


Ori mengambil duduk lebih dulu setelah mereka berdiri cukup lama di dekat jendela kaca rumah kakak sepupunya.


"Entahlah, Kak. Aku hanya merasa nyaman dengannya. Aku sudah menganggap anaknya seperti anakku. Rasanya aku rindu jika berjauhan dengan mereka," ungkap Ori jujur.


"Apa mungkin kau hanya terbiasa dengannya?" tebak lelaki itu.


"Mungkin. Tapi aku serius dengan niatku tadi." Oryza menatap kakak sepupunya yang meragukannya.


"Baiklah. Aku hanya peringatkan! Jika kau hanya ingin main-main dengannya, lebih baik urungkan. Cari wanita lain saja! Karena kau akan berhadapan denganku. Tapi jika kau serius aku juga tidak bisa mendukungmu. Kau tahu niatku padanya dari awal bukan? Aku akan tetap pada pendirianku," ucap lelaki itu.


"Iya Kak, aku tahu. Aku akan menjaganya," ucap Ori yakin, meskipun ia mendapat tatapan tajam kakak sepupunya itu.


"Isshhh ... Kau perhitungan sekali! Anggap saja kau sedang bersedekah pada anak yatim selama ini. Tapi tidak apa-apa juga kalau kau mau menghentikannya. Gajiku sudah lebih dari cukup sebagai dokter," ucap Ori membanggakan diri.


"Ohh, aku lupa kalau kau seorang dokter sekarang! Padahal dulu siapa yang selalu menghubungiku meminta uang jajan saat masih kuliah," ucap lelaki itu menyindir adik sepupunya yang sangat dekat dengannya itu.


"Ah ... kau masih ingat saja. Itu kewajibanmu sebagai kakak dan pengusaha sukses," ucap Ori mengejek.


Lelaki itu menjitak dahi Ori sambil bersiap pergi.


"Aku sudah dewasa, Kak. Jangan menjitakku sembarangan. Aku merasa seperti remaja bandel saja, jika seperti ini." Dokter tampan itu mengusap dahinya pelan.


"Jangan lupa! Jangan pernah memaksanya jika ia tidak mau."


"Yaaa...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Usahamu mulai rame, Sin?" ucap Ara di sela-sela mereka menyiapkan makan malam saat itu.


"Iya, Kak. Syukurlah. Sungguh aku juga tak menyangka, aku sudah tidak sabar untuk masuk bangku kuliah, Kak." Mata Sinta sampai berbinar membayangkannya.


"Kamu berhak mendapatkannya, Sin. Kamu sudah berusaha sangat keras saat ini," puji Ara pada gadis panti asuhan yang dekat dengannya itu.

__ADS_1


"Iya, Kak. Semua ini karena semangat dari bu Fatimah dan juga kalian semua." Sinta memeluk Ara dari belakang tiba-tiba, membuat sang empunya kaget. "Terima kasih, kau bahkan sudah kuanggap seperti kakakku," ungkap Sinta tulus.


Ara membalasnya dengan menyentuh lengan gadis itu. "Buat bangga keluargamu, ya. Juga aku," pesan Ara yang mendapat anggukan dari gadis kurus itu meskipun Ara tidak melihatnya.


"Siapp, Kak!" Sinta menirukan gerakan anggota militer yang memberi hormat pada atasannya, membuat Ara tak bisa menahan tawanya.


"Aku ke toilet sebentar, Kak," teriak sinta dengan tergesa. Sepertinya sudah tidak tahan dengan urusannya yang satu itu.


Sepeninggal Sinta, tiba-tiba Ori muncul disana.


"Sebentar lagi siap. Apa kau sudah sangat lapar? Tidak biasanya kau datang sebelum dipersilahkan," sapa Ara yang kaget melihat Ori menyusul kesana sendirian.


Dokter tampan itu mengusap perutnya kemudian tengkuknya dengan bingung. Padahal ia sengaja menyusul Ara karena suatu hal. Ia langsung beraksi melihat Ara seorang diri di ruangan itu.


"Emm ... Ra, aku mau bicara sesuatu," ucap Ori bimbang. Ia belum pernah mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita selama ini. Karena ia selalu digilai gadis-gadis di kampusnya, hingga merekalah yang kebanyakan lebih dulu mengucap perasaannya.


"Bicaralah, aku mendengarnya," jawab Ara yang masih menggerakkan tangannya, menghidangkan beberapa masakan lagi untuk makan malam mereka.


"Aku ... maaf jika aku terlalu cepat. Maukah kau menikah denganku?"


tanya Ori tanpa basa basi. Karena menurutnya yang ia hadapi adalah sosok wanita dewasa. Tidak mungkin dia akan meminta Ara menjadi kekasihnya. Maka dari itu dia membuat keputusan besar dengan langsung memintanya menjadi istrinya.


"Kau bicara apa, Ri?" Ara berusaha menetralkan kecanggungannya. Setelah cukup lama terdiam karena bingung akan menjawab apa.


"Aku serius. Aku bukan sosok yang romantis, Ra. Jujur aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Tapi aku sangat merindukan kalian berdua jika kita berjauhan." Ori melirik Ara yang terdiam mematung.


"Tidak harus dijawab sekarang. Pikirkan saja dahulu. Dan aku berjanji akan menerima apapun keputusanmu," ucap Ori bijak. Ia ingat pesan kakak sepupunya untuk tidak memaksakan keinginannya. Karena kakak sepupu Ori tahu bagaimana hubungan Ara sebelumnya.


"Maafkan aku. Aku ... hanya seorang janda. Masih banyak gadis lain yang lebih pantas mendapatkan perhatianmu," jawab Ara memberikan alasan.


"Aku nyaman denganmu, bukan yang lain. Bertahun-tahun aku memikirkannya, namun nyatanya, aku memang tak bisa menyukai yang lain," Ori jujur tentang perasaannya.


Brakk!


Kedua orang berbeda jenis itu menoleh bersamaan. Mencari arah datangnya suara dari sesuatu yang jatuh, entah karena apa.


Ara bergegas keluar dari ruangan itu. k


Kemudian ia melihat sebuah buku bacaan yang biasanya di atas meja yang tebalnya lumayan kini berada di lantai. Apa mungkin angin sekeras itu menjatuhkannya?


Wanita itu hanya mengambil dan mengembalikan buku itu pada tempatnya.


"Ada apa?"


"Hanya buku milikku yang terjatuh. Panggil mereka semua untuk makan Ri," pinta Ara pada lelaki di depannya itu.


Sungguh ia tidak ingin menjawabnya, baik sekarang ataupun nanti. Karena hatinya masih menjadi milik seorang Adrian. Sampai kapanpun.

__ADS_1


🙈readers maafkan aku ya🙏akhir-akhir ini jam istirahatku kacau. jadi jadwal update ikut kacau. inshaallah nanti update pertama belum editan. baru nanti aku perbaiki lagu. bisanya seperti itu. maafkan daku😞


__ADS_2