
"Hah.... Kau siapa? Lepaskan!"
Empat orang lelaki berpakaian hitam-hitam menarik paksa Andina di jalanan sepi menuju rumah Abe. Wanita itu baru saja keluar dari mini market terdekat.
Padahal, Andina sudah mengenakan masker, rambut palsu dan juga kacamata hitam saat keluar rumah tadi. Menyempurnakan penyamaran, ia yang biasanya full make up rela tampil polos tanpa polesan bedak sama sekali. Sudah bisa dibayangkan bagaimana wajah cantiknya menjadi sangat berbeda akibat alis bak bulan sabit yang ternyata hanya palsu.
Anak buah Adrian sudah beberapa hari ini mengintai rumah dan pergerakan wanita mantan istri sang bos itu. Namun, baru hari ini Andina keluar dari rumah kecil minimalis yang ia tempati setelah berita tentang Adrian mencuat ke publik.
Tanpa banyak bicara, para lelaki berpakaian hitam itu memasukkan Andina kedalam mobil, mengikat tangannya dan juga menyumpal mulutnya yang tak henti bicara kasar pada orang-orang yang menangkapnya.
"Beres! Kita bawa ke gudang dulu. Bagaimana target satunya?"
"Aku belum melihatnya pulang, sepertinya dia keluar kota. Kita selesaikan saja wanita ini dulu," ucap Black yang kemudian masuk ke dalam mobil diikuti yang lain.
Disebuah gudang tua,
Brakk!
Pintu ditendang oleh salah satu dari mereka. Aroma pengap dan kotoran tikus langsung menguar begitu pintu terbuka. Lantai yang begitu kotor dan banyaknya rumah laba-laba dimana-mana menambah kesan seram bangunan yang sudah lama tidak terurus itu.
Gudang ini memang lama sekali tidak terpakai, karena memang bukan merupakan markas atau tempat sebenarnya mereka menawan seseorang. Hanya orang-orang tertentu yang dibawa kesini. Dan Andina, mungkin menjadi satu dari orang spesial itu.
Ada satu kursi yang berdiri kokoh disana. Terbuat dari besi dengan rantai yang mengikat empat kakinya. Sudah bisa dibayangkan, jika seseorang disekap disana, bisa dipastikan ia tidak bisa kemana-mana.
"Bawa dia keluar!" titah Black pada yang lain. Lelaki berkulit gelap itu beranjak menyalakan satu-satunya lampu yang menjadi penerangan di ruangan itu.
Dug,, dug, Andina menendang-nendang para lelaki yang membawa ia keluar dari mobil. Karena geram, salah satu dari mereka yang awalnya cuma mencengkeram lengannya, menjadi mengangkat wanita itu dengan mengunci tangannya. Dan temannya yang lain mengunci kakinya. Jadilah Andina tidak dapat bergerak dan berteriak tidak jelas akibat mulut yang ditutup oleh lakban. Serta merta mereka mengangkat wanita itu dan berjalan cepat masuk ke dalam gudang.
"Dia berulah, Black,"
__ADS_1
Dengan senyum smirk, Black hanya diam melihat wanita mantan istri majikannya itu di dudukkan di kursi yang ada ditengah ruangan. Kemudian, kedua pergelangan tangan dan kakinya dipasang gelang rantai guna membatasi geraknya.
"Emmmm...emmmmm," teriak Andina yang terdengar tidak jelas.
"Lepaskan..Lex," titah Black pada temannya yang bernama Alex untuk melepas lakban yang menutup mulut wanita itu.
"Kau...Siapa kalian ini? Berani-beraninya menangkapku. Akan ku laporkan kalian ke kantor polisi," teriak Andina dengan berani. Wanita yang baru dibuka penutup mulutnya itu bahkan mengumpat Black dan kawanannya lagi.
"Kau tidak mengenalku Nyonya?" lelaki berkulit gelap dan nampak lebih klimis daripada biasanya ini bahkan membuat Andina tidak mengenalinya.
Black melepas kacamata dan juga masker yang menutup mulutnya. Sejenak kemudian membuat Andina menganga, Black sudah menebak, apa kira-kira yang ada dipikiran wanita itu.
"Kamu? Bukankah kamu?" Andina tercekat salivanya sendiri. Wanita itu mengurai kesadaran akan apa yang dilihatnya. Kemudian keberaniannya memudar seiring otaknya yang langsung menampilkan wajah sang mantan suami. Berarti?
"Sudah mengingatnya, Nyonya?" senyum penuh ejekan dilayangkan Black pada sang mantan nyonya yang dulu selalu menganggap remeh pekerjaannya.
"Kalian disu_,"
"Apa-apan ini? Kenapa Adrian menyekapku? Aku tidak melakukan apapun padanya." Andina menggerak-gerakkan kakinya. Namun tentu saja ia bagai melawan angin. Karena tubuh dan tangannya yang terantai pada kursi besi yang ia duduki kini.
Black dan teman-temannya hanya tertawa melihat tingkah konyol wanita itu. Marena sekuat apa ia melawan, ia tidak akan pernah bisa lepas dari sana tanpa izin sang majikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Duhhh... kenapa Andin tidak mengangkat telpon ku ya," gumam Abe yang baru saja turun di terminal setelah perjalanan panjang 8 jam. Lelaki kemayu itu baru saja pulang dari kota di ujung timur karena pekerjaan barunya.
Mengeluh panas, gerah dan bau terminal yang membuatnya mual. Lelaki itu entah berbicara dengan siapa, karena ia sendiri sejak tadi. Belum lagi mulutnya yang tak henti mengomel layaknya ia sedang memarahi seseorang. Sahabat Andina yang berprofesi sebagai MUA itu bahkan sampai menarik dan menghembuskan napasnya berulang-ulang karena kesal.
Panitia yang mengundangnya membatalkan memberikan biaya transport untuk naik pesawat karena kenaikan harga tiket yang melonjak tinggi. Sebagai gantinya, adalah bus eksekutif antar propinsi dengan fasilitas yang standart. Ia yang biasa kemana-mana naik mobil pribadi kini harus menelan pil pahit karena memang pekerjaan yang ia dapatkan tidak sebanyak dahulu. Tentu saja akibat banyak saingan dan pendatang baru.
__ADS_1
"Aduhhh... Dia kemana sih?" dengan gemas Abe memencet ponsel layar datarnya dengan tenaga dalam. Akibat panggilannya yang kesekian dan sama sekali tidak diangkat oleh sahabatnya itu.
Ia yang tadinya duduk di ruang tunggu terminal akhirnya beranjak keluar. Sambil berjalan, ia membuka aplikasi taxi online tanpa memperhatikan sekitar.
Ada seseorang yang dari tadi mengawasinya. Seorang lelaki yang begitu melihat Abe langsung menghubungi seseorang untuk memastikan. Kemudian lelaki berpakaian serba hitam itu berjalan biasa layaknya para penumpang lain mengikuti langkah kaki Abe.
Ditempat yang agak jauh dari terminal, Abe tampak berhenti. Kemudian ada sebuah mobil dari arah berlawanan berhenti tepat didepannya.
Tanpa menaruh curiga karena ia juga memesan tadi, Abe langsung melangkah mendekati pintu mobil yang terbuka.
Tepat saat mata Abe melihat ada beberapa orang didalam mobil yang membuatnya curiga dan ingin berbalik, dari arah belakang lelaki berpakaian hitam yang mengikutinya memukul tengkuk belakang lelaki kemayu itu.
Brukk!!
Suara keras dari ambruknya tubuh Abe untungnya tidak menarik perhatisn orang sekitar. Dua orang yang berada didalam mobil segera menarik masuk tubuh lemas yang tidak sadarkan diri itu. Sedangkan lelaki yang memukulnya mengangkat kaki Abe untuk membantu sang kawan.
Beberapa menit setelah mobil berjalan, terjadilah keributan di dalam mobil. Karena dua orang yang duduk di tengah masing-masing tidak mau sebangku dengan lelaki kemayu itu.
"Kalian kenapa? Sudah jangan bertengkar.. Hanya sebentar saja kalian berdekatan dengan dia," ucap Black mendamaikan kedua orang temannya itu.
"Hiiii... Aku masih normal, Black!" bentak seseorang bernama Alex di belakang.
"Siapa bilang kamu tidak normal. Ini tugas Negara," Black menggesekkan jari telunjuknya di lehernya sendiri. "Apa kalian memilih ini?"
"Tidak-tidak," teriak mereka. "Tapi ia aneh sekali Black. Lihatlah kenapa ia menggunakan pemerah bibir tebal sekali,.. Pikiranku kemana-mana, " ucap Alex yang risau dengan nasibnya. Ia sudah membayangkan bagaimana jika lelaki itu bangun dan langsung menghimpitnya.
"Ya sudah letakkan di belakang saja. Sebentar aku menepi," ucap lelaki yang dibelakang kemudi.
Mobil berhenti di tepi jalanan yang sepi. Kemudian kedua orang yang berada ditengah dengan gerakan cepat mengangkat Abe dan meletakkan lelaki kemayu itu dibelakang.
__ADS_1
"Beres.. ayo kita berangkat,"