
"Ya."
"Selamat malam, Tuan. Posisi Tuan Muda sejak pagi hingga saat ini, berada di TK Tunas bangsa. Ada kegiatan yang beliau ikuti disana."
"Bukankah itu?"
"Iya, Tuan. Yayasan Tunas Bangsa merupakan anak dari yayasan sosial milik Nyonya Besar." Elang melaporkan dengan rinci tugasnya.
"Dengan anak TK?"
"Ya, Tuan. Anak- anak TK." Elang memperjelas laporannya.
Setelahnya, Adrian menutup panggilan dari asistennya itu . Dia masih heran mengapa anaknya ada disana. Apalagi TK. Apa Dani mau mengajar mereka?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jam berapa Dani sampai rumah, Bi?" Adrian baru saja turun dari kamarnya, namun ia telah rapi meskipun agak kesiangan.
"Hampir jam satu, Tuan. Kopi?"
Lelaki itu mengangguk. Namun ia meracik kopinya sendiri, dan bibi Yulia hanya bertugas mengisikan air panas kedalam cangkirnya.
"Pantas saja." Adrian melirik arlojinya. "Sudah jam segini, dia belum juga turun."
"Tuan Muda sudah berangkat setengah jam yang lalu, Tuan Besar." Bibi Yulia kembali dengan nampan yang berisi secangkir kopi serta setangkup sandwich.
"Hah? Tidak salah? Aku kira dia yang kesiangan, rupanya malah aku." Adrian mengeluarkan telur dalam sandwich nya. Ia hanya melahap roti tawar gandum yang berisikan selada, tomat dan sedikit mayonaise serta saus.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suara ketukan pena diatas meja kantor ruangan Dani memecah keheningan pagi itu. Tidak ada siapapun disana kecuali sosok pemilik yang duduk terpaku menatap macbook nya.
Apa yang menarik perhatiannya? Gambar sesosok wanita seusia sang ayah tengah memeluk pinggangnya. Dia adalah Carla.
Sejak Dani pulang, belum sekalipun ia berkunjung kembali ke Swiss. Pemuda itu takut kembali ingin tinggal disana.
Dani merindukan wanita dalam foto itu. Merindukan Mr. Albert, coffe shop dan juga teman-teman seperjuangannya di negara penghasil coklat terbaik di dunia itu.
Selama ini, mereka hanya bertukar kabar lewat media internet. Saling mengirim email, selain menerima laporan keuangan bulanan usaha yang ia rintis disana tentunya. Terkadang juga berbicara lewat video call, meskipun tidak bisa lama karena kesibukan dan tanggung jawab masing-masing.
Sebelum Dani memutuskan kembali ke Indonesia sekitar 6 tahun yang lalu. Orang pertama yang mendukungnya adalah Carla. Wanita itu menangisi kepergiannya, namun juga bahagia akhirnya Dani bersedia kembali ke keluarganya. Sungguh, pesan yang Carla sampaikan terus terngiang di otaknya, bahkan sampai hari ini.
Flasback,
"Kudengar kau mau pulang, Dan?" tanya Carla saat itu. Mereka beramai-ramai menginap di rumah Carla dalam rangka menyambut hari thanksgiving.
Sebenarnya banyak mahasiswa yang pulang ke rumah mereka masing-masing. Hal itu tentu saja berlaku untuk yang rumahnya dekat. Sedangkan yang tidak bisa pulang atau karena terlalu jauh seperti Dani, lebih senang berkunjung ke rumah teman, dosen, atau warga sekitar seperti yang mereka lakukan di rumah Carla saat ini.
"Aku bahkan belum mengatakannya. Dan kau sudah mengetahuinya." Dani terus mencetak kue yang ia buat, tanpa berani menatap Carla.
"Aku pikir kau menyembunyikannya dariku, Boy. Tapi sekarang aku mengerti. Kau pasti tak tega meninggalkanku, iya kan?" Wanita berambut pirang itu menyenggol lengan Dani dan meliriknya.
"Kenapa kau ikut-ikutan memanggilku Boy? Aku lelaki,Carla!" Mata Dani melotot dengan penekanan pada beberapa kata yang ia ucapkan.
Wanita itu malah tertawa melihat reaksi pemuda di hadapannya itu yang menurutnya berlebihan. "Katakan dengan jujur. Kau tidak tega meninggalkanku, bukan?"
Carla berdiri di depannya seperti menantang. Wanita seusia Adrian itu, nampak bersidekap dengan wajah yang membuat kesal siapapun yang melihatnya.
"Kau ... Sudah tidak memiliki siapapun Carla. Apa aku juga harus pergi?" Tatapan sendu Dani menghujam pemilik mata biru itu.
Carla mendadak diam. Tenggorokannya tercekat. Dia memang sudah tidak memiliki siapapun disini. Tapi, bukankah setiap orang memiliki kehidupan pribadi sendiri.
"Ayolah Dan, kamu bukan anak kecil. Jujurlah pada dirimu sendiri. Bukan aku yang menjadi penyebabnya. Oke! Aku memang sudah tidak memiliki keluarga, satupun. Dan aku bahagia memiliki kalian. Apa kau mau menjadi sepertiku?" Carla menunjuk dada pemuda itu dengan jarinya.
"Apa maksudmu, Carl?"
"Kasus kita berbeda. Kau masih memiliki orang tua, Dan. Mereka keluargamu."
"Only Dad, Carla. Wanita itu istri ayahku." Suara Dani meninggi.
"Apapun yang kau sebutkan itu, Dan. Dia tetap menjadi ibumu, karena dia sudah menikah dengan ayahmu. Berdamailah, tidak semua wanita sejahat yang kau pikirkan. Jika kau tidak memberi kesempatan pada ibu sambungmu, itu sama artinya kau tidak memberi kesempatan pada dirimu sendiri."
__ADS_1
Carla menatap dalam wajah pemuda dihadapannya itu. Pemuda dengan satu trauma yang menyakiti kehidupannya sendiri.
"Ada, kau! " sahut Dani singkat. Ia melanjutkan memasukkan kue yang sudah rapi kedalam oven.
"Kupikir bukan seperti itu. Aku tahu kau bisa dekat denganku karena kita sama-sama memiliki trauma. Trauma yang merubah hidup kita." Wanita berkebangsaan Swiss itu menarik tangan Dani menyingkir ke samping rumah untuk duduk disana.
"Kau tahu semua ini tidak ada artinya. Rumah, tabunganku, usahaku, bahkan diriku sendiri." Carla terisak, dadanya panas mengingat kejadian tragis itu. Mungkin seumur hidupnya, dia tidak akan pernah bisa untuk tidak mengingatnya. "Kalau boleh aku ingin menukar mereka dengan semua yang aku miliki."
Mata Carla kembali basah. Wanita berambut pirang itu tertunduk.
Dani menatap nanar wanita yang sudah ia anggap sepertinya ibunya ini. "Maaf, aku tidak bermaksud membukanya kembali," ucap Dani dengan kepala menunduk. Jemarinya meremas jemari Carla yang ada dipangkuan wanita itu.
"Boy. Berbahagialah masih memiliki mereka. Aku berani bersumpah, kau tidak akan kuat dan mau tahu rasanya jika kau hanya seorang diri di dunia ini, sepertiku." Mata merah dan berair milik Carla mengerjap, ada seribu luka tercetak jelas dalam sorot sendu yang ia coba sembunyikan.
"Kau belum bisa mendefinisikannya saat ini, Boy. Ayahmu menginginkanmu pulang bukan karena ia takut kehilangan pewaris yang akan mengelola semua hartanya. Ataupun seorang anak yang ia harapkan mungkin akan membuatnya bangga atas semua pencapaian dalam karirmu nanti. Tapi lebih karena dia ayahmu Boy, dan kau anaknya, ikatan itu tentu lebih kuat dibanding apapun."
Dani merasakan sesuatu yang panas menyusup dalam dadanya. Dimana selama ini bahkan dirinya belum bisa membuat sang ayah bangga. Dani hanya menuntut ini itu, memprotes segala hal, bahkan yang berhubungan dengan kebahagiaan sang ayah.
Pemuda itu meneteskan air matanya, membayangkan sosok kuat sang ayah yang harus berjuang sedari muda untuk menghidupinya. Berjuang dari nol, membesarkan perusahaan sang kakek yang hampir gulung tikar menjadi sebesar sekarang, tanpa memikirkan kehidupannya sendiri.
"Pulanglah! Aku memang sedih dan akan sangat sedih kehilanganmu. Aku sudah menyayangimu seperti anakku sendiri. Tapi aku akan menjadi orang yang jahat pada ayahmu, jika kau tetap bertahan disini. Kau milik keluargamu, dan aku tetap akan menyayangimu sampai kapanpun."
Carla mengulas senyumnya. Sampai kapanpun kehidupannya akan tetap indah meski para mahasiswa itu datang dan pergi silih berganti. Bukankah kehidupan memang seperti itu. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan Carla berada di tempat yang tepat kini. Meski ia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, tapi kedatangan para mahasiswa yang akan tetap ada setiap tahunnya menjadi hiburan dan kebahagiaan tersendiri baginya. Bukankah takdir Tuhan sungguh indah? Dia tetap akan memiliki teman, setiap hari di sepanjang hidupnya.
"Carla...."
"Ingat pesanku tentang ayahmu, Boy. Dan satu hal ... Ini tentang ibumu. Ara memang masih sangat muda, tapi aku tahu dia mencintai ayahmu apa adanya, termasuk kamu yang tidak pernah menganggapnya ada."
"Bagaimana kau tahu aku tidak menyukainya?"
"Rasa tidak sukamu itu semu. Kau hanya menimpakan akibat buruk dari masa lalumu padanya. Apa kau tidak coba untuk mengenalnya dahulu, Boy? Aku yakin kau hanya membenarkan pemikiran yang tumbuh dari dalam dirimu sendiri," ucap Carla tangannya terulur menghapus airmata di wajah tampan Dani.
"Tahukah kamu? Bahkan Ara mengatakan pada ayahmu kalau kau pamit padanya waktu ayahmu akan mengantarmu kembali ke sekolah saat itu. Padahal aku tahu. Jangankan pamit, menyapanya saja tidak pernah kau lakukan."
"Dia yang menyebabkan omaku meninggal, Carl," ucap Dani membela dirinya sendiri.
"Dan kau hanya mememutuskan sepihak ia jahat tanpa mencari tahunya sendiri lebih dulu? Terkadang orang dewasa menutupi sesuatu hal yang tidak pantas diketahui oleh anak-anak mereka, Dan. Itu untuk kebaikan tumbuh kembangnya di masa depan. Kau tahu menjadi orang dewasa itu tidak mudah?Apalagi seorang ibu? Terkadang kau harus berkata A padahal kenyataannya B, bukan dengan maksud berbohong. tapi lebih ke menjaga dan melindungi."
Well, keluarga selalu tempat paling tepat untuk kembali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bu, nanti saya mau ke panti asuhan sebentar sama Merra."
"Iya, Ra. Tidak apa-apa, pergi saja biar ibu dan bapak yang menjaga toko." Mereka sedang berada di dapur pagi ini. Rutinitas setiap hari, bu Santo selalu ikut membantu alAra memasak di pagi hari. Wanita lanjut usia itu senang tenaganya dibutuhkan oleh Ara.
"Bu, ada ibu-ibu yang kemarin," ucap pak Santo yang langsung menghampiri istrinya ketika masuk ke dapur.
"Siapa bu?"
"Orang dari kampung sebelah, Ra. Ibu ingin berbagi sembako dari gaji ibu, suruh duduk dulu, Pak." Bu santo pergi meninggalkan dapur dan mengambil beberapa kantong kresek yang entah berisi apa, dari kamarnya.
"Tunggu Bu! Saya ikut," ucap Ara yang segera masuk ke kamar mengambil dompetnya.
"Ibu tunggu di depan ya. Nanti kamu menyusul." Bu Santo pergi ke depan lebih dulu menghampiri tamunya.
Tidak berapa lama, Ara datang menyusul. Di halaman depan, Bu Santo nampak berdiri sambil berbincang dengan seseorang yang membelakangi Ara.
Begitu mendekat dan suara orang itu terdengar di telinganya, Ara kaget. Wanita itu merasa sangat mengenal suaranya. Namun sosok yang membelakanginya sama sekali berbeda dengan yang ada di pikirannya.
"Sini, Nak. Kamu ibu kenalkan," ucap bu Santo yang menyadari kedatangan Ara. Tamu wanita yang nampak membelakangi itu akhirnya berbalik melihat ke arah Ara.
"Ma-mi!?" ucap Ara terbata. Wanita itu berdiri terpaku, masih tidak percaya apa yang dilihat oleh matanya. Ternyata sosok di depannya ini adalah ibu angkatnya, mami Esther.
"Sayang? Ini kamu? Oh Tuhan...." Esther kehilangan kata-katanya. Ia hampir limbung jika tidak dipegangi oleh bu Santo yang ada di sampingnya itu.
Ara melangkahkan kakinya mendekati, kemudian ia menghambur ke pelukan sang ibu.
"Sudah lama sekali, Nak," ucap Esther mengurai kerinduan. Tangannya mengusap punggung kecil Ara yang terasa bergoyang.
"Mami kurus sekali, aku hampir tidak mengenali," ucap Ara. Jemarinya bergerak memasukkan kembali anakan rambut yang keluar dari jilbab sang ibu.
__ADS_1
"Waktu berlalu cukup lama, Nak," ucap Esther menimpali. Wajah basahnya nampak merah karena menangis.
Ara mengajak Esther untuk masuk ke dalam rumahnya. Bu santo sampai haru melihatnya. Sungguh kuasa Tuhan, Dia mempertemukan keluarga yang sudah lama tercerai.
"Papi?"
"Papimu sudah menghadap Tuhan, Nak. Setelah kecelakaan saat itu." Esther nampak mengurai ingatannya yang mulai lagu termakan usia. "Mami mohon maafkan segala kesalahan kami." Esther menunduk. Ia tahu, ia dan suaminya tidak pantas dimaafkan. Bahkan ia tak kuasa merangkai kata untuk memohon ampun pada anak angkatnya yang sudah disakitinya.
Ara menghela napasnya pelan. Mengetahui kenyataan ia benar-benar dijadikan sebagai jaminan membuat hatinya terkoyak kembali.
"Apa Papi melakukannya secara sadar, saat itu Mi?"
"Ya." Esther mengangguk. "Mami tahu tidak ada pembenaran untuk kesalahan kami, Nak. Tuan Adrian menginginkan harta paling berharga milik papimu sebagai jaminan. Dan menurut papi, kaulah harta paling berharga yang kami miliki, Sayang. Papi mengatakan jika kau jaminannya, maka papi tentu akan bersemangat bekerja karena tentu saja kami tidak bisa kehilanganmu, karena bagi kami kau adalah hidup kami. Tanpa kami sadar, teman yang sudah dipercaya papi di kantor menggelapkan dana yang sangat banyak. Hingga papi bangkrut."
Harta paling berharga? Ara mengulas senyum mendengarnya. Ada sedikit kebahagiaan meski tetap saja hal itu salah.
"Kalau papi bangkrut, kenapa papi bisa melunasi uang pendidikanku di luar negeri Mi." Ara masih mencoba mengurai benang kusut yang tersimpan dan terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ia tidak percaya begitu saja dengan apa yang ia dengar.
"Kami menggunakan uang yang tersisa, Sayang. Satu-satunya cara yang terpikirkan untuk melepaskanmu darinya adalah pergi ke luar negeri. Dan kami mengambil resiko itu."
Meski pada akhirnya Ara tidak pernah sampai di tempat yang dipersiapkan oleh orang tua angkatnya itu. Takdir berkata lain.
"Bukankah Tuan Adrian lelaki yang pintar Mi? Mengapa ia mau menerima jaminan seorang gadis? Bukankah ia bisa mencari atau membeli bahkan seribu gadis sepertiku?"
"Kami tidak tahu alasannya, Nak. Papimu mengatakan, awalnya lelaki kaya itu tidak mau. Namun ketika tanpa sengaja ia melihat fotomu yang ada di surat perjanjian itu, akhirnya ia menyetujuinya."
"Apa?" Ara kaget mendengar pengakuan Esther. Ia memang sudah tahu jika suaminya itu tertarik dengannya dari awal bertemu. Namun sungguh ia tidak menyangka, Adrian yang mengiyakan soal jaminan yang diajukan sang ayah karena sudah melihat fotonya.
"Ya. Maafkan kami, Sayang. Kesalahan kami sangat besar dan fatal. Mami akan menebua dengan apapun yang kamu inginkan. Apa selama ini kau bisa belajar dengan baik disana?" Esther mengiba pada Ara. Ia merasa sangat bersalah lada putri angkatnya itu. Namun soal pendidikan di luar negeri, Ara tentu tidak bisa menjawabnya. Bukan untuk saat ini.
"Aku kecewa m
Mi, sangat. Tapi membenci kalian tidak akan merubah semua yang sudah terjadi. Mungkin semuanya sudah takdir dari yang Maha Kuasa."
Esther memeluk Ara. Meski Ara mengatakan berulang kali jika ia memaafkan ibu angkatnya itu, namun rasanya ia masih belum tenang. Apalagi sang suami malah lebih dulu menghadap Tuhan sebelum sempat bertemu, dan meminta maaf secara langsung.
"Aku sudah siap, Ma," teriak Merra yang baru saja masuk ke ruang tamu. Mata bulat cantik gadis kecil itu mengerjap saat melihat sosok asing disana.
"Iya, Sayang. Kesini sebentar!" Ara melambaikan tangannya pada gadis kecilnya itu. "Ini omanya Merra, namanya oma Esther." Wanita cantik itu membimbing Merra pada sang ibu.
Esther menatap haru. Beberapa tahun lamanya mereka tidak bertemu, bahkan ternyata ia sudah memiliki cucu. "Sayang, ini oma. Kamu cantik sekali seperti mama mu." Esther menepuk dadanya, menunjukkan diri pada Merra. Kemudian wanita paruh baya itu merentangkan tangannya.
"Merra masih punya lagi? Ada oma Fat, oma Sri, kakek dan nenek Santo dan oma Esther. Banyak sekali, Ma?" Gadis kecil itu menggunakan jarinya untuk menghitung.
Ara mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan gadis kecilnya. Kemudian gadis kecil yang masih polos itu langsung mendekat dan memeluk Esther. Wanita paruh baya itu sampai menangis dibuatnya.
"Mami bahkan tidak tahu kau sudah menikah, suamimu mana, Ra? Kenalkan pada mami, Sayang." Merra berada di pangkuan Esther kali ini.
"Nanti kita lanjut lagi ya, Mi. Ara dan Merra mau ke panti asuhan dulu. Bu Fatimah sakit."
"Mami boleh ikut sayang? Lama sekali mami tidak bertemu dengan bu Fatimah," pinta Esther. Ya, sejak mengambil Ara dari sana, ia hanya beberapa kali mengunjungi kembali pasntinasuhan itu.
"Tentu saja. Ayo kita berangkat mumpung masih pagi, Mi," ajak Ara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Panti ini banyak berubah ya, Sayang. Semakin bagus dan maju" Esther melempar tatapannya pada setiap ruangan yang ia lewati.
Panti asuhan tempat Ara dibesarkan ini, memang direnovasi total oleh Adrian. Karena memang bangunannya sudah tua, dan kurang kokoh sehingga takut membahayakan keselamatan anak-anak. Yang dipertahankan hanya kamar Mara dan kamar ibu kepala yaitu bu Fatimah. Wanita sepuh itu tidak mau kehilangan kamar yang telah ia tempati bertahun-tahun lamanya, meskipun Adrian menawarkan m akan membuat kamar baru dengan arsitektur yang mirip sekalipun.
"Iya, Mi. Hampir seratus persen berubah semua," sahut Ara yang menggandeng Merra.
"Donaturnya pasti hebat. Ini tidak murah Nak, dan menelan biaya sangat besar." Esther bahkan menyentuh dinding bangunan baru itu yang nampak gagah.
"Donatur tetap sejak beberapa tahun yang lalu, Mi. Tuan Adrian," ucap Ara berbisik ditelinga ibu angkatnya.
"Apa?" Esther menghentikan langkahnya. Dia kaget saat nama lelaki yang paling ingin dihindarinya, disebut. Sampai-sampai, dia tertinggal beberapa langkah di belakang Ara. "Mami tidak salah dengar?"
Ara memutar tubuhnya kemudian menggeleng. "Nanti semua aku ceritakan, Mi. Banyak hal yang terjadi diluar kuasa kita. Sekarang kita menjenguk bu Fatimah dulu, ya."
Akhirnya Esther mengekor di belakang Ara. Wanita paruh baya yang kini semakin kurus itu masih kaget dengan fakta yang sama sekali tidak terlintas dipikirannya.
__ADS_1
💞siapa diantara kalian yang merindukan sosok seorang bapak? bapak akan selalu menjadi pahlawan untuk anak perempuannya. Love u pak, bapak sudah bahagia disisiNya💗