
Satu minggu berlalu. Dani kembali ke Swiss. Pemuda itu akhirnya benar-benar memutuskan untuk mengakhiri jabatannya sebagai pengelola di beberapa coffe shop yang ia miliki dengan beberapa sahabatnya. Dia murni hanya menjadi investor sekarang. Sambil mengajari beberapa sahabatnya untuk menggantikannya.
Kalau dipikir, memang sebenarnya tidak ada yang memberatkannya untuk tetap berada di Swiss, selain usaha yang ia miliki. Jadi apa alasan utama sebenarnya dia tidak mau pulang dan malah menantang sang ayah untuk berpisah dengan Ara?
Trauma. Sesuatu hal yang nampak sepele jika hanya disampaikan. Bahkan yang mengalaminya bisa nampak biasa saja kecuali dia bergesekan dengan hal yang sama kembali. Mereka cenderung mencari aman dengan menolak atau menghindar. Sebisa mungkin melakukan hal yang lurus-lurus saja.
Benar apa yang diucapkan dosennya, Mr. Albert. Selama di Swiss pun, Dani cenderung menutup diri terhadap perempuan, siapapun itu. Dia tidak suka diperhatikan oleh siapapun yang berjenis kelamin perempuan.
Lalu bagaimana dengan Carla? Seorang wanita seusia ayahnya yang merupakan pemilik rumah yang biasa disinggahi Dani dan teman-temannya. Bahkan Mr. Albert tidak mengetahui jika dengan Carla, Dani bersikap biasa seperti kepadanya.
Ternyata kepercayaan dan masa lalu Carla, itulah alasanya. Carla kehilangan semua orang yang disayanginya dalam kecelakaan hebat yang terjadi belasan tahun yang lalu. Hanya dia, yang selamat, dia satu-satunya. Bahkan di hari yang sama ia kehilangan semua keluarganya itu, ia hampir bunuh diri dan menangis di hadapan Tuhan, kenapa tidak membawa serta dirinya.
Carla sudah menikah dan memiliki anak berumur lima tahun. Waktu itu, suami dan anaknya menjemput keluarganya dari desa untuk dibawa ke rumahnya. Rencananya, mereka akan merayakan ulang tahun anak Carla beberapa hari kemudian. Namun naas, kecelakaan hebat merenggut semuanya.
Hati Carla terluka. Wanita itu trauma, sama seperti Dani hanya penyebabnya saja yang berbeda. Carla menjadi pendiam dan melakukan semua pekerjaannya tanpa bicara sekalipun. Dia biasa membantu memasak di dapur sekolah, tempat Dani menimba ilmu.
Pertemuan mereka tidak ada yang istimewa. Mereka tidak pernah berbicara sebelumnya. Ada suatu kejadian, yang membuat mereka dekat.
Suatu hari, Carla yang sangat rindu dengan suami dan anaknya hanya bisa tergugu di kamarnya. Kedua tangannya memeluk sebuah foto yang ia jadikan kenangan. Tanpa carla tahu, Dani langsung masuk ke rumahnya saat memanggil wanita itu dan tidak ada jawaban.
Pemuda itu kerumahnya karena ingin menyampaikan pesan dari kepala asrama untuk Carla. Begitu melihat kamarnya terbuka dan samar mendengar orang menangis, Dani bergegas masuk. Dan ia kaget melihat Carla dalam keadaan berantakan sambil memeluk sebuah pigura.
Tanpa berkata apapun, Carla menunjukkan foto yang di peluknya. Dan pemuda itu mengerti, jika wanita itu sedang rindu atau mungkin kembali mengingat kejadian yang menyebabkan ia trauma. Dani pernah mendengar cerita kematian tragis seluruh keluarga Carla dari ibu kepala asrama.
Pemuda itu mendekat, lalu membawa Carla dalam pelukannya, hingga tangis Carla mereda.
Hari- hari selanjutnya, mereka semakin dekat seperti hubungan Dani dengan bibi Yulia ataupun semua wanita yang dikenalnya dari kecil termasuk sang oma. Mereka sering berbincang, atau bahkan berkebun bersama dengan anak-anak lain. Carla menganggap Dani seperti anaknya sendiri dan begitupun Dani, ia seperti menemukan sosok sang oma kembali.
Mereka dekat karena keadaan, disatukan oleh trauma pedih masa lalu yang mungkin tidak bisa ditinggalkan. Namun yang jelas, Dani masih menjadi pribadi yang tertutup untuk orang asing, termasuk Ara yang ia anggap penyebab kematian sang oma.
Sedangkan Carla, ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Hingga ia menjadi pribadi yang sabar dan ramah kepada siapa saja. Semua dianggapnya saudara. Dan anak- anak sebaya Dani pun, ia anggap sebagai anaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bu, jika Merra sudah mulai besar, bolehkah aku mencari kontrakan?" Ara berada di kamar bu Fatimah saat ini. Dia berniat mengambil bayinya karena takut merepotkan karena sekarang sudah jam istirahat. Namun bu Fatimah malah melarangnya mengambil Merra, karena bayi itu tengah tidur nyenyak di ranjang wanita sepuh itu.
"Kamu tidak betah disini?" tanya bu Fatimah lirih.
"Bukan begitu, Bu." Ara bergelayut dilengan bu Fatimah. "Aku hanya ingin mandiri, lagipula Mas Adrian pasti sering kesini, mungkin malah setiap tahun akan kesini merayakan ulang tahun pernikahan kami. Kemarin aku bisa menyembunyikan diri. Sementara sekarang aku tidak yakin karena sudah ada Merra. Sejak dalam perut, Merra sudah bisa merasakan kehadiran ayahnya. Aku takut semuanya akan gagal dan tidak bisa diperbaiki lagi, Bu."
Ara menunduk, matanya berkaca. " Maafkan mama, Nak. maafkan aku Mas, Tuhan yang akan menjawab jodoh kita, kembali atau seterusnya seperti ini, "ucap Ara dalam hati.
"Ibu lebih tenang kamu ada disini. Diluar kamu tidak mengenal siapapun, Nak." Bu Fatimah tidak menoleh sedikitpun, kepala panti asuhan tempat Ara dibesarkan itu memilih tetap berada disamping Merra.
"Aku berjanji akan sering berkunjung kesini, Bu. Rencananya aku akan membuka usaha toko bunga saja. Bisa sambil mengurus Merra dan tidak perlu kemana-mana."
"Pikirkan dulu benar-benar. Semua yang ada disini menyayangi Merra. Mereka semua bisa membantumu mengasuhnya, Ra. Lagipula, ibu dengar kau bisa membuat beberapa kue untuk dijual. Tekuni itu saja dulu." Bu Fatimah keluar dari kamarnya tanpa melihat sekalipun pada Ara.
Mungkin saja wanita itu sedih dan khawatir, jika Ara tetap memutuskan untuk pergi dari sana. Namun keputusan Ara sudah bulat. Ia akan mandiri, dan memulai usahanya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Masih banyak?"
__ADS_1
"Beberapa lagi, Tuan. Tapi jika Tuan ingin istirahat, biar saya yang menggantikan. Tuan nampak lelah, apa Tuan baik- baik saja?" Elang membungkuk hormat kemudian meletakkan beberapa berkas di depan Adrian.
Lelaki itu hanya diam, mengambil kertas yang disodorkan padanya dan memeriksanya.
"Atau Tuan butuh sesuatu?" Elang bahkan rela memutar tubuhnya untuk kembali ke dekat Adrian hanya untuk menanyakan hal itu.
"Hari ini sudah kesekian kalinya kau bertanya hal yang sama, Lang. Apa kau lupa?" Adrian mendongak kemudian tersenyum kecil mendengar perhatian yang mungkin dianggap sepele oleh beberapa orang. Namun hal itu tentu bukan hal yang sepele bagi dua orang yang sudah lama berpartner itu.
"Maaf, Tuan. Anda terlihat pucat. Saya hanya ... khawatir," ucap Elang yang masih menunduk tidak memperlihatkan wajahnya.
"Terima kasih." Tangan Adrian menyentuh lengan Elang. Setelah sekian tahun bersama. Tidak ada yang membuat suasana sedih begitu sangat kentara saat majikannya itu hanya bersamanya. Selain saat ini, saat kehilangan sang istri. Dan ini juga pertama kalinya Adrian mengucap terima kasih dengan sangat tulus kepadanya.
"Aku memang butuh menenangkan diriku sejenak. Masih beberapa bulan lagi, aku harus kuat disini sebelum pemiliknya datang," ucap Adrian. Lelaki itu bangkit dan menuju kamar pribadinya untuk istirahat disana. "Tinggal beberapa lagi, kamu saja yang ambil alih!"
"Siapp tuan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dia baik-baik saja?"
"Iya, Kak."
"Bantulah apa yang dia butuhkan, meski harus menggunakan berbagai cara ataupun alasan. Kau bisa mengklaimnya padaku setelahnya," ucap seorang lelaki yang saat ini tengah duduk di ruangannya.
"Ck, pengusaha beda ya. Tidak seperti aku yang harus bekerja keras dulu baru bisa kaya." Lelaki tampan bak idol k-pop itu terbahak setelahnya. "Kakak kenapa membantunya? kakak menyukainya?"
"Siapa yang tidak menyukainya? Aku yakin, kamu pun lama- lama juga akan menyukainya. Tapi kamu harus tetap di jalurmu. Profesional, dan jangan memakai hati. Karena tinggal kamu satu-satunya jalanku untuk menolongnya." Lelaki yang mengenakan blazer abu itu berdiri, kemudian menyandarkan tubuhnya diujung meja, menghadap adik sepupunya.
"Jangan bicara sembarangan! Aku hanya mencintainya, tidak ada orang lain. Ini urusan yang berbeda!"
"Baiklah-baiklah, yang penting uang jajanku jangan lupa." Tepuk lelaki tampan itu pada saudara sepupunya. Kemudian ia bergegas pergi menuju suatu tempat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ara tertegun di depan pintu, melihat pemandangan di depannya. Ori atau dokter Oryza, kini tertidur di aula bersama Merra di pelukannya. Satu jam yang lalu, saat ia sedang sibuk-sibuknya di dapur, lelaki yang kukuh hanya mau dipanggil nama tanpa embel-embel dokter itu datang tiba-tiba. Dan bayi kecil itulah yang menjadi alasannya.
Ori mengatakan ia kangen dengan Merra, karena beberapa minggu terakhir ini, lelaki itu sibuk dan sama sekali tidak bisa datang ke panti asuhan. Pada akhirnya, Ara merelakan Merra bermain dengan Ori di ruangan luas ini hanya berdua. Dan tidak disangka mereka malah tertidur berdua.
Ara melangkah pelan, menghampiri. Bahkan Ori masih mengenakan jaketnya dan malah memasukkan Merra kedalam jaket warna abu-abu itu. Dia terlentang dengan kepala menumpu pada gendongan Merra dan kedua tangan Ori mendekap Merra dalam pelukannya.
"Harusnya kamu Mas yang ada disana," ucap Ara dalam hati. Ara berhenti sebelum sampai di dekat Ori dan Merra yang seperti ayah dan anak perempuannya itu. Wanita itu bergegas kembali ke kamarnya mengambil bantal untuk diberikan pada Ori.
"Emmmmm."
"Maaf- maaf, anda pasti lama menunggu sampai ketiduran," ucap Ara kikuk. Kedua tangannya memegangi tubuh Merra yang hampir jatuh. Ori kaget saat Ara hampir mengangkat kepala lelaki itu, dan menggantikan gendongan Merra dengan bantal yang ia bawa.
"Aku dan kamu mama Merra. Kamu resmi sekali seperti di rumah sakit. Kecuali di tempat itu, kita bisa berbicara biasa saja sebagai teman. Jangan terlalu kaku," ucap Ori meluruskan. Lelaki itu memeluk erat Merra yang kemudian dibawanya duduk.
"Tidurkan dia di box nya." Ori menyerahkan bayi kecil itu dari gendongannya yang disambut oleh Ara.
"Anda, emm ... Maksud saya kamu, mau minum sesuatu? Biar Sinta buatkan."
"Kopi saja, jangan terlalu manis tapi. Oh iya, kemarin kamu menanyakan kontrakan dekat pinggir jalan kan?"
__ADS_1
"Iya, kamu menemukannya? Kalau begitu kita berbicara disini saja. Biar Merra aku gendong. Sebentar aku minta Sinta membuatkan kopi."
"Merra ditinggal saja disini, kamu membuatkan aku kopi. Kalau kamu menyuruh orang lain, dia akan ikut dalam pembicaraan kita. Katamu kemarin, tidak ingin semua orang tahu sebelum kamu benar-benar menemukan kontrakan yang tepat dan nyaman untuk Merra."
"Benar juga." Ara tersenyum malu. Bahkan Ori mengingat setiap kata yang diucapkannya kemarin.
Wanita itu bergegas ke dapur membuat kopi kemudian kembali lagi ke Aula.
"Bagaimana yang tadi. Apa areanya dekat dengan panti? Tidak mahal kan?" Ara duduk disamping Merra yang di tidurkan di dekat bantal.
Ori menyesap kopinya sejenak. "Sabar, biar aku basahi tenggorokanku dulu,"
"Maaf."
"Kau terlalu banyak mengucap maaf mama Merra." Ori mengetuk pelan dahi Ara dengan jemarinya.
"Ori!" mata Ara melotot pada lelaki yang lebih pantas menjadi adiknya daripada dokter spesialis anak itu.
"Ha ha ha. Kau sudah seperti ibuku saja. Galak! Sudah-sudah, kita serius sekarang. Aku sudah menemukan rumah itu. Sekitar dua kilometer dari panti asuhan. Di sebuah perumahan, pemiliknya berniat menjualnya, namun jika hanya mengontraknya juga boleh."
"Sementara, aku mengontraknya saja. Uangku harus dibagi untuk kebutuhan yang lain,"
"Kalau boleh, aku sarankan lebih baik dibeli saja. Kalau mengontrak jatuhnya lebih mahal. Aku bisa pinjamkan uang untukmu."
"Tidak, usah. Sesuai kemampuanku saja, memiliki pekerjaan saja belum, aku harus memiliki hutang kepadamu. Rasanya berat padahal hanya membayangkannya."
"Tidak ada bunga atau syarat. Lain Ma, aku bukan rentenir dan itu uang halal. Uang selama aku bekerja di rumah sakit."
"Aku tidak bisa mengembalikannya dengan cepat. Kamu pasti membutuhkannya untuk mencukupi kebutuhanmu juga. Sudahlah tidak usah." Ara menatap wajah Oryza. Tidak ada keraguan yang nampak dari sorot mata lelaki itu.
"Tidak kau kembalikan pun tidak apa-apa. Tenang saja."
"Tidak! Upps...." Ara membungkam mulutnya sendiri yang tidak sengaja berteriak karena kaget. Ia lupa sedang ada Merra yang sedang tidur nyenyak disana. Untung bayi itu bandel hingga tidak terganggu sedikitpun.
"Pikir-pikir saja dulu. Kebutuhan kamu banyak. Kalau kamu merasa terbebani, menyicil pun tidak masalah atau kembalikan semampumu. Ingat! Aku hanya berniat membantu, tidak ada hal lainnya," ucap Ori mempertegas niatnya.
Selanjutnya Ori pamit pulang, pembicaraannya dengan Ara tentang rumah sudah ia sampaikan. Dan kangennya pada si chubby Merra pun sudah terobati. Lelaki itu nampak mengenakan earphone nya sambil berjalan ke mobilnya.
"Bagaimana?" Terdengar suara dari seberang.
"Bagaimana apanya? Kakak pikir semudah membalikkan telapak tangan. Aku tidak tahu dia sekeras kepala itu," sengit Ori pada seseorang yang ia panggil kakak, yang saat ini sedang menghubunginya.
"Sudah, berikan saja. Nanti uangmu aku ganti."
"Haduhhh ... Kalau saja semudah itu aku pasti tidak akan pusing sampai hari ini. Simpan saja dulu uangmu. Aku tidak bisa memberikannya cuma-cuma tanpa alasan yang tepat. Nanti dia curiga."
"Baiklah, aku pasrah padamu saja. Yang penting jangan lama-lama. Rumahnya keburu dijual ke orang lain," ancam si penelepon asal.
"Lagian kakak ada-ada saja. Sudah dibilang butuh kontrakan, malah nyarinya yang dibeli. Kan jadi pusing bohongnya," sahut Ori ketus.
"Yahh ... Halo .. Kak? Halo...."
🍒Hai-hai... readers yang cantik dan juga ca'em terima kasih banyak untuk semua dukungannya. jangan lupa like, komen dan vote ya... love u❤️❤️
__ADS_1