
"Hah?" Laila terperangah. Dia mengira Ferry masih tertarik dengannya, karena bahasa tubuhnya saat bertemu pertama kali tadi setelah sekian lama, masih mengisyaratkan hal itu. Namun ternyata, malah Lola, dan anak yang diincar lelaki tambun itu.
"Dia ... masih single. Tapi akan segera menikah," lanjut Laila yang sudah bisa membaca arah pertanyaan Ferry. Tidak mungkin, ia memberi celah pada teman lamanya itu untuk mendekati sang putri.
"Oh ... Baru mau kan? Kebetulan aku baru bercerai dengan istriku, setahun ini." Lelaki itu kembali mengusap rambutnya, berbasa-basi dan nampak sekali jika ia hendak mendekati Lola.
"Apa? Bercerai?" Padahal wanita yang dinikahi Ferry sekaligus seseorang yang membuat lelaki itu meninggalkannya adalah pewaris kekayaan tunggal dari orang tuanya dan juga cantik. Tapi mengapa mereka bisa bercerai? Pertanyaan itu berputar-lutar dibenak Laila.
"Bukankah Zahra seorang yang baik? Dan dia memiliki segalanya. Berapa anak kalian?" Laila mencoba memancing Ferry untuk bercerita.
"Zahra? Dia memang baik. Tapi dia bukan seleraku. Lama-lama bosan juga bersikap baik-baik saja padahal tidak nyaman sama sekali. Aku menceraikannya diumur pernikahan kami yang memasuki dua tahun," Lelaki itu bahkan santai saat mengatakannya.
"Hah? Lalu yang kau ceraikan setahun yang lalu itu siapa?" Laila terkejut dengan penuturan Ferry, bahwa lelaki itu telah berpisah dengan istrinya sudah lama.
"Istri ketigaku. Istri keduaku meninggalkanku." Bahkan tidak nampak rona kesedihan pada wajah Ferry saat menceritakannya. Dan berita apa ini? Ternyata Ferry telah menikah tiga kali. Dan ketiganya gagal.
Laila menganga. Kemudian ia menatap sang putri yang memang cantik seperti dirinya waktu muda. Namun untuk alasan apapaun, Laila tidak akan pernah rela jika Ferry menginginkan putrinya itu.
Walau Laila bercita-cita menjadikan Lola istri orang kaya. Tapi tentu bukan orang seperti Ferry, seseorang yang lebih cocok menjadi ayah anaknya itu. Dan sekaya apapun Ferry, tetap saja Laila tidak berminat.
"Baiklah, Fer. Aku pamit sekarang, ya. Masih ada urusan lain yang menunggu," ucap Laila mengakhiri rasa tidak nyaman yang menelusup di dadanya.
"Seringlah mengunjungiku setelah ini. Aku membangun rumah di belakang untuk tempatku menginap dan istirahat. Kau boleh bertandang kesana, dan jangan lupa ajak putrimu," ucapan Ferry membuat Laila tidak ingin lebih lama lagi berada disana. Wanita itu merinding dan takut, semoga Ferry tidak membuat kesepakatan baru atas bantuannya. Apalagi menyangkut Lola.
Laila mempercepat pamitnya pada teman lamanya itu. Kemudian sembari melangkah keluar, ia gandeng tangan putrinya dengan erat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=≠
Cup! Di kecupnya kening sang istri yang terpejam dikursi ruang tamu. Ara memang keras kepala sama sepertinya. Sebelum pergi, Adrian telah berpesan untuk istirahat lebih dahulu. Dan tentu seharusnya, istrinya itu sekarang tengah terlelap di kamarnya. Namun Adrian malah mendapati wanita yang dicintainya itu, tengah tertidur di ruang tamu, tanpa selimut dan bantal.
Setelah keluar dari mobil dan masuk ke rumah tadi, sebenarnya Adrian ingin segera istirahat menyusul sang istri. Kegiatannya penuh seharian ini, ditambah masalah tantenya yang membuatnya sedikit stress. Namun ternyata harapannya pupus melihat istrinya malah meringkuk di kursi. Sebenarnya bukan masalah uangnya, namun tantenya dan sepupunya itu bukan orang yang bisa dipercaya begitu saja mengenai uang. Mereka lebih sering menggunakannya untuk hal yang tidak perlu, kemudian tanpa hati meminta lagi.
Menggeleng pelan, lelaki yang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan sang istri itu menyempatkan diri untuk duduk sebentar. Menghadap persis di depan sang istri, Adrian duduk menatap wajah teduh yang selalu membuatnya rindu setiap waktu.
Ara pasti lelah menunggunya hingga wanita itu tanpa sadar tertidur disini. Kemudian dengan sangat hati-hati, Adrian menggendong sang istri menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
Hari memang sudah berganti. Waktu menunjuk di angka 2 pagi. Padahal, seingatnya pertemuan dengan Dokter Kim tadi tidak memakan waktu lama. Atau mereka yang tanpa sadar serius membahas ini itu, panjang lebar hingga melupakan waktu.
Setelah mengganti sendiri pakaiannya, Adrian menyusul sang istri. Berbaring disampingnya, matanya menatap Ara yang bahkan tidak terbangun sekalipun, padahal sudah banyak pergerakan yang ia lakukan.
"Mas sudah makan?"
Namun ternyata Ara hanya mengigau. Matanya masih terpejam sempurna, dan tidak membuka sedikitpun. "Bahkan dalam alam bawah sadarmu pun, kau masih memperhatikanku." ucap Adrian yang tersenyum kecil karena bahagia.
Setelah itu, Adrian memposisikan dirinya di belakang Ara, memeluknya dari belakang dan ikut terbang ke pulau mimpi bersamanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Rasanya segar sekali pagi ini. Ara sampai menguap berkali-kali untuk menciptakan kesadaran pada dirinya sendiri. Tidurnya nyenyak, hingga ia tidak mengingat apapun atau merasa bermimpi akan sesuatu.
Wanita itu kaget saat hendak bangun, ada tangan kekar yang melingkar di tubuhnya dan terasa semakin erat. Dengan susah payah wanita itu membalik tubuhnya, kemudian melihat wajah sang suami dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Mas. Biarkan aku bangun ya," ucap Ara lirih. Posisinya yang sangat dekat dengan Adrian membuat ia merinding sendiri. Ada gelenyar aneh yang masih saja sering mendadak muncul ketika ia berada sedekat ini dengan sang suami. Padahal, tentu saja ini bukan pertama kali.
"Nanti saja."
"Nanti aku kesiangan, Mas," ucap Ara beralasn. Sekarang sudah jam 5 pagi. Kalau ia menuruti sang suami untuk bangun nanti saja, sudah pasti ia akan kesiangan seperti biasanya.
"Tidak apa-apa. Sekali-Kali bangunlah siang bersamaku. Kau selalu meninggalkanku sendiri saat bangun pagi seperti ini." Masih dengan mata terpejam, Adrian berbicara dengan jelas melarang istrinya bangun lebih dahulu.
"Baiklah. Tapi sebentar saja ya," ucap Ara menuruti apa mau Adrian. Lelaki itu hanya mengangguk, urusan sebentar atau lama bisa diurus nanti. Yang terpenting, ia masih bisa memeluk sang istri lebih lama lagi.
Ara kemudian berbaring kembali disebelah sang suami yang memeluk pinggangnya. Namun baru saja mata Ara hendak terpejam, terdengar suara pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Tuan, Nyonya. Ada tamu untuk Anda," ucap bibi Yulia yang terdengar jelas sampai di dalam kamar.
Adrian langsung bangkit, lelaki itu mengucek matanya. "Biar aku saja sayang, kamu tunggu disini." Setelah turun dari ranjang, Adrian berjalan menuju pintu.
Begitu membuka pintu, wajah bibi Yulia yang muncul. "Maaf Tuan, ada tamu."
"Siapa yang bertamu sepagi ini, Bi?" tanya Adrian dengan mata menyipit. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul pagi itu.
"Nona Lola, Tuan." Mengangguk bibi Yulia nampak ragu menyampaikannya pada sang majikan.
"Suruh ia tunggu aku di meja makan," titah Adrian. Bibi Yulia pergi setelah membungkuk pada lelaki itu.
"Siapa, Mas?" tanya Ara ketika melihat sang suami masuk kembali.
__ADS_1
"Lola. Mereka suka sekali membuat masalah denganku. Biar aku saja yang menemuinya, Sayang," ucap Adrian. Lelaki itu masuk ke kamar mandi kemudian keluar sudah dalam keadaan segar. Sejenak mengganti pakaiannya dan merapikan diri, lelaki itu turun tanpa mengajak sang istri.
"Ada perlu apa dia kesini?"