
Sinta kelabakan. Ternyata barang-barang Ara yang berukuran kecil seperti aksesoris dan pigura banyak juga dan tersebar diatas meja. Belum lagi beberapa foto yang ditempel di dinding, ia harus mencabutnya satu-persatu dan tidak boleh rusak. Bisa kena marah dia nanti, karena rupanya foto yang tersebar di dinding adalah foto sang suami, Adrian.
Samar terdengar suara orang sedang berbincang. Semakin lama suaranya terdengar semakin jelas. Sudah bisa dipastikan jika yang datang adalah ibu kepala panti dan Adrian.
Jantung Sinta mendadak memompa lebih cepat. Dia bagaikan seorang pencuri yang hampir ketahuan, yang harus berpikir dan bertindak secara bersamaan.
"Ya ampun. Kenapa mereka cepat sekali jalannya?" Sinta menepuk jidatnya sendiri. Gadis berperawakan kurus yang gesit ini mempercepat gerak tangannya.
Padahal ia tadi sudah lari-lari dengan bu Sri agar memangkas waktu berjalan dari depan ke kamar Ara. Gadis itu hanya berdoa dalam hati, semoga Tuhan berbaik hati dengan aksi mereka kali ini.
Pagi tadi, Sinta mendapat tugas membersihkan halaman depan gerbang. Gadis itu melihat mobil Adrian tiba. Meski Sinta belum begitu kenal Ara, namun gadis itu tentu mengenal Adrian sebagai donatur tetap dan beberapa kali datang ke panti ini memeriksa renovasi atas panti ini. Gadis itu hanya tahu bahwa kakak panti nya itu adalah istri Adrian dan ia langsung memberitahu bu Sri.
"Begini keadaan kamarnya, Nak. Masuklah." ajak bu Fatimah yang sudah lebih dulu masuk untuk memastikan tidak ada barang Ara yang tertinggal. "Sesuai keinginanmu, tidak ada satupun yang dirubah. Kami hanya memperbaiki beberapa perabotnya yang rusak, mengganti seprai yang sudah sobek dan melebarkan ranjangnya," terang kepala panti yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Adrian menatap tidak suka pada Sinta yang baru saja keluar dari kamar mandi. Apalagi kemudian tatapan mata lelaki itu jatuh pada kantong plastik yang ada di tangan Sinta. Gadis itu mengerti kecurigaan Adrian, karena sedari awal meminta bahwa kamar itu tidak boleh ditempati siapapun.
"Maaf, Pak. Saya yang bertugas membersihkan kamar ini beberapa hari sekali," ucap Sinta tidak ingin lelaki didepannya ini curiga. Ia mencoba tenang dan mengangguk hormat pada Adrian. Padahal jantungnya masih berdetak semrawut akibat tatapan singkat itu. Sinta merasa seperti sedang diadili.
"Apa yang kau bawa itu?"
"Oh ... I-ni seprai kotor, Pak. Saya menggantinya beberapa hari sekali meskipun tidak ditempati." Gadis itu mengacungi jempol dirinya sendiri yang lancar membuat kebohongan, meski gugup pada awalnya berhadapan dengan seorang Adrian. Hatinya sedikit lega. Sinta mengakui, suami kakak pantinya itu memiliki aura yang menakutkan.
"Saya tidak ingin barang-barang istri saya yang tertinggal dipindahkan. Biarkan saja tetap disini," ucapannya tegas namun tidak terbantahkan.
"Tidak ada yang dipindahkan, Nak. Semuanya masih disini." Bu Fatimah mencoba menengahi. Dia yang berada di belakang Adrian memberi kode Sinta untuk segera pergi.
Sinta mengangguk. Kemudian gadis itu tanpa permisi melewati Adrian begitu saja.
"Boleh saya periksa?!"
Langkah Sinta terhenti. Ucapan Adrian yang datar tanpa nada seperti perintah untuk dirinya. Kakinya bagai menginjak lem yang dapat merekatkan kaki Sinta ke lantai.
Gadis itu tercekat mendengarnya, dan bahkan tidak berani melanjutkan langkahnya ataupun memutar tubuhnya. Ia mematung, seakan waktu berhenti berputar.
Adrian berjalan mendekati. Dalam hati Sinta berteriak dengan lantang, menyebut nama Tuhan meminta pertolongan. Meskipun apa yang mereka lakukan itu tidak benar, karena telah menyembunyikan keberadaan Ara. Namun, demi menolong misi kakak pantinya yang tidak bisa dimengerti jalan pikirannya itu, Sinta harus total.
Drrt
__ADS_1
Drrt
"Ponselmu berbunyi, Nak." Bu Fatimah sedikit lega mendengarnya. "Angkat saja dulu, barangkali penting." Tentu saja bu Fatimah mengatakannya dengan maksud, agar Adrian melupakan keberadaan Sinta yang membawa barang-barang Ara.
"Baiklah. Maaf ya Bu, saya angkat dahulu," Adrian keluar dari kamar sang istri. Kemudian berjalan menjauh menerima panggilan ponselnya.
"Cepat pergi sini!" titah bu Fatimah sambil mendorong tubuh Sinta untuk pergi dari kamar itu.
"Iya, Bu." Hah ... Lega sekali hati Sinta melihatnya. Secepat kilat, gadis berperawakan kurus yang kini duduk di bangku SMA itu berlari membawa kantong plastik warna hitam yang terisi setengahnya itu. Dan menghilang di balik bangunan kokoh panti.
"Maaf Bu, saya lama," ucap Adrian sekembalinya dari menerima panggilan dari ponselnya.
"Jangan sungkan. Ibu tahu Nak Adrian sangat sibuk."
"Saya harus menemui klien saat ini juga, Bu. Apa boleh malam ini, saya menginap disini?"
"Hah?" Bu Fatimah nampak terkejut mendengarnya. Bukan apa-apa, kemungkinan ketahuan akan menjadi lima puluh persen jika Adrian sampai menginap. Apalagi melihat Elang sang pengawal yang memiliki tatapan setajam namanya.
Tidak lama kemudian, bu Fatimah yang menyadari dirinya belum mengiyakan permintaan Adrian langsung mengurai senyuman. "Tentu saja, Nak. Anggap saja ini juga rumahmu. Tapi ya beginilah keadaannya."
Kemarin Adrian menghubungi Ibu panti sudah sangat malam, mengatakan jika hari ini setelah jam istirahat siang ia kan berangkat ke Bandung untuk berkunjung ke panti. Kebetulan Ara sedang memeriksakan kehamilannya dan pulang larut malam. Ibu panti tidak tega memberitahunya.
Rencananya pagi ini ia akan mengatakan pada anak asuhnya itu. Namun siapa yang tahu jika pagi-pagi benar, Adrian sudah ada di depan panti. Dan tentu saja membuat semua penghuni panti yang mengetahui tentang mereka, kelabakan dibuatnya. Apalagi juga harus membangunkan Ara, yang baru saja menapaki mimpinya.
"Saya tidak bisa memastikan saya kembali jam berapa. Tapi saya tetap menginap disini malam ini, Bu," ucap Adrian, lelaki itu sekalian pamit untuk menyelesaikan urusannya.
"Kebetulan juga kalau begitu. Biar kamarnya juga kami siapkan, Nak," ucap bu Fatimah menanggapi pamit Adrian
"Tidak usah sungkan, Bu. Cukup dibersihkan saja, tidak usah ada yang diganti baru. Saya menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan istri saya." Bu Fatimah tersenyum simpul, Ara sungguh beruntung.
Bu Fatimah baru ingat, jika hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Apa hal itu juga yang menyebabkan Adrian berkunjung kemari dan sampai ingin menginap. Masalah orang muda memang rumit, bu Fatimah tidak tahu harus membantu apa.
Di ujung lorong, wanita cantik yang memeluk erat perutnya yang sudah kelihatan menonjol itu meluruh. Bu Sri tidak lagi menopang tubuhnya. Wanita paruh baya itu membiarkan Ara seperti itu agar semua emosinya keluar daripada ditahan yang nantinya malah menyakitkan.
Rasa rindu yang teramat dalam membuncah. Belum lagi bayinya yang bergerak terus sedari mendengar suara Adrian. Sepertinya makhluk kecil yang bahkan belum bisa melihat dunia itu merasakan kehadiran sang ayah disana. Atau mungkin, calon bayi itu juga ikut merasakan hati sang mama yang teremas menahan rindu yang tak berkesudahan.
"Menangislah, Ra. Ibu tahu apa yang kau rasakan, meski ibu tidak mengerti jalan pikiran kalian anak muda." Bu Sri membelai lembut surai hitam Ara, kemudian ikut mengusap air mata yang menetes dipipinya sendiri.
__ADS_1
Setelahnya hujan turun begitu deras. Seakan membasuh seluruh luka yang dibiarkan menganga. Sekian lama, berharap luka itu akan hilang tertiup angin atau tergerus air hujan seiring waktu. Namun rupanya, takdir tak melepasnya semudah itu.
Seorang lelaki memandang keluar jendela mobilnya kosong. Beberapa kali mengerjap, rupanya tidak dapat memberi sedikit ketenangan pada separuh hatinya yang hilang.
Hampir satu tahun keduanya tidak bertemu. Dan di dua kali momen terbaik dalam hidupnya, Adrian benar-benar merasakan hatinya yang sakit seperti dikoyak. Dia merasa sangat bersalah pada istrinya, yang harus membuat wanita itu berkorban untuk hubungannya dengan sang anak. Bahkan tanpa ia sadari sebelumnya.
"Tuan."
"Langsung ke tempat pertemuan, Lang. Aku makan disana saja," ucapnya dingin.
Tentu Elang menyadari suasana hati majikannya itu. Akibat kepergian wanita yang dicintainya dari rumah sang majikan, semua dunia Adrian jungkir balik. Beruntung lelaki itu sangat profesional dengan pekerjaannya. Selain itu semua, kehidupan pribadinya terpengaruh.
\=\=\=\=\=≠\=\=\=
"Sementara kamu tinggal di kamar ini ya, Ra. Hanya ini yang kosong dan bersih. Yang lain sedang direnovasi." Bu Sri membantu Ara duduk. Kemudian wanita paruh baya itu menyodorkan teh hangat yang dibawa Sinta dari dapur.
"Kakak istirahat saja. Biar kami yang menata barang-barang ini." Sinta melirik bu Sri yang kemudian menjawabnya dengan mengangguk. Mereka prihatin melihat kondisi Ara.
Kedua orang beda usia itu membantu Ara berbenah. Mengeluarkan kembali barang-barang dari kantong plastik yang dibawa Sinta. Hanya yang diperlukan saja, karena Ara tidak lama menempati kamar itu. Setelah Adrian pulang ke Jakarta, Ara akan kembali ke kamarnya.
Wanita yang masih nampak terkejut itu membaringkan tubuhnya. Mendengar suara sang suami saja begitu efeknya, apalagi bertemu. Jujur, dia sangat rindu. Ingin sekali berlari memeluk lelaki itu dan mengatakan padanya ada makhluk kecil di dalam perutnya yang juga merindukannya. Namun logikanya melarang.
Bu Sri sengaja meminta Ara istirahat. Selain karena wanita itu kurang tidur, jiwanya tentu tidak baik-baik saja sekarang. Dan selama Adrian disini, tentu saja dia harus tetap di dalam kamarnya.
Lama kelamaan terdengar dengkuran halus dan mata yang terpejam milik Ara. Bu Sri dan Sinta saling berpandangan, dengan tatapan penuh arti.
"Aku tidak tahu cinta serumit itu, Bu?" ucap Sinta disela mengusap peluhnya yang masih berjatuhan dari pelipisnya. Dia yang lari menyelamatkan barang-barang Ara hingga kemudian membantu wanita itu berbenah. Baru saat ini gadis itu merasa lega, setelah Adrian meninggalkan panti meskipun nanti akan kembali lagi.
"Anak kecil tahu apa tentang cinta!" pukul bu Sri di dahi Sinta dengan jarinya. Matanya melotot mengingatkan.
"Aku sudah besar Bu, sudah SMA. Hanya badanku saja yang kecil dan kurus," protes Sinta dengan cemberut.
"Maaf ibu lupa, Sin. Ibu selalu berpikir kamu masih SMP." Bu Sri meringis. Wanita paruh baya itu merasa bersalah dengan partnernya, dalam menjalankan misi menyelamatkan Ara dari suaminya.
❤️love u
🥰 makasih like komen dan hadiahnya
__ADS_1