Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 252


__ADS_3

"Oma? Kukira tidak bisa kesini?" ucap Dani tersenyum bahagia menyambut sepasang suami istri yang nampak menarik di mata Merra.


"Oma?" Merra terpaku, namun lengannya yang berada di gandengan sang kakak mencubit lengan kekar itu.


"Oma sendiri?" tanya Dani pada wanita paruh baya cantik berkebangsaan Jepang itu. Ya, dia adalah Aimi yang datang sendiri karena sang suami masih ada sedikit urusan.


"Iya, Opa. masih ada urusan sedikit mungkin sebentar lagi dia datang," ucap Aimi yang segera merentangkan tangannya untuk memeluk sang cucu. Namun ekor matanya, melihat gadis kecil di samping Dani yang nampak asing. Namun tentu tidak dengan wajahnya. "Ini siapa?" tunjuk gambar pada Merra.


Setelah melepas rengkuhan oma Aimi, Dani merangkul kembali gadis kecil di sampingnya itu. "Adik Dani yang paling cantik, Oma. Namanya Merra."


"Merra?" Aimi terkejut namun juga tersenyum tidak percaya. "Anak mama Ara dan daddy Adrian? Cantik sekali."


"Iya Tante eh...," Dani menyenggol adiknya dan memberi kode untuk memanggil oma. "Oma ... Kok Oma tahu?" Merra yang masih bingung siapa Aimi hanya memaksakan diri untuk tersenyum saat menyalaminya.


"Aku oma mu, Sayang. Adik dari Oma Lina," jelas Aimi yang masih takjub melihat Merra. Sungguh gadis kecil itu perpaduan yang sempurna dari kedua orang tuanya.


"Benarkah. Jadi Merra masih punya Oma lagi, Kak?" Dani mengangguk menatap sang adik yang bahagia. Tanpa disuruh, gadis kecil itu menghambur memeluk Aimi.


"Opa juga, nanti kalau sudah datang oma kenalkan ya, Sayang," ucap Aimi lembut. Wanita berkebangsaan Jepang yang belum memiliki cucu ini merasa sangat senang bertemu Merra, selain Dani tentunya.


"Iya Oma, asyik! Kak, Merra mau sama Oma saja. Kakak jalan sendiri ke tamu-tamu kakak, ya," cicit Merra yang merasa lelah karena mengikuti Dani sejak tadi.


"Merra harus temani kakak. Biar Oma Aimi istirahat sebentar sebelum acara dimulai. Karena oma baru datang dari perjalanan jauh." Dani yang tidak terima, segera menyuruh Aimi pergi ke kamar tamu. Sedangkan merra yang hampir mengekor sang oma malah ditarik oleh sang kakak.


"Kakak!" pekik Merra.


Pemuda setampan Adrian itu malah tertawa melihat sang adik yang mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes.


"Target datang! Silahkan menempati posisi yang tadi sudah dijelaskan, ya." Seorang lelaki yang mendapat mandat dari Dani untuk mengatur semua tamu tengah berteriak memberi instruksi kepada mereka, termasuk Tuan rumah.


Riuh ramai tamu perlahan lirih hingga hening sama sekali.


"Sssttt ... Sini!" Dani kembali menarik Merra untuk bersembunyi. Dan semua tamu pun juga demikian.

__ADS_1


Mereka diarahkan untuk menempati tempat-tempat tersembunyi yang memang sudah disiapkan oleh Tuan rumah. Orang-orang Dani yang lain membantu mereka yang belum paham atau masih bingung dengan kejutan yang akan segera dimulai.


"Ad_" Dani membungkam mulut adiknya dengan tangannya. Semua mendadak sunyi. Sama sekali tidak terlihat seperti ada sebuah perayaan besar dari luar gedung.


Padahal di dalam semua persiapan pesta bahkan sudah seratus persen, tinggal menunggu Tuan rumah yang sebenarnya tiba.


Seorang lelaki berada di dekat pintu, bertugas mengawasi keadaan di depan. Dia memberikan instruksi, jika dia memberi kode dengan jarinya setelah ia menyebut angka tiga maka mereka semua yang ada di dalam harus berteriak bersamaan menyambut sepasang suami yang akan diberikan kejutan itu.


Keadaan yang benar- benar sunyi membuat semua yang ada di dalam ruangan seperti patung. Mereka seperti takut untuk bergerak karena akan menimbulkan suara yang pastinya akan membuyarkan semua rencana yang telah disusun rapi. Hingga yang terdengar hanyalah degup jantung mereka sendiri.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil mendekat. Sepertinya sang Tuan rumah yang akan diberi kejutan untuk tiba. Dua orang yang keluar dari dalam mobil mewah itu nampak menoleh kesana kemari.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa berhenti disini, Lang?" Adrian mengernyit dalam, melihat sang asisten bukannya membawa mereka ke rumah utama malah ke gedung perjamuan milik keluarga yang berada disebelahnya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Tuan Muda mengatakan jika Tuan Besar harus memeriksa sesuatu didalam," jawab Elang beralasan. Ia sudah dihubungi Dani soal kejutan untuk majikannya itu.


"Ohh ... Kenapa rumah sepi sekali ya, dimana mereka?" tanya Ara yang sebenarnya ia tujukan pada Elang. namun nampaknya asisten suaminya itu tidak mendengarnya.


Tidak nampak pelayan lain ataupun bibi Yulia yang biasanya segera menghampiri tiap kali mereka baru tiba dari bepergian. Pelayan-pelayan itu seperti hilang atau memang tidak mengetahui jika sang majikan telah pulang.


"Ayo Sayang," Adrian mengulurkan tangannya yang disambut oleh sang istri. Kemudian mereka berdua bergegas berjalan bersama hendak memasuki gedung megah itu. Gedung baru yang sengaja di bangun Dani untuk menggantikan gedung lama, yang merupakan tempat berkumpulnya keluarga Ilyasa jika ada pertemuan.


Ceklek!


"Happy Anniversary!" teriak semua orang yang ada di dalam. Suara terompet layaknya pesta ulang tahun terdengar nyaring dimana-mana. Belum lagi seember penuh bunga rose mini ditumpahkan dari atas tepat mengenai pasangan suami istri itu.


Dan berikutnya terdengar lagu Can't Help Falling in Love With You milik Elvis Presly yang dibawakan oleh pianis yang merupakan teman Dani.


Suasana kaget, bahagia akhirnya menjadi haru saat lagu itu terdengar. Hampir semua wanita yang ada disana berkaca- kaca. Mereka seperti berada di dimensi lain yang penuh cinta dan keromantisan.


Pasangan suami istri itu saling menatap. Mereka tentu tidak lupa jika hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka tidak menyangka jika Dani membuat kejutan sedemikian rupa. Apalagi pemuda itu mengundang orang- orang terdekat mereka.

__ADS_1


"Terima kasih, semuanya," ucap Adrian tulus, ia sampai terharu dan kemudian membawa sang istri dalam pelukan. "Happy anniversary, Sayang. Kita selamanya. I love you." Lelaki itu mengecup singkat bibir sang istri.


"I love you too, Mas." Ara menatap penuh cinta pada Adrian. Kemudian mereka melepaskan pelukan dengan masih tetap bergandengan tangan.


Barisan para tamu yang ada di depan mereka tiba- tiba membuka, masing- masing dari kiri dan kanan menepi dengan rapi.


Dari ujung barisan muncullah Dani bersama sang adik yang digandengnya erat semenjak tadi.


Mata Ara mengembun, sudah bisa dipastikan jika semua ini di dalangi oleh sang putra, Dani. Anak sambungnya itu memang penuh kejutan setahun terakhir ini.


Sejak mereka berempat tinggal bersama, banyak hal yang dilakukan Dani untuk keluarga kecil ini. Membuat Ara tidak pernah menyesal dahulu pernah meninggalkan sang suami meski itu adalah keputusan terberat dalam hidupnya. Apa yang ia lakukan sungguh menjadi pelajaran berharga bagi anak lelakinya itu.


"Terima kasih, Sayang," ucap Ara menatap kedua anaknya dengan lembut.


"It's amazing, Boy. Kejutan yang sempurna. Daddy kira ...." Adrian tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Tanpa sadar matanya basah, sungguh ini hadiah terbesar dari sang anak selama hidupnya.


Lelaki yang semakin terlihat matang diusianya yang hampir lima puluh tahun itu berpikir jika anak lelakinya itu masih sama seperti dulu. Namun kenyataannya, kehadiran sang adik membawa dampak besar baginya dan sikapnya pada keluarga terutama dirinya dan Ara.


Satu pot berbentuk memanjang berisi bunga Tulip dengan warna yang berbeda pemuda itu persembahkan untuk ibu sambungnya, Ara.


"Happy anniversary Dad, Mam...." Adrian terhenyak, panggilan yang sudah lama dinantikan baik oleh Adrian maupun Ara itu akhirnya terucap juga oleh Dani.


Pemuda itu mengucapkannya tanpa beban, berarti dia benar-benar melakukannya secara sadar.


Ara terdiam, antara bahagia dan tidak percaya.


"Ini, hadiah dariku untuk ... Mama. Aku pernah memintanya dua, dan aku menggantikannya tiga. Aku baru tahu sesulit itu perjuangan untuk membuatnya tumbuh," ungkap Dani. Ternyata pemuda itu menanamnya sendiri untuk menggantikan bunga yang ia minta secara paksa.


"Aku baru menyadari satu hal. Mama melakukan segala hal untuk kami, aku dan Daddy. Berkorban apapun dari hal yang penting sampai hal yang paling sepele. Bahkan mengorbankan perasaan dan kehidupan Mama. Maafkan aku," ucap pemuda itu mengejutkan banyak orang.


Beberapa orang yang memang tahu kisah mereka ikut meneteskan airmata. Sementara yang tidak tahu, mereka nampak ikut terharu.


"Kalian mau memeluk ... Mama. Anak-anak mama," panggil Ara yang pipinya sudah basah dengan air mata. Baik Merra ataupun Dani, keduanya menghambur memeluk sang ibu. Kemudian Adrian menjadi yang terakhir memeluk mereka bertiga.

__ADS_1


"Daddy bahagia sekali memiliki kalian," ucap Adrian lirih.


💕love you, maaf telat update.. full day terus🙏


__ADS_2