Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 129 Hanya Bertemu


__ADS_3

Remaja lelaki itu berlari, menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa. Pikirannya kalut, napasnya menderu memburu mengikuti jejak kakinya, yang bahkan tak menapak sempurna pada lantai licin yang bisa saja menjatuhkan dirinya.


Namun, ia tidak perduli pada semua itu. Di otaknya masih terngiang, berita tentang sang oma yang membuatnya naik darah dan tidak bisa berpikir jernih.


'Oma jatuh, dan sekarang koma' berita singkat yang dikirimkan sang ayah lewat pesan itu sangat menyakiti hatinya.


Bahkan di tempat teraman yang ia pikir bisa membantu penyembuhan sang oma, ternyata malah terjadi hal yang paling buruk yang tak pernah dibayangkannya.


Bagaimana bisa? Bukankah istri ayahnya itu menjaga sang oma 24 jam, bahkan belum pulang sama sekali. Tapi membiarkan wanita itu berada disana nyatanya malah membuat kondisi sang oma semakin parah.


Begitu sampai di kamar yang sebelumnya ditempati Lina, pintunya nampak tidak tertutup sempurna. Dani langsung saja masuk karena sudah tidak sabar.


"Dad, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dani pada sang ayah yang tengah duduk di sofa.


"Ini kecelakaan, Boy." jawab Adrian singkat.


"Kecelakaan? Ini rumah sakit Dad, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Lagipula bukankah wanita itu menjaganya disini," Dani menatap sekitar dan mendapatkan Ara yang tengah terbaring belum sadarkan diri.


"Tantemu sedang keluar bersama Ardi membeli bubur untuk oma. Dan ketika ia kembali, oma sudah berada di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri," terang sang ayah. Namun hal itu tidak bisa dipercaya Dani begitu saja.


"Apa tidak bisa ia beli sendiri? Atau menyuruh Ardi saja," akal menuntunnya untuk menelisik bertanya.


"Oma menginginkan tante Ara yang membeli, dan Ardi yang mengantarnya,"


"Apa Daddy tidak merasa aneh? Mengapa mereka pergi berdua padahal sendiri saja bisa. Atau ada sesuatu diantara mereka?" seluruh tubuh Adrian serasa dihimpit batu besar mendengarnya.


"Boy.... sudah. Daddy mengenal tante Ara. Ia tidak seperti itu,"


"Tentu saja, karena ia istri Daddy. Jadi Daddy terus membelanya," anak laki-laki itu geram. Menganggap Ara adalah orang asing yang merusak keluarganya.


Dan ucapan sang putra membuat Adrian terdiam. Kepalanya semakin pusing memikirkan segala dugaan dan kemungkinan. Belum lagi dia terpaksa mewakilkan rapat penting hari ini pada asistennya karena tidak mungkin meninggalkan dua orang wanita yang dicintainya dalam keadaan seperti ini.


"Oma di ICU, ayo ku antar kesana," ajak Adrian pada putranya. Ia tidak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Dani.


Dani mengikuti sang ayah. Mereka berdua meninggalkan kamar tempat Ara berbaring setelah Adrian menitipkan sang istri pada Ardi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sapporo di musim gugur yang indah,


Setiap musim gugur tiba, daun-daun dari pohon maple yang berwarna hijau akan berubah menjadi merah, kemudian coklat dan terakhir menguning, lalu berguguran di jalanan.

__ADS_1


Seorang lelaki berperawakan tinggi kurus, nampak asyik mengintip gugurnya daun-daun dari pohon yang berdiri gagah di sepanjang tepian jalan itu. Dari jendela kecil sebuah rumah yang nampak asri, pemilik mata cekung dengan kulit yang tidak semulus miliknya dulu, serta kepala dengan topi yang selalu menemaninya akibat rambut yang terbabat habis oleh sakit yang baru beberapa bulan terakhir ini hinggap di tubuhnya. Masih sangat bisa tersenyum damai.


Meski tubuhnya tak setegap dahulu, tak sekuat dahulu, tak sebagus dahulu namun ia masih selalu mengucap syukur. Syukur yang ia ucapkan setiap pagi saat ia mulai membuka mata, bahwa Tuhan masih terlampau baik padanya, memberikan bonus usia yang entah sampai kapan, yang selalu ia minta dalam setiap doanya.


"Tuhan, aku tidak ingin pergi tanpa melihatnya,"


Selalu doa itu yang ia selipkan berulang-ulang diantara bait doa yang ia panjatkan.


Tangan rapuh itu lalu memegang kursi roda. Sahabat setianya yang membantunya berjalan menyusuri rumah dan taman belakang yang menjadi tempat favoritnya.


"Kemarin aku membuangmu dan menatalmu dengan angkuh. Berharap aku bisa berdiri sendiri dengan menggunakan sisa-sisa kekuatanku. Namun nyatanya aku gagal," menggumam sendiri, Akio menunduk.


Kemudian diusapnya titik-titik peluh yang muncul di pelipisnya. Padahal ia baru sebentar berdiri, karena ingin lebih mendekat ke jendela melihat keluar sambil menghirup udara segar. Namun tidak bisa dibohongi, tubuhnya yang ringkih sudah mengeluh bahkan hanya untuk aktivitas kecil yang biasa lakukan dengan mudah dulu.


"Ki..," panggilan sang ibu mengagetkannya. Namun serta merta Akio menoleh dan memasang senyumnya.


"Iya Ma," sahut Akio, menatap tanya sang mama yang masuk ke kamarnya dengan wajah sendu. Ditangan wanita paruh baya itu masih memegang ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi Adrian tadi.


"Kita undur saja ke Indonesia nya, ya," ucap Aimi tiba-tiba. Yang kemudian mengambil seluruh perhatian Akio tentunya.


Lelaki itu mengernyit, dengan alis yang bertaut, Akio menatap sang ibu sesaat, "Kenapa Mam?"


"Kita undur saja, tidak apa-apa kan? Mama janji ini hanya ditunda sementara," ucap Aimi lembut. Namun tak bisa dibohongi, ia tengah gamang dengan berita yang ia terima dari keponakannya barusan.


"Sayang, bukan begitu. Semangatlah, yakinlah Tuhan akan memberikan kesempatan dan waktu terindah untukmu,"


"Sebenarnya ada apa, Mam? Ada sesuatu yang Mama sembunyikan?" menelisik dalam mata sang ibu yang berkaca, entah karena menangisi nasibnya atau memang ada hal lain.


"Tidak. Mama hanya mencari waktu yang tepat," ucap Aimi beralasan. Sedikit memutar tubuhnya, wanita Jepang itu mencuri kesempatan untuk menghapus air yang menggenang di pelupuk matanya. Sebelum jatuh, dan ketahuan.


"Mama tidak perlu menyembunyikan apapun dariku lagi. Ada apa dengan keluarga di Indonesia?"


"Emmm.. Sebenarnya... Tantemu sakit,"


"Apa? Sakit apa, Mam? Bukankah seharusnya kita malah mempercepat untuk kesana? Bukannya ditunda."


"Suasananya tidak kondusif sayang, ada berita buruk lainnya juga," ucap Aimi. Ia bingung bagaimana mau menjelaskan masalah yang terjadi dalam keluarga Lina di Indonesia.


"Katakan saja, Mam. Aku sudah terbiasa dengan berita seburuk apapun." Ya, Akio memang mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Baginya tidak ada berita paling buruk selain melihat orang yang ia cintai menangis dan bersedih. Selain itu semua ia anggap biasa, termasuk sakitnya yang sekarang.


"Media menampilkan berita tentang sepupumu bahwa... Pernikahannya dengan Ara hanyalah pernikahan kontrak," Aimi menatap dalam mata Akio. Mengerjap kemudian menelan salivanya menunggu respon sang anak.

__ADS_1


"Oh.. Aku sudah menduganya, ternyata itu benar." Sekarang justru Aimi yang kaget dengan ucapan Akio.


"Kau... Mengetahuinya?" Akio mengangguk. Lelaki itu mengurai dalam otaknya tentang peristiwa saat dulu ia di Indonesia beberapa lama.


"Bukan mengetahui soal pernikahan itu, Mam. Tapi lebih ke menyadari, begitu cepat Adrian mengambil keputusan saat tante memintanya untuk menikah,"


"Lalu berarti, diantara mereka?"


"Yang kutahu, Ara lebih dulu mencintai Adrian, Mam. Terlepas apakah mereka menikah kontrak ataupun tidak. Itulah yang membuatku berhenti memperjuangkannya." Akio menunduk sebentar. "Aku seperti kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya," senyum dalam getir tercetak jelas di bibir pucat Akio.


"Mereka saling mencintai kini, Ki?" sekali lagi Akio mengangguk.


"Begitulah yang kudengar. Namun aku tidak salah kan Mam, kalau aku hanya ingin bertemu dengannya? Hanya bertemu Mam, biar aku ikhlas," menepuk dadanya sendiri, Akio mencari ketenangan dalam batinnya. Untuk dapat tetap waras menginginkan Ara hanya benar-benar sekedar bertemu, tidak lebih.


Anggukan Aimi dan pelukan erat seorang ibu menghangatkan sore di musim gugur hari itu.


Akhir sore dimusim gugur...


Berhenti!!


Begitu kataku, saat melihat sosok cantikmu yang samar tertangkap oleh sudut mataku.


Berhenti!!


Sungguh, aku ingin meraihmu ditengah tanganku yang terpasung dan kakiku yang membeku.


Berhenti!!


Sayang, jika kau tak dapat kumiliki di dunia fana ini, biarlah aku memintamu pada Sang Pemilik Hidup.


Berhenti!!


Bukan kamu, tapi aku.


Aku yang pada akhirnya harus berhenti, mengikhlaskan diri untuk pergi dan menunggumu kembali.


*Berhenti!!


Cintaku tak semudah itu pupus, layu dan mati.


Ia hanya gugur oleh waktu, namun tak pernah kalah oleh rasa.

__ADS_1


Aku menunggumu, di sepanjang senja dimusim gugur di setiap warsa usiamu... 😘*


__ADS_2