
Dua minggu berlalu,
"Sudah siap, Sayang?" tanya Adrian memastikan.
"Sebentar, Mas!"
Semua koper beserta perlengkapan yang diperlukan sudah masuk kedalam mobil setengah jam yang lalu. Namun yang memperlama waktu berangkat justru Ara yang bolak-balik, dan selalu ada saja yang ketinggalan.
"Ayo Sayang, sudah ya. Jngan bolak balik lagi, kalau ada yang terlupa dan kita butuh sekali kita beli saja disana. Ok!" Ara mengacungkan jempolnya tanda setuju dengan ucapan sang suami yang mengambil keputusan sepihak.
Setelah mereka masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman, Elang memastikan semuanya lengkap dengan bertanya pada sang majikan.
"Sudah semuanya, Tuan?"
"Sudah Lang," ucap Adrian yang merangkul sang istri yang masih terlihat mengingat sesuatu, entah apa itu. Kemudian wanita itu membuka tasnya dan nampak membolak balik mencari sesuatu.
"Mas em_"
"Jangan katakan ada yang ketinggalan lagi?!" kesal Adrian.
"Aku mohon Mas, sebentar saja. Lagipula kita belum keluar dari gerbang," pinta sang istri dengan memohon yang selalu membuat Adrian luluh. Namun kali ini sepertinya tidak.
"Sudah kubilang beli saja disana," sahut Adrian enteng. Padahal tinggal berhenti lagi sebentar, karena belum cukup jauh juga. Tapi sepertinya Adrian yang sudah bosan dengan alasan sang istri, mulai iseng pada wanita yang dicintainya itu.
"Tidak, aku tidak mau. Boleh ya, Mas?" Wanita itu mendekap lengan Adrian manja.
"Jalan Lang. Kita akan terlambat jika berhenti lagi, Sayang. Kita beli di Swiss. Titik!"
Elang memacu mobilnya begitu mendapat titah seperti itu dari sang majikan. Sebenarnya kasihan juga pada Ara, tapi bagaimana lagi, wanita itu sudah beberapa kali bolak balik tadi.
Setelahnya Adrian menatap kedepan tanpa bicara lagi, sedangkan sang istri masih mendekap lengannya namun dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
Perjalanan Indonesia-Swiss memerlukan waktu sekitar 18 jam, dengan beberapa kali transit. Melelahkan bukan? Tapi bayangan menyusuri kota kota yang ada disana menguapkan rasa pegal akibat perjalanan yang lebih dari setengah hari itu.
Ya, ini pertama kalinya Ara berkunjung ke negara itu. Selain berlibur memang tujuan utama kesana adalah mengunjungi makam Akio, dan juga sang anak tiri yang sekolah disana. Maka setali tiga uang bukan? Sekalian hematnya.
\=\=\=\=\=\=\=≠
Tiba di bandara Zurich jam 6 lebih sepuluh menit. Pagi itu udara terasa dingin bagi Ara yang belum terbiasa. Sang suami mengingatkan untuk memutar jarum jam 5 angka lebih awal agar tidak bingung.
Dani bersekolah di sekolah internasional yang berada di pusat kota Lausanne. Dari bandara mereka langsung menuju ke kota tempat Dani menimba ilmu itu. Lama perjalanan sekitar 2 jam lebih perjalanan darat.
Tidak salah lagi, ternyata Swiss sedang musim dingin saat ini. Di negara ini jika musim panas udara terasa hangat namun jika musim dingin akan terasa lebih dingin. Kembali lagi, jangan tanya bagaimana keadaan Ara saat ini.
Wanita itu diam seribu bahasa. Bukan karena meneruskan kesal yang dia bawa saat di Indonesia tadi, namun karena menikmati rasa dingin yang lain daripada yang lain.
Bahkan di daerah gunung di Indonesia yang terkenal dengan suhu rendahnya masih kalah dingin dengan musim dingin di negara ini. Tangan rasanya membeku dan kebas serta wajah yang pucat dengan rona merah khas. Namun yang paling membuat wanita itu tertarik, tentu saja karena setiap dia menghembuskan napas lewat mulut akan keluar kabut yang lumayan kelihatan daripada di negara kelahirannya.
"Kau mau kemana?" Adrian menarik mantel bulu yang dikenakan sang istri hingga wanita itu terbentur pada dadanya.
"Hemm ... Indah sekali disini Mas. Rasanya ingin berlari-larian kesana," tunjuk Ara pada padang rumput di depannya. Mirip seperti lapangan namun sangat hijau dan bersih. Dan yang paling mengagumkan di negara ini adalah semuanya terawat dengan baik.
"Iya. Kita temui Dani dahulu, ya Sayang," ucap Adrian yang tidak melepas dekapan posesifnya pada pinggang kecil yang berada di depannya itu.
"Mas sepertinya mengenal dengan baik tempat ini? Apa sebelumnya pernah kesini?" tanya Ara pada sang suami. Karena sejak dari bandara hingga sampai disini, lelaki itu tidak nampak asing dengan hal apapun yang ada disini.
"Kalau ke kota ini belum. Tapi kalau ke St. Moritz pernah. Kami dulu yang notabene mahasiswa pendatang, selalu melancong ke negara tetangga jika sedang liburan." Adrian menjelaskan pada sang istri yang selalu takjub, dengan hal yang menurutnya baru diketahuinya dari sang suami itu.
"St. Moritz? Tempat apa itu, Mas?"
"Itu sebuah kota di kaki pegunungan Alpen, selalu ada salju disana. Aku suka sekali main ski, Sayang. Apa kau mau mencobanya?"
"Tentu saja mau. Aku belum pernah melihat salju, Mas." Mata Ara berbinar dengan wajah yang meringis malu.
"Baiklah. Setelah kita bertemu Dani, ke makam Akio lalu dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa kota indah di Swiss. Bagaimana?"
"Siap!" jawab sangat istri bersemangat.
Rona bahagia Ara tidak bisa dibohongi. Wanita itu selalu tertarik dengan hal baru dari sebuah negara. Jika Adrian mengizinkan dirinya untuk kuliah, mungkin ia akan mengambil jurusan yang berhubungan dengan geografi. Ia sangat tertarik dengan hal itu.
Namun apa suaminya itu mengizinkannya untuk kuliah? Ara menggeleng pelan, sepertinya tidak. Lelaki itu tidak menuntut banyak. Dia hanya ingin sang istri ada di rumah menunggunya pulang, atau sekedar menemaninya bekerja di kantor dan menghabiskan uangnya.
Ara menghela napasnya yang terasa berat. Beradaptasi dengan suhu rendah nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan.
"Kepalamu kenapa, Sayang? Sakit?" tanya Adrian yang melihat sang istri tiba- tiba mengerjap dan terpejam cukup lama.
"Hanya sedikit berat, Mas. Mungkin proses adaptasi saja." Ara memang sedikit pening, namun ia masih bisa menguasai diri.
Adrian mengangguk membenarkan. Memang selain napas yang terasa lebih berat, suhu yang terlalu rendah juga menyebabkan kepala terasa pusing, dan terkadang juga telinga berdengung sampai gangguan pendengaran ringan yang berlangsung beberapa hari.
Dani tinggal di asrama. Setelah turun dari bandara tadi Adrian sempat menghubunginya, dan ternyata anak lelakinya itu sedang berada diluar, ada kegiatan ekstra yang ia ikuti untuk mengisi liburan yang hanya beberapa hari saja.
Adrian memutuskan singgah satu hari di Lausanne untuk menemui anak lelakinya itu. Ia singgah di sebuah rumah kosong dekat dengan asrama, yang biasanya digunakan untuk para orang tua yang hanya sebentar menemui anak mereka.
__ADS_1
Setelah Adrian menemui seorang wanita penjaga yang dimintai tolong oleh Dani untuk menyambut sang ayah, mereka ditunjukkan sebuah rumah bernuansa khas Swiss.
Rumah dengan dinding papan yang tebal. Warna dominan earth dan terkesan old. Kemudian taman di halaman yang meskipun kecil selalu tidak sepi dari bunga warna warni yang memikat hati. Sungguh rumah impian masa depan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Daddy, berapa lama disini?"
"Semingguan mungkin, cuti Daddy hanya selama itu. Kamu betah disini, Boy?" tanya Adrian pada sang anak seraya menatap tubuh jangkung yang terlihat semakin tinggi itu.
Dani memang berbeda, mungkin jauh dari sang ayah dan hidup sendiri di perantauan, membuat anak itu mandiri.
"Tentu saja, Dad. Pertanyaan macam apa itu? Aku sudah hampir satu tahun disini. Apa wajahku seperti orang yang tertekan, Dad? Daddy pasti melihat perubahan pada tubuhku hingga berpikir seperti itu."
Adrian tersenyum mengiyakan. Setahun yang lalu anak itu masih dengan tubuh remajanya yang cenderung gendut. Namun sekarang ini, Dani kelihatan lebih atletis dan tidak bisa dipungkiri setampan ayahnya.
Kemudian Adrian menanyakan kabar teman kuliahnya yang sempat dimintai tolong untuk mengawasi anak lelakinya selama disini.
"Paman sudah pindah beberapa bulan yang lalu, Dad. Dia dipindahtugaskan ke negara lain oleh perusahaannya. Untungnya, berinteraksi setiap hari dengan orang sekitar membuatku sudah cukup mengenal karakter mereka. Jadi mereka seperti keluarga bagiku disini, Dad."
"Syukurlah. Daddy sempat khawatir karena Daddy tahu sifatmu sedari dulu," kelakar Adrian.
Dani tersenyum masam. Mengapa pula ayahnya itu berkata demikian, bukankah gen unik itu didapatkan dari lelaki yang ia panggil Daddy itu.
"Oh iya. Om Akio dimakamkan dimana?"
"St. Moritz. Kata nenek, sebelum Om meninggal ia minta dimakamkan disana. Nanti Daddy kukirimkan kontak seseorang yang tinggal disana. Dia teman Om Akio. Aku juga selalu menemuinya setiap kali kesana."
"Kau tak ingin ikut Daddy kesana, Dan?"
"Akan menjadi canggung kalau kita pergi ber_"
Ara keluar membawa tiga cangkir coklat panas yang ia buat setelah beberapa lama menguprek dapur kecil tempat mereka singgah.
"Hei, Sayang. Apa yang kau bawa?" tanya Adrian saat matanya tanpa sengaja menatap pintu keluar, dan melihat sang istri berdiri disana dengan nampan ditangannya.
Hal itu pulalah yang membuat Dani tidak melanjutkan ucapannya. Anak itu hanya membuang muka setelah sempat menoleh tanpa sengaja ikut menatap dimana sang ibu tiri berada.
Hampir saja Ara berbalik. Namun ucapan Adrian tentu saja mengurungkan niatnya. Ia sudah ketahuan berada disana, akan tercipta situasi canggung nantinya jika ia sampai melakukan hal itu.
Dengan menguatkan hati, wanita itu mulai melangkah, melanjutkan niat awal untuk memberikan secangkir coklat untuk sang suami dan juga anak tirinya itu. Dan juga dirinya sendiri jika diizinkan untuk ikut duduk disana. Namun niat yang terakhir mendadak sirna, setelah apa yang ia dengar secara tidak sengaja tadi.
"Wow coklat? Pasti enak." Adrian langsung menyeruput cangkirnya hingga setengah. "Duduklah disini, Sayang," tunjuknya pada kursi yang berada diantara dirinya dan Dani.
"Wanita yang mengantar kita tadi yang mengajariku. Aku kurang lancar berbahasa Inggris, tapi dia berbaik hati mengajariku dengan menggunakan isyarat," jelas Ara senang.
"Minumlah, Dan." Dani hanya mengangguk tanpa berniat menyenggol cangkir berisi coklat yang diberikan ibu tirinya itu.
"Bergabunglah disini, Sayang. Kita tidak menginap disini, biar agak siang sedikit nanti kita langsung meluncur ke makam Akio," titah Adrian.
Ara yang diajak duduk, namun ia malah melihat ke arah Dani. Anak itu menatapnya datar tidak ada keramahan sama sekali, membuat Ara sadar diri.
"Emm ... Aku meninggalkan oven yang menyala, Mas. Wanita itu juga mengajarkanku membuat cake oat tadi. Aku takut cake-nya gosong, Mas." Ara beralasan agar ia tidak lagi dipaksa duduk disana oleh sang suami.
Sungguh, jika ditanya ia pasti ingin sekali berbincang bersama bertiga seperti dulu ketika mereka masih baik-baik saja. Meski momen itu hanya sebentar namun Ara sangat merindukannya. Namun, melihat wajah Dani yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana bentuknya, nyali Ara menciut. Who am I? Dan dia selalu terngiang ucapan anak lelaki itu, 'Kau hanya istri Daddy ku, bukan ibuku."
"Pergilah, dan bawa segera cake buatanmu itu jika sudah matang. Kami tidak sabar mencicipinya." Adrian mendorong pinggang kecil yang nampak gendut itu karena tebalnya sweater yang membungkusnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Are you okay? What's wrong?" Wanita berkebangsaan Swiss itu menatap khawatir Ara yang terduduk dengan mata merah di dekat oven.
Ara hanya mengangguk. Dia tak sanggup menjawab pertanyaan wanita itu, karena saat ini rasanya sangat sesak. Bahkan tanpa perlu berkata banyak atau menghina, tatapan Dani yang membencinya mampu merobohkan tembok pertahanan Ara, yang sebenarnya telah ia siapkan sejak sang suami memastikan kepergian mereka ke negara ini.
Aku harus kuat. Aku harus bisa, semua demi suaminya. Jika kamu mencintai ayahnya, kamu juga harus mencintai anaknya apapun yang terjadi. Apalagi anak itu tidak berbuat sesuatu yang menyakitimu, meski lebih sering menyakiti hatimu.
Sugesti itulah yang ia ucapkan setiap hari dalam hatinya selama kurang lebih dua minggu menunggu hari keberangkatan tiba.
Hati orang tidak ada yang tahu. Begitu juga kekuatannya. Ara menatap nanar coklat dalam cangkirnya yang masih penuh tanpa berkurang sedikitpun volumenya. Rasanya, dia sudah tak ingin mencicipinya lagi.
Coklat terbaik yang dimiliki negara ini yang katanya mampu memperbaiki mood, tidak lagi membuatnya tertarik saat ini. Apalagi ia sempat menggantungakn harapannya, bahwa anak tirinya itu akan meminumnya.
Ara menahan wanita itu yang hampir keluar memanggil Adrian. Entahlah, sepertinya maksud wanita itu seperti itu. Sekilas Ara hanya mendengar kata 'your husband'' dan kemudian mendadak panik melihat wanita yang membantunya itu beranjak keluar.
"I am okay."
"Carla. I am Carla, Ara," ucapnya memperkenalkan diri. Padahal mereka sudah bersama satu jam lebih dan mereka baru ingat belum berkenalan saking asyiknya. Tapi wanita itu tahu namanya, mungkin Adrian yang mengatakannya.
Ara mengangguk. "Thank you, Carla." Kemudian Ara meminta Carla tetap berada di dapur bersamanya. Menunggu cake yang mereka buat matang sambil membicarakan banyak hal.
\=\=\=\=\=\=\=\=≠
"Hati-hati, Boy. Sebenarnya Daddy ingin sekali kau ikut," ucap Adrian mengurai kecewa.
__ADS_1
Dani melirik Ara, hingga membuat wanita itu menunduk. Namun ketika Ara hendak pergi membiarkan dua lelaki itu bicara. Tangannya digenggam erat Adrian. Bahkan ketika ia meminta untuk dilepaskan dengan isyarat, lelaki itu tidak memperdulikannya sama sekali.
"Aku banyak tugas yang belum selesai, Dad. Meskipun bukan hari sibuk tapi aku tidak libur." Dani beralasan pada sang ayah agar tidak ikut serta.
"Okay. Nanti sebelum pulang ke Indonesia, Daddy mampir lagi." Dua orang lelaki itu berpelukan dan Adrian menepuk punggung sang anak lelaki mengucapkan beberapa patah kata nasihat dengan jemari yang masih menggenggam tangan istrinya.
Sepasang suami istri itu segera menuju mobil melanjutkan perjalanan berikutnya ke St. Moritz. Pergi ke makam Akio dan juga melihat salju seperti kata Ara.
Sebenarnya Ara ingin sekali naik kereta untuk perjalanan mereka menuju St. Moritz. Namun waktu tempuh yang cukup lama yaitu hampir dua kali lipat, membuat Adrian mengurungkan niat sang istri. Jika mereka naik mobil mereka bisa sampai dalam 4 jam lebih. Itu berarti jika naik kereta bisa 8 jam-an. Kalau ada transportasi yang bisa membawa mereka lebih cepat mengapa tidak. Karena berlama- lama dalam perjalanan itu membosankan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sampai di St. Moritz sudah sore. Mereka menghubungi seseorang yang ternyata seorang gadis yang bernama Pauline, ia mengaku teman kuliah Akio.
Pauline blasteran Indonesia-Swiss. Ibunya sudah meninggal dan ia ikut ayahnya yang berprofesi dokter di sebuah rumah sakit swasta di Bern. Meskipun ia sendiri tinggal di kota dingin St. Moritz.
"Jadi kau yang bernama Adrian? Dan yang cantik ini pasti istrimu," ucap Pauline ketika mereka pertama kali bertemu. Jika banyak gadis kagum pada sosok Adrian, saat pertama kali bertemu, lain hal dengan Pauline. Gadis itu hanya sekilas menatap Adrian kemudian malah memperlama tatapannya pada sosok wanita disebelahnya, Ara.
"Apa kau mengenal istriku?" Adrian merasa jika Pauline memperhatikan Ara sejak tadi.
"Tidak. Aku hanya mendengar ceritanya dari Kio." Pauline tersenyum canggung, menyadari jika apa yang ia lakukan tak luput dari mata Adrian.
"Apa Kak Kio menceritakan hal buruk tentangku?" Ara menyela, karena penasaran hal apa yang diceritakan Kio pada orang asing yang menemani lelaki itu hingga menghembuskan napas terakhirnya.
"Sayang!" Adrian melirik tajam mengerti arah pertanyaan sang istri.
"Tidak, Ara. Rupanya yang dikatakan Kio seratus persen benar. Kau memang lucu dan menggemaskan. Pantas saja semua orang menyukaimu. Termasuk aku yang baru kali ini bertemu denganmu." Gadis cantik berpembawaan dewasa itu tertawa memecah kecanggungan mereka bertiga akibat perbuatannya tadi.
"Kalian mau kesana sekarang?"
"Kalau tidak merepotkan Pal. Kami tadi dari Lausanne mengunjungi anak kami. Kami belum beristirahat sama sekali. Apa tempatnya jauh?" tanya Adrian yang menyadari hari sudah beranjak malam.
"Lima kilometer dari sini. Tidak jauh bukan, hanya sebentar perjalanannya," ucap Pauline, ia mempersilahkan duduk kedua tamunya.
"Apa kalian sudah ada tempat tinggal disini?"
"Kebetulan aku memiliki resort. Tidak jauh dari area ski," jawab Adrian sambil memasukkan fondue kedalam mulutnya. Hidangan khas negara Swiss yang berupa potongan roti yang dicelup dalam lelehan keju yang sudah dimasak dan ditambah beberapa macam bumbu terlebih dahulu.
"Oh ya? Kio tidak pernah bercerita padaku. Cobalah Ra, fondue ini biasanya makanan paling ramah di lidah orang Indonesia kecuali kau tak suka keju," tawar Pauline. Gadis itu menyodorkan garpu yang ujungnya sudah menancap pada sepotong roti.
Ara menurut. Melihat Adrian beberapa kali memakannya sepertinya makanan itu juga bisa diterima oleh lidahnya.
Begitu masuk ke dalam mulut, rasa kejunya sungguh luar biasa. Memang tidak salah Swiss mendapat julukan negara penghasil keju terbaik. Namun aroma bawangnya tidak begitu Ara suka.
"Nikmatilah. Biar aku siapkan mobil dulu." ucap Pauline meninggalkan kedua tamunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah pohon besar sepertinya sudah berusian puluhan tahun, berdiri kokoh di sebuah tempat yang lebih tepatnya seperti taman kecil.
Seperti pemandangan di negeri dongeng. Jika pernah melihat film Hobbit pasti bisa membayangkan seperti apa tempat indah ini.
Sejauh mata memandang tidak ada tanda ada sebuah makam ditempat ini. Apa mungkin ini hanya jalan yang harus dilewati untuk sampai kesana. Sementara makamnya sendiri masih lumayan jauh jaraknya untuk ditempuh.
"Masih jauh, Pal?
"Lihatlah beberapa meter didepanmu. Di bawah pohon besar itu ada gundukan tanah yang lebih tinggi daripada sekitarnya. Disanalah Kio beristirahat," ucap Pauline lirih. Entah mengapa, Adrian merasa ada kesunyian dalam hati gadis itu setiap menyebut nama Akio.
Adrian menunjuk arah yang tepat, terbukti ketika Pauline mengangguk mengiyakan.
"Tidak ada nisan disana. Bagaimana mengenali tempatnya? Apalagi gundukan ini ada beberapa," ucap Adrian yang sempat melempar tatapan memutari pohon.
Memang benar apa yang diucapkan Adrian. Ada beberapa gundukan yang dibuat memutari pohon besar itu. Ada bentuk kotak, segitiga, bulat dan love. Kesemuanya memiliki tinggi yang sama serta lapisan paling atas ditumbuhi rumput yang nampak dipangkas rapi.
"Kio yang ingin seperti itu. Katanya, ia hanya ingin dikenal oleh keluarganya, bukan orang yang mungkin tidak sengaja berkunjung ke makamnya. Karena ia telah menjalani kehidupan baru sekarang, tanpa kesedihan dan juga rasa sakit, begitu ucapnya," Pauline menjelaskan dengan rinci. Bagaikan sebuah kematian yang direncanakan. Karena semuanya terasa sempurna dan indah.
Adrian menghela napas berat. Sepupu yang sudah seperti saudara lelakinya itu selalu menakjubkan. Memaknai setiap langkah kehidupan yang ia lalui dengan semangat, meski kesempatannya berada di dunia tidaklah lama. Namun tentu saja sosoknya akan selalu dirindukan oleh orang-orang yang mengenalnya.
Lelaki itu merangkul pinggang Ara, membawanya menuju sebuah tempat dimana raga Akio terbujur disana.
Mereka duduk sejenak, di sebuah kursi kayu yang nampak baru cat-nya. Dikursi itu terdapat tulisan (L' amore e tutto. Non potrai resistere). Kata-kata yang indah, mungkin itu juga quote Akio atau orang yang membangun tempat ini untuknya.
"Kami mengunjungimu. Berbahagialah dengan kehidupan barumu Ki," ucap Adrian lirih.
Ara menghapus air matanya yang tanpa permisi menetes. Kemudian mengambil beberapa kuntum bunga yang tumbuh di taman yang mengelilinginya dan menyematkannya pada tanah berbalut rumput hijau nan cantik itu.
"Semoga Kakak berbahagia. Maafkan kami yang terlambat datang berkunjung," ucap Ara dengan suara parau.
Adrian mengajak sang istri kembali. Pauline sudah menunggu dan hari beranjak malam. Apalagi malam hari disini sangat dingin.
Alhamdulillah, Terima kasih reader, Terima kasih diriku yang begitu bersemangat di bulan kelahiranku ini😂 semoga apa yang aku targetkan bisa selesai tepat waktu dan bisa lagi membuat novel baru, love u❤️❤️
L'amore e tutto. Non potrai resistere. Cinta adalah segalanya. Kamu tidak akan bisa menolaknya.
__ADS_1