Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 233 Anugerah Terindah


__ADS_3

"Dokter? Sedang apa disini?" Sinta memutar kepalanya ke kanan dan kekiri. Mencari seorang lelaki yang sempat ia lihat berbincang dengan Ori beberapa menit yang lalu. Dan ia hanya menoleh sebentar, lelaki itu mendadak hilang.


"Hah? Tidak, hanya sarapan pagi saja. Kamu sendiri kok sampai disini sepagi ini, Sin?" Ori kaget saat is sedang serius membicarakan sesuatu dengan sang sepupu, matanya melihat Sinta yang berada tidak jauh darinya.


"Aku mengantarkan pesanan kue si ibu itu," tunjuk Sinta pada pemilik coffe shop tempat mereka berdua saat ini.


Dan Sinta masih bingung mengartikan ucapan Oryza. "Dokter sarapan disini? Sarapan dengan kopi?" tunjuk gadis itu dengan tawanya yang sumbang.


"Emmm...." Oryza memutar otaknya cepat. Jangan sampai ia salah bicara hingga membuat gadis di depannya ini curiga atau malah penasaran. "I-iya, jika buru-buru, aku suka begitu." Lelaki mirip idol k-pop itu memaksa senyumnya, kemudian mengambil es kopi milik sepupunya yang langsung kabur ketika Oryza menunjuk Sinta tadi.


Oryza tidak perduli apa yang ia lakukan saat ini aneh. Harusnya ia minum kopi panas, bukan es kopi pagi-pagi seperti ini.


"Yang tadi temennya, Dok?"


"Oh, iya. Tidak sengaja bertemu disini," jawab Ori sambil memutar matanya. Ia harus segera mencari pembahasan lain, agar Sinta tidak bertanya lebih jauh.


"Penampilannya aneh," gumam Sinta lirih.


"Dia memang begitu. Lebih menyukai warna hitam daripada warna yang lainnya. Mau pulang bareng?"


"Kan saya bawa motor, Dok. Nanti kalau saya bareng Dokter, motor saya bareng siapa?" tanya Sinta meringis. Padahal dalam hatinya, ia sangat berharap akan hal itu. Dan akhirnya malah benar-benar diajak pulang bareng oleh Dokter Ori. Namun, begitu mengingat ia membawa motor, hanguslah sudah harapannya.


"Biar nanti diantar tukang parkir depan, gampang kan! Tinggal kasih ucapan terima kasih?" Oryza berdiri, kemudian membayar kopinya dan melewati Sinta begitu saja. Gadis itu menatap kepergian lelaki idolanya dengan kecewa.


Kenapa harus membayar orang untuk membawa motornya, jika sebenarnya ia bisa membawa motornya sendiri? Dilema! Antara kesempatan dan pengorbanan. Sinta telah berjanji pada dirinya sendiri, jika ia akan banyak menabung untuk melanjutkan kuliahnya.


Gadis itu sudah terlambat banyak dalam pendidikannya, karena kemiskinan dan adik-adiknya yang lebih gadis itu prioritaskan daripada dirinya. Saat ini saja ia tengah mengambil paket belajar untuk mengejar keterlambatannya. Dan tentu masih dibantu oleh panti asuhan.


Ori yang merasakan tidak ada pergerakan dari gadis panti asuhan yang ia kenal itu, memberhentikan langkahnya. "Ayo! Jadi tidak?" Ori bahkan berhenti lagi di luar pintu masuk, menunggu Sinta.


Seperti mendapat angin segar. Ternyata Oryza tidak main-main dengan ajakannya.


"Tapi, Dok." Sinta berhenti kembali. Kebimbangan nampak di wajahnya.


"Pak, antar motor mbaknya ini ke ... alamatnya minta ke Mbaknya." Oryza menunjuk pada Sinta kemudian mengeluarkan selembar uang 50-an dan memberikan pada tukang parkir itu. Selanjutnya ia masuk ke mobilnya.


"Dokter Ori seperti cenayang saja. Padahal aku belum mengatakannya, tapi dia malah langsung memberikan uangnya," ucap Sinta dalam hati. "Ini, Pak, alamatnya. Terima kasih banyak," ucap Sinta yang kemudian berlari menuju mobil Ori, yang sudah menunggunya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mas.. bangun."


"Masssss...." Adrian mengerjap namun ia masih enggan membuka lebar matanya. Lelaki itu mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya. Seseorang yang dirindukannya.


"Pasti hanya mimpi," gumamnya tanpa sadar.


"Mass ... Bangun...."


"Ini cuma mimpi, aku hanya mimpi," gumaman lelaki itu yang malah membuat dirinya sendiri gelisah. Sebagian dirinya menginginkan membuka mata, namun sebagian lain menolaknya, takut akan kecewa.


"Mass ... kau tak ingin melihatku? Kenapa malah pura-pura tidak mendengar?" Suara itu terdengar merajuk seperti biasa.


Lalu perlahan, Adrian memberanikan diri, membuka sedikit kelopak matanya. Dan benar saja, ada seseorang yang tengah duduk disampingnya.


"Sayang?" Adrian terjaga sepenuhnya. Matanya menangkap sosok yang dirindukannya itu sedang tersenyum menatapnya, dalam temaram lampu tidur miliknya.


"Mas kenapa? Seperti melihat hantu?" ucap seorang wanita yang berada di depannya kini.


"Emm ... Sayang?" Adrian tidak mampu mengucap apapun. Ia segera merangsek memeluk istrinya itu, yang entah sejak kapan sudah disana bersamanya. Bahkan sekedar untuk bertanya apakah ia sedang mimpi atau tidak, Adrian tidak sanggup. Karena ia takut. Takut kehilangan kembali.


Rasanya sama. Pelukannya, aroma dan hangat tubuhnya tidak ada yang berubah. Sudah lama ia merindukan semuanya itu. Benarkah wanita itu kembali untuknya?

__ADS_1


"Mas kenapa? Sakit?" tangan Ara terulur memegang dahi sang suami. "Hangat."


"Aku tidak apa-apa? Jangan pergi lagi!" Sekarang giliran Adrian yang membawa tubuh sang istri dalam pelukannya.


"Pergi kemana? Kita akan menua bersama bukan? Itu janjimu padaku." Ara memainkan jari Adrian yang menggenggamnya. Kemudian menatap wajah suaminya yang hanya terpejam dalam diam.


"Kamu? Ah tidak. Terima kasih percaya janji kita, Sayang. Aku akan menjagamu seumur hidupku dan tidak akan membiarkanmu pergi lagi, apapun yang terjadi. Tidak akan...." Adrian menahan matanya yang basah. Dengan rengkuhan yang semakin erat pada tubuh kecil yang ada dipelukannya itu.


Perasaan cintanya pada sang istri tiba-tiba menjulang tinggi dan membuat dadanya sesak. Rasa kehilangan dan rindu yang menjadi satu.


Kemudian ... gelap.


"Hahh ... Hah.... hah...." Adrian terengah ketika terbangun. Kemudian ia menatap sekeliling. Matanya menangkap jarum jam tepat di angka 2 dini hari. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada siapapun disampingnya.


Padahal dia sudah menahan diri untuk bertanya pada sosok itu, berharap ia tidak mimpi atau kalaupun ia mimpi ia tidak ingin bangun lagi.


Bahkan ia belum sempat bertanya, dimana istrinya saat ini. Namun ia malah dihukum kenyataan jika semua itu benar.


Hanya mimpi!


Tapi pelukan itu terasa nyata. Bahkan hangat tubuh Ara masih terasa melekat di dadanya. Tangannya yang menggenggam tangan lelaki itupun, lembut seperti biasanya.


Tidak ada yang berubah.


Apa mungkin Tuhan sedang berbaik hati padanya saat ini. Mendatangkan Ara yang bagai nyata tapi semu. Semu tapi seperti kenyataan. Dan yang pasti, rasa rindunya juga sedikit terobati karena ia sempat memeluk sosok itu.


Adrian menghempaskan kembali tubuhnya, pada ranjang penuh kenangan masa lalu yang rumit. Bahkan tadi sebelum memilih kamar ini, lelaki itu berkali-kali, bolak-balik antara ruang kerja dan kamar ini. Dua ruangan yang pernah ditempati sang istri selama tinggal di apartemen ini. Dan mengandung semua hal tentang wanita itu.


Lelaki itu memilih untuk memejamkan matanya kembali. Berharap wanita yang dicintainya itu akan hadir meskipun harus bermimpi, kembali.


\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=


"Kamu kenapa, Nak?" Esther ikut bangun, saat mendengar suara sedikit gaduh di dapur. Karena tidak mungkin ada aktifitas orang rumah disana di waktu-waktu seperti saat ini. Jam 2 dini hari.


Dan ternyata, Esther mendapati Ara sedang terduduk di lantai dapur sambil memegang gelas.


"Mami?" Ara tersentak kaget. Ia tak menyangka ada yang mendengar kegaduhan yang tidak sengaja ia buat.


Wanita itu terbangun akibat mimpi. Jantungnya yang memompa cepat membuatnya limbung saat ia berlari ke dapur tadi. Belum lagi panci berisi air yang akan ia letakkan diatas kompor malah jatuh. Sehingga menimbulkan bunyi berisik saat pagi buta seperti ini.


"Aku hanya mimpi, Mi," ucap Ara sambil mengulas senyumnya terpaksa. Ia berusaha membuat tenang wanita paruh baya itu.


Masih tidak bisa percaya, apa yang ia mimpikan tadi. Rasanya begitu nyata. Baru saja kemarin, ia menangis saat malam sebelum tidur, karena merindukan Adrian. Dan sekarang, ia malah memimpikan suaminya itu yang tiba-tiba datang memeluknya.


Segala apa yang Adrian ucapkan dalam mimpinya bahkan masih diingatnya.


"Airmu sudah mendidih."


"Oh, maaf Mi. Aku lupa jika merebusnya." Ara tersenyum sumbang, kemudian bangkit dari duduknya. Wanita itu menuang air panas kedalam gelasnya.


"Kamu yakin baik-baik saja, Nak?" Esther khawatir melihat wajah Ara yang nampak pucat dan berantakan. "Atau mau Mami ambilkan obat? Sepertinya kamu sakit."


"Tidak, Mi. Aku baik-baik saja. Aku hanya kurang tidur." Ara kini posisinya membelakangi sang ibu. Wanita itu menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba keluar membasahi pipi.


"Baiklah. Mami ada dikamar, jika kau membutuhkan...." ucapan Esther menggantung. Ada nada khawatir, namun ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi putri angkatnya itu.


Ara hanya mengangguk, dan tetap menyembunyikan wajahnya. Tak berani melihat sang ibu yang bahkan menghentikan langkahnya sejenak, sebelum masuk kembali ke kamarnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kopi, Bi!" Adrian yang kembali ke rumahnya beberapa jam kemudian, diam-diam masuk ke dapur.

__ADS_1


Lelaki itu melihat bibi Yulia yang tengah sibuk memasak sesuatu disana malah melabuhkan tangannya di kedua bahu milik kepala pelayan itu dari arah belakang.


"Tuan! Anda membuat saya kaget!" pekik bibi Yulia yang sedang membuat sarapan. Wajahnya semerah tomat. Bukan malu tapi marah. Kalau bukan majikannya, pasti bibi Yulia sudah mencaci orang itu dari Jakarta hingga Bandung.


"Sarapan sekalian, ya. Anda lama sekali tidak mencicipi masakan saya. Apa kemampuan memasak saya menurun seiring usia, sehingga anda enggan menyentuhnya," ucap bibi Yulia menyindir. Padahal Adrian memang jarang makan dirumah. Mau pagi, siang, ataupun malam.


Sejak nyonya besar keluarga itu tidak ada, membuat sarapan pagi dilakukan oleh Ara dan bibi Yulia. Sedangkan untuk makan siang dan malam barulah diserahkan pada chef.


"Pemaksaan?"


Bibi Yulia tersenyum lebar. "Saya rindu diberi komentar pedas oleh Tuan. Meskipun saya tahu, komentarnya selalu itu-itu saja, dan kini tidak ada yang membela saya," Bibi Yulia seperti melamun saat mengucapkannya.


Tentu saja yang dimaksud adalah Ara. Siapa lagi yang berani membelanya dari komentator pedas subyektif Adrian kalau bukan istrinya sendiri.


"Itu sudah! Makanya jangan memaksaku, Bi," ucap Adrian menerima secangkir kopi dari tangan wanita paruh baya itu.


"Apa ini? Kenapa kopi susu?" Dahi Adrian mengernyit, bahkan ia lupa kapan terakhir kali menikmati minuman itu. Hari ini minta kopi hitam malah diganti kopi susu oleh kepala pelayan itu.


"Ini masih terlalu pagi, Tuan. Lambung Anda bisa bermasalah, jika terus mengkonsumsi kopi hitam sebelum sarapan."


"Bibi ... Kenapa menjadi cerewet sekali, seperti... Ara." Lelaki itu protes, namun akhirnya ia mengaduk kopi susu itu dan mencicipinya.


Bibi Yulia yang hendak berlalu untuk meneruskan pekerjaannya, menoleh.


"Anda harus menjaga kesehatan Anda, Tuan. Ingat, saya tidak mau disalahkan oleh Nyonya nanti," ucap bibi Yulia selalu mengulang ucapannya. Bahwa ia pernah berjanji pada sang nyonya sebelum wanita itu pergi.


"Apa nyonya mu akan kembali, Bi?"


"Jika Tuhan berkehendak, dan Tuan tidak berhenti percaya akan kuasaNya. Saya yakin, semua akan mungkin untukNya, " ucap bibi Yulia bijak. "Meski kita tidak tahu kapan waktu itu tiba, Tuan," bisiknya dalam hati.


Wanita paruh baya itu berharap sang nyonya segera kembali. Tuan besarnya sudah beberapa kali sakit. Dan itu sangat membuatnya khawatir. Sungguh, ia tidak mau kehilangan keduanya.


"Mana sarapannya? Bibi hanya menawarkan?" ejek Adrian karena bibi Yulia sedari tadi terdengar ngotot menyuruhnya sarapan. Tapi wanita paruh baya itu tetap tidak menghidangkannya tanpa seizinnya.


"Segera tuan!" Binar bahagia nampak di mata wanita paruh baya itu. Bibi Yulia langsung semangat empat lima ketika mendengar majikannya bersedia sarapan pagi hari ini.


"Silahkan."


Bibi Yulia menyodorkan nasi goreng buatannya. Meski kata sang majikan sama sekali tidak mirip buatan sang nyonya, namun ia bahagia bisa membuatnya lagi.


"Sepertinya enak, Bi." Adrian mulai memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Siap demi suap.


"Tuan jangan menghibur saya. Sudah biasa, tidak enak pun tidak apa-apa Tuan. Yang penting Tuan bersedia menghabiskannya. Setelah sarapan nanti saya buatkan kopi hitam seperti biasa. Tapi nanti sekali ya, Tuan. Masih nanti siang," ucap bibi Yulia sembari tersenyum miring, mengejek sang majikan.


Adrian menahan senyumnya. Hari ini mood nya sedang baik. Sungguh, padahal ia hanya bermimpi bertemu dan memeluk wanita yang dicintainya itu, namun rasanya sangat melegakan. Bagaikan menemukan sumber air di padang pasir yang panas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pekerjaan kita masih banyak, Le?"


"Minggu ini full, Tuan. Sepertinya bernapas adalah satu-satunya kebahagiaan kita untuk saat ini," kelakar Leo yang diiyakan oleh sang majikan.


Dani masih semangat empat lima. Tentu saja jiwa mudanya masih segar untuk menelan berkas demi berkas yang ada di hadapannya saat ini. Dan apa tadi kata Leo? Bernapas saja adalah kebahagiaan tersendiri. Itu hal paling konyol yang diucapkan Leo, namun sayangnya benar.


Satu minggu ke depan? Dan hari ini baru berawal. Membayangkan saja membuatnya pening, pemuda itu menggelengkan kepalanya pelan.


Dalam waktu yang sibuk seperti ini, mendadak pemuda itu mengingat sang ayah. Ternyata Adrian benar-benar sosok ayah yang hebat. Di tengah pekerjaannya yang menyita waktu dan perhatian serta tuntutan darinya sebagai seorang anak. Ayahnya itu bahkan tidak pernah marah atau membentaknya, meskipun sikapnya sangat buruk pada lelaki itu.


Sekarang, Dani baru menyadari. Tanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaan ternyata sangat besar. Apalagi untuknya dan sang ayah yang mutlak bergelar pewaris dari sekian banyak aset milik keluarga. Ia yang masih sendiri saja merasa berat, apalagi sang ayah.


💗 Hai semua, maafkan daku yang terlambat update. Aku ketiduran😭😂. Kebangun sudah dini hari, akhirnya malah tidur lagi😁 love u

__ADS_1


Terimakasih untuk segala like komen dan vote nya ya🌹


__ADS_2