Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 195 Memilih Universitas


__ADS_3

"Mela kenapa, Bi?"


"Sepertinya telat, Nyonya. Dia tadi sibuk menemanu Elang." Suara bibi Yulia lirih, wanita paruh baya itu takut menyinggung Elang yang sedang makan di dapur.


"Menemani? Maksudnya, Bi?"


"Ada udang dihati Mela, Nyonya. Ups...." Bibi Yulia menepuk mulutnya sendiri. "Maksud saya, sepertinya ada rasa untuk...." Bibi Yulia memonyongkan bibirnya menunjuk Elang.


"Jadi serius?"


"Nyonya sudah tahu?" Bibi Yulia melirik Ara yang bereaksi biasa saja.


Ara mengangguk, "Kukira dia hanya bercanda, Bi. Kemarin sempat bertanya padaku tentang Elang."


"Tadi saja, Mela menyiapkan sarapan pagi buat Elang," bisik bibi Yulia.


"Gigih ya dia. Semoga mereka jadian."


"Jangan Nyonya. Dia mau saya jodohkan dengan keponakan saya," tunjuknya pada Elang yang masih duduk tenang menghabiskan sarapannya.


"Wahh ... Saingan berat berarti, Bi," ucap Ara yang dibalas senyum masam bibi Yulia. Dia sudah underestimate karena dipikirnya tidak ada saingan.


"Mel, kamu masuk jam berapa?" Ara melongok ke dalam ruang keluarga dimana Mela berada.


"Jam 7.15, Ra. Mana belum pesan taxi lagi." Mela seperti orang yang kebingungan, sesekali mengusap airmata yang jatuh di pipinya. Gadis itu terlihat beberapa kali keluar masuk ruang keluarga karena ada saja barang yang ketinggalan akibat terburu-buru.


Ara berinisiatif meminta tolong pada Elang. Adrian berangkat ke kantor jam 8, masih ada sisa waktu jika ia menginginkan asisten suaminya itu untuk mengantar sahabatnya.


"Lang. Tolong antar Mela, ya. Kasihan dia sudah terlambat."


"Baik, Nyonya." Tanpa banyak bicara, Elang segera menghabiskan satu sendok terakhirnya kemudian minum dari gelas yang diberikan Mela tadi.


Lelaki itu bergegas keluar dan menyiapkan mobil yang akan digunakan untuk memgantar sahabat majikannya itu.


"Periksa dulu tasmu dengan teliti, jangan sampai ada barang penting yang ketinggalan, Mel." Ara membantu sahabatnya itu meneliti kembali sofa dan meja tempat mereka bercengkerama tadi. "Kamu diantar Elang saja, ya."


"Tidak usah, Ra. Nanti merepotkan. Biar aku menunggu taxi saja, sebentar lagi pasti sampai, aku sudah pesan." Sungguh Mela bukannya menolak rezeki. Apalagi mendengar jika Elang yang akan mengantar. Pasti akan sangat membahagiakan duduk bersama dalam satu mobil. Tapi dia tidak enak dengan suami sahabatnya itu.


"Jangan membantah. Ayo cepat, taximu biar aku yang bayar, kasihan kalau dibatalkan." Ara menarik tangan Mela menuju halaman depan. Disana sudah menunggu Elang yang mengangguk sopan dengan senyum tipisnya.


Ara sampai membukakan pintu untuk sahabatnya itu, karena Mela hanya terpaku disamping mobil memperhatikan Elang.


"Cepat masuk, Mel. Waktunya berjalan terus." Ara ikut-ikutan melirik jam tangannya seakan ikut merasa terburu-buru. Kemudian wanita itu mendorong Mela masuk dengan paksa.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Ra. Apa jadinya aku kalau tidak ada kamu." Mela meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat.


"Berterimakasihlah pada orang yang mengantarmu," ucap Ara penuh arti karena tatapan matanya tertuju pada Elang. "Hati-hati ya Lang, boleh ngebut tapi tahun aturan. Ingat kalian berdua belum menikah lo," pesan Ara yang diterima berbeda oleh kedua orang didalam mobil itu. Karena Elang menganggapnya itu pesan biasa. Sedangkan Mela yang memang memiliki rasa, langsung berbunga-bunga mendengar kata menikah. Ah, andai saja.


Selanjutnya, mobil melaju menuju butik tempat Mela bekerja.


\=\=\=≠≠\=\=\=\=\=\=


Tuk


Tuk


Tuk


"Mela! kamu terlambat 10 menit."


Gadis itu baru saja hendak melewati pintu butik dan ternyata sang manager yang sudah lebih dulu berada disana, sengaja menunggunya datang.


"Maaf Bu, saya...." mela menunduk, lidahnya kelu. Bingung mencari alasan atas keterlambatannya. Ia bahkan tidak berpikir akan disambut oleh sang manager yang biasanya datang lebih siang itu. Tidak mungkin juga kan, bercerita ia terlambat karena keasyikan mengunjungi sahabatnya yang tengah sakit, dan menemani Elang sarapan.


"Apa? Setahu saya kamu tidak pernah datang terlambat, Mel."


"Saya ... Anu, Bu." Gadis itu memilin ujung seragamnya, mencari jawaban disana. Tapi nihil, dipilin sampai keriting pun, tidak akan keluar alasan tepat dari sana.


"Maaf Bu, Mela datang terlambat gara-gara saya. Adik saya sakit dan saya memintanya membantu saya." Mela kaget, tiba-tiba saja Elang yang tadinya di dalam mobil sudah berada disebelahnya kini. Dan lebih mengejutkan, lelaki itu ikut keluar dan membantunya menghadapi sang manager yang terkenal disiplin itu.


"Anu Bu, dia as_"


"Saya tetangganya, Bu. Sebelah rumahnya. Sudah seperti kakaknya sendiri."


Mela yang tadinya ingin berucap menjadi urung, dan berakhir mengikuti sandiwara Elang untuk menyelamatkannya.


"Oh ... Baiklah, jadi kalian hanya tetanggaan. Saya kira tadi ada hubungan," ucap manager Mela meringis senang.


"Tidak, Bu. Saya mengantarkannya juga untuk menghindarkannya dari masalah dan juga sebagai ucapan terima kasih. Saya mohon pamit." Elang menyatukan kedua tangannya, kemudian mengangguk dan kembali menuju mobil.


"Mas, boleh minta nomor ponselnya?" ucap Bu manager tanpa malu yang sontak membuat Mela tercengang.


"Tanyakan saja pada karyawan anda," ucap Elang yang hampir masuk ke dalam mobil hingga akhirnya lelaki itu hilang dari pandangan bersama mobil yang dikendarainya.


Karyawannya? Tentu saja yang dimaksud Elang adalah Mela.


"Cepat masuk, Mel." Titah wanita berusia sekitar 40 an itu sambil mendorong masuk Mela.

__ADS_1


"Iya, Bu."


"Tunggu! Berapa nomor ponsel tetanggamu itu?" Wanita berparas cantik, dengan high heels lancip itu memegang lengan Mela sebelum pergi.


"Hah? Saya tidak tahu, Bu," jawab Mela yang kaget dengan pertanyaan sang manager. Ia berpikir Elang bercanda karena lelaki itu tentu tahu jika Mela tak mungkin memilikinya. Ternyata sang manager malah menganggapnya serius.


"Dia tadi mengatakan untuk bertanya padamu, Mel."


"Tapi sungguh, Bu. Saya tidak menyimpan nomornya."


"Kalau begitu tugas kamu sepulang kerja nanti kamu harus datang ke rumahnya dan menanyakan nomornya. Saya tidak akan memaafkan keterlambatan kamu hari ini, kalau kamu belum memiliki nomor tetanggamu itu. Titik,"


Mela melotot tak percaya. "Bu manager jadi genit begini, apalah aku dibanding dia yang cantik putih dan bodi aduhai, kekuranganku sangat banyak sedangkan kelebihanku hanya satu, lebih tua dia daripada aku," gumam Mela, yang menepuk berkali-kali jidatnya agar berpikir lebih realistis.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadinya kamu pilih yang mana?" tanya ara pada sahabatnya, yang masih sibuk membolak-balik brosur yang diberikan Adrian dengan brosur yang ia dapatkan sendiri. Ya, beberapa saat yang lalu kedua sahabat itu mendatangi sendiri ketiga universitas yang diajukan Adrian.


Mereka tengah ada didalam mobil, di seberang jalan salah satu universitas itu sekarang.


"Kamu memikirkan apa?"


"Kenapa semuanya mahal ya, Ra?" Mela menggigit bibirnya, raut wajahnya nampak bimbang sambil bibirnya seperti menghitung angka-angka.


"Tidak usah pikirkan biayanya, Mel. Mas Adrian sudah setuju memberimu beasiswa. Lagipula dia sendiri yang menyodorkan ketiganya. Berarti Mas Adrian sudah siap dengan biaya yang harus ia tanggung," ucap Ara menenangkan.


"Tapi kasihan suamimu, Ra. Jika terlalu mahal, aku tidak enak. Apalagi jurusan yang aku masuki merupakan favorit disana. Biayanya lebih mahal daripada yang lain." Meski mendapat beasiswa penuh dari Adrian, gadis itu tidak mau membebankan semuanya pada suami sahabatnya itu. Ia akan mengambil kelas karyawan sehingga masih bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


"Ya ampun, Mel. Kamu tidak percaya kemampuan suamiku?" Ara kemudian malah merutuki ucapannya yang seakan sombong di depan sahabatnya. "Maaf, bukan begitu maksudku Mel. Mas Adrian juga memberi beasiswa pada Elang untuk mengambil S2 nya. Sudah hampir selesai malah, tinggal tesisnya saja."


"Elang juga kuliah?" Ara mengangguk.


"Dimana?"


"Di Universitas Unggul Daya, salah satu dari rekomendasi yang suamiku berikan padamu. Ada brosurnya kan, baca saja."


"Tidak usah. Kita langsung kesana saja, Ra. Aku mau kuliah disana." Gadis itu membereskan tumpukan brosurnya dan memasukkannya kedalam tas.


"Hah?"


"Ayo cepat jalan, Zen!" Mela menatap Ara yang masih ternganga tidak percaya dengan keputusan cepat yang diambil sahabatnya itu. Bingung saat memilih hingga hampir 2 jam disini. Sedangkan keputusannya muncul seketika saat mendengar nama Elang.


"Ahhh ... Maksudku ... Ayo Ra, suruh bodyguard mu jalan. Ini sudah hampir jam 3, sebentar lagi tutup," ucap Mela menyentil tangan Ara.

__ADS_1


"Ah iya benar. Jalan Zen!"


"Cepat ya, Zen. Aku tidak mau terlambat," ucap Mela memburu lelaki yang ada dikursi kemudi itu.


__ADS_2