Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 194 Babang Tamvan


__ADS_3

"Mel, kamu saja yang mengganti ini ya," pinta Ara pada sahabatnya yang datang sangat pagi dengan alasan hanya untuk menjenguk itu.


"Tidak! Mana berani aku dengan suamimu. Ia yang bersikeras merawatmu kan? Nanti aku kena amukannya lagi," jawab Mela enteng.


Mereka sedang ada di ruang keluarga saat ini. Dan Mela asyik menikmati nasi goreng yang diberikan oleh bibi Yulia, yang sebenarnya hanya basa basi saat menawarkannya. Tapi ternyata langsung diiyakan oleh gadis itu karena ia kelaparan.


Tentu saja Mela belum sempat sarapan, bayangkan saja jam 5 pagi ia sampai dirumah itu. Padahal jarak antara kost dan rumah Adrian cukup jauh, dan gadis itu menaiki taxi sepagi itu. Sungguh nekat, untung saja ia sampai disana dengan sehat walafiat.


"Terus kamu mengunjungiku tanpa melakukan apapun untukku, Mel?"


"Ya ampun, Ra. Sejak kapan kamu hitung-hitungan denganku?" Raut wajah sedih, Mela tunjukkan pada sahabatnya itu. "Kamu tidak ingat siapa yang menemanimu saat sedang galau karena ulah suamimu itu?"


"Kamu juga mulai hitung-hitungan rupanya!" Ara terbelalak, kemudian wanita itu menjentikkan telunjuknya di hidung sahabatnya itu.


"Ara! Ini masuk pasal penganiayaan. Aku akan laporkan kamu pada suamiku," protes Mela geram. Gadis itu sampai melotot ke arah Ara.


"Suamimu yang mana?? Maksudmu suamiku?" tanya Ara memastikan. Ia tidak perduli dengan gertak sambal sahabatnya yang ia tahu tidak serius itu. Bisa- bisanya Mela malah salah bicara.


"Suamiku ... Eh, calon Ra," sahut Mela cengengesan. "Yang tampan dan sedingin es batu, selalu sopan saat bertemu wanita dan dia nampak begitu berkharisma." Mela seperti orang yang berimajinasi, bahkan gadis itu mengacuhkan nasi gorengnya yang tinggal setengah lagi yang sepertinya mulai dingin.


Huss! Ara mengibaskan tangannya di depan Mela. "Kamu membayangkan siapa? Bukan suamiku, kan?" Wanita itu mendelik mendengar ciri-ciri yang diucapkan sahabatnya. Sedikit banyak, mirip Adrian.


"Duhh ... yang punya suami." Mela menyendokkan sesuap nasi goreng kedalam mulutnya. "Memang cuma Mr. A ya, yang memiliki ciri seperti itu di dunia ini Ra? Uhuk ... Uhukk."


"Pelan-pelan. Makanya kalau makan jangan bicara terus!" Ara kesal, tapi tetap mengangsurkan segelas air untuk sahabatnya itu.


"Hemm ... Tapi, Mr. A itu cuma cinta mati sama kamu Ra. Aku punya buktinya."


"Bukti apa? Itu aku sudah tahu dari dulu, kau tahu aku juga sangat mencintainya kan, Mel?"


"Tapi ini benar-benar bukti otentik dan tidak terbantahkan, Ra. Tanpa rekayasa. Aku lupa-lupa terus ingin menunjukkannya padamu." Mela mengambil ponsel dari dalam tasnya. "Tunggu, ya!"


Setelah menggeser beberapa kali benda pipih itu, Mela langsung menunjukkannya kehadapan Ara.


Wanita cantik itu tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Apalagi melihat waktu yang tertera disana, 5 menit, 10 menit dan paling lama satu jam. "Ini ... Saat di rumah sakit kemarin?"


"Hemm." Mela mengangguk. "Aku sampai pusing dibuatnya. Dia yang meminta tolong, dia juga yang marah-marah, lelaki paling aneh memang suamimu itu."


"Dia limited edition, Mel." Ara masih menahan senyumnya membaca setiap percakapan Mela dengan suaminya itu. "Dia sekhawatir itu?"


"Ya. Dan cerewet sekali. Menyuruh ini itu, bahkan kau lihat sendiri kan, setiap satu jam sekali aku harus mengirimkan foto terbarumu. Aku sudah seperti detektif yang ia sewa saja." Cerita Mela yang semakin memperkuat bukti yang ia berikan pada sahabatnya itu.


"Aku tak tahu suamiku seromantis itu, Mel." Hati Ara meleleh mencermati setiap kata yang ada di pesan itu. Bahkan disaat lelaki itu marah, tak sekalipun dia benar-benar tidak perduli dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Hello Ara! Itu bukan romantis. Bagaimana kamu bisa mengartikannya seperti itu? Romantis itu memberi bunga, coklat, sering memberi kejutan dan_"


"Ehem ... Itulah istimewanya istriku. Standarnya tentang romantis adalah menerima segala kekuranganku sebagai suatu kelebihan yang tidak ada pada orang lain. Begitu kan, Sayang?"


"Hah? Uhuk ... Uhuk...." Mela tidak menyangka jika Adrian berada di belakangnya. Dan pasti lelaki itu mendengar celotehannya sejak tadi, dimana setiap pujian Ara ia patahkan. Gadis itu langsung menghabiskan air dalam gelasnya. Kaget menyebabkan nasi goreng salah masuk ke dalam saluran pernapasannya.


"Mas, kau membuatnya tersedak." Ara membantu sahabatnya itu dengan menepuk-nepuk punggungnya.


"Biar saja, bukan urusanku. Ayo Sayang aku rawat lukamu," sahut Adrian sengit. Lelaki itu menarik tangan Ara dan menggenggamnya.


"Kemana? Disini saja."


"Ada dia." Dagu Adrian mengedik ke arah Mela.


"Dia kan wanita, Mas."


"Bagaimana kalau Elang tiba-tiba masuk? Ini kan tempat umum Sayang. Bukan seperti kamar kita." Lelaki itu memberi alasan.


Ara menepuk jidatnya pelan. Ia sampai lupa berada dimana sekarang. "Habiskan makananmu, Mel. Nanti jika Elang datang, katakan Mas Adrian masih bersamaku. Atau suruh ia sarapan saja dulu biar bibi Yulia yang menyiapkan. Ka_"


"Sudah sudah. Aku tahu apa yang harus kulakukan, Ra. Kalian berdua pergi saja, biar aku yang mengurus babang tamvan ku, Upps_"


"Kau mengatakan apa tadi?" Adrian sampai berbalik, saat mendengarnya.


"Siapa yang ia sebut tadi, Sayang?" Adrian penasaran. Dia tidak mungkin salah mendengar, jarak antara mereka tidak terlalu jauh.


"Sudah, ayo kita keatas saja. Aku tidak ingin Mas terlambat ke kantor." Ara menarik paksa sang suami yang masih sesekali berhenti meminta jawaban. "Mungkin ia sedang menyukai seseorang, dan menyebut setiap lelaki dengan sebutan itu." ucap Ara menenangkan.


"Tapi ini jelas, Sayang. Kita sedang membicarakan Elang. Dan respon dia bahagia sekali. Atau jangan-jangan temanmu itu menyukai Elang?" tebak Adrian yang sayangnya benar.


"Mungkin, Mas. Sudah biarkan saja."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bau ini? Aku kenal." gumam Mela. Dia menarik napas dalam, aroma maskulin menyentil hidungnya saat ini. Aroma sedap nasi goreng buatan bibi Yulia saja lewat.


"Selamat pagi, Bi."


Tidak salah lagi. Itu suara Elang, rupanya Mela sangat serius mengenali asisten Adrian itu. Sampai bau parfumnya saja gadis itu hapal.


"Pagi Lang, mau sarapan?"


"Boleh, Bi," jawab Elang singkat. Lelaki itu mengambil kursi yang tidak jauh dari Mela untuk dirinya duduk.

__ADS_1


Mela sudah berpindah ke dapur saat ini. Gadis itu sontak memacu kunyahannya agar nasi gorengnya habis sekali libas meskipun masih ada beberapa sendok lagi.


"Hah?" Bibi Yulia kaget saat Mela sudah berada disampingnya membawa piring bersih dan sendok, melakukan hal yang sama seperti dirinya. Bukankah gadis itu tadi masih duduk di kursinya?


"Kamu tambah lagi, Mel?" Sapa bibi Yulia, dan gadis itu menggeleng. Kemudian dia menunjuk pada piring kosong yang dipegang oleh bibi Yulia. "Lalu kenapa ikut kesini dan membawa piring baru lagi?"


Tanpa menjawab, Mela mendahului bibi Yulia menyendokkan nasi pada piring yang ia bawa. Kemudian gadis itu memberikannya pada Elang.


Wanita paruh baya itu menganga. Ternyata ia didahului oleh Mela, yang tanpa berucap sepatah katapun namun langsung beraksi. Anak muda jaman sekarang memang agresif.


"Silahkan." Sepiring nasi goreng penuh cinta diserahkan pada lelaki yang masih bingung akan perbuatan gadis teman majikannya itu.


"Ini untukku?" Mela mengangguk.


"Terima kasih," ucap Elang tanpa basa basi. Lelaki itu langsung menyendok makanan itu kedalam mulutnya.


"Hanya itu?" tanya Mela yang bibirnya tidak berhenti mengulas senyum bahkan sejak melihat Elang memasuki dapur tadi.


Elang hanya melirik, menatap tanya pada gadis yang selalu bertingkah aneh saat di depannya itu. Ah mungkin itu hanya perasaannya, bisa saja itu memang karakter asli gadis hitam manis itu.


"Ini minumnya."


"Aku bisa mengambilnya sendiri, Nona."


"Panggil Mela saja. Tidak apa-apa, aku hanya membantumu. Oh iya, Tuan Adrian masih bersama Ara, dia menyuruhmu menunggunya," ucap Mela yang merasa sangat senang bisa sedekat ini dengan Elang. Bahkan menyiapkan sarapan dan juga minumnya.


"Aku sudah tahu, Tuan baru saja menghubungiku tadi."


"Hah?" Ya ampun, Tuan cerewet itu menyebalkan sekali, membuatnya mala


u saja. Padahal tadi Ara sudah berpesan padanya untuk menyampaikannya pada Elang. Eh ternyata lelaki itu malah sudah menghubunhinya lebih dulu.


"Kamu tidak capek berdiri terus?"


"Ahh, tidak. Aku terbiasa berdiri lama, tenang saja," Mela sedang berbohong padahal kakinya sudah terasa kesemutan saat ini. Cinta memang begitu ya? Mungkin kalau benar- benar digigit semut tidak akan terasa.


"Mel, ini sudah hampir jam 7. Kamu tidak berangkat?"


"Sebentar lagi, Bi. Hah? Jam berapa, Bi?" Bibi Yulia mengedikkan dagunya ke arah jam dinding yang ada disana.


"Ya ampun, aku pasti telat. Mana belum order taxi online lagi." Mela merutuki kebodohannya, yang melupakan waktu karena mendekati Elang.


Gadis itu menangis dan panik, menuju ruang keluarga.

__ADS_1


__ADS_2