Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 118 Gara-gara Sup (Berlanjut 21+)


__ADS_3

Tok.. Tok..


Tok.. Tok..


Suaranya pelan namun berulang. Sepertinya, tidak mungkin sang pengetuk pintu akan pergi sebelum melihat sang pemilik kamar keluar.


Dengan menahan pening di kepalanya, Adrian bangkit setelah mengancam sang istri untuk tidak kemana-mana. Karena biasanya sang istri akan kabur saat ia sedang digelung hasrat membara. Seperti judul lagu 'ditinggal pas sayang-sayange'. Jangan sampai pening itu menjadi vertigo yang terus mengganggunya nanti.


Ceklek!


"Nyo.. Tuan," Bibi Yulia hampir memekik jika tangannya tidak segera membekap mulutnya sendiri.


"Ini masih waktunya tidur kenapa kau menggangguku, Bi," Adrian menyilangkan tangannya di depan dada.


"Saya kira Tuan belum pulang," Bibi Yulia beralasan, wanita paruh baya ini nampak canggung melihat penampakan di depannya.


Tubuh atletis yang hanya berbalut singlet putih tipis dengan warna celana yang senada, dan pendek. Namun, bukan itu yang membuat Bibi Yulia canggung, wanita paruh baya ini menebak pasti hampir terjadi sesuatu di dalam kalau ia tidak datang mengganggu saat ini.


Bulat merah kebiruan yang nampak menghiasi bahu sang tuan membuat otak Bibi Yulia berkelana. Apa sang nyonya seganas itu hingga jejak yang ditinggalkan sebesar itu. Matanya mengerjap membayangkan bagaimana cara membuatnya.


"Bibi lihat apa?"


"Ah maaf, Tuan. Saya hanya, hanya menepati janji saya pada yonya untuk membangunkannya lebih pagi. Karena kemarin hingga hampir tengah malam, Tuan belum pulang." Bibi Yulia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, harus berkata apalagi untuk dapat meninggalkan tempat itu dengan segera.


"Aku sudah di rumah, bukan?"


"Iyaa Tu-an. Tolong sampaikan pada Nyonya, Tuan. Saya menunggu di dapur," susah sekali mengeja kata-kata saat mata sang majikan menatapnya dengan lekat.


"Ara akan keluar nanti. Karena ia akan bangun siang bersamaku. Sampaikan juga pada Mommy kalau ia menanyakan kami, nanti." Adrian segera menutup pintu setelah berucap demikian.


Ceklek!

__ADS_1


Hahhhh! Bahu Bibi Yulia yang tegang akhirnya lemas juga. Tahu begitu tadi ia pura -pura lupa saja kalau disuruh membangunkan sang nyonya lebih pagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mengapa Mas berkata seperti itu?"


"Hemm.. memang benar kan sayang, kita akan bangun siang nanti," ucap Adrian menatap sang istri dengan mata genitnya.


"Mas tidak berangkat ke kantor?"


"Agak telat, tidak apa-apa sayang," ucap Adrian yang perlahan mendekati sang istri, berbaring disampingnya dan memeluk tubuh kecil nan indah itu. "Bibi Yulia mengganggu saja," ucapnya lirih, bibirnya tak henti menari di pipi lembut wanita itu hingga kemudian turun sampai dileher.


Ara memekik geli, namun wanita itu malah memeluk erat sang suami yang kemudian bergerilya diatas tubuhnya.


Tatapan cinta sekaligus mesum Adrian membuat Ara seperti orang yang hilang kesadaran. Setiap Adrian mencecap kulit mulusnya, ia selalu mendesah tak karuan membuat sang suami semakin tidak sabar membawanya ke alam bawah sadar, mengikatnya kemudian menikmati percintaan mereka.


Perlahan namun pasti, lelaki yang bahkan sudah tidak mengenakan apapun itu berganti melucuti satu persatu kain yang menutupi tubuh sang istri. Wajah Ara merona, tatkala matanya menangkap pergerakan sesuatu dibawah sana yang sudah tidak sabar menunggunya.


"Sayang kau kenapa?" suara berat Adrian yang berbisik terdengar seksi dan menggoda. Padahal biasanya juga seperti itu. Tidak ada yang aneh dengan suaranya, hanya sang istri saja yang terbawa suasana.


"Hei..." sebelah tangan lelaki itu menarik dagu Ara membawanya dekat sekali dengan wajahnya. "Ini bukan yang pertama kali kau melihat tubuhku, kenapa kau masih malu?" Adrian mengalihkan tangannya, dengan kedua siku bertumpu pada ranjang, lelaki itu menatap intens sang istri yang berada dibawahnya.


"Aku milikmu. Semua ini milikmu. Hemmm... I love u," ungkapan cinta Adrian yang entah sudah keberapa kali lelaki itu lontarkan setiap jamnya melambungkan hati sang istri. Bisikan sayang itu seperti mantra yang menyihir dan lagu yang mendayu.


Tanpa menunggu jawaban sang istri, Adrian melancarkan aksinya. Memagut benda kenyal yang menjadi favoritnya, mengabsen satu persatu gigi yang bertengger didalamnya dengan deru napsu yang menggebu. Kemudian bibir hangat Adrian menuruni jengkal demi jengkal kulit mulus sang istri hingga sampai di leher jenjang yang wanginya selalu menenangkan gejolak jiwanya.


Saat sang istri telah tergulung gairah, Adrian merengkuh tubuh mungil itu dengan cinta memberikan kenikmatan yang bahkan membuat mereka lupa telah berapa kali mereka mengulanginya. Lagi dan lagi.


Tepat saat sang fajar hampir menyingsing, Adrian yang telah menyelesaikan hasratnya menghempaskan tubuh lelahnya di bagian kosong sebelah Ara. Bercinta dengan sang istri selalu membuatnya bahagia dan penuh semangat setelahnya. Semacam vitamin atau mood boosternya yang utama.


Mengatur napas yang terengah, akibat olahraga jantung di pagi harinya lelaki itu kemudian menoleh, menatap sang istri yang langsung tertidur akibat pertempuran sengit mereka tadi.

__ADS_1


Wajah kecil itu nampak lelah, namun tetap menggemaskan. Diambilnya anakan rambut yang menutup sebagian wajah Ara, yang telah basah oleh keringat percintaan mereka, kemudian ia selipkan dibelakang telinga.


Dengan lengan kekarnya yang mengkilap, lelaki itu menarik tubuh sang istri masuk dalam dekapannya, bersama tarikan selimut yang menutup tubuh polos keduanya.


Sinar matahari pagi yang menyelinap masuk lewat celah sempit jendela kamar, tak juga mampu membangunkan kedua orang yang tengah nyenyak akibat tidur mereka yang terlambat. Pun suara burung-burung bernyanyi riang yang malah seperti lagu nina bobok yang mendamaikan.


Wanita yang setengah sadar berada dalam dekapan dada bidang Adrian itu hanya mengerjap, namun karena wangi tubuh sang suami yang seperti aromaterapi baginya membuat Ara tenggelam kembali dalam mimpi indahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bi... bibi," panggil Elang yang terpaksa masuk ke dapur karena ini sudah jam 10. Sebenarnya ia orang yang sabar menunggu. Namun karena kakinya kesemutan akibat terlalu lama berdiri serta ketidakjelasan kabar sang majikan yang bahkan tidak membalas pesannya sama sekali membuatnya berbuat demikian.


"Elang? Kenapa masuk kemari?" Bibi Yulia kaget melihat asisten Adrian yang biasanya hanya menunggu di ruang tamu itu sampai menyelinap ke dapur.


"Tuan dimana, Bi? Ini sudah jam 10," lelaki itu melirik arlojinya, menampakkan wajah khawatir dan kebingungan.


Namun Bibi Yulia malah kembali meneruskan pekerjaannya dan dengan santai menjawab, "Tuan, ke kantor agak siang."


"Ini sudah siang Bi," jawab


Elang yang kesal mendengar jawaban bibi Yulia.


"Kalau Tuan belum bangun, ya berarti belum siang Lang,"


"Ya ampun, pelayan dan tuan rumah disini sama saja," gumam Elang mengacak rambutnya yang klimis, kemudian ketika lelaki itu sadar ia merapikannya kembali. "Bi... aku minta kopi ya. Aku tunggu di depan,"


"Tidak sekalian sarapan paginya?"


"Sarapan pagi sekaligus makan siang, Bi. Biar saya kuat menghadapi kenyataan," ucap Elang sambil berlalu pergi. Dan tak lama kemudian terdengar suara cekikikan, Bibi Yulia tertawa sendiri melihat tingkah absurd asisten majikannya itu.


"Makanya lekas mencari istri, biar bisa maklum dengan apa yang dilakukan Tuan saat ini,"

__ADS_1


"Bibi juga lekas mencari suami," seorang pelayan laki-laki yang lewat dan kebetulan mendengar gumaman Bibi Yulia langsung menjawab sambil menyenggol bahu wanita paruh baya itu.


"Apa kamu?"


__ADS_2