
"Sakit, Sayang?" Adrian ikut mengernyit, meringis dan beberapa kali menelan salivanya.
Padahal lelaki itu sangat hati-hati membuka plester, kemudian kasa yang membungkus luka sang istri.
Sedangkan Ara, ia hanya nampak menahan napas kemudian menghembuskannya berulang-ulang.
"Ayo Mas, kompres dengan cairan infus itu," pinta Ara pada suaminya yang sedari tadi tidak kunjung melakukannya. Lelaki yang sudah memegang botol infus itu hanya melirik sang istri kemudian menatap luka yang setengah kering, dan kembali menatap sang istri sambil menjepit bibirnya.
"Aku tidak tega, Sayang," lelaki itu mendesis sendiri seakan ikut merasakan sakit jika cairan yang ada ditangannya mengenai luka sang istri.
"Ya ampun. Lalu siapa yang akan melakukannya?" Ara menggaruk rambutnya. Lelaki berkarakter dominan seperti Adrian ternyata tidak tegaan pada hal seperti ini. "Kalau begitu panggil Dokter Kim atau perawat dari rumah sakit saja, ya," usul Ara.
"Tidak! Tidak boleh ada lelaki yang mengobati lukamu kecuali aku," sahut Adrian tegas dengan wajah sedikit kesal.
"Kita kan bisa sewa perawat wanita, Mas."
"No! Biar aku saja!" Adrian langsung maju, memberanikan diri mengompres luka sang istri meski dari raut wajahnya, lelaki itu nampak tidak baik-baik saja. "Kalau sakit, bilang ya, Sayang," ucapnya sambil melihat ekspresi sang istri yang hanya mengangguk pasrah.
Seperti mau diapakan saja. Sebenarnya, Ara bukan orang yang takut atau tidak tahan sakit. Tapi sungguh ekspresi suaminya itu, semakin mendramatisir suasananya saat ini. Hingga wanita itu ikut ragu saat sang suami juga bimbang melakukannya.
"Oleskan salepnya, lalu tutup dengan kasa dan beri plester," ucap Ara menuntun sang suami.
"Iya, aku tahu."
Tahu? Tapi mempraktekannya saja hampir satu jam. Mereka-reka hendak menempelkan apa dan tidak jadi. Begitu berulang-ulang.
Ara menggeleng pelan, berusaha memaklumi sang suami yang bersikap antara posesif dan tidak tega dalam satu waktu.
"Sudah! Akhirnya selesai juga," ucap lelaki itu bangga. Seakan sudah berhasil melakukan hal yang sangat sulit.
Dan sekarang, lelaki itu malah menaikturunkan alisnya mengkode sang istri meminta imbalan. "Kau tak memberi penghargaan atas usahaku, Sayang?"
"Ya, ampun! Imbalan?" Adrian mengangguk, membuka kedua lengannya meminta pelukan.
Wanita itu langsung masuk merapat ke dada hangat sang suami. Dipukul lah pelan dada bidang suaminya itu. "Mana ada perawat setampan ini."
"Hemm? Tentu saja tidak ada perawat yang setampan aku, Sayang!" Adrian percaya diri dengan pujian sang istri.
"Iya. Kalau ada yang setampan dirimu, pasti semua wanita rela terluka agar dirawat olehmu, Mas." Bibir Ara mengerucut. Cemburu.
Adrian memindahkan sang istri di pangkuannya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah wanita yang ia cintai itu. "Biarkan saja." Mata elang Adrian nampak mengerjap menggoda. "Yang penting, aku hanya mau merawatmu, bukan yang lain."
Ara tersenyum gemas. Ia bahagia dengan rayuan receh Adrian yang dulu tidak pernah ia dapatkan itu. Melingkarkan kedua lengannya ke leher sang suami, wanita itu berucap manja, "Mas ... Boleh aku meminta sesuatu?"
"Tumben? Biasanya kamu langsung mengatakannya, Sayang." Adrian mengernyit heran. "Apa sesuatu itu mahal?" Ara menggeleng, tebakan Adrian salah. "Tempatnya jauh?" Sang istri menggeleng lagi. Masih meleset. Adrian menghela napas panjang, kemudian "Jangan membuatku penasaran. Kau ingin apa, Sayang?"
__ADS_1
"Tapi Mas berjanji mengizinkannya, ya?"
"Emmm, baiklah." Padahal sebenarnya Adrian masih bimbang tentang apa yang diminta sang istri. Entahlah, perasaannya mengatakan hal itu adalah sesuatu yang ia larang. "Asal tidak membahayakan dirimu dan dia," tunjuknya pada perut sang istri yang masih datar.
"Tentu. Semua akan baik-baik saja. Aku janji." Wanita itu menautkan jemarinya pada jemari sang suami. "Emm ... Aku ... Ingin mengunjungi Lola."
Deg!
"Apa?? Tidak, Sayang!"
"Mas...."
"Yang lain saja. Pasti akan ku kabulkan. Kenapa harus mengunjunginya? Dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Tidak pernah! Apalagi merasa bersalah padamu. Aku tidak bisa mengizinkannya!" Tolak Adrian dengan keras.
Lelaki itu masih ingat saat terakhir dia datang ke penjara, Lola meminta maaf padanya. Tapi bukan karena merasa bersalah telah menyakiti Ara, lebih kepada tidak enak dengan Adrian dan niat terselubung agar lelaki itu mencabut tuntutannya hingga tidak memperberat hukumannya.
"Kalau begitu aku akan mengajak Mela untuk menemaniku, biar Mas tenang dan percaya aku bisa menjaga diri."
"No!" Adrian menggeleng.
"Kalau Ardi atau Zen,?" Lelaki itu menggerakkan jari telunjuknya, menolak kembali ide istrinya itu.
"Stop!"
"Emm."
"Jangan gunakan anakku sebagai alasan, Sayang!"
Ara mengkerut, hampir saja ia melakukannya. Hah! Terkadang keinginan yang tidak masuk akal saat kita hamil, begitu saja kita bebankan pada si janin yang masih suci itu.
"Maaf...." Ara menunduk, tak terasa air matanya menetes saat ia mengusap lembut perutnya. Ia merasa sangat bersalah, karena melibatkannya.
"Sayang ... Baiklah, baiklah aku yang akan mengantarmu sendiri." Pertahanan Adrian ambrol juga melihat airmata sang istri. Membujuknya sudah tidak bisa, malah membuat wanita itu menangis. Baginya lebih susah menghadapi wanita didepannya itu daripada 100 klien.
"Benarkah? Mas mau mengantarku kesana?" Ara berbinar menatap Adrian yang nampak memaksakan senyumnya. Wanita itu tentu merasa jika sebenarnya sang suami setengah hati mengizinkannya. "Aku janji akan menjaga diriku, Mas. Terimakasih."
Selanjutnya wanita itu menghambur kembali ke pelukan sang suami. Memberi penghargaan atas kerelaan lelaki itu memberinya izin yang sudah pasti memerlukan banyak pertimbangan saat melakukannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siang yang begitu terik, sama sekali tak menyurutkan keinginan Ara untuk menyusul sang suami ke kantor. Setelah itu mereka akan pergi bersama menuju Lembaga Pemasyarakatan menjenguk lola.
Sampai di basement kantor suaminya, Ara hanya didalam mobil menunggu. Setelah beberapa menit yang lalu ia menghubungi lelaki itu bahwa ia sudah sampai disana.
Tidak lama kemudian, Adrian masuk ke dalam mobil dan mereka bertiga menuju Lapas wanita di kota itu.
__ADS_1
"Apa boleh jika kita sekalian menjenguk Tante Laila, Mas?" tanya Ara pada sang suami. Sebenarnya ia ragu menanyakannya, karena lelaki itu tidak membahasnya sama sekali. Padahal ibu dan anak itu berada di tempat yang sama.
"Sebaiknya, Lola saja dulu. Aku tidak mengetahui keadaan Tante Laila saat ini," ucap Adrian. Tampak lelaki itu enggan membahas tentang Laila, mungkin rasa kecewanya lebih dalam daripada rasa kasihannya.
"Tapi kalau sekalian tidak apa-apa kan, Mas?"
"Sayang?"
"Iya ... Iya maaf, Mas." Ara merangsek memeluk suaminya yang sudah nampak kesal. Wanita itu selalu melakukannya untuk menenangkan. Untung saja mereka masih berada di tempat parkir hingga tidak banyak orang berlalu lalang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dan disinilah Ara. Dia yang meminta suaminya untuk tidak ikut masuk tadi, karena khawatir lelaki itu akan terbawa emosi oleh satu atau dua kata yang Lola ucapkan. Lagipula Ara memang ingin berbicara empat mata dengan gadis itu. Barangkali saja ada yang bisa diluruskan untuk memperbaiki hubungan mereka yang buruk.
Begitu memasuki ruangan pertemuan, gadis itu menatap kaget pada Ara. Mungkin ia tidak percaya jika yang mengunjunginya adalah orang yang sudah ia sakiti. Namun setelahnya raut wajah Lola berubah datar dan ekspresi gadis itu tidak dapat ditebak.
Lola duduk menghadap Ara. Jemarinya yang saling bertaut bergerak terus, meski wajahnya nampak tenang, pasti ada kegelisahan yang ia pendam.
Kedua orang yang duduk berhadapan itu beberapa lama saling diam. Kemudian Ara meletakkan ponselnya di atas meja, dan berdehem pelan setelahnya.
"Ehem ... Apa kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat! Punya nyali juga kamu kesini sendiri tanpa Adrian!" jawabnya ketus. "Rupanya ulahku kemarin tidak cukup parah melukaimu, ya? Apa kau yang meracuni suami kayamu itu supaya tetap menuntutku?!" Lola membungkukkan tubuhnya mendekat ke Ara yang nampak tenang tidak terpengaruh.
"Kukira kau menyesal melakukannya. Meski_"
"Hah? Menyesal? Ya, aku benar-benar menyesal karena tidak menghabisimu sekalian. Tante Lina berubah sejak kau masuk kedalam keluarga mereka!" Lola melotot geram, dadanya nampak kembang kempis menahan amarah.
"Sungguh, aku tidak pernah mempengaruhi suamiku ataupun Mommy Lina. Apakah kau tidak sadar mereka berbuat seperti itu karena kecewa dengan apa yang kalian perbuat?"
"Itu hanya alasanmu saja! Kami semua keluarga kaya yang terhormat Ara! Tidak sepertimu yang bahkan besar di panti asuhan! Aku tak mengerti mengapa Tante Lina dan Adrian terlihat memujamu, padahal kami ini saudaranya. Ingat!! Aku tidak pernah rela akan perbuatan kalian kepada kami!" Lola sampai berdiri, tatapannya mengancam setelah gadis itu berkata hal yang buruk untuk mengintimidasi.
"Ayo kita pulang sayang!" teriak seseorang setelah terdengar suara sepatu yang mendekat.
Lola terbelalak melihat siapa yang datang. Adrian dengan mata elangnya menatap tajam pada Lola yang bahkan kehilangan nyali untuk bergerak, hingga hanya sesak yang tertinggal di dadanya.
Tunggu, apa Adrian mendengar semua pembicaraan mereka? Padahal ia tadi memaki-maki dengan kasar pada Ara karena yakin sepupunya itu tidak ikut datang kesini.
"Aku sudah menduga jika kau meminta maaf padaku hanya sekedar mengiba, agar kami tidak menuntutmu kemarin. Hukuman ini memang pantas untuk kalian!"
Adrian segera menuntun sang istri yang nampak kecewa dengan ucapan Lola. Lelaki itu langsung masuk begitu ucapan Lola terdengar menyakiti istrinya. Ya, ia sengaja menyalakan ponselnya yang terhubung dengan sang istri, supaya ia bisa mendengar percakapan mereka. Itu juga syarat yang diajukan Adrian pada Ara, jika Ara mau sendirian menemui Lola.
Mereka meninggalkan Lola yang meronta-ronta meminta maaf pada Adrian. Namun setelah Adrian sama sekali tidak menggubris nya hingga hilang dari pandangan. Lola beralih memaki-maki dengan perkataan kasar.
Bahkan kedua petugas yang mengamankan gadis itu ikut kena akibatnya. Salah satu dari mereka jatuh terjengkang, dan yang lainnya nampak memegangi pipinya yang terkena tamparan. Dengan sedikit memaksa, akhirnya kedua orang itu bisa mengamankan Lola dan membawanya kembali ke dalam selnya.
__ADS_1
Ara tertegun. Selama ini ia kuat saat dihina apa saja oleh orang-orang yang membencinya. Namun hari ini, ia begitu rapuh, rasanya ingin terus saja menangis. Apakah hormon kehamilan separah ini mempengaruhi suasana hatinya?
"Sayang, lupakan kejadian tadi. Aku antar kau pulang sekarang," ucap Adrian yang merengkuh tubuh sang istri dari samping. Kemudian memerintah Zen untuk mengantar mereka pulang.