
Sepeninggal Mela, hanya tinggal Adrian yang ada disana beserta bodyguard lain yang berjaga di luar ruang rawat inap itu.
Lelaki itu mengikuti kata dokter untuk melakukan operasi secepatnya pada sang istri. Ia hanya ingin perawatan terbaik untuk wanita yang dicintainya itu. Meskipun berulangkali dokter mengatakan jika keadaan Ara baik dan stabil, karena bukan merupakan luka yang parah. Namun tetap saja ia khawatir dengan istrinya itu.
Saat ini mereka sudah berada di ruang rawat inap VVIP. Dan Adrian tidak beranjak sedikitpun dari sisi Ara. Ia masih setia disana, menunggu wanita itu sadarkan diri.
"Emhhh ...."
"Sayang?" Adrian menarik jemarinya yang tertaut dengan milik sang istri. Lelaki itu mencium punggung tangan milik wanita yang dicintainya itu.
Ara membuka matanya pelan. Kemudian mengerjap beberapa kali. "Mas?"
"Aduhh ... Sssss." Wanita itu mendesis ketika tanpa sengaja ia mencoba menggerakkan sedikit tubuhnya yang terasa kaku.
"Jangan banyak bergerak dulu!" Adrian membelai puncak kepala istrinya. Kemudian lelaki itu menekan nurse call untuk memberitahu perawat bahwa sang istri telah sadar.
"Aku haus Mas," ucap Ara memelas, tenggorokannya terasa kering dan pahit.
"Tunggu dokter dulu, Sayang."
Tidak berapa lama, terdengar pintu di ketuk beberapa kali. Kemudian masuklah seorang lelaki memakai jas putih bersama seorang perawat menghampiri mereka berdua.
"Selamat malam, Bu. Apa yang dirasakan sekarang?"
"Badan saya sakit semua. Apalagi yang ini," tunjuk Ara pada bagian tubuhnya yang terluka. "Apa saya sudah boleh minum, Dok?"
"Sakit pada bagian yang terluka itu wajar, Bu. Baik, tadi sudah saya resep kan anti nyeri. Boleh bergerak tapi pelan-pelan, ya. Kalau selalu takut nanti yang ada malah ototnya kaku semua. Lalu, boleh minum nanti kalau sudah kentut. Karena itu sebagai tanda jika pencernaannya sudah normal dan sudah bisa menerima baik makanan atau minuman. Tapi jangan banyak-banyak dulu, ya. Bertahap saja." pesan dokter yang merawat Ara, kemudian setelahnya mereka pamit untuk meneruskan ke pasien selanjutnya.
"Mas."
"Sayang! Sudah aku bilang berapa kali. Jika kamu keluar atau ingin kemanapun kamu harus mau diikuti mereka. Demi keamanan dan keselamatanmu. Kenapa kamu bandel?" Adrian gemas untuk tidak memarahi istrinya itu.
"Sudah sakit, malah dimarahi." Ara mencebik, melepas genggaman tangan Adrian padanya.
"Aku tidak marah. Hanya ...." Lelaki itu bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya. "Aku khawatir sekali, saat Mela menghubungi dan mengatakan kamu ada di rumah sakit, aku ...." Adrian menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
Ara meraih kembali jemari sang suami. Ia mengerti apa yang ingin Adrian sampaikan, meskipun lelaki itu sulit mengungkapkannya.
"I love you. Aku tahu mas khawatir. Maafkan aku, ya." Wanita itu menarik-narik tangan Adrian yang menjuntai. Membuat lelaki itu akhirnya mengambil kursi dan menariknya mendekat ke bed tempat Ara berbaring.
"Mela dimana Mas?"
"Kamu tidak menanyaiku, malah menanyakan sahabatmu itu," ucap Adrian sinis. Sungguh suaminya itu persis seseorang yang lama tidak mendapat perhatian. Padahal baru setengah hari ini mereka tidak bertemu.
Aduh! slSalah lagi.
"Ahhh ...." pekik Ara tiba-tiba.
"Apanya yang sakit, Sayang? Sudah dibilang jangan bergerak dulu." Adrian langsung bangkit dari duduknya kemudian memeriksa bagian yang dipegang oleh istrinya.
Lelaki itu membungkuk, memudahkan Ara meraih tubuhnya. Kemudian dengan kedua tangannya Ara menarik tubuh tegap Adrian dan memeluknya.
"Sayang?" Adrian memekik kaget.Iia hampir saja terjatuh menindih tubuh kecil sang istri jika kedua lengannya tidak sigap untuk menahan.
Cup! Masih dalam keadaan memeluk, wanita itu mengecup pipi sang suami yang sudah berhasil ia dekap.
"Baru juga setengah hari tidak bertemu. Sekangen itu kamu padaku?" Adrian tersenyum usil mengejek sang istri.
"Mela mana?" Ulang Ara dengan manja.
"Dia aku suruh pulang mengganti pakaiannya. Jaket dan kaosnya terkena darahmu. Katanya ia ingin menunggumu disini, karena besok ia libur. Ya sudah sekalian aku minta dia mampir ke rumah memgambilkan pakaian gantimu."
"Mas me_"
"Ssttt ... Pasti mau berkomentar. Dia pulang diantar Elang," ucap Adrian menghentikan istrinya yang akan mengomel.
Akhirnya Ara terdiam dan tersenyum pada Adrian. "Mas selalu tahu yang kumau."
"Pasti itu. Aku kan suamimu, Sayang." Adrian mengambil anakan rambut yang terjuntai di wajah Ara, kemudian menyelipkannya dibelakang telinga. "Ceritakan padaku apa yang sebelumnya terjadi."
"Hemm? Ee ... Tidak ada apa-apa. Mungkin dia ... Hanya tidak sengaja." Suara Ara terdengar lirih. Tiba-tiba wanita itu seperti tidak ingin membahasnya.
__ADS_1
"TIDAK SENGAJA!? Melukai orang dengan sadar itu berarti sengaja, Sayang. Dia akan dihukum setimpal atas perbuatannya."
"Masss! Jangan! Kasihan, Tante Laila sudah dipenjara. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi."
"Dia masih punya ayah, Sayang. Om Pandhu pasti akan murka mendengar semua perbuatan buruk Lola dan ibunya."
"Kita lama tidak berkirim kabar dengan Om Pandhu. Mengapa dia seperti hilang begitu saja ya, Mas?"
"Entahlah. Benar juga katamu, Sayang. Aku juga lama tidak mendengar kabarnya."
"Mas ...." Wanita itu memainkan jemarinya di telapak tangan Adrian. "Bagaimana kalau kita tidak usah menuntut saja. Sepertinya gadis itu sedang kesulitan keuangan."
"APA? Tidak. Aku tetap akan menuntutnya, Sayang. Setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan. Biar itu menjadi pelajaran bagi Lola untuk tidak bertindak semaunya sendiri. Kalau masalah uang, itu urusan pribadinya. Aku tidak mau ikut campur. Yang jelas sudah dari dulu Lola dan ibunya terkenal berlebihan dengan kehidupannya."
"Iya, Tapi ia mengatakan juga jika gara-gara aku, Mommy dan Mas menghentikan jatah mereka yang biasa diterima setiap bulan." Ara menunduk, padahal untuk apapun yang menyangkut keluarga besar Adrian wanita itu tidak pernah turut campur.
"Oh, jadi karena itu awal dari semua perbuatan buruk mereka pada kita. I see, baiklah saatnya membuat perhitungan."
"Masss?"
"Sebentar lagi Mela datang. Aku menyuruh dokter Kim kesini juga biar ia melihatmu. Aku pergi dulu, Sayang." Lelaki itu membungkuk kemudian mengecup bibir sang istri.
"Pertimbangkan ucapanku. Mungkin ini salah kita juga yang kurang perhatian pada keluarga, Mas." Ara menarik kembali lengan Adrian yang hampir menjauh, hingga mau tidak mau lelaki itu menghadap kembali pada istrinya.
"Aku tidak janji. Menurutku ini sudah sangat keterlaluan. Aku dan Mommy berhenti memberi mereka bantuan setiap bulannya, karena mereka sama sekali tidak menghargai kami, Sayang. Juga atas perbuatan Lola dulu kepadamu. Dan seharusnya bukankah seumuran Lola sudah bisa bekerja, namun gadis itu dibawah didikan Tante Laila hingga ia tumbuh menjadi peribadi yang malas, hanya mengandalkan bantuan saudara. Aku benci orang seperti itu!"
"Sudahlah jangan dipikirkan. Yang harus kau utamakan sekarang adalah kesembuhanmu. Jangan pikirkan yang lain!" Cup! Akhirnya lelaki itu mencium kembali sang istri. "Makan yang banyak, aku senang melihat tubuhmu sedikit berisi. Kalau gara-gara ini kau kurus lagi, tak kan ada ampun lagi!" bisiknya lirih dan mengancam.
Ucapan Adrian membuat Ara tersentak. Apa-apan suaminya itu, mereka sedang di rumah sakit saat ini. Masih sempat-sempatnya lelaki itu iseng padanya.
Tubuh tegap itu berlalu keluar kamar rawat inap tempat sang istri terbaring didalamnya. Ia meninggalkan wanita itu dengan penjagaan ketat dari para pengawalnya karena ia ingin segera membuat laporan tambahan pada pihak kepolisian mengenai Lola dan ibunya.
\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam kamar, Ara menatap kepergian sang suami dengan nanar. Ia khawatir Adrian akan menjebloskan Lola ke penjara dan hanya akan menambah dendam dari gadis itu kepadanya. Karena sedari awal, memang Ara lah yang disalahkan atas semua hal buruk yang terjadi padanya dan ibunya.
__ADS_1
Bagaimanapun ia tidak tega, meski gadis itu telah menyakitinya. Ia masih berharap Lola akan meminta maaf dan ia akan melupakan semuanya, dan tentu membujuk Adrian untuk langkah selanjutnya.