
"Kak...?"
"Ini aku, apa kalian benar melupakanku setahun ini?" ucap seorang lelaki yang mirip Akio itu.
Ara mengerjap, entah mengapa melihat lelaki yang pernah menghuni sebagian kecil hatinya meski hanya sebagai seorang kakak dalam kondisi seperti itu membuat matanya basah. Apa yang terjadi dengannya? Lidah istri Adrian itu terasa kelu bahkan hanya untuk menjawab sapaannya.
"Hei, jangan bercanda," ucap Adrian yang sama sekali tak lucu. Ia meninggalkan sang istri untuk mendekati Akio yang berada di kursi roda.
"Aku tidak bercanda, Kak. Kau harus baik denganku mulai sekarang, karena aku bersedia memanggilmu Kakak," kelakar Akio yang sayangnya malah membuat semua orang yang ada disana menatapnya nanar.
Melihat kondisinya saat ini saja, benar-benar membuat mereka kaget. Lelaki tampan dengan tubuh tegap, pipi berisi, dengan model rambut belah tengah itu tiba-tiba duduk di kursi roda dengan segala kelemahannya. Dan apa yang terlihat dulu tidak nampak ada padanya sekarang.
Adrian menunduk, seperti apapun hubungan mereka dahulu yang naik turun, Akio tetaplah adik sepupunya.
"Ayo cepat kita ke meja makan, kalian ini mengapa pakai datang terlambat. Semua yang ada disana sudah menunggu untuk kau habiskan," ucap Adrian memecah keheningan. Lelaki itu langsung memposisikan dirinya dibelakang Akio, hendak mendorong kursi roda yang membawa sepupunya itu.
"Tidak usah," Akio melerai tangan Adrian. "Itu adalah tugasnya. Biar dia saja," tunjuk Akio pada Hiro yang berdiri tidak jauh darinya. Anak dokter Harada itu sampai berdecak kesal pada kakak kelasnya.
Berjalan paling depan ada Akio yang didorong oleh Hiro, berdampingan dengan Adrian. Ara menunggu hingga Aimi sampai didepannya untuk membersamai ibu Akio yang sedari tadi nampak menahan bulir bening yang mengumpul di cekungan matanya. Sambil berjalan wanita Jepang itu berpura-pura menata rambutnya, padahal ia tengah menghapus air mata sebelum jatuh dan ketahuan.
"Tante," Ara memeluk Aimi yang akhirnya tak bisa menahan isak tangisnya. Wanita jepang itu tergugu tanpa suara dalam dekapan erat Ara. "Tante yang kuat ya, Tante mama yang hebat. Berdirilah terus disamping Kakak," ucap Ara seraya mengusap lembut punggung Aimi yang nampak bergetar.
"Maafkan Akio ya. Sebenarnya tante sudah melarangnya. Tapi ia sangat ingin bertemu denganmu," ucap Aimi terbata.
"Tidak apa-apa. Ayo duduk disana Tan," Ara mengajak Aimi ke ruang keluarga. Menenangkan ibu Akio yang wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Kakak...sakit apa, Tan? Sepertinya kondisinya benar-benar berubah drastis," tanya Ara hati-hati. Tak dilepasnya sama sekali genggaman tangannya pada Aimi.
"Kanker. Kelenjar getah bening, Nak. Sudah stadium akhir," mengurai kembali ingatannya akan hari-harinya menemani Akio berobat, dimana ia baru mengetahuinya saat kanker sudah menjalar ke mana-mana.
__ADS_1
Akhirnya, Aimi menceritakan segalanya. Awal mulai sakit Akio yang selalu memyembunyikan sakitnya bahkan pengobatannya, hingga akhirnya kanker itu sudah sangat parah.
Dimana setiap jam hanya dengan mengingat wanita di depannya itu , anaknya itu bisa bangkit menjalani hari-hari sulitnya. Aimi juga mengatakan bahwa Akio harus melupakannya. Namun tak bisa, perasaan Akio semakin dalam pada istri kakak sepupunya itu.
"Aku tidak tahu harus bagaimana Tante," ucap Ara dengan perasaan bingung.
"Tidak usah melakukan apapun, Nak. Cukup doakan saja Kio. Adrian sangat mencintaimu, aku tidak ingin ada masalah diantara kalian," Aimi nampak mengatur napasnya. Melerai perasaan egois seorang ibu untuk kebahagiaan anaknya sendiri. Tentu akan ada perasaan yang kecewa jika dia memaksa.
"Tapi, Tan. Kasihan kakak. Aku hanya akan merawatnya saja, tidak lebih. Nanti aku coba bicara dengan Mas Adrian,"
"Jangan dipaksakan jika tidak bisa, Sayang. Ini pasti akan merepotkanmu,"
"Tidak Tan. Aku menyayangi kak Akio seperti kakakku sendiri. Jadi jangan khawatir lagi. Ayo kita susul mereka, pasti mereka sudah menunggu." ajak Ara. "Dan hapus dulu ini. Jangan sampai mereka melihatnya," Ara membantu Aimi menghilangkan jejak air mata dipipi tante dari suaminya itu. Kemudian menutupnya dengan make up tipis-tipis, supaya tidak terlihat sembab. Setelahnya Ara menggandeng Aimi menuju meja makan.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kemana para wanita itu? Bahkan makanan kita sudah setengah jalan, dan mereka belum nampak," Adrian berkelakar ditengah obrolan mereka soal Jepang.
"Mungkin mereka sedang curhat. Bukankah kita juga seperti itu jika bertemu," ucap Hiro santai.
"Kita? Bahkan kau baru bertemu Adrian sekali ini. Tapi kau sudah seperti penjual properti yang sedang presentasi saja. Aku saja bosan mendengarnya," Akio mengejek adik kelasnya itu. Dan Hiro hanya menjulurkan lidahnya pada Akio.
"Baru juga kau memanggilku kakak. Ini sudah berubah lagi," sinis Adrian.
"Ha ha ha. Kau sensitif sekali. Aku kan belum terbiasa. Jadi maklumi saja," ucap Akio yang memasukkan potongan kue dorayaki kedalam mulutnya. "Hemm, enak," lanjutnya seraya memasukkan potongan yang lainnya.
"Buatan siapa kue aneh ini?" Adrian yang ikut-ikutan Akio memotong dorayaki mengernyit heran. "Bi... kesini sebentar," panggil tuan rumah itu.
"Iya, Tuan,"
__ADS_1
"Ini?"
"Oh..itu kue buatan Nyonya. Beliau penggemar doraemon waktu kecil dan ingin membuatnya. karena beliau ingin bereksperimen dengan warna rainbow, jadinya....seperti itu, Tuan," bibi Yulia sampai membekap mulutnya menahan tawa. Sang Tuan belum tahu jika istrinya sudah berada di luar.
"Apakah ada yang aneh dengan kue buatanku?" ucap Ara yang tiba-tiba muncul dengan menggandeng Aimi.
Mata Adrian membola, jangan-jangan istrinya itu mendengar ucapannya tadi.
"Enak Ra," ucap Akio memuji. Bahkan di atas piringnya hanya tinggal sisa-sisa kue doraemon itu.
"Aku belum mencobanya, Kak. Tapi ngomong-ngomong ramennya enak sekali," ucapan Hiro bukan sekedar isapan jempol. Lelaki berdarah jepang yang lancar berbahasa Indonesia itu bahkan menyeruput kuah ramen hingga tidak bersisa.
"Aa... emmm... ini enak sekali, Sayang," ucap Adrian menatap ngeri wajah sang istri yang meliriknya. Dipaksanya sendok berisi potongan kecil dorayaki untuk masuk ke mulutnya. "Hmmm... Benar-benar enak rupanya, walaupun warnanya...?" lidah Adrian merasakan hal yang sama dengan Akio saat ia mengunyah kue basah nan empuk itu. Namun ia keceplosan menyinggung warnanya.
"Kenapa warnanya, Mas?" tanya Ara yang mendekatkan wajahnya ke sebelah sang suami.
"Rainbow he he he," jawab Adrian asal. Karena memang warnanya tidak rainbow sama sekali. Lelaki itu cengengesan sambil menarik pinggang sang istri yang menolak lebih dekat lagi padanya.
"Maaf, Sayang. Tapi ini memang tidak rainbow. Ini orange bukan coklat juga bukan. Entahlah aku bingung menyebut warnanya," Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung mencari kata-kata terbaik agar sang istri tidak putus asa dengan koreksinya.
"Aku salah mencampurkan warnanya, Mas," wanita itu menjepit bibirnya. "Seharusnya bukan begitu tekniknya," Ara menyadari jika dorayaki buatannya memang tidak menarik sama sekali.
"Tidak apa-apa. Yang penting rasanya enak," Cup! kecupan Adrian dipipi putih nan kenyal itu disaksikan oleh semua yang ada disana. Bahkan setelahnya, Adrian mengusap sayang pada bekas kecupan dengan ibu jarinya. Lelaki itu tanpa canggung memperlihatkan perasaan cintanya didepan semua orang.
Tanpa ada yang tahu, ada hati yang terasa nyeri disudut sana. Lagi, dan lagi, bahkan ia harus menyaksikan kisah cinta yang ia inginkan tak berpihak padanya.
Dalam senyum hambarnya yang ikut bahagia, Aimi pun menyadari keberubahan mimik Akio yang terpaksa anaknya itu tutupi. Ia lebih merasakan sakit karena tidak dapat melakukan apapun untuk anak lelakinya itu. Dia selalu mengingatkan dirinya sendiri, bahwa dia tidak boleh menjadi orang yang egois.
"Hati-hati, Sayang," Ara hampir saja terjatuh saat heelnya tak menapak sempurna di lantai. Untung saja ia masih berdiri didekat sang suami yang dengan sigap menangkapnya. "Sakit?" Ara mengangguk.
__ADS_1
"Aku tinggal sebentar, ya. Biar ku obati dulu kaki istriku. Kalian makanlah, nikmati hidangannya," ucap Adrian berpamit. Suasana mendadak menjadi hening.
"Bi, berikan aku dorayaki lagi,"