Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 155 Utusan yang Kosong


__ADS_3

Surat pemberitahuan persetujuan pembayaran biaya rumah sakit dalam jumlah tidak masuk akal dikirimkan pada perusahaan Adrian. Masih berupa rincian, jadi hanya dalam bentuk angka-angka yang jumlahnya luar biasa besar beserta nama tindakan yang akan dilakukan. Kesemuanya itu harus dibayar oleh Adrian.


Setelah menyelesaikan makan siangnya bersama sang istri, Adrian memilih segera kembali ke kantor dan menyuruh istrinya pulang. Dan tentunya dibawah pengawasan Adrian. Ardi dan salah satu rekannya Tommy yang harus menemani Ara pulang atau kemanapun ia ingin pergi.


"Siapa yang mengirimkannya kesini?" Begitu memasuki ruangannya, Adrian langsung menanyakan perihal surat yang dikatakan Elang di telepon tadi.


"Utusan dari rumah sakit, Tuan," jawab Elang yang menyerahkan amplop yang telah ia buka. Karena semua surat yang berurusan dengan kantor, lelaki itu telah diberi kepercayaan oleh Adrian untuk memeriksanya lebih dulu.


Mengernyit dalam, Adrian mencoba mengingat nama rumah sakit yang tercantum dalam kop surat atas kertas ukuran A4 yang berjumlah dua lembar itu. Seingatnya tidak ada rumah sakit dengan nama Victoria Hospital di kota ini.


"Ini? Rumah sakit luar kota?" tanya Adrian pada sang asisten yang berdiri di depannya.


"Bukan Tuan, itu rumah sakit baru. Letaknya lumayan jauh dari kantor kita. Rumah sakit itu berdiri diatas bangunan lama yang juga rumah sakit namun mangkrak saat masih dalam pembangunan." Elang memberikan penjelasan karena ia telah menginterogasi orang yang menjadi utusan rumah sakit itu tadi.


"Oh ... Yang di dekat perbatasan itu?" Adrian mengingat bangunan lama yang memang mangkrak bertahun-tahun yang sempat ditawarkan oleh pemiliknya pada lelaki itu. Namun Adrian menolaknya karena letaknya yang tidak strategis dari jalan besar.


"Iya, Tuan." Elang mengangguk, membenarkan.


"Orang yang membawa surat ini hanya utusan biasa atau tenaga profesional?"

__ADS_1


"Profesional, Tuan. Ia mengaku bagian humas dari rumah sakit itu, jadi seharusnya bisa menjawab segala hal tentang isi surat yang ada ditangan Tuan," Elang mengangguk, kemudian menjawab lagi pertanyaan Adrian.


"Panggil orang itu masuk, Lang?" titah Adrian. Elang berjalan keluar, memanggil seorang lelaki yang ternyata sempat di lewati Adrian karena duduk di ruang tunggu.


"Selamat siang, Tuan," ucap lelaki yang masih nampak muda itu. "Saya utusan Victoria Hospital, perkenalkan nama saya Bian." Lelaki muda itu berjalan menuju Adrian kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabatnya.


"Silahkan duduk." Bian mengangguk setelah dipersilahkan, kemudian lelaki itu mengambil duduk di depan Adrian. "Langsung saja Pak Bian. Nama pasien yang tertera dalam surat yang Anda bawa adalah tante saya. Dan saya sudah membaca semua rincian yang tertulis disana. Tapi saya tidak mengerti sekalipun tentang bahasa medis, jadi saya memutuskan untuk menunda baik persetujuan ataupun mengeluarkan dana secara langsung untuk rumah sakit anda."


"Maaf Pak. Tapi ini sudah persetujuan dengan Nyonya Laila. Beliau mengatakan jika Tuan akan membayar berapapun pengobatan beliau, karena Tuan adalah keponakannya," ucap bian gusar setelah mendengar pernyataan menunda dari mulut Adrian.


"Saya yang membayar, jadi saya yang menentukan," balas Adrian tegas.


"Lagipula di surat itu sudah ada diagnosa Nyonya Laila, Pak. Dan kami menuliskan biaya berdasarkan tindakan yang akan kami ambil dalam pengobatan nanti." Bian masih saja mempertahankan diri, karena dia harus membawa pulang ucapan persetujuan pembayaran dari Adrian hari itu juga.


Bian terdiam, lelaki itu mati kutu disini. Di kantor tadi ia hanya di berikan arahan singkat tentang pertanyaan umum yang mungkin akan ditanyakan oleh CEO perusahaan yang ia datangi ini. Tidak mendetail seperti yang ditanyakan Adrian. Ia bukan tenaga medis meski jabatannya adalah Kepala Humas di Rumah Sakit Victoria, sehingga segala sesuatu tentang penyakit dan segala penyertanya sama sekali tidak dimengerti olehnya.


Dan yang paling fatal adalah, mereka semua di rumah sakit itu tidak mengetahui bahwa hubungan Laila dengan keponakannya tidak terjalin dengan baik.


Adrian menunggu reaksi lelaki utusan rumah sakit yang mengatakan bahwa tantenya berobat disana itu. Dengan menyilangkan kedua tangannya diatas dada, pemimpin perusahaan Ilyasa itu memasang wajah sangarnya yang sama sekali tak menampakkan keramahan.

__ADS_1


"Lalu selanjutnya bagaimana, Tuan? Apakah pembayaran akan ditunda? Padahal pengobatan sudah berjalan." Kembali Bian menjawab dengan diplomatis laksana utusan yang benar-benar tahu berbagai hal. Padahal ia orang baru yang baru saja bekerja belum genap seminggu.


"Kalau kau bisa menjelaskan keingintahuanku tentang penyakit yang diderita nyonya Laila secara terperinci, masuk akal, dan bisa diterima olehku." Sebuah pernyataan smart dan juga merupakan persyaratan berat diajukan Adrian pada Bian. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang sulit jika Victoria Hospital juga mengirim dokter ahli bersama Bian untuk menjelaskan segala hal tentang sakit Laila pada Adrian. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.


Lagipula, bodoh saja jika ada orang apalagi sebuah instansi pelayanan publik dengan berani meminta persetujuan pembayaran dalam jumlah yang besar, tanpa memberikan data yang jelas sebagai alat untuk meyakinkan.


Bian nampak gelisah sendiri, lelaki itu mulai nampak tidak nyaman mendapat tatapan mata Adrian yang menantang, apalagi Elang yang berdiri di dekatnya. Asisten Adrian itu tak mengalihkan matanya sama sekali sejak Bian masuk tadi.


"Baiklah, kalau begitu apa keputusan Tuan?Apakah Tuan ingin bertandang ke rumah sakit kami, untuk mengetahui segala hal yang Tuan tanyakan tadi?" Sepertinya Bian memang benar-benar orang yang tidak berpengalaman di bidang ini.


"Entahlah. Nanti akan kupikirkan lagi," ucap Adrian yang sudah beralih, lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Bian. "Ingat! Jangan katakan apapun pada atasanmu tentang perdebatan kita disini. Untuk hari ini, sampaikan saja jika aku menyetujui biaya itu dengan satu syarat." Adrian mulai menyusun strategi, karena ia mencurigai sesuatu.


"Apa syaratnya, Tuan?" Bian mendongak. Hatinya sedikit lega mendengar ucapan Adrian barusan. Meski dia masih sangsi dengan syarat yang diajukan oleh CEO perusahaan yang ia datangi itu.


"Syaratnya akan kukatakan seminggu lagi. Hitunglah mundur mulai saat ini." Adrian berucap lirih dengan senyum smirknya. Bian nampak seperti orang yang dimanfaatkan tenaganya saja.


"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan kepada Direktur kami. Kalau begitu saya permisi," menjabat tangan Adrian, tangan Bian yang di dingin nampak bergetar. Ia merasa ngeri melihat senyum Adrian yang membuat lelaki itu tampan sekaligus menakutkan. Bian langsung berbalik dan menuju pintu keluar tanpa berani berbasa-basi lagi.


"Hubungi Dokter Kim, Lang. Katakan rencana kita. Sebelum satu minggu penyelidikan ini harus sudah selesai, termasuk siapa orang yang harus bertanggung jawab karena telah mengganggu ketenangan istriku," ucap Adrian memberi perintah.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2