
"Mas, belum ada kabar?" tanya Ara pada sang suami. Wanita itu mendatangi sang suami yang berada di ruang kerjanya.
Operasinya dilaksanakan kemarin, namun kabar belum diterima mereka hingga hari ini. Sebenarnya wanita itu ingin menghubungi sang tante lebih dahulu, tapi Adrian melarangnya.
"Belum, Sayang." Lelaki itu menarik tubuh sang istri hingga terduduk di pangkuannya.
"Apakah Mas tidak khawatir?" tanya Ara menatap lekat Adrian yang melingkarkan lengannya di pinggang kecil wanita itu. Dan Ara membalas dengan mengalungkan lengannya di leher sang suami.
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Mass ... Aku serius." Ara mengguncang kedua bahu sang suami yang kemudian malah memeluknya.
"Aku sama sepertimu, Sayang. Tapi rasanya ... Kita tunggu saja, ya. Mungkin tante Aimi masih sibuk mengurus Kio. Jangan berpikir yang macam-macam, kita doakan yang terbaik, ya." Lelaki itu membelai lembut surai hitam sang istri. Aroma shampoo yang menguar dari rambut setengah basah itu menggoda penciumannya. Hingga tanpa sadar, lelaki itu mendekatkan hidungnya untuk mengendusnya.
"Kita hubungi saja ya, Mas? Ya ... Aku sudah tidak sabar, " pinta Ara memaksa.
Drrrt ... Drrttt.
Adrian menoleh, mencari letak ponselnya yang bersuara. Rupanya benda pipih itu terletak di ujung meja kerjanya. Karena tangan lelaki itu tidak bisa menjangkaunya akibat Ara yang duduk di pangkuannya, sang istri menawarkan diri untuk mengambilnya.
"Biar aku saja," ucap Ara, tangannya menjulur mengambil ponsel Adrian. "Tante, Mas." Wanita itu terkejut kemudian dengan bersemangat segera menyerahkannya pada sang suami.
"Iya, Tan," sapa Adrian membuka perbincangan di ponselnya. Lelaki itu mengaktifkan speaker di ponselnya.
__ADS_1
"Add ... Maaf tante baru mengabari. Kio ... Kio koma selepas operasi kemarin ...."
Hening ... Kaget bercampur sedih menyusup didada kedua orang yang mendapat berita itu. Berikutnya, hanya terdengar helaan napas Aimi yang kemudian diiringi isakan tangis yang lirih. Ara dan Adrian saling berpandangan, mereka berdua menatap nanar satu sama lain.
"Tan ... Yang sabar, ya." Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Adrian. Sungguh ia tidak tahu harus mengucap apalagi. Rasanya semua stok pertanyaan yang telah ia siapkan dari kemarin yang sedianya akan ia tanyakan pada sang tante menguap begitu saja. Begitu juga dengan bibirnya yang seakan mengunci.
"Tante ... Kak Kio pasti sembuh. Kita harus yakin dan mendoakannya. Mungkin sekarang Kak Akio hanya lelah, ia ingin beristirahat lebih lama." Ara mengucap kata-kata yang menyakiti dirinya sendiri. Terbukti airmatanya menggenang dengan jemari yang mencengkeram erat jemari sang suami. Ia saja yang memgucap kata-kata itu untuk menguatkan sang tante sampai menangis apalagi Aimi yang berada disamping Akio saat ini.
"Iya ... Iya ... Jika semisal Kio mempunyai kesalahan... yang mungkin belum bisa kalian ikhlaskan ... Tante ...."
"Tan ... sudah!" Pasangan suami istri itu berucap bersamaan. Kemudian mereka saling melihat lagi dan dengan kode mata memutuskan jika Adrian yang akan menjawabnya.
"Akio tidak pernah menyinggung atau menyakiti kami, Tan. Jika yang Tante maksud tentang hubungan kami bertiga ... Itu ... Kami tulus mendoakan Akio sebagai saudara," ucap Adrian menenangkan sang tante. Lelaki itu memang tidak pernah menganggap Akio sebagai rivalnya. Apalagi setelah ia tahu perasaan Ara hanya padanya.
"Kalian ... Kalian memang ditakdirkan bersama. Kalian memang berjodoh. Sekali lagi maafkan Kio ya," ucap Aimi. Perkataannya seperti menyesali sesuatu hal.
"Tante ..."
"Iya ... Iya maaf. Mungkin tante sedang kalut saja. Sungguh, rasanya ... Semua ini seperti mimpi dan tidak dapat dipercaya. Tante takut, Add ...." Isakan tangis yang keras mengiringi ucapan Aimi yang tidak sanggup ia selesaikan.
Selanjutnya pasangan suami istri itu hanya terdiam mendengarkan tangis sang tante yang semakin kencang. Sepertinya, ibu dari sang sepupu yang sakit itu tengah sendirian disana. Bahkan Aimi sempat meraung tidak terima dengan garis takdir yang harus dijalani sang putra.
Baik Adrian dan Ara tidak berucap sepatah katapun. Mungkin Aimi tidak bisa mengeluarkan unek-uneknya di depan suami dan anak perempuannya. Ia berpura menjelma sebagai wanita kuat yang penuh semangat dan energi untuk merawat sang putra. Siapa yang tahu jika wanita asli Jepang itu menyimpan dalam-dalam kekalutan hatinya.
__ADS_1
Adrian mengusap lembut pundak sang istri, wanita itu serta merta menjatuhkan kepalanya di dada sang suami. Rasanya sangat pedih dan menyayat hati mendengar tangisan Aimi, seakan Akio telah meninggalkan dunia ini.
Hampir seperempat jam, Aimi menangis dan kemudian berangsur mereda perlahan. Terdengar kembali helaan napas panjangnya berulang-ulang.
"Add, Ra. Terimakasih untuk kalian berdua yang mau mendengarkan keluh kesah dan luapan perasaan tante. Disini ... kami semua sangat sedih, hingga tante tidak bisa menangis di depan om kamu dan Shaikha. Tante hanya terus memacu semangat mereka berdua." Hening sejenak. "Bahkan ini baru hari pertama Kio koma, dan kami sudah mengeluh seperti ini. mengapa kami menjadi orang yang lupa akan bersyukur?"
"Tan, Tante bukan lupa bersyukur. Siapapun yang didera cobaan yang begitu melebihi beban di pundak kita sudah pasti ia memerlukan sandaran. Tante sudah benar berbagi kepada kami. Semoga Tante selalu percaya untuk berbagi pada kami meski kami tidak pernah benar-benar bisa memberi ketenangan ataupun solusi untuk Tante." Ara mengucapkan kesanggupannya menjadi sandaran sang tante meskipun hanya dalam bentuk cerita.
"Terima kasih, Sayang. Doakan Kio cepat pulih dan kembali ditengah kita. Doakan pula kami kuat menjalani semua ini."
"Pasti, Tan. Terima kasih juga sudah mengabari." Adrian menekan tombol merah mengakhiri percakapan mereka melalui telepon.
"Mas ... Apakah jika koma berarti tidak ada harapan lagi?" tanya Ara yang masih memeluk dan menyandarkan kepala di dada sang suami.
"Ssssstttt." Lelaki itu meletakkan jari telunjuk di bibir sang istri. "Dalam keadaan seperti ini, biarlah kuasa Tuhan yang menentukan, Sayang. Kita hanya wajib berjuang dan berdoa, setelahnya kita serahkan pada Sang Pemilik Hidup. Biarkan tangannya bekerja menyembuhkan Kio," ucap Adrian bijak.
Sebenarnya bukan hanya Ara yang berpikiran seperti itu. Dalam benak Adrian pun sempat terlintas hal yang sama. Namun ia hanya diam tanpa ingin mengungkapkannya.
"Jujur, Mas. Dulu waktu saudaraku di panti sakit, dan langsung masuk ICU karena koma, kami semua kaget. Ia tidak pernah mengeluh apapun selama ini. Dan ketika alat-alat itu terpasang ditubuhnya selama tiga bulan lamanya. Pada akhirnya ibu panti memutuskan melepasnya dan mengikhlaskannya pergi. Karena menurut dunia kedokteran, sebenarnya mereka sudah tidak ada." Perkataan Ara membuat pikiran Adrian semakin tidak karuan.
Ia tidak bisa membayangkan reaksi keluarga om nya itu jika sampai kehilangan Akio. Pun juga dirinya yang pernah besar bersama-sama selama beberapa tahun.
Benarkah usia Akio di dunia hanya sesingkat ini?
__ADS_1