Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 107 Ada yang Aneh


__ADS_3

"Sayang... Apa kau baik-baik saja?" panggil Adrian pada sang istri. Lelaki sudah menyelesaikan sarapan paginya, namun sang istri belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Iya, Mas."


"Kau yakin? Kenapa lama sekali di kamar mandi? Aku bahkan sudah selesai sarapan. Apa ada yang perlu kubantu?" Adrian mendekatkan tubuhnya ke pintu toilet di kamarnya.


"Tidak. Sebentar lagi, ya,"


Ceklek!


Pintu terbuka bersamaan dengan tatapan khawatir Adrian pada wanita yang dicintainya itu. Namun setelahnya, lelaki itu malah mengembangkan senyumnya melihat sang istri yang hanya berbalut handuk dengan rambut basah yang bahkan masih menetes airnya ke lantai.


"Mengapa mandimu lama sekali sayang? Ahh.. maksudku, biasanya tidak selama i-tu," tanya Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap intens sang istri.


"Aku... " Istrinya itu memilin ujung handuk yang menutup tubuhnya. Masih nampak ringisan samar yang tercetak di wajah cantiknya.


"Maafkan aku, sayang," sontak kedua lengan Adrian hampir memeluk sang istri, jika wanita itu tidak segera menahan tubuh sang suami dengan tangannya.


"Mas sudah rapi, nanti pasti akan terlambat kalau harus ganti lagi," alasan yang masuk akal bagi Adrian. Karena saat ini, rambut Ara masih basah. Namun sebenarnya, wanita itu takut sang suami melakukan ancamannya tadi pagi.


"Masih sakit?" pertanyaan Adrian selanjutnya malah membuat sang istri merona. Sambil menahan sakit, Ara bukannya mengangguk tapi malah menunduk. Menyembunyikan wajah polosnya dalam-dalam bagaikan siput yang disentuh ujung antenanya.


"Maafkan aku, ya," permintaan maaf kedua kalinya diucapkan lelaki itu. Ucapan yang terdengar tulus dan merasa bersalah itu malah membuat sang istri salah tingkah.


"Sudah berangkat saja. Nanti mas terlambat," wanita itu mendorong sang suami ke arah pintu. Setelah sebelumnya ia raih dengan paksa tangannya untuk dikecup.


"Tapi, sayang_" klek! Bahkan Adrian baru saja keluar namun pintu itu langsung ditutup dan dikunci dari dalam.


Lelaki itu menyilangkan tangannya di depan dada, kemudian mendengkus geli mengingat kejadian semalam. Ia begitu tanpa terkendali saat melakukannya. Bagai menemukan air di gurun pasir, kekosongan jiwanya seperti terisi penuh kini. Cinta mereka telah sempurna dengan penyatuan semalam sebagai buktinya. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, akan menjaga dan mencintai istrinya dengan nyawanya.

__ADS_1


Kemudian lelaki itu segera turun dan berangkat ke kantor dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, hingga Elang pun sampai dibuat heran.


Hal apa yang mampu merubah lelaki minim ekspresi itu menjadi banyak senyum hari ini?Apakah ia juga harus berubah seperti sang Bos? Menjadikan wajah sangarnya semanis hello kitty agar ada gadis yang mau dengannya. Tunggu? Ia sampai lupa kalau sudah berumur 29 tahun dan belum memiliki kekasih sekalipun. Betapa malang nasibnya.🤭


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ara berjalan perlahan saat menuruni tangga. Rasanya seperti ada yang mengganjal di bawah sana. Kalau tidak sungkan dengan Mommy Lina, ia pasti akan menuruti apa kata sang suami. Menghabiskan seharian ini dengan berada di kamar saja. Nonton TV atau membaca buku. Karena jika ingin mengobrol dengan Mela, gadis itu pasti sedang sibuk bekerja.


Tapi, sepertinya akan membosankan. Itulah kenapa wanita itu memilih turun, meski jalannya terlihat agak aneh. Bukan hanya terlihat, tapi memang aneh. Berpapasan dengan pelayan beberapa kali sebelum sampai ke dapur, Ara mendapat pertanyaan yang sama dari para pelayan rumah yang mengkhawatirkannya. Dan wanita itu hanya meringis sambil menjawab, kalau ia baik-baik saja.


"Bi, maaf aku bangun kesiangan," Ara berucap sambil melipat bibirnya. Berdoa, semoga Bibi Yulia tidak membahas tentang ia yang bangun terlambat hari ini.


"Aduhh Nyonya. Kenapa harus minta maaf. Memasak itu tanggung jawab Chef dan saya. Nyonya Bangun siang setiap hari pun tidak masalah," Gluk! Ara menelan salivanya yang seperti biji kedondong.


Masalahnya ia terlambat bangun karena terjadi gempa lokal semalam. Ya, hanya dikamarnya saja. Gempa karena ulah suaminya. Kalau ia setiap hari bangun siang memang tidak masalah bagi Bibi Yulia. Tapi sepertinya akan mendatangkan masalah baginya.


Lihat saja, baru juga sehari mereka melakukannya, jalan Ara sudah seperti kepiting. Apalagi kalau setiap hari, bisa-bisa ia akan menjadi kepiting rebus yang lemas. Sepertinya tidak seseram itu, Ara hanya takut saja karena ia tidak berpengalaman.


Ara tersenyum kikuk, saat sang mertua menggandengnya ke meja makan. Lina sudah bisa menebak, pasti semalam terjadi sesuatu antara mereka berdua. Wanita paruh baya itu salut, anak lelakinya itu dapat menahannya untuk Ara. Sehingga mereka melakukannya tanpa terpaksa karena kini cinta telah tumbuh sempurna diantara mereka.


"Makanlah dulu. Isi tenagamu," ucap Lina lembut. Wanita paruh baya itu menyendokkan nasi ke piring menantunya, setelah mereka duduk bersebelahan di meja makan.


"Mommy, tidak usah. Biar aku mengambilnya sendiri," ucap Ara yang tidak membiarkan sang mertua melayaninya. Namun wanita Lina mengerling, memberi kode pada Ara untuk membiarkan ia melakukannya.


Sepiring nasi dengan sayur dan lauk yang porsinya lebih banyak dari biasanya kini ada di depan Ara. Wanita itu sampai bingung, apa yang terjadi dengan sang mertua? Mengapa mengambilkan ia makanan sebanyak itu? Namun karena kembali lagi mengingat rasa bersalahnya karena bangun kesiangan, wanita itu hanya melahap saja apa yang ada di depannya.


"Adrian tidak menyakitimu kan, sayang?" Lina berbisik setelah sebelumnya memastikan tidak ada siapapun di sekitar mereka.


"Uhuk.. Hhuk.."

__ADS_1


"Maafkan mommy, sayang. Aduhh minum dulu, ya," dengan segera Lina menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada sang menantu.


Wajah Ara nampak seperti kepiting rebus. Sungguh ia sangat malu, sang mertua bertanya seperti itu. Apa sangat kentara perubahannya hari ini. Dari sebelum melakukan dan sesudah melakukan. Hingga tanpa Ara bercerita pun, sang ibu mengetahui kejadian semalam.


"Emmm... tidak, Mom,"


"Ah, syukurlah. Ia terlalu lama menduda sayang. Aku khawatir ia berlebihan padamu."


Gluk! Tenggorokan Ara yang basah mendadak kering hingga untuk menelan salivanya pun ia kesulitan. 'Terlalu lama menduda'? Apakah itu alasan sang suami tidak melepaskannya semalaman?


Bahkan ia baru menyadari, jika Adrian melakukannya lagi menjelang pagi. Saat tadi di kamar mandi ia mengingat bahwa semalam lelaki itu meminta izin padanya. Dan seperti tersihir ia hanya mengiyakan saja. Lagipula pintar sekali suaminya itu meminta izin saat ia diambang antara sadar dan tidak.


"Ya sudah, makanlah yang banyak. Dan setelah itu, istirahatlah," ucap Lina dengan memyunggingkan senyum di bibirnya yang nampak bahagia dengan pengakuan sang menantu hari ini.


Wanita paruh baya itu meninggalkan Ara sendirian di meja makan. Ia berpamitan karena ada janji arisan dengan teman-temannya masa SMA dulu.


"Ini terlalu banyak. bagaimana aku menghabiskannya?" gumam Ara.


≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan, siang ini Anda ada janji dengan Tuan Tony," Elang mengingatkan sang Bos sebelum jam istirahat siang dimulai.


"Terimakasih mengingatkanku. Dimana tempatnya Lang?"


"Restoran Sunda Alam Sari, Tuan. Yang dekat dengan tol,"


"Baiklah kabari dia, aku bisa hari ini," ucap Adrian sembari menandatangani berkas terakhir yang ada di mejanya. "Apa ada telepon dari rumah?"


"Iya Tuan? Maksud Tuan telepon dari Nyonya?" Adrian mengangguk. "Bukankah kalau Nyonya menghubungi pasti langsung ke ponsel Tuan,"

__ADS_1


Astaga.


Sungguh, Adrian menanyakan hal yang sangat tidak penting hingga ia benar-benar terlihat bodoh hari ini. Ohhh... God, ia bahkan merindukan wanita itu sekarang.


__ADS_2