Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 120 Right Here Waiting For You


__ADS_3

"Kenapa kau yang membawanya kesini sayang? Mana Vina?"


"Ada, mas. Tidak bolehkah aku bernostalgia? Dulu, Mas selalu mau aku yang membawanya, bahkan sering tugas mbak Vina mas berikan padaku," Ara mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes atas perlakuan sang suami dulu.


Lelaki itu tersenyum. Tidak dipungkiri, ia memang begitu sadis pada sang istri. Sampai-sampai jam istirahat pun ia potong agar wanita itu tetap melanjutkan pekerjaannya. Dan yang paling membuatnya ingat, meski terkadang wanita itu protes, ujung-ujungnya ia selalu menurut.


Cinta memang aneh ya. Ia bisa timbul karena kita terlalu membenci. Memang batas antara cinta dan benci itu tipis, hingga berlaku hukum bolak balik pada keduanya. 😁


Dan bonusnya, mereka bisa seharian bersama. 'Witing tresno jalaran soko kulino' begitu pepatah Jawa mengatakan. Dan meski Adrian berkali-kali menolak mempercayai hatinya, nyatanya hanya wanita itu yang membuatnya nyaman dan benar-benar merasa dicintai. Seperti jebakan yang memakan korban pembuatnya sendiri.


"Dulu aku sejahat itu, sayang?" Adrian meraih jemari sang istri, setelah wanita itu meletakkan berkas yang selesai direvisi di atas meja. Dikecupnya berkali-kali punggung tangan lembut itu penuh cinta.


"Tidak jahat, hanya keterlaluan," ucapan Ara menghentikan aktivitas Adrian. "Tapi entah mengapa aku selalu tidak bisa menolak keinginan Mas," wanita itu menjepit bibir ranumnya.


"Itu karena kau mencintaiku," Adrian menarik tubuh kecil itu dalam pelukannya. "Terimakasih untuk semuanya sayang. Kalau kau tidak berjuang, aku tidak akan pernah sadar kalau aku juga mencintaimu," diciumnya leher sang istri setelah menyingkap surai hitam yang menutupinya.


Wanita itu bergerak geli. Namun ia tidak ingin lepas dari pelukan hangat lelaki yang sudah menikahinya itu. "Terimakasih juga telah memberiku kesempatan," ucap Ara seraya menghalau ciuman sang suami yang semakin menggila.


"Padahal aku ingin bekerja lagi, Mas. Tapi kalau seperti ini, lebih baik aku di rumah saja," ucap Ara kembali mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya dia juga bosan karena terbiasa bekerja, namun jika sehari saja ia di kantor bisa membuat sang suami menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan satu pekerjaannya, bukankah lebih baik ia mengurungkan niatnya.


"Smart wife. Pilihanku tidak pernah salah bukan?" Adrian mendekap erat sang istri. "Duduklah disana. Lama-lama berdekatan denganmu, aku jadi ingin pulang saja," titah Adrian sambil mengedikkan kepalanya. Ia segera melepaskan pelukannya kemudian menyuruh sang istri kembali menunggunya di sofa.


"Aku ingin disini," sang istri malah berbalik dan menggelayut manja.


"Sayang. Jangan menggodaku. Ratusan keluarga menggantungkan hidupnya padaku." Adrian membopong sang istri yang kemudian sampai ia dudukkan wanita itu di sofa. "Sudah disitu saja! Jangan berpindah-pindah,"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan Adrian," sapa seorang lelaki yang nampak mendekati mereka berdua ketika pasangan suami istri itu baru turun dari mobil.


"Tuan mau menjenguk...?" tanya lelaki bernama Fadli yang ternyata merupakan tangan kanan Tony.


"Istriku ingin menjenguk istri Tony. Bagaimana kabar Tuanmu?" tanya Adrian yang menunggu sang istri, kemudian menggandengnya begitu wanita itu sudah berada disebelahnya. Mereka bertiga mengobrol sambil menyusuri lorong Rumah Sakit.


"Tinggal pemulihan, Tuan. Sepertinya, lebih baik Tuan membawa pulang kembali Nyonya," ucap Fadli sambil menunduk.


"Ada apa, Fad?"


"Nyonya Laura tidak bisa dijenguk," berkata pelan namun penuh misteri, lelaki itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa dengan Laura? Aku hanya menjenguk saja Fad, sebentar juga tidak apa-apa," ucap Ara menyela pembicaraan sang suami dengan tangan kanan Tony itu.


"Sayang,"


"Maaf Nyonya, bukan begitu maksud saya," Fadli yang nampak takut salah bicara sampai bingung menjelaskannya.

__ADS_1


"Kalau begitu antarkan kami kesana," akhirnya Adrian mengambil keputusan tetap menjenguk daripada semakin dilarang sang istri malah semakin penasaran.


Ketiga orang itu berjalan bersama menuju sebuah kamar VVIP di lantai 5 dari gedung rumah sakit itu.


Sesampainya disana...


"Tuan tunggu sebentar. Tuan Tony rawat gabung dengan Nyonya Laura. Saya mohon izin memberitahu beliau lebih dulu," dijawab anggukan oleh Adrian dan setelahnya lelaki itu masuk ke dalam ruangan yang dari luar saja tampak luas karena jarak antara satu kamar dengan kamar lainnya lumayan jauh.


Menunggu beberapa waktu, akhirnya Fadli keluar. Lelaki itu nampaknya membawa pesan untuk Adrian dari sang Tuan.


"Maaf sebenarnya, Tuan Tony tidak memberi izin Tuan,"


"Kenapa Fad? Sungguh aku hanya ingin menjenguknya. Bukan membuat masalah," ucap Ara sedikit kecewa dengan apa yang disampaikan oleh Fadli. Adrian sampai memeluk dari samping dan menenangkan sang istri dengan menggandengnya erat.


"Nyonya Laura sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Beliau trauma dengan kejadian yang menimpanya saat dalam penculikan. Setiap melihat wanita yang tidak dikenalnya, Nyonya Laura berteriak histeris."


Ara memandang sang suami yang juga tengah menatap padanya. "Tapi ia mengenalku Fad,"


Adrian hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang istri untuk meyakinkan Fadli. Namun Fadli masih ragu, dan untuk kesekian kalinya lelaki itu menghela napasnya. Sepertinya beban berat untuknya jika sampai memperbolehkan Ara menjenguk majikannya.


"Ayolah Fad. Aku bisa menghiburnya meski kami tidak dekat," bujuk Ara yang kemudian mendapat anggukan dari Fadli.


"Benar boleh?" Ara berbinar saat melihat Fadli mengiyakan dengan anggukannya sekali lagi.


"Baiklah. Kita masuk sekarang," sanggup Adrian sambil menggandeng sang istri mengikuti Fadli masuk ke dalam ruang rawat inap kedua majikannya.


Ceklek!


Fadli mengangguk kemudian mempersilahkan pasangan suami istri itu mendekat. Disana terlihat 2 hospital bed yang berjajar, namun hanya satu yang berisi. Disanalah berbaring pasangan suami istri itu.


Tony yang terjaga dengan kakinya yang terbalut perban, hanya melempar senyum pada Adrian dan Ara sambil berbicara lirih mengucapkan terima kasih. Dedangkan Laura, wanita itu nampak berbaring di dada Tony dengan mata terpejam dan tangan yang dihiasi selang infus. Wajahnya yang memar disana sini membuat Ara iba dan tak kuasa menahan diri.


Adrian mengangguk, saat hanya dengan tatapan mata, istrinya itu meminta izin untuk mendekat. Dan lelaki itu tetap ditempatnya, sambil waspada menjaga sang istri.


Pelan-pelan Ara melangkah mendekati. Membelai surai gelap Laura yang terlihat sedikit kusam. Kemudian dengan lirih wanita itu berucap. "Lau, semoga cepat sembuh ya. Semua orang sayang denganmu,"


Ucapan Ara membangunkan Laura. Wanita dengan banyak luka memar itu mengerjap, kemudian dengan mata menyipit melihat sang suami yang tersenyum padanya. Laura membalas senyum itu. Namun, semua itu memudar bersamaan dengan matanya yang beralih pada Ara. Tatapanya sinis dan berubah nyalang.


"Kamu.. Kamu.. Pergi.. Untuk apa kamu kesini!" teriak Laura yang panik karena keberadaan Ara yang dekat dengannya. Semua wajah wanita muda nampak seperti Magda dalam pikirannya.


"Ini aku Lau, kau ingat kan?" tanpa takut Ara mencoba menjelaskan pada mantan kekasih suaminya itu. "Aku ikut bersedih atas kejadian yang menimpamu. Semoga lek_"


"Pergi wanita jahat! Kau menyiksaku. Kau.. Kau wanita jahat, kubunuh kau!" Laura lepas dari dekapan Tony. Padahal lelaki itu sudah merengkuh nya erat tadi. Namun kakinya yang sakit membatasi ruang geraknya.


Dengan sekali hentak, Laura membuat Tony jatuh dari ranjang. Fadli pun berlari hendak menolong sang Tuan yang kesulitan untuk berdiri.

__ADS_1


"Pegang Laura saja, Fad. Jangan biarkan ia menyerang istri Adrian." titah Fony pada Fadli, ketika lelaki itu akan membantu majikan lelakinya.


"Pergi sana! Aku akan membunuhmu.. ha ha ha. Kau pasti bingung kan kenapa aku bisa lepas? Lihat saja aku akan membunuhmu," Laura menarik jarum infus hingga putus, darah yang mengucur dari punggung tangannya tak dirasakannya sama sekali. Dengan segera ia merangsek hendak menuruni ranjang. Menarik serta tiang infus dan menjadikannya sebagai senjata.


"Nyonya berhenti!" teriak Fadli yang segera mendekat dan langsung mengunci tangan Laura di belakang.


"Lepaskan... lepaskan.. Aku akan membunuhnya," Plakk!! Tamparan keras Laura melayang di kepala Fadli hingga lelaki itu terhuyung. Untung ia sempat menghindar saat wanita itu hampir mendorong tiang infus yang dipegangnya untuk memukul kembali kepala lelaki itu.


Melihat kejadian seperti itu, Adrian langsung menarik sang istri ke belakang punggungnya. Ia sudah hampir membantu Fadli bangkit saat Laura pun hampir menyerangnya.


"Lau. Tenangkan dirimu," teriak Adrian sambil salah satu tangannya menarik lengan Fadli agar lelaki itu segera berdiri. Ia tetap menjaga dirinya agar tetap waspada, karena terkadang gerakan Laura tidak bisa ditebak.


"Fad, kamu amankan Laura. Hati-hati,"


"Iya Tuan," Fadli tidak memperdulikan sakit di kepalanya dan langsung menarik kembali kedua tangan Laura kemudian menguncinya meski sang nyonya berteriak-teriak memarahinya.


"Sayang," Adrian mengedikkan kepalanya menyuruh sang istri menyingkir dari depan Laura. Kemudian lelaki itu menghampiri Tony untuk membantunya berdiri dan memencet tombol pemanggil perawat yang berada di atas ranjang.


"Aak istrimu keluar Add. Aku takut Laura menyakitinya. Ayo," Tony memaksa Adrian meninggalkan ruangan, karena memang suasana yang sudah tidak kondusif.


Setelah Adrian keluar bersama sang istri, ada perawat bersama seorang Dokter yang masuk kesana. Lelaki berpakaian serba putih itu memdekati Laura dengan peralatan yang sudah disiapkannya.


Fadli nampak kewalahan dengan perlawanan sang nyonya. Namun, ia tetap memegangi wanita itu meski segala sumpah serapah diucapkan kepadanya. Bagaimanapun ia merasa ikut bertanggung jawab atas hilangnya sang nyonya yang lepas dari pengawasannya dulu.


"Biar saya mencoba menenangkannya dulu Dok." ucap Tony, dan kedua tenaga medis itu mengangguk kemudian agak menepi.


"Sayang,"


"Aku bunuh dia.. Mana dia.. Aku akan membunuhnya!" teriak Laura.


"Dia sudah tidak ada. Ada aku disini. Aku akan melindunginu sayang, kemarilah," dengan tertatih lelaki itu mencoba meraih tubuh sang istri.


Melihat Tony, dan tangan suaminya yang terbuka siap memeluknya wanita itu terdiam. Mendadak kenangan demi kenangan melintas dikepalanya. Kenangan bahagianya bersama Tony, juga kejamnya perlakuan Magda padanya. Hingga ia merasa pusing, kemudian terjatuh tidak sadarkan diri di depan sang suami.


Untung saja Tony bisa menangkapnya. Kemudian dengan dibantu Fadli, lelaki itu menarik tubuh sang istri dalam pelukannya. Dan kembali pada posisi berbaring seperti tadi.


"Keluarlah, sampaikan permintaan maaf dan terima kasihku pada Adrian dan istrinya, Fad," ucap Tony pada asistennya.


Saat ia hanya berdua dengan sang istri. Lelaki itu membelai dengan sayang puncak kepala wanita itu. Mengecupnya berkali-kali seakan rindu yang ia punya selalu tumbuh dan tidak pernah mati.


🎼"Meski ke ujung dunia..pasti kau kan kucari. Walau ke tujuh samudera...pasti ku kan menunggu.. Karena ku yakin.. Kau hanya untukku... "


Lagu itu terdengar lirih bersama bulir bening yang jatuh dari mata seorang lelaki yang selalu merasa beruntung mendapatkan cinta dari seorang bernama Laura.


Cinta memang tidak selalu putih. Terkadang ia juga penuh dengan abu-abu dalam pencarian dan perjalanannya. Karena cinta sejati sesungguhnya tidak ada. Ia tumbuh antara dua insan yang memiliki hati yang kuat dan teguh akan tempaan waktu. ✌

__ADS_1


__ADS_2