
Adrian yang kaget ketika secara mendadak bodyguardnya menginjak pedal rem, sempat berteriak. Alhasil, mobilnya menabrak trotoar disebuah perempatan jalan yang sepi.
"Maaf, Tuan. Tiba-tiba ada mobil dari samping menyalip dan memutus jalan," ucap lelaki bernama Zen yang merupakan anak buah Elang.
Menata napasnya yang masih terengah, Masing-masing dari mereka terpaku sejenak.
"Lain kali hati-hati. SIM A kamu resmi, kan?" tanya Adrian menatap tajam Zen yang memegang kemudi.
"Tuan bisa memeriksa sendiri," Zen memyodorkan dompetnya pada Adrian. "Sungguh, tadi saya dalam keadaan sadar dan fokus, tapi mobil putih Alphard itu tiba-tiba memotong jalan." Mata mereka bertiga memindai sekitar dan mencari keberadaan mobil yang ditengarai menjadi penyebab kecelakaan ini. Namun mereka tidak menemukannya. Mobil itu melaju pergi, setelah memotong jalan sembarangan.
Elang keluar memeriksa keadaan bumper depan mobil yang rusak. "Tuan, sebenarnya tidak begitu parah, kita masih bisa bertahan dan membawanya sampai ke kantor, jika Tuan tidak keberatan," ucap Elang, setelah beberapa saat ia kembali dari memeriksa bagian depan mobil yang dinaikinya bersama sang majikan.
"Tidak usah. Hubungi saja sopir rumah untuk mengirim Porsche-ku. Hanya mobil itu yang tidak dikenali. Hubungi juga semua anak buahmu Lang. Perketat keamanan istriku dan rumah," titah Adrian. "Satu lagi, perketat juga keamanan kantor dan Dani." Situasi seperti ini membuat Adrian lebih merapatkan keamanan pada orang-orang disekitarnya.
"Baik, Tuan."
Setelah beberapa lama menunggu, sebuah mobil Porsche datang menghampiri mereka. Ketiga orang itu bertukar tempat dengan sopir yang mengendarainya, dan segera melajukan porsche-nya.
"Langsung menuju ke target Zen," anggukan Zen diikuti oleh putar baliknya mobil Porsche yang ia kendarai.
"Lang, hubungi Dokter Kim untuk memutus prakteknya. Kita akan jemput dia sekarang juga. Semua berkas yang perlu tanda tanganku sudah aku selesaikan. Kirim segera pada Vina, biar dia yang menyelesaikan sisanya. Dan ... Katakan padanya untuk membatalkan semua janji hari ini," lanjut Adrian.
"Siap, Tuan." Lelaki itu menerima macbook dari tangan sang majikan kemudian segera melakukan tugasnya.
Rencana hari ini berubah total. Adrian yang sedianya ingin ke kantor dahulu menyelesaikan pekerjaannya, menjadi tidak tenang dan ingin segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Semua ini akibat insiden kecil yang menimpa dirinya pagi ini. Mereka seperti menantang Adrian secara tidak langsung.
Dia yakin, ini tidak terjadi secara kebetulan. Mereka pasti orang-orang suruhan yang sengaja meneror atau bahkan berniat mencelakai dirinya dan keluarganya.
"Semua perlengkapan sudah siap?"
"Sudah, Tuan." Kali ini, Zen yang menjawab karena Elang fokus mengirimkan email semua berkas yang sudah ditandatangani pada Vina.
"Hubungi dia Zen. Kita tidak usah turun," titah Adrian yang segera dilakukan oleh Zen.
__ADS_1
Tidak berapa lama terlihat seorang lelaki bermata sipit tengah keluar dari ruang prakteknya. Lelaki yang tanpa mengenakan kacamatanya ini hanya mengenakan kemeja pendek tanpa jas putih khas dokter yang biasanya selalu menempel ditubuhnya.
Pintu di buka Adrian tepat saat jarak dokter Kim mulai dekat. Lelaki berkebangsaan Korea itu langsung masuk kemudian duduk di samping Adrian.
"Maaf di luar rencana. Aku sudah tidak sabar ingin kesana,"
"Tidak mengapa, Tuan. Saya sudah siap." Dokter pribadi keluarga Ilyasa itu mendapat acungan jempol dari Adrian.
Ketika mobil mulai melaju kembali, terdengarlah suara mereka tengah bercakap.
"Siap mental, Dok?" tanya Adrian pada lelaki disebelahnya itu.
"Sembilan puluh sembilan persen. Kita jalankan plan A dulu Tuan," ucap dokter Kim menjawab Adrian.
"Bagus! Mulai sekarang panggil aku Adrian saja, dan aku akan memanggil namamu langsung. Rasanya aneh sekali menggunakan Tuan dan Dokter. Lagipula kau rekan kerjaku, bukan bawahanku." Dokter Kim mengangguk setuju.
"Baiklah, Tuan. Eh ... maksud saya Adrian." Dokter Kim yang belum terbiasa, merasa aneh ketika lidahnya harus menyebut nama Adrian secara langsung.
Ketika jarak mereka dengan rumah sakit semakin dekat, Adrian meminta mereka untuk turun guna berganti kostum sesuai dengan peran mereka masing-masing.
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk kesana," ucap seorang perawat kepada lelaki bermata sipit yang wajahnya persis oppa Korea itu.
"Saya dokter disini. Apa kamu tidak mengenali saya?" Perawat lelaki yang mengenakan seragam warna hijau daun itu menggaruk kepalanya.
Di rumah sakit ini hampir 90 % karyawannya belum saling mengenal satu sama lain. Kalaupun sudah berkenalan, pasti besok lupa lagi atau salah mengenali karena wajah-wajah yang dianggap mirip. Kecuali mereka berada di satu instalasi.
Lagipula, dokter Kim melepas jas prakteknya. Jadi bukan salah perawat itu menganggap lelaki didepannya ini orang biasa atau keluarga pasien.
Dan hari ini, perawat lelaki dengan wajah manis itu sudah berkali-kali dapat teguran karena tidak mengenal rekan sesama karyawan disini.
"Maaf, Dok. Disini semuanya baru, jadi saya bingung. Maafkan saya, silahkan, Dok." Perawat lelaki itu mempersilahkan dokter Kim untuk masuk ke ruang laboratorium yang menjadi tujuan dari lelaki berkebangsaan Korea itu. Padahal jelas disana terdapat tulisan "DILARANG MASUK KECUALI KARYAWAN."
"Selamat malam, Dok." Dua orang analis laboratorium yang berjaga menyapa ramah dokter Kim, dan lelaki itu hanya membalasnya dengan anggukan. Tidak salah dia mengambil tanda pengenal milik seorang karyawan yang ia tabrak tadi. Hanya tinggal membaliknya saja, tidak ada seorangpun yang menanyakan identitasnya.
__ADS_1
Ketika di dalam ruang laboratorium, dokter Kim sengaja mengenakan jas prakteknya agar tidak banyak pertanyaan dari mereka yang bekerja disana.
"Bisaa saya minta hasil laboratorium atas nama Nyonya Laila?" pinta dokter Kim pada salah satu diantara dua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Nyonya Laila?" Dokter Kim mengangguk. Kemudian kedua orang karyawan laboratorium itu saling melihat. Mereka nampak ragu satu sama lain.
"Ada apa? Pak Bian yang menyuruh. Aku hanya dititipi." Dokter Kim membuat alasan agar mereka tidak bertanya apa-apa lagi.
"Oh ... Baik, Dok." Salah satu wanita, karyawan laboratorium berdiri. Mengambil sebuah amplop yang nampak dipisah tempatnya dengan yang lain.
"Ini hasil pemeriksaan yang baru? Nyonya Laila sudah lama menginap disini?" Kembali dua orang wanita itu saling menatap satu sama lain. Seperti saling mengirim persetujuan untuk menjawab.
"Apa Dokter tidak tahu?" tanya salah satu dari mereka. "Maaf, kami hanya menjalankan tugas, Dok," ucapnya lirih.
"Tentang apa? Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan," ucap dokter Kim memancing.
Mereka berpikir akan aman memberitahukan pada dokter yang juga sama-sama bekerja disana seperti mereka. Karena mereka mengabdi di majikan yang sama.
"Kami hanya membuatnya atas perintah, Dok. Sungguh kami tidak tahu apa-apa tentang maksud dan tujuannya." Mereka yang bekerja dibawah tekanan memang sering tidak punya pilihan untuk menolak. Apalagi hanya seorang karyawan.
"Baiklah. Jawab pertanyaannya sekali lagi. Kapan Nyonya Laila mulai rawat inap disini?"
"Dia ... Dia. Setahu saya, beliau ini bukan pasien rawat inap, Dok. Karena kami hanya diperintahkan menyalin hasil, dari sebuah data yang tertulis di sebuah kertas yang diberikan pada kami." Dan berikutnya kedua orang itu mengaku, siapa orang yang menyuruh mereka.
"Oh ... oke. Terimakasih, infonya." Mereka berdua mengangguk dan meneruskan pekerjaannya. Tanpa mereka sadari, jika dokter Kim bukanlah bagian dari rumah sakit tempat mereka mengabdi ini.
Begitu keluar, lelaki bermata sipit itu menyelinap ke tempat sepi kemudian menyalakan ear phone yang ia sembunyikan dibalik jas putihnya.
"Tuan, ahh ... maksud saya bukan itu. Saya mendapatkan satu bukti tentang hasil pemeriksaan laboratorium Nyonya Laila, Add." Melalui ear phone, dokter Kim melaporkan pada Adrian yang ada di dalam mobil.
"Oke. Bagus Kim, langsung ke rencana selanjutnya," titah Adrian pada dokter pribadinya itu.
Sementara di tempat lain, Elang tengah mengendap-endap. Ia yang saat ini menyamar sebagai keluarga pasien yang kesasar, harus mencari sesuatu apapun itu yang terlihat janggal. Susah bukan?
__ADS_1
"Hei! Apa yang kamu lakukan disana? Kamu mau mencuri ya? Berhenti ... berhenti!" teriakan itu membuat Elang panik dan tersudut. Apalagi ada beberapa orang juga ikut-ikutan.
"Aaaaaaaa ...."