Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 215


__ADS_3

"Nak, apa tidak sebaiknya kau memberitahu suamimu?" ucap bu Fatimah hati-hati. Apa yang ada dipikiran Ara, tidak bisa terbaca oleh wanita sepuh itu.


Saat ini mereka telah kembali dari rumah sakit. Dan bu Fatimah memaksa Ara untuk ikut kembali dengannya ke Panti. Wanita sepuh itu tidak tega melihat apa yang dialami Ara. Karena anak asuhnya itu beberapa kali muntah dengan wajah yang masih pucat sepanjang perjalanan pulang.


Ara terdiam. Pikirannya berada pada dua hal yang berseberangan. Di satu sisi mengatakan untuk memberitahukan berita bahagia ini kepada lelaki yang dicintainya itu. Tapi disisi lain, hatinya berontak karena sudah berada sejauh ini. Wanita itu tidak mungkin menggagalkan segala yang dengan susah payah dilakukannya, agar anak sambungnya itu bersedia kembali. Pengorbanannya harus berbuah manis, meski bukan untuknya.


Ara menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir. Setiap wanita pasti mendambakan suaminya berada didekatnya, apalagi saat mereka hamil muda seperti ini. Namun ia sudah berada di titik ini, dia tidak mungkin kembali hanya karena alasan kehamilannya, atau semuanya akan berantakan.


"Tidak, Bu. Aku aku akan membesarkannya seorang diri." Ara menunduk pilu, hatinya teremas kuat. Meski berusaha sekuat baja ia tetap rapuh, apalagi berhubungan dengan orang-orang yang ia cintai.


Bu Fatimah menghembuskan napas pelan. Wanita ini sudah pasti tahu apa yang dipikirkan anak asuhnya itu. Namun ia tidak pernah lelah memberi nasihat, karena sesungguhnya ia juga tidak tega terhadap Adrian yang juga sudah ia anggap anaknya sendiri. Dan wanita sepuh itu tahu dalamnya cinta mereka berdua. Tapi apa boleh buat, dia mencoba menghargai keputusan Ara.


"Baiklah," diusapnya punggung Ara lembut. "Ibu percaya padamu. Semoga keputusan final ini terbaik untuk kalian." Padahal bu Fatimah tahu, yang dilakukan Ara dengan pergi dari Adrian itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dan itu menyakitkan.


"Tapi ibu minta kamu tinggal disini. Ibu tidak tega, jika kamu harus tinggal sendiri sementara kamu hamil." Meminta namun juga memaksa ibu kepala panti lakukan demi keselamatan Ara dan juga calon bayinya.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Ini hanya bawaan bayiku. Aku janji akan teratur makan dan minum obat."


Sesekali Ara merasa mual. Perutnya bergejolak hendak mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam, namun ketika ia mencoba memuntahkannya, tidak ada apapun yang keluar.


"Tidak! Kamu harus tinggal disini atau ibu hubungi Adrian!? Ibu tidak rela kamu diluar sendirian." Bu Fatimah berucap tegas tidak ingin dibantah. Dia terpaksa melakukannya. Mana mungkin ia tega membiarkan Ara hidup seorang diri di tempat kost.


"Jangan, Bu! Semua yang aku lakukan akan sia-sia jika Mas Adrian tahu keberadaanku." Ara kembali menangis. Dia sangat rindu dengan suaminya itu. Membahasnya saja membuat dadanya sesak. Apalagi dengan adanya calon bayi mereka. Sepertinya keberadaannya semakin membuat rasa rindunya kepada Adrian semakin menggebu.


"Baiklah aku menurut. Aku akan tinggal disini, tapi izinkan aku bekerja ya, Bu. Aku sudah banyak merepotkan," ucap Ara sambil menghapus kembali air matanya.


"Kalau keadaanmu sudah baik, ibu mengizinkan. Tapi selama belum, kamu harus tetap di kamarmu!"


"Tapi__"


"Ibu tidak mau dibantah! Sekarang istirahatlah, hari sudah malam. Jika kamu butuh apa-apa, panggil Sri melalui interkom di kamarmu. Jangan keluar sendiri. Cuaca sangat dingin, Nak. ibu tidak mau kamu semakin sakit." Ara mengangguk dan menurut.


Bu Fatimah menyelimuti Ara, setelah wanita itu menggeser tubuhnya hingga ia berbaring. Kemudian mengecup singkat puncak kepala anak asuhnya itu untuk memberi kekuatan, dan setelahnya ia pamit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Adrian nampak terdiam dalam ruangannya. Disela istirahatnya hari ini, lelaki itu masih memikirkan beberapa kemungkinan untuk mencari keberadaan sang istri. Dia tahu Ara tidak memiliki siapapun di dunia ini selain dirinya, Panti dan juga Mela. Kedua opsi yang lainnya telah ia hubungi dan semuanya menjawab jika istrinya tidak mendatangi mereka.


Hari ini, sudah hampir bulan ke delapan ia kehilangan wanita yang dicintainya itu. Selain rasa khawatirnya, rasa rindunya juga telah menggunung. Dan yang lebih menyedihkan, rasanya aura di rumah mereka sudah tidak sama lagi. Suram, dingin dan nampak mati. Karena sang pemilik rumah hanya keluar untuk bekerja kemudian kembali ke rumah setelah malam, dan tentunya rutinitas yang monoton seperti itu setiap hari.


Setiap kali libur di akhir pekan, tidak ada kegiatan berarti yang dilakukan lelaki itu di rumah. Adrian seperti orang yang kehilangan arah. Ia akan mengelilingi ruangan manapun tempat biasa ia menghabiskan waktu bersama Ara dulu. Setelah itu, baru ia masuk kembali ke dalam kamar, kemudian menatap nanar semua apa yang ditinggalkan sang istri.


Bunga-bunga mawar diatas balkon yang sedang mekar, nampak meliuk-liuk tertiup angin. Namun mereka seperti tidak bernyawa, tidak sesegar saat sang istri ada. Meski Adrian tidak pernah melewatkannya untuk disiram dan dirawat.


Masuk ke dalam kamarnya, lelaki itu membuka lemari pakaian milik Ara. Menatap satu persatu semua barang yang ia belikan atau dibeli oleh wanita itu sendiri, dimana satupun tidak ada yang dibawa. Ara benar-benar meninggalkan semuanya. Termasuk dirinya dan kenangan mereka.


Adrian menghempaskan tubuhnya ke ranjang tempat biasa mereka bercinta dan menghabiskan malam panjang berdua. Rasanya sesak kembali, dan hatinya teremas sempurna. Meski hampir satu tahun wanita itu pergi, rasa sakitnya masih sama. Sakit karena kehilangan juga ditinggalkan. Dia merasa menjadi lelaki bodoh hari itu, hari dimana sang istri menghilang tepat saat hari ulang tahunnya. Dan Adrian sama sekali tidak menyadari banyaknya kejutan hari itu, hingga berakhir dengan hilangnya separuh kehidupannya.


Drrt.


Drrt.


Ponsel dalam sakunya yang bergetar membuatnya terhenyak. Melihat sekilas siapa yang menghubunginya, membuat lelaki itu segera bangkit ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


"Hai boy. Apa kabarmu?" Nampak wajah seseorang yang merupakan duplikatnya memenuhi layar ponsel setelah lelaki itu menggeser tombol hijau. Adrian yang terlihat segar, sama sekali tidak membuat curiga sang anak. Jika didalam senyum sang ayah, tersimpan kepiluan nyawanya yang tinggal setengah.


"Dad! Teman-temanku menitip salam untuk Daddy, juga ucapan terima kasih mereka atas apa yang Daddy berikan. Usahaku disini lumayan berkembang, meski tidak secepat perusahaan Daddy. " Senyum Dani mengembang sempurna. Membanggakan diri sendiri di depan sang ayah.


"Sekarang kami sudah memilikli beberapa cabang di beberapa kota tujuan wisata disini." Adrian mengacungkan jempolnya memberi kode jika ia bangga dengan pencapaian sang anak.


Beberapa waktu lalu melalui zoom, Adrian memberi ilmu secara cuma-cuma untuk mengembangkan usaha berdasarkan pengalamannya.

__ADS_1


Hal ini tentu saja disambut baik oleh teman-teman Dani. Meski bukan pengusaha besar skala internasional, namun sang ayah pernah beberapa kali tampil di halaman depan sebuah majalah bisnis kelas dunia. Jadi Adrian termasuk orang yang tidak perlu diragukan lagi keahliannyaa. Sepak terjangnya sebagai pengusaha yang sukses di usia muda membuat namanya dikenal.


Dan hari ini sang anak membawa kabar bahagia. Dani dan teman-temannya yang tergabung dalam usaha coffe shop berhasil mengembangkan sayap mereka dititik-titik penting di Negara penghasil coklat terbaik itu.


"Syukurlah. Teruskan perjuangan kalian Boy. Lalu bagaimana kuliahmu?"


"Aman, Dad. Aku ingin tetap disini bersama mereka. Siapa tahu aku bisa mengungguli kesuksesan yang Daddy raih saat ini." Adrian tentu tahu apa yang dimaksud oleh Dani. Anak lelakinya itu tetap pada pendiriannya untuk tidak pulang selama masih ada Ara. Dan sekarang, Ara bahkan sudah selama ini meninggalkan rumah. Namun dalam hati Adrian belum menyerah, dia masih terus melakukan pencarian dan berharap bisa menemukan wanita yang dicintainya itu.


"Kau pasti bisa. Kau akan lebih hebat dari Daddy!" Nasihat bijak sang ayah terdengar merdu.


Dani bisa melihat sorot mata yang meredup dari sang ayah saat dirinya membahas tentang kepulangannya. Mau bagaimana lagi, dia tetap tidak akan pulang selama ibu sambungnya itu masih bersama sang ayah.


Setelah memberi semangat dan tidak membahas hal sensitif lagi, Dani mengakhiri panggilan videonya.


"Lang, siapkan untuk perjalanan besok ke bandung! Kita berangkat setelah istirahat siang," titah Adrian, seraya memandang jauh gedung-gedung tinggi yang ada diluar melalui kaca tembus pandang di depannya. Bersama tatapan hampa, doa dan juga secuil harapan. Semoga Tuhan masih memberikannya kesempatan.


"Berapa hari, Tuan?" tanya Elang yang berdiri tidak jauh dari sang majikan.


"Satu emm dua hari saja, Lang."


"Sekalian saya reservasi hotel, Tuan?"


"Kamu saja. Mungkin aku akan menginap di panti."


Elang mendongak tidak percaya. Sang majikan tidak pernah menginap di sembarang tempat apalagi sebuah panti asuhan. Marena sudah pasti kamar-kamarnya jauh dari kata layak untuk sekelas sang majikan meskipun sudah direnovasi. Semoga tidak ada drama saat disana nanti, harap Elang dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Perut alAra mulai terlihat. Sejak kejadian ia jatuh di depan gerbang, bu Fatimah bukan hanya meminta Ara untuk tinggal di panti tapi juga melarang anak asuhnya itu untuk bekerja. Wanita sepuh itu khawatir dengan bayi dan ibunya karena mereka tidak memiliki siapapun di kota ini. Apalagi jarak antara tempat kerja dan panti cukup jauh.


Setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda saat kehamilannya. Seperti Ara contohnya, ia sering mual dan susah makan pada trimester pertama kehamilannya sehingga berat badannya menyusut dan wajahnya terlihat pucat. Dengan berada di panti, para pengurus dan penghuni panti lainnya bisa membantu menjaga Ara setiap hari.


"Hati-hati Sam, jangan berlarian!" teriak Ara saat berada di taman. Saat ini wanita itu sedang menjaga salah satu anak yang berumur empat tahun. Dia begitu lucu dengan rambut bergelombang nya, juga bibir kecilnya yang selalu cerewet bertanya ini itu kepada Ara.


Baru juga jam sebelas siang. Namun awan sudah menggantung tanda hujan akan segera tiba. Dan angin bertiup bergantian menerpa tubuh kecil yang terlihat berisi itu. Ya, masa-masa mual muntah sudah Ara lewati setelah meninggalkan trimester kedua. Dan sekarang tubuhnya terlihat lebih segar dan tidak pucat lagi.


"Masuklah. Anginnya terlalu kencang, sebentar lagi sepertinya turun hujan. Biar ibu yang membawa Samuel masuk," pinta bu Sri pada Ara. Wanita paruh baya yang tinggal di panti itu membantu apa saja yang dibutuhkan disana. Bersih-bersih, memasak serta menjaga anak-anak. Dan beberapa bulan terakhir ini, selalu membantu Ara.


Samuel, anak paling aktif di panti yang tanggung jawab pengawasannya diserahkan kepada Ara oleh ibu kepala panti.


"Terima kasih ya, Bu. Katakan pada Sam jika nanti malam aku tidak bisa menemaninya belajar karena jadwal periksa kandunganku." Ara merasa tidak enak selalu merepotkan wanita paruh baya itu.


"Tenang saja, Ra. Kamu pergi dengan siapa? Apa perlu ibu temani?" Sorot mata khawatir Bu Sri dapat Ara lihat. Namun wanita cantik itu kukuh pergi seorang diri. Dia berpikir, ditemani sopir saja sudah cukup.


"Sapto yang mengantar. Tidak usah, Bu. Anak-anak menjelang ujian, mereka lebih membutuhkan ibu. Aku titip Samuel, ya. Belajar senyamannya saja, dia tidak suka dipaksa," ucap Ara menjelaskan tentang Samuel.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tekanan darah normal, air ketuban cukup, posisi bagus, detak jantungnya baik." Dokter memutar suara detak jantung bayi Ara yang berdentum keras dan lebih cepat dari miliknya.


Ara terharu. Makhluk kecil itu tumbuh sehat di rahimnya. Meski trimester pertama sempat rewel dan merupakan saat paling sulit yang harus ia hadapi, namun akhirnya wanita itu bisa melewatinya.


"Emm__"


"Ibu mau tahu jenis kelaminnya?" tanya dokter seraya menggeser beberapa kali alat yang menempel di perut Ara.


"Tidak usah, Dok. Biarkan kejutan saja." Senyum tipis Ara merekah. Laki-laki atau perempuan, dia akan menerimanya.


"Barangkali nanti ayahnya menanyakan." Dokter bertanya dengan senyum ramahnya.


"Tidak usah, Dok." Lengkungan dibibir Ara memudar. Ia menunduk menahan sesak. Bahkan suaminya tidak tahu jika dirinya sedang hamil.

__ADS_1


"Baiklah, O ... iya tapi berat badan bayinya masih kurang ya, Bu. Ini tidak sesuai dengan usianya. Nanti saya berikan vitamin dan juga ibu harus minum susu hamil, agar bayi mendapat asupan nutrisi yang baik dan nanti beratnya bertambah," jelas dokter dengan gamblang.


"Iya, Dok."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ara kembali sudah larut malam, akibat antrian panjang di dokter kandungan tempat ia memeriksakan diri.


Wanita itu mempererat sweater yang ia pakai karena cuaca dingin serta gerimis yang tidak kunjung reda sejak sore tadi.


Begitu masuk ke dalam kamar, ia hanya sebentar membersihkan diri kemudian langsung berbaring di ranjangnya, dengan kaos kaki tebal yang menemaninya beberapa bulan terakhir ini.


Cuaca yang dingin serta perut yang semakin membesar membuatnya susah tidur setiap malam. Matanya sama sekali tidak bisa diajak kompromi hingga ia baru akan mengantuk di hari menjelang pagi.


Tok ... tok ....


Tok ... Tok ....


Suara ketukan beruntun serta panggilan yang lirih memutus mimpinya pagi itu. Mengerjap sambil berusaha mengumpulkan nyawa, Ara menyipit mencoba menebak siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Karena biasanya ia akan bangun pukul 7 atau 8 setiap paginya. Dan para penghuni panti hapal itu, karena dirinya baru bisa memejamkan mata menjelang pagi hari.


"Ara ... Bangun!"


"Kak! Bangun kak!"


Itu bukan suara ibu panti. Dan ketukan di pintu tidak juga berhenti.


"Sebentar, tunggu Bu." Ara menebak itu suara bu Sri. Dan entahlah suara siapa yang memanggilnya Kakak.


Wanita itu menarik sweater yang ia letakkan disamping ranjangnya meletakkannya di bahu, kemudian menggulung rambutnya asal dan membuka pintu.


"A__"


"Ayo cepat keluar!"


"Ini ada apa, Bu?"


"Pertanyaannya nanti saja. Sin cepat bereskan semua pakaian Ara! Jangan sampai ada yang ketinggalan!" titah Bu Sri pada pengurus panti yang bernama Sinta.


Sinta yang sudah menyiapkan satu kantong plastik besar segera memunguti benda-benda milik Ara. Baik yang besar ataupun yang kecil, dan memasukkannya begitu saja kedalam kantong plastik berwarna hitam itu.


"Jangan lupa dirapikan Sin!" teriak bu Sri yang sudah melangkah agak jauh membimbing Ara.


"Sebenarnya ada apa bu? Kenapa barang-barang saya dikemasi. Apa saya diusir?"


"Bukan Ra. Kita harus cepat sebelum ketahuan." suara bu Sri memburu, napasnya masih terengah karena ia sempat berlari untuk sampai ke kamar Ara.


"Iya. Tapi ketahuan siapa?"


Bu Sri mendengar suara ibu panti sedang bercakap-cakap dan semakin lama semakin dekat. Wanita paruh baya itu langsung menarik Ara untuk masuk ke sebuah lorong kecil buntu yang tidak terdapat pintu. Untung saja ruangan itu berbentuk huruf L sehingga siapapun yang ada di ujung lorong tidak kelihatan dari luar.


"Kita sembunyi dari siapa!?" Ara masih berucap keras karena jawaban bu Sri tidak memuaskan.


"Ssstttt ... Pelankan suaramu!" bisik bu Sri.


"Maaf, Nak. Ibu juga benar-benar tidak tahu alAra dimana. Dia tidak datang ke tempat ini. Ibu meminta maaf untuk kepergiannya," ucap bu Fatimah terdengar ikut prihatin.


"Tidak apa-apa, Bu. Semua salah saya, mungkin saya memang pantas ditinggalkan. Tapi jika ibu mendengar kabarnya atau ia datang kesini, saya mohon, ibu kabari saya lebih dahulu, tanpa memberitahu pada istri saya."


"Iya Nak, pasti."


Itu suara ibunm kepala panti dan seseorang yang dikenalnya.

__ADS_1


"Mas ...." Ara menutup mulutnya sendiri menahan tangis. Wanita itu hampir saja limbung jika tidak ada bu Sri dibelakangnya.


❤️ so much love untuk kalian.. Terima kasih like komen dan hadiahnya ya❤️


__ADS_2