
Selepas keluar dari apartemen yang ditinggali oleh sang anak, Adrian berjalan dengan langkah gontai. Tidak ada senyum bahagia yang mengulas dibibirnya. Bukan, ia bukan tidak bahagia. Bukan pula kecewa. Rasanya ia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Bisakah ia membagi dirinya menjadi dua? Tanpa menyakiti kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Bahagia dengan Dani, dan juga bahagia dengan Ara.
Namun itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Takdirnya harus bersama dengan mereka. Dan menyatukan mereka berdua.
Saat ini ia tengah berada di dalam lift, bersama penghuni apartemen yang lain yang akan turun ke basement. Wajah cuek orang-orang yang hanya terpaku pada ponsel masing-masing membuat lelaki itu mengingat jika ia tadi membuat mode diam pada peralatan canggih pribadinya itu.
Lelaki itu segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih persegi dari dalam sana. Ia kaget, mendapati banyaknya panggilan tidak terjawab dari nomor baru yang sama. Kemudian juga beberapa pesan dari sebuah aplikasi.
(Add, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah melaporkan rumah sakit yang merawat tante?).
(Angkat teleponnya Add! Jangan menjadi pengecut! Kamu harus mencabut laporan itu. )
(Dasar keponakan tidak tahu diuntung! Tahu begini aku tidak akan mendukung pernikahanmu dulu dengan istrimu yang tidak jelas itu. )
Belum sempat Adrian meneruskan membaca pesan dibawahnya, ponselnya tiba-tiba berdering.
Panggilan dari nomor yang sama, orang yang memghina buruk tentang istrinya.
"Hallo."
"Kamu kemana saja Add? Cabut laporanmu atau kau ingin penyakitku bertambah parah karena perbuatanmu ini!" Suara Laila menggema, membuat Adrian menarik benda pilih itu menjauh dari telinganya.
"Kenapa bertambah parah, Tan?" Adrian berucap santai, padahal Laila menghubunginya dengan berteriak-teriak.
"Tentu saja. Siapa yang akan merawat tante kalau kamu melaporkan mereka. Apa kamu ingin membunuh tante?"
"Banyak rumah sakit lain yang mau menerima Tante." Adrian tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Laila yang lebih seperti gertakan halus.
"Hanya rumah sakit itu yang bisa mengobati tante, Add. Apa kau tidak mengerti juga?"
"Tante sakit? Yang aku dengar dari suara Tante, sepertinya Tante lebih sehat dari aku. Buktinya dari tadi Tante teriak-teriak dengan tenaga penuh."
"E ... Tante sakit, Add. Tante mohon cabut laporannya." Suara Laila melemah, terdengar lirih dan halus. Sepertinya wanita paruh baya itu lupa tengah berakting jika sedang sakit.
"Apa Tante tahu, alasan aku melaporkan pemilik Rumah Sakit itu ke polisi?"
"Tidak. Mereka hanya mengatakan kalau kau harus mencabut laporanmu. Ayolah Add, kasihani tante kali ini. Penyakit tante sudah parah."
__ADS_1
"Ck ...." Adrian berdecak kesal. Masih bisa teriak-teriak dan menghina orang, tapi mengatakan kalau penyakitnya sudah parah. "Aku melaporkan pemilik rumah sakit itu dengan pasal penipuan."
"Menipu apa? Kau salah paham, Add. Mereka tidak menipumu. Tante memang memilih pengobatan paling mutakhir karena ingin segera sembuh. Bukankah kau juga ingin tante cepat sembuh?"
"Aku tidak akan mencabut laporanku. Dan Tante tunggu di rumah saja, jika Tante tidak terlibat berarti aman. Namun, jika ternyata terbukti Tante terlibat, selamat menunggu dijemput. Maaf aku banyak pekerjaan, kalau tidak ada yang lain aku tutup," ucap Adrian tegas.
"Ee ... Terlibat? A... Apa maksudmu, Add?"
"Selamat sore, Tante."
Adrian menutup sepihak panggilan Laila. Entah tantenya itu pura-pura tidak tahu atau memang benar tidak tahu Adrian tidak perduli. Yang jelas apa yang tantenya lakukan itu sudah sangat keterlaluan dan melewati batas.
Hari ini, moodnya sungguh buruk, dan pertemuan dengan Dani malah membuat hatinya semakin kalut.
"Jalan, Lang," titahnya begitu masuk kedalam mobil. "Kita ke tempat biasa," lanjut Adrian.
Elang memacu mobil yang ia kemudikan menuju suatu tempat. Raut wajah Adrian yang nampak tidak seperti biasanya membuat lelaki itu urung untuk bertanya lebih jauh. Ia hanya menjalankan apa yang dititahkan padanya.
'Ke tempat biasa,' adalah kata-kata yang lama sekali tidak lelaki itu ucapkan. Elang hafal itu. Biasanya sang majikan mengajaknya kesana jika hatinya benar-benar tengah dilanda kekalutan. Dan itu sudah terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu.
Apa yang Adrian dapat darisana? Sebuah ketenangan. Sebuah jeda waktu sejenak dari segala kesibukan yang membuat hati serta otaknya lelah.
Sampai di tempat yang dimaksud, Elang menghentikan mobilnya. Ia parkir tidak jauh dari tempat makan yang mirip sebuah kedai kecil di pinggir sawah itu.
"Pesan seperti biasanya, Lang," ucap Adrian yang mencari spot terbaik untuknya memanjakan mata. Hari yang nanggung, karena peralihan dari siang ke sore sangat menguntungkannya. Tempat itu sepi pengunjung, dan terasa eksklusif.
"Silahkan, Tuan." Pelayan mengantarkan segelas cappucino, segelas es jeruk dan nasi goreng porsi jumbo. Adrian mengangguk setelah semua yang pelayan itu bawa sudah beralih ke mejanya.
"Habiskan, Lang," titah Adrian. Elang langsung memasukkan nasi goreng itu dengan lahap kedalam mulutnya. Tanpa bertanya ataupun menawari sang majikan. Karena Adrian telah beranjak dari kursinya, manik hitamnya menatap takjub hamparan sawah yang menghijau.
Terkadang, ketika masalah datang bertubi-tubi, kita hanya perlu melonggarkan pikiran kita sejenak. Bukan menghindar apalagi lari dari masalah itu. Sungguh, kita hanya perlu sedikit waktu untuk mengurai segala lelah dan benang kusut yang menyimpul di hati ataupun otak kita. Agar kita semakin kuat menghadapinya dan masih memiliki akal sehat tentunya.
Satu jam Adrian berada disana, setelah damai memenuhi hatinya dan otaknya menjadi segar kembali. Tiba-tiba ia merindukan istrinya. Pagi ini, tidak banyak interaksi yang ia lakukan dengan wanitanya itu di rumah.
"Kita pulang," Adrian melangkahkan kakinya menuju mobil dan disusul oleh Elang dibelakangnya. Langkahnya nampak bersemangat tidak seperti saat datang tadi.
Dalam perjalananpun Adrian nampak asyik menggeser beberapa kali layar ponselnya. Ternyata lelaki itu sedang menikmati foto kebersamaan dirinya dengan sang istri. Mulai dari tingkah konyol hingga romantis semua tersimpan dalam galeri ponselnya.
__ADS_1
"Tuan."
"Hemm ...."
"Tuan."
"Apa lang? Sudah kamu fokus memgemudi saja. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu sampaikan." Adrian masih menatap lekat layar ponselnya, sesekali terlihat senyum samarnya terulas.
"Tuan kita sudah sampai. Tuan ingin turun atau kita memutar lagi," ucap elang yang membuat kaget sang majikan.
"Hah? Cepat sekali, Lang," kelakar Adrian. Rupanya Elang memanggilnya sedari tadi karena ingin memberitahunya jika mereka sudah sampai.
Merasa malu, Adrian bergegas keluar mobil dan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Elang.
"Tuan bisa salah tingkah juga. Sebenarnya apa yang beliau lihat sejak tadi di ponselnya. Apa mungkin drama Korea yang romantis?" Elang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara di dalam rumah utama.
"Sayang ... Sayang ...." panggil Adrian pada istrinya.
Lelaki itu kemudian menuju dapur, dan diantara beberapa sosok yang berdiri disana tidak ia dapati ada sang istri terlihat.
"Dimana istriku, Bi?"
"Nyonya ... Tadi beliau mengatakan hendak menunggu Tuan di depan," jawab bibi Yulia memperlihatkan mimik heran. Karena sang nyonya memang pamit ke depan dari setengah jam yang lalu.
"Tidak ada, Bi. Aku baru saja datang." Adrian berpikir cepat. Mungkin saja sang istri berada di kamar mereka saat ini, karena bosan menunggunya di depan. Namun ketika lelaki itu mendapati kamarnya kosong ia kembali kecewa dan khawatir lebih tepatnya.
Selanjutnya Adrian berlari ke ruang kerjanya, membuka laptop yang ada disana dan menyambungkannya dengan kamera CCTV yang ada di depan.
Disana terlihat, lima belas menit yang lalu sang istri keluar pintu gerbang. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian wanita itu hingga ia keluar tanpa pamit lagi pada orang yang ada di rumah.
"****!" umpat Adrian. Dia tidak dapat melihat pergerakan sang istri sanjutnya. Di luar area rumahnya tidak ada kamera CCTV sama sekali, akibat permintaan privasi para penghuni perumahan elit itu.
Brakk!
Adrian mendorong pintu kamarnya dengan kencang kemudian menuju pintu gerbang dengan terburu-buru. Pikiran buruk memenuhi otaknya kini.
__ADS_1