
"Hai gadis kecil!" Pemuda itu melambaikan tangannya. "Kita berjumpa lagi," lanjut Dani yang menyambut adiknya dengan sukacita di rumah utama. Ia bahkan rela menggeser segala urusannya yang benar-benar bisa ditunda hanya untuk meluangkan seharian penuh ini untuk sang adik.
Namun, Merra malah diam tidak bereaksi melihat kakaknya itu. Dani yang berdiri tidak jauh darinya sudah merentangkan tangan ingin dipeluk. Tapi Merra masih diam seribu bahasa.
Dibelakangnya, Adrian juga Ara saling pandang, karena tidak tahu kenapa anak gadisnya bersikap seperti itu.
"Sayang, ada apa? Itu Kak Dani, kakak Merra. Kamu tidak melupakannya, kan?" tanya sang ayah yang berjongkok dengan lututnya untuk menyamai tinggi gadis kecilnya itu.
"Huh!" Merra melipat tangan di dada kemudian membuang muka. "Kakak ingkar janji, katanya mau menginap tapi malah pulang," ucap Merra sengit.
Ternyata gadis kecil itu masih mengingat kejadian kemarin, dimana Dani pulang begitu saja tanpa pamit padanya.
"Sayang ... Bukan maksud kakak seperti itu. Kakak minta maaf, ya. Kemarin kan kita sudah baikan?" Dani mencoba mengerti kemarahan sang adik meski dalam hati ia tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu. "Mau lihat kamar baru Merra? Ada diatas, semua serba ungu seperti kamar Merra di Bandung. Ada kuda poni, peri, Peter Pan dan_"
"Benarkah?" Mata bulat gadis kecil itu berbinar. Sepertinya, rasa marahnya menguap begitu saja mendengar ucapan sang kakak.
Merra berlari memeluk Dani. "Dimana kamar Merra Kak? Antar, ya." pintanya. "Tapi gendong." Gadis kecil itu berniat usil pada sang kakak sebagai balasan atas rasa marahnya.
"Siap! Apa yang tidak untuk adik kecil kakak yang cantik ini." Dani membungkuk, hingga Merra bisa menjangkau tingginya. Kemudian gadis kecil itu naik ke punggung sang kakak dan Dani menggendongnya naik ke lantai atas.
"Ya ampun, Mas. Kasihan Dani,"
"Biarkan saja. Lingkungannya dulu membentuk dia bersifat apatis, Sayang. Karena dia sendiri dari kecil, dan kurang bergaul dengan teman sebayanya. Biarkan dia menjalin kedekatannya dengan Merra menggunakan caranya sendiri," ucap Adrian menjawab kekhawatiran sang istri. "Bibi Yulia pasti belum pulang. Aku menyuruhnya belanja banyak dengan mengatakan akan ada tamu istimewa yang datang malam nanti. dia pasti terkejut melihatmu." Adrian memang selalu pintar menenangkan sang istri, dalam hal apapun.
"Pantas saja, aku tak melihatnya sedari datang." Ara memang mencari sosok yang pasti akan berteriak heboh melihat ia kembali itu. Rupanya sang suami malah iseng pada wanita paruh baya yang ia anggap seperti ibunya sendiri itu.
"Naiklah ke kamar kita. Temui mereka yang kau tinggalkan begitu saja, mereka pasti merindukanmu. Meski aku yang paling menderita disini." Adrian menarik pinggang sang istri, berucap manis seakan-akan hanya ia yang paling menderita karena rindu.
"Baiklah, Mas menyusul kan?"
"Tentu saja. Setelah kupastikan renovasi kamar Merra oleh arsitek dari kantor nanti. Ada banyak yang harus dirubah dari kamar bekas Dani itu. Pagar balkon juga terlalu rendah, dan bahaya untuk anak seusia Merra.
"Ok." jawab Ara. Wanita itu menarik wajahnya mendekat pada sang suami kemudian mengecupnya singkat dan mereka berpisah disana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ada berapa banyak orang diatas? sepertinya ramai." Bibi Yulia yang baru saja tiba bingung sendiri. Karena sang majikan mengatakan, bahka tamu istimewa itu akan datang nanti malam. Sementara sekarang bahkan baru saja jam 11 siang.
"Ada Arsitek kantor yang akan merenovasi ulang kamar tuan muda. begitu tadi yang kudengar," sahut chef yang sedang memasak makan siang untuk keluarga itu.
"Renovasi? Kenapa harus memakai arsitek, masih tuan muda yang menghuninya, bukan dialih fungsikan? tanya bibi Yulia yang makin merasa aneh.
"Bibi...." Chef menatap malas wanita paruh baya itu. "Tuan muda kan orang kaya. Kalau kita yang mau renovasi rumah mungkin hanya butuh kita dan tukang bangunan. Kalau mereka orang kaya bebas mau menggunakan jasa siapapun bukan?" Chef sampai mendelik menjelaskannya.
__ADS_1
"Aa ... Benar juga ... Tapi tetap saja aneh Chef..." Bibi Yulia terdengar menggumam sendiri. "Biar aku ke atas saja, sekalian melihat berapa orang yang harus diberikan minum," putus wanita paruh baya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mana kamar warna ungunya? Kakak bohong. Kuda poni, peri semuanya tidak ada." Merra menangis dalam pelukan Dani.
"Kakak tidak bohong, Sayang. Sebelumnya kakak yang menempati kamar ini. Jadi harus dirubah dulu. Kalau Merra mau disini Merra harus memilih sendiri seperti apa kamar impian Merra. Itu ada om Djati dan om Ismail yang akan mewujudkan kamar impian Merra." Dani menunjuk dua orang lelaki yang terlihat lebih tua beberapa tahun diatasnya. Mereka tengah duduk menatap laptop.
Djati dan Ismail adalah arsitek dan design interior dari kantor. Mereka berdua langsung paham keinginan Merra dari cerita Dani. Dan sekarang mereka sudah membawa rancangan yang dituangkan dalam gambar 3 dimensi, penampakan kamar keinginan gadis kecil itu nantinya.
"Ini lihat." Dani menunjuk gambar yang dibuat Djati di laptop setelah laki-laki itu memutar posisinya. "Dilihat dulu dengan benar. Kalau ada yang kurang atau Merra ingin menambah atau mengurangi, tinggal bilang sama om-om itu."
"Jadi nanti kamar Merra seperti ini?" Dani mengangguk mengiyakan pertanyaan sang adik. "Horee....! Ini bagus sekali Kak. Terima kasih kakak baik sekali." Merra memeluk sang kakak sekali lagi.
"Boleh tidak kalau di pintu yang sebelah sini Merra mau gambar kuda poni dan sebelah sini ada tangga untuk rumah boneka-boneka Merra?"
"Tentu saja bisa." Djati yang menjawabnya. lelaki berkacamata itu mengutak-atik sebentar gambar di laptopnya. "Seperti ini?" tunjuknya pada gadis kecil itu lagi.
"Iya benar seperti ini. Wahh bagus sekali, Kak." Dan Merra tiba-tiba mendekap sang kakak dengan erat, lagi. "Apa Merra sedang bermimpi memiliki kamar dan juga kakak baru. Jangan bangunkan Merra kalau sekarang Merra sedang bermimpi ya Allah," bisik Merra lirih tepat di sebelah telinga sang kakak.
Dani mendorong lembut dahi sang adik dengan telunjuknya. "Nihhhh ... Ini nyata, bukan mimpi," ucap Dani di sertai gelak tawa keduanya.
"Ada yang senang memiliki kamar baru?"
"Kamar yang di Bandung milik Merra juga. Tapi Merra dan mama akan pindah ke rumah ini dan tentu saja bersekolah disini. Tapi kalau nanti kita pas liburan ke Bandung kita mampir di rumah Merra yang ada disana." Adrian memberikan penjelasan akan kegelisahan yang putri kecilnya alami.
"Asyikkkk...." Merra merengkuh sang ayah yang berakhir di gendongan lelaki itu.
"Selesaikan secepatnya. Karena putriku akan segera pindah kesini," ucap Adrian pada Djati dan Ismail.
Bibi Yulia terpaku. Begitu Adrian memutar tubuhnya dan nampaklah Merra yang merangkul sang ayah sambil menatapnya.
"Ada apa?"
"Emm ... Apakah tamunya makan siang disini, Tuan?" tanya bibi Yulia tanpa mengalihkan matanya yang dari gadis kecil itu.
"Tidak. Mereka hanya sebentar. Kantor juga membutuhkan mereka." jawab Adrian.
Namun bibi Yulia tidak juga pergi dari hadapan sang majikan.
"Oh ... Iya. Ini Merra, Bi. Putri kecilku, adik Dani."
"Putri Tuan...." Adrian mengangguk. "Dengan?" Bibi Yulia kehabisan kata-kata. Apa majikannya menikah lagi? Tapi jika putrinya saja sudah sebesar ini berarti mereka sudah menikah cukup lama. Dan pastinya setelah nyonya Ara pergi.
__ADS_1
Bibi Yulia jadi berpikir kemana-mana.
"Apa aku bisa menikah dengan orang lain lagi, Bi??
"Tuannnn...." Bibi Yulia malah menangis mendengarnya. "Nyonya ada disini? Nyonya sudah kembali. Dan ini...." Suara isakan bibi Yulia semakin kencang.
Bibi Yulia menghampiri Adrian.
"Sayang, ini namanya bibi Yulia. Kepala dari semua pelayan disini. Teman mama juga. bibi Yulia sangat sayang dengan mama," ucap Adrian memberi pengertian pada gadis kecilnya.
"Seperti nenek dan kakek?"
"Iya, Sayang." Adrian menurunkan Mera dari gendongannya. Dan gadis kecil itu memeluk bibi Yulia. "Namanya Merra, Bi."
"Non Merra cantik sekali seperti nyonya," ucap bibi Yulia membalas pelukan Merra.
"Bibi!" pekik Ara yang menyusul dari belakang. "Aku rindu Bibi."
"Nyonya." Bibi Yulia tidak lagi dapat menahan airmatanya. Wanita paruh baya itu memeluk ibu sekaligus anak yang berstatus majikannya itu.
"Nyonya baik-baik saja kan? Apa Nyonya makan dengan benar selama ini?" Bibi Yulia memutar tubuh Ara seakan memeriksa keadaan wanita itu. "Tuan saja tidak makan dengan benar meski saya mengomel setiap hari untuk mengingatkan," celetuk wanita paruh baya itu.
"Bibi, jangan buka kartu. Mulai sekarang aku pasti akan makan dengan baik. Asalkan istriku yang memasak makanan untukku," ucap Adrian mengulas senyum menggoda.
"Nyonya lihat bukan, Tuan sedikit kurus. Setiap hari hanya memikirkan Nyonya," ucap bibi Yulia yang kini memasang senyumnya dan membelai puncak kepala Merra. Gadis kecil itu menurut saja.
"Sekarang tidak akan kubiarkan dia kurus lagi, Bi. Juga anak bujangku yang sudah dewasa itu. Apa dia sudah memiliki teman wanita selama ini?"
"Bibi!" pekik Dani panik, dia tidak ingin kedatangan Rheina beberapa waktu lalu ke rumah karena kenekatan gadis itu akan berbuntut panjang. Ia diinterogasi snag ayah.
"Belum ada Nyonya. Mungkin Tuan Muda menunggu dijodohkan," ucap bibi Yulia menuruti permintaan tuan mudanya.
"Boleh juga," sahut Adrian.
" Tante! Aku masih ingin bekerja menggantikan Daddy," sanggah Dani beralasan. "Dad,aku langsung kembali kantor sekarang bersama mereka. Tante pulang Senin saja. Perpindahan sekolah Merra sudah aku urus. Dan juga toko bunga Tante sudah diawasi anak buahku," lanjut Dani segera turun bersama kedua lelaki yang bersamanya.
"Mas, anakmu sedang memaksaku menginap."
"Iya, dan aku menyetujuinya. Dia bahkan bergerak lebih cepat dariku, dan tidak memberikan kamu ruang untuk menolak."
Senyum Adrian mengembang. Anak bujangnya itu ia akui cerdas dan cerdik
💜terimakasih teman-teman. semoga berkenan
__ADS_1