
"Tuan, ada tamu."
"Siapa?"
"Emmm ...." Nampak keraguan menggelayut di mata Elang. Namun itu semua tidak terlihat oleh sang majikan.
Adrian menoleh, melemparkan tatapannya pada sang asisten yang seolah kelu mengatakan siapa tamunya.
"E ...." Elang yang tak sanggup mengatakan kemudian malah mendekat di samping Adrian, lelaki itu membungkuk dan membisikkan sesuatu.
"Hah?" Dan ucapan Elang berhasil membuat Adrian terkejut. Bukankah dia? Apa dia sudah baik- baik saja ? Seingatnya, terakhir kali orang itu terguncang jiwanya akibat kejadian tidak mengenakkan yang terjadi padanya.
"Apa dia_"
"Beliau terlihat baik-baik saja, Tuan. Hanya ...." Elang tahu maksud pertanyaan sang majikan, meski lelaki itu masih nampak tidak percaya.
"Hanya apa?"
"Sedikit berbeda, dari yang dulu," jawabnya cepat. Elang takut salah bicara.
"Dia sendiri?" dijawab anggukan oleh Elang.
Kenapa kesini sendiri? Dimana seseorang yang menjaganya? Seharusnya dia tidak kesini sendiri, karena akan menimbulkan banyak prasangka. Adrian malah menerka-nerka dalam hatinya.
"Persilahkan dia masuk," ucap Adrian sambil menandatangani berkas diatas mejanya. "Tunggu Lang!"
"Ya, Tuan." Elang menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Jangan ke mana-mana, kamu tunggu di depan ruangan Vina saja," titahnya tanpa menatap lelaki yang masih terpaku diam di dekat pintu itu.
Sungguh, Elang masih berdiri disana karena otaknya masih bingung mencerna perintah sang Tuan yang baginya sangat aneh. Perintah itu terdengar biasa, tapi Elang yang sudah bertahun lamanya mengikuti Adrian tentu sedikit banyak mengetahui karakter sang majikan.
Adrian yang menyadari segera mendongak, "Kenapa kau masih berdiri disana?"
"T-tidak Tuan, hanya ...."
"Kau pasti berpikir aku takut?"
"Saya? Tidak Tuan, sungguh!" jawab Elang cepat, "Hanya aneh saja, itu bukan seperti Anda." Elang berucap sambil menunduk, sungguh ia takut salah bicara dan dianggap meremehkan majikannya itu.
"Aku hanya berjaga-jaga, karena aku sama sekali tidak senang dia berkunjung. Apalagi dia sendirian," ucap Adrian menyelesaikan berkasnya. "Ini, bawa sekalian dan berikan pada Vina. Ingat perintahku!"
__ADS_1
Elang pun mengangguk, kemudian menghilang di belakang pintu.
Beberapa menit kemudian,
"Silahkan."
"Terima kasih Lang. Hai Add, apa kabarmu?" Sesosok dari masa lalu hadir dan menyapa kembali di tempat ini. Tempat yang sama saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
"Hai. Aku baik," balas Adrian singkat, tanpa berniat berdiri menyambut tamunya sama sekali. Padahal jelas tidak ada kegiatan yang dilakukannya dibelakang meja itu. Paptop dalam keadaan tertutup dan mejapun bersih tanpa kertas selembarpun.
"Ck! Kau masih sama seperti dahulu. Padahal aku menanyakan kabarmu tapi kau tak menanyaiku balik. Curang sekali," ucap sosok yang tak begitu dianggap oleh Adrian itu protes.
"Aku sudah melihat kau sehat, jadi tidak perlu bertanya lagi bukan? Apa yang membawamu kesini?" lanjut Adrian. Pembicaraan tidak penting seperti ini membuatnya kesal dan malas.
"Aku? Tentu saja mengunjungimu. Apa tak boleh? Ck, jangan katakan kau menjadi lelaki yang sama seperti orang-orang itu? Para lelaki yang takut istri." Suaranya yang lirih dan berbisik dengan nada mengejek, membuat Adrian mulai kesal.
"Langsung saja Lau. Ada perlu apa kau datang ke kantorku?"
"Kau mulai galak lagi, Add. Yang kudengar, kau menjadi lelaki penyayang sejak menikah dengan istrimu? Santai saja, aku masih ingin disini lebih lama, mengenang kembali pertemuan kita," ucap Laura dengan nada percaya diri dan menggoda.
Ya, tamu Adrian hari ini adalah wanita itu. Mengejutkan memang, setelah peristiwa yang terjadi terakhir kali, tak pernah lagi Adrian mendengar kabar pasangan suami istri itu. Tony pun bagai hilang ditelan bumi.
Setahunya dulu, Laura paling anti mengenakan dress diatas lutut dengan lengan terbuka yang begitu seksi. Namun kini, wanita itu justru berpenampilan seperti itu.
Saat ini ia mengenakan dress hitam ketat separuh paha, tanpa lengan dan jangan lupakan kedua bukit kembarnya yang mengintip sebagian. Padahal, saat masuk tadi ia mengenakan blazer nya. Sehingga aset kembarnya itu tidak begitu nampak. Namun setelah Elang menutup pintu, dan mereka hanya tinggal berdua, wanita itu melepas satu-satunya penutup bahunya, dan melemparkannya begitu saja di sofa.
"Lelaki penyayang? Sejak dulu aku seperti itu, Lau. Dia adalah istriku jadi wajar bukan aku menyayanginya. Kalau niatmu kesini hanya untuk berbicara masalah pribadi, maaf kamu datang ke tempat yang salah. Silahkan keluar, pintu masih di tempat yang sama," ucap Adrian tanpa senyum sedikitpun.
"No! Selain itu aku menawarkan kerjasama denganmu Add. Kamu pasti berminat. Untungnya lumayan besar." Laura berjalan mendekati Adrian yang masih setia di belakang meja.
"Buka emailmu dan pelajarilah, aku tunggu," ucap Laura yang sudah berdiri di dekat Adrian. Namun ketika tangannya menyentuh bahu lelaki itu, sontak Adrian menghempaskannya hingga Laura yang mengenakan high heel 7 cm limbung dan akhirnya jatuh. Berharap lelaki yang pernah menjadi masa lalunya itu menolong malah membuatnya sakit hati. Karena Adrian malah berjalan melewatinya tanpa memperdulikannya sama sekali.
"Sial!" umpat Laura yang mencoba bangun namun malah terjengkang kembali. Dress ketatnya dan jangan lupakan high heel nya menghalangi wanita itu untuk berdiri tanpa bantuan. Dengan terpaksa akhirnya ia berpegangan pada meja.
"Buka email perusahaan Lang!" titah Adrian pada Elang yang sudah ada di belakangnya. Rupanya lelaki itu memanggil asistennya untuk masuk ke ruangannya.
"Aku mengirimkannya ke email pribadimu, Add," ucap Laura.
"Tetap buka email perusahaan, sudah kukirim kesana." tatapan tajam Adrian menguliti siapa saja yang ada di sekelilingnya. "Kau harus belajar lebih profesional, Lau!"
"Mana aku tahu email perusahaanmu!"
__ADS_1
"Kalau berniat serius berbisnis, itu bukan hal sulit untuk kau dapatkan," ucap Adrian memukul telak alasan Laura.
Sebenarnya semenjak tadi, Adrian penasaran mengapa Laura hanya datang sendirian. Dimana Tony? Namun melihat tingkah wanita itu yang menyebalkan, membuat Adrian urung menanyakannya.
Elang mengangsurkan laptopnya pada sang majikan. Mata Adrian menangkap sesuatu, ini bukan perusahaan Laura yang menawarkan kerjasama, tapi milik Tony. Dan yang membuatnya lebih heran, disitu tercetak nama Laura sebagai CEO. Dimana kedudukan itu sebelumnya adalah milik lelaki yang menikahinya itu.
"Kenapa kau yang kesini? Dimana Tony?" tanya Adrian. Akhirnya lelaki itu menemukan alasan untuk menanyakannya.
"E ... em ... Oh, ada. Tony ada, dia sedang sibuk mengurus perusahaannya yang lain," sahut Laura gelagapan. Wanita itu nampak tidak tenang setelahnya.
"Aku belum bisa menjawabnya sekarang, karena setelah ini aku masih ada urusan lain. Tunggu saja email dariku," ucap Adrian. Lelaki itu berdiri menghampiri mejanya kemudian mengambil tasnya dan bersiap keluar.
"Kau mau pulang, Add? Bisakah kita bicara sebentar, sambil makan mungkin," ajak laura. Wanita itu sudah mengenakan kembali blazer nya dan juga menenteng tasnya.
"Sudah kukatakan aku ada urusan." Sambil berjalan, Adrian yang cuek meninggalkan ruangannya begitu saja. Laura setengah berlari mengejar karena tidak ingin ketinggalan.
"Sebentar saja, Add, baiklah dimana saja terserah padamu. Yang penting kita bisa berbicara," pinta Laura dengan memohon.
"Kau yakin?" tanya Adrian terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
"Ya. Sangat yakin," ucap laura bersemangat. Wanita itu mengikuti Adrian dari belakang dan berencana ikut ke dalam mobilnya.
Hingga tiba di lobi depan, sebuah mobil pajero sport sudah menunggu di depan pintu.
"Aku ikut mobilmu ya, Add?" pinta Laura ketika mereka berdua sudah dekat dekat mobil itu. Wanita itu memang sengaja melakukannya agar Adrian tak bisa menolak.
Adrian tidak menjawab, namun ia langsung masuk melalui pintu depan. Laura menghentikan langkahnya, sepertinya wanita itu salah duga.
"Jadi ikut?" tanya Adrian setelah membuka kaca mobilnya.
"Emm ... Iya." Dengan sangat terpaksa wanita itu akhirnya masuk melalui pintu belakang. Ia tidak menyangka Adrian mengajak asistennya untuk mengemudi. Ia kira lelaki itu membawa mobilnya sendiri. Dan mereka ada kesempatan duduk berdampingan meski sebentar.
Sepanjang perjalanan, Laura hanya diam. Ia tidak bebas bergerak dan berbicara karena posisinya dan juga karena ada Elang.
Jalanan yang mereka lewati terlihat macet. Padat merayap, karena hampir semua kantor memiliki jam pulang di waktu yang sama. Semakin menambah kebosanan wanita yang bahkan sudah tidak nyaman berada di dalam mobil itu.
Akhirnya, Laura menurunkan kaca jendelanya. Sesekali wanita itu mengeluarkan kepalanya melihat kedepan barangkali ada celah untuk keluar dari kemacetan ini. Namun tentu saja nihil, ia naik mobil sekarang bukannya motor, mana bisa mobil mengambil celah sempit untuk mendahului. Jadi apa yang ia lakukan percuma bukan?
Brakkk!
"Terimakasih pembaca setia, untuk komen dan like nya😍
__ADS_1