
"Daddy darimana saja?" Dani gusar menunggu sang ayah pulang. Hingga pukul 9 malam, baru terdengar suara mobilnya datang.
"Mengikuti arah angin membawa Daddy," ucap Adrian sembari menepuk penggung sang anak, kemudian berlalu melewati Dani begitu saja.
"Daddy belum makan malam."
"Sudah. Sekarang Daddy masih kenyang. Makanlah dulu, Daddy mau mandi, gerah." Adrian sejenak berhenti dan memutar tubuhnya kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya ke kamar.
"Kenapa aku merasa Daddy semakin jauh. Meski kami berada dalam jarak yang sangat dekat," gumam Dani.
"Silahkan, Tuan Muda. Makan malam sudah siap." Bibi Yulia telah selesai menghidangkan makanan di meja. Melihat sang majikan sudah berdiri di tangga, wanita paruh baya itu menghampiri. Hari ini, bibi Yulia sengaja memasak makanan kesukaan Dani.
"Baunya enak," ucap Dani begitu duduk di kursi dan mencium aroma sup serta ikan bakar.
"Ikan kembung bakar dan sup jamur. Dessertnya ada puding leci, Tuan."
Dani hanya mengambil ikan kembung dan sedikit sup jamur. Aroma masakan itu memang menggoda dan sudah bisa dipastikan selalu lezat. Apalagi ini makanan kesukaannya. Namun mendadak selera makannya hilang, setelah untuk kesekian kalinya menyaksikan sang ayah yang setiap hari pulang malam, dan selalu saja tidak pernah keluar lagi setelah masuk ke kamarnya.
Dia hanya menghormati bibi Yulia yang sudah repot memasak makanan untuk mereka berdua meskipun itu memang tugasnya.
Sehabis makan malam, Dani berniat mengetuk pintu kamar ayahnya. Dia sangat ingin melihat keadaan sang ayah, dan apa saja yang dilakukannya saat malam hari, mengapa ayahnya itu sangat betah di dalam sana.
Kata bibi Yulia, Adrian memang seperti itu sepeninggal ibu tirinya. Bahkan ia menjadi jarang makan di rumah. Sepulang kerja, selalu masuk kamar dan tidak akan keluar lagi sampai pagi.
Tok.
Tok.
"Dad, ini aku. Bolehkah aku masuk?" ucapnya sedikit lantang.
"Masuklah," titah Adrian yang terdengar lirih.
Dani membuka pintu kamar ayahnya. Dan dari sana terlihat, jika sang ayah tengah berada di ranjangnya sedang membaca. Nampak Adrian melepas kacamata yang ia kenakan.
"Daddy sibuk?"
__ADS_1
"Hanya membaca beberapa buku lama." Adrian nampak membolak balik halamannya. "Ada yang ingin kau sampaikan?"
"Hanya diskusi kecil, kalau Daddy tidak sibuk," ucap Dani yang duduk di ujung ranjang sang ayah. Baru kali ini Dani memasuki kembali kamar sang ayah setelah sekian lama. Tepatnya sejak sang ayah menikah lagi.
"Kau mengejek Daddy? Dirimu lah sekarang yang sibuk, bukan lagi d
Daddy," sindir Adrian sekaligus mempertegas tentang posisi Dani sekarang.
"Ck, membuatku kesal saja." Dani berdecak kemudian melenggang kearah balkon. Menunggu sang ayah disana.
Adrian tersenyum melihat tingkah anaknya. Meski usianya sudah 20 tahun lebih, tapi pemuda itu masih terlihat seperti anak-anak dimata sang ayah.
Sampai di balkon, Dani tertegun melihat lampu hiasan ucapan selamat ulang tahun yang masih terpasang dan terawat dengan baik. Jadi ini kejutan dari ibu tirinya yang diceritakan bibi Yulia.
Ada kursi yang hanya pas untuk dua orang. Kemudian bunga-bunga itu, pasti milik ibu tirinya. Karena tidak mungkin sang ayah yang menanamnya. Semua masih terawat apik disana.
Bibi Yulia juga bercerita jika sang ayah selalu menyiramnya setiap hari. Jika sang ayah lupa, hanya Bibi Yulia yang boleh menyentuhnya.
Hari ini, semua bunga itu bermekaran. Sangat damai berada diatas sana. Meski hanya dengan penerangan dari bohlam kecil yang menyala bergantian, ternyata bisa membuat suasana menjadi syahdu. Efek temaram dan bau wangi bunga menambah siapapun betah disana. Apalagi semilir angin malam itu, tanpa terasa Dani menikmati itu semua.
"Nyaman kan, disini?" Adrian tiba-tiba datang dari belakang. Lelaki itu tersenyum kemudian menuju pagar besi yang berada di pinggir balkon. Kedua tangannya terangkat ke atas, lelaki itu melemaskan otot-ototnya, sambil menghirup udara malam yang dingin sekaligus menenangkan.
Adrian tersenyum masam. Alasan sebenarnya tentu hanya dia yang tahu. Dan lelaki itu membiarkan sang anak berspekulasi menurut pemikirannya. Dani belum cukup dewasa untuk memahami sebuah masalah dalam rumah tangga.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Daddy sudah disini." Adrian memutar tubuhnya, kini mereka tengah berhadapan namun disisi yang berbeda.
"Aku belum ingin kembali, Dad. Aku masih ingin membangun usahaku disana."
"Apa yang kau cari? Segala apa yang daddy miliki akan menjadi milikmu, semuanya tanpa terkecuali. Kau bisa melakukan apapun dengan apa yang kau punya."
"Aku ingin merasakan memulainya dari nol dengan keringatku sendiri, Dad."
"Takdirmu adalah pewaris Ilyasa, Boy. Kalau kau ingin menjajal kemampuanmu, kau juga bisa melakukannya disini. Membangun semuanya disini."
Adrian memang selalu memiliki alasan yang tepat untuk membantah segala alasan dan argumen sang anak.
__ADS_1
"Lagipula kau sudah janji bukan? Semua sudah terjadi, Boy. Entah apapun yang kau pikirkan, kau harus tetap menepati apa yang kau ucapkan. Tante Ara sudah tidak ada disini, itu berarti tidak ada pilihan lain untukmu selain kembali!"
Dani menunduk. Emosi sesaat atas nama kebencian yang ia sirami dalam hatinya, kini menikamnya sendiri.
Ketika ia ingin bertumbuh di pijakan kakinya sendiri, dan baru saja sulur-sulur itu menjalar, ia harus segera meninggalkan itu semua. Karena kebodohannya memberikan sebuah syarat pada sang ayah.
"Beri aku waktu, Dad?" ucapnya lirih. Dani tidak lagi mendebat keras atas kesalahan yang dibuatnya sendiri.
"Berapa lama? Daddy tidak bisa memberimu waktu banyak. Jika dulu mungkin bisa, tapi sekarang ... Daddy lebih ingin menenangkan diri dan hanya bekerja dibelakang layar. Daddy tak setangguh dulu." Ucapan Adrian beralasan. Dia memang kehilangan banyak gairah hidupnya setelah kepergian sang istri.
"Itu hanya alasan Daddy. Buktinya beberapa bulan terakhir, nama Daddy beberapa kali disebut sebagai penerima penghargaan, meski secara resmi Daddy tidak pernah menghadirinya."
"Itu untuk perusahaan, Boy. Bukan ayahmu ini. Daddy suami yang gagal." Adrian nampak tertunduk. "Berapa lama kau meminta waktumu?" lanjutnya kemudian.
Dani menoleh. Ucapan sang ayah secara tidak langsung menyindirnya. Ya, Adrian suami yang gagal tapi tidak pernah menjadi ayah yang gagal. Dani merasa seperti orang yang sangat egois, namun apa boleh buat. Orang lain yang masuk ke dalam kehidupan mereka dianggapnya sama seperti racun, hanya menggerogoti. Pertama omanya meninggal. Berikutnya banyak perseteruan dengan keluarga akibat wanita itu.
"Tiga tahun. Sambil aku mengejar S2, Dad."
"Hah? Itu berarti kamu mau kabur bukan meminta waktu." Adrian berdecak mengejek permintaan Dani yang baginya tidak masuk akal. "Satu tahun cukup. Lepaskan jabatanmu disana sebagai salah satu pengelola. Dan bersiaplah pindah ke Indonesia, memulai karirmu disini. Daddy akan masuk jajaran komisaris untuk mengawasimu."
"Dad?" Pemuda itu tidak percaya keputusan sang ayah yang diluar dugaan. Ia pikir masih bisa bernegosiasi, rupanya ia salah.
"Lelaki itu yang dipegang adalah janjinya. Tentu kamu masih ingat persyaratan apa yang kamu ajukan ketika Daddy memintamu pulang dulu." Adrian melempar jauh tatapan matanya. Andaikan saja ia orang biasa, dan bukan seorang Ilyasa. Dia pasti tidak akan membuat istrinya pada posisi yang sulit, hingga memilih pergi dan merelakan kebahagian Ara sendiri, untuknya dan Dani.
"Baiklah, tapi Daddy janji membantuku. Aku belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Dadd." Dani menunduk, membantah pun tidak ada gunanya. Ini adalah sebuah konsekuensi yang harus dibayarnya.
"Daddy juga belum menjadi apa-apa saat seumuranmu, dan harus berjuang menyelamatkan perusahaan kakekmu. Bahkan Daddy juga sepertimu, lulusan luar negeri, tapi akhirnya memilih untuk mengambil S2 di sini." Adrian mengingat masa lalunya, yang merupakan masa sulitnya menghadapi berbagai tekanan dari perusahaan juga hubungan rumah tangganya yang tidak baik-baik saja.
"Seseorang itu hebat bukan karena seberapa tinggi sekolahnya atau seberapa hebat dan kaya orang tuanya, Boy. Tapi ini." Adrian menepuk dada Dani berulang-ulang. "Karena dirimu sendiri. Bagaimana kamu membawa diri, dan menghargai orang lain. Kamu tetap bisa melanjutkan S2 disini, Boy. Sekolah yang sudah memiliki nama hanya nilai plus, tidak akan berhubungan dengan kepiawaianmu. Mutiara itu akan bersinar meskipun ia berada di kubangan lumpur, sementara pasir akan tetap hitam meski ia berada di antara emas."
"Terima kasih, Dad." Dani tersenyum hambar, ayahnya memang paling pintar membuat perbandingan. "Perumpamaan yang Daddy buat sangat mengesankan."
"Dan yang jelas. Dimata dan hati Daddy, kamu tetaplah mutiara yang Daddy miliki." Adrian menepuk singkat punggung kekar pemuda yang lebih tinggi darinya beberapa inch itu.
Kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Dani yang masih enggan pergi dari balkon kamar sang ayah. Ternyata memang benar, tempat ini sangat nyaman. Bahkan sekarang dikepalanya banyak sekali ide untuk memulai usaha apa di Indonesia selepas satu tahunnya di Swiss nanti.
__ADS_1
🍓Grazie readers tercinta. Saya banyak mengambil napas panjang membuat cerita ini, terkadang sampai menangis bombay untuk membuat percakapan yang romantis namun sadis. Adakah yang seperti saya?😂Jalani saja ya🙏
SEMANGATT!!!