
Drrt
Drrt
Drrt
"Ayo angkat Mel," ucap Ara yang terdengar seperti orang yang tengah berbisik. Berulang kali wanita itu mengangkat kepalanya untuk melihat sang sahabat yang tengah tidur bergelung selimut. Nampaknya gelungan itu tak bergerak sedikitpun, siapa yang akan membantunya jika bukan Mela?
Perlahan Ara mencoba kembali mengangkat lengan Adrian yang memeluk posesif dirinya semalaman. Namun gagal. Selain berat, sepertinya Adrian benar-benar tak ingin melepaskan dirinya.
Ya. Sudah kesekian kali wanita itu mencobanya tadi. Kalaupun lengan itu bisa dipindahkan, pasti akan bergerak memeluknya lagi.
Dan Adrian sama sekali tidak membuka matanya. Entahlah, mungkin hari lelaki itu kemarin terlalu melelahkan.
Mata Ara menangkap pergerakan Mela, kemudian wanita itu langsung menekan kembali tombol hijau pada ponsel yang masih menempel ditelapak tangannya.
"Ha-lo," suara Mela terdengar malas, khas bangun tidur.
"Mel, bangun!" Ara berbisik memanggil Mela.
"Hemmmm."
"Mela, kumohon bangunlah. Bantu aku," sambil berkata sedikit kencang, mata Ara melirik Mela yang terlihat mengucek matanya.
"Ini siapa," suara Mela yang tidak begitu jelas membuat Ara jengah.
"Ya ampun! Ini aku Mel, Ara. Cepat bangun!"
"Ada apa Ra? Bukankah kamu ...." Mela mengerjap demi membuka matanya lebih lebar, kemudian mengumpulkan sisa-sisa energi untuk menyatukan nyawa dan raganya.
Hah! Mela terlonjak kaget, bukankah sahabatnya itu sedang di rumah sakit dan ia yang menjaganya semalam. Kenapa pagi-pagi ada yang menghubungi dan mengaku-ngaku sebagai Ara.
Mela melihat kembali layar ponselnya. Tapi benar, terlihat nama Ara yang sedang melakukan panggilan, ia tak mungkin salah menamai kontaknya kan? Lalu gadis itu memutar tubuhnya ke arah bed yang di tempati Ara. Nampaklah sahabatnya itu melambai-lambaikan tangannya, memberi kode Mela untuk mendekat.
"Itu bukan suaminya kan?" Mela bergumam. "Kamu ngapain telpon-telpon aku, padahal teriak saja aku pasti datang," ucap Mela ke ponselnya yang masih terhubung dengan ponsel Ara.
"Aku tak ingin mengganggu Mas Adrian, tidurnya nyenyak sekali Mel, kasihan. Cepat kamu kesini tolong aku?" pinta Ara masih dengan berbisik.
__ADS_1
Tolong? Tolong apa coba? Seorang istri yang tidur berpelukan dengan suaminya sendiri meminta tolong padanya. Ia takut salah lagi menghampiri pasangan itu. Tadi malam saja saat ia tidak bisa menahan pipisnya karena terlalu banyak minum air, Mela terpaksa turun ke kamar mandi. Padahal yang dilakukannya cuma berjalan melewati mereka berdua yang sedang bersendau gurau sambil bermanja-manjaan. Dan sumpah demi Tuhan, ia hanya melirik sebentar, karena penasaran. Tapi Adrian yang mengetahuinya malah menghukumnya bahwa dia harus tidur menghadap ke sandaran sofa, tidak boleh berbalik sama sekali, sampai punggungnya pegal dan tangan kanannya kesemutan.
"Melllll!!! Malah melamun, cepat kesini." Ara berucap dengan menekan suaranya.
"Sebentar ... Tunggu sebentar."
Gadis itu bangkit, memasukkan ponsel kedalam saku piyamanya. Kemudian berjalan dengan berjingkat menghampiri sang sahabat.
"Ha ha ha hap" Mela menutup mulutnya ketika melihat pergerakan Adrian. agadis itu menertawakan sahabatnya yang tidur tertindih suaminya. Sungguh mengenaskan. Ternyata nasib Ara tidak jauh beda dengannya, sama-sama pegal dan kesemutan.
"Bagaimana bisa tidur model begini?"
"Ssst ... Jangan banyak bicara, cepat tolong aku. Kakiku kesemutan, dan sepertinya lukaku basah, sangat tidak nyaman, Mas Adrian terlalu erat memelukku."
"Kenapa suamimu tidak tidur di kasur aja? Bukankah kemarin Elang membawanya," tanya Mela keheranan.
"Mela! Nanti saja bicaranya."
"Iya ... Iya ...." Mela segera mengangkat lengan Adrian perlahan. Ya ampun ternyata bukan lengan lelaki itu saja yang mengunci tubuh Ara, namun kakinya juga ikutan. Benar-benar memang lelaki itu.
Kemudian setelah Ara bisa melepaskan diri, wanita itulah yang membantu sang suami sedikit menepi hingga memberinya ruang untuk bergerak.
"Oke. Aku mandi dulu ya, mumpung dia belum bangun," lirik Mela pada Adrian.
"Tumben? Biasanya kamu paling malas disuruh mandi dengan alasan dingin. Ini masih jam 4, Mel. Kamu yakin?"
"Seratus persen yakin. Kan ada air panas di dalam, Ra. Tinggal mengeluarkan sedikit tenaga saja," ucap Mela dengan menaikturunkan alisnya. Ia yang sudah hapal seluruh fasilitas kamar mandi yang bahkan lebih mewah daripada kamar kosnya, benar-benar serasa menginap di hotel.
"Dasar kamu ya, sana buruan mandi!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dok, suami saya tidak apa-apa kan?" Seorang wanita paruh baya tengah panik menunggu kabar untuk mengetahui kondisi terakhir suaminya yang masuk ruang kegawat daruratan di sebuah rumah sakit.
"Tenang bu. Ibu duduk dulu, ya. Percayakan kepada kami." Selepas berucap demikian, lelaki yang mengenakan jas putih itu langsung pergi.
UGD rumah sakit nampak ramai pagi itu. Padahal langit masih nampak gelap. Bagaimana tidak, terjadi kecelakaan beruntun di sebuah tikungan yang tidak jauh dari lokasi rumah sakit itu berada.
__ADS_1
Korban yang lain hanya seorang pengendara motor yang lecet-lecet dan beberapa mobil yang penyok bagian depan ataupun belakang, namun baik pengemudi serta penumpangnya tidak ada yang terluka.
Kecuali pasangan suami istri yang tengah menaiki becak pagi itu. Sang istri hanya luka kecil di lutut dan dagunya, sedangkan suami lebih parah karena terlempar akibat diseruduk oleh sebuah mobil dari belakang. Mobil itu membanting setir ke kiri karena kaget mobil depannya mengerem tiba- tiba, namun apesnya malah menghantam becak.
Seorang lelaki berpakaian rapi menghampiri ibu-ibu yang nampak beberapa kali menghapus air matanya. Lelaki itu duduk di sebelahnya.
"Bu, perkenalkan saya Alfa. Saya yang menabrak becak ibu dari belakang. Saya benar-benar mohon maaf karena saya kaget tadi. Untuk pengobatan Bapak dan Ibu, saya akan menanggung sepenuhnya sampai sembuh seperti sedia kala. Sekali lagi saya mohon maafkan, saya."
Wanita paruh baya itu menyambut uluran tangan lelaki muda yang berada disebelahnya.
"Saya Esther. Sudah nak, mungkin ini sudah takdir, terimakasih sudah datang kesini."
"Dan saya mohon maaf tidak bisa menemani Ibu disini. Sebagai gantinya, ini adik saya yang akan menemani Ibu. Jika ibu butuh apa-apa katakan saja padanya," tunjuk Alfa pada adik lelakinya yang berdiri tidak jauh darinya. Lelaki yang wajahnya mirip namun nampak lebih muda dari Alfa itu tersenyum mengangguk.
"Saya Aldo Bu."
"Terimakasih, Nak. Terimakasih sekali lagi." Selepas itu Alfa pamit dan sekarang Aldo lah yang bersama Esther disana.
Tidak berapa lama,
"Keluarga Bapak Damar," ucap salah seorang perawat.
"iya, Pak." jawab Aldo yang langsung bangkit dari duduknya. Lelaki itu membantu Esther yang kesulitan berdiri akibat rasa ngilu di lututnya juga penyakit asam urat yang akhir-akhir ini dideritanya.
"Pasien butuh transfusi darah golongan A Rhesus positif, Pak. Pihak rumah sakit sudah menghubungi PMI, stok yang ada tinggal 1 kantong sementara Pak Damar butuh 3. Mungkin ada saudaranya yang memiliki golongan darah yang sama, atau mau dicarikan ke PMI luar kota silahkan saja. Untuk lebih lanjutnya, silahkan ke bagian administrasi, nanti dijelaskan disana." Tangis Esther pecah mendengar ucapan perawat.
"Sudah Bu. Ibu disini saja, biar saya yang mengurus semuanya," ucap Aldo pada wanita paruh baya itu.
"Tuhan akan membalas kebaikan kalian, Nak."
"Ini sudah tanggung jawab kami, Bu. Kalau kami tidak bisa membantu, justru kami yang akan merasa bersalah." Aldo mengusap lembut tangan wanita yang saat mudanya pasti sangat cantik itu. Sekarang saja Esther masih terlihat anggun meski tidak terawat seperti dulu.
Mendadak Aldo teringat dengan ibunya yang meninggalkannya saat ia berumur 7 tahun itu. Entah dimana sekarang orang yang telah melahirkannya itu.
"Nak."
"Iya, Bu." Aldo mendekat kembali pada Esther yang memanggilnya.
__ADS_1
"Kalau bapak sudah mendingan, dipindah ke rumah sakit yang lebih murah tidak apa-apa. Ini ... rumah sakit swasta terbaik di kota ini dan sudah pasti tidak murah biaya dan setiap tindakannya. Ibu hanya punya sedikit uang, nanti pasti akan lebih banyak merepotkan kalian berdua." Mata Esther berkaca, disaat sedih begini ia selalu teringat kehidupan masa lalunya yang tidak pernah kekurangan. Sekarang ini ada uang untuk makan saja wanita itu sudah sangat bersyukur.
"Sudah saya katakan, Ibu hanya perlu menunggu bapak, untuk urusan yang lainnya serahkan pada saya dan Kak Alfa. Sudah ya Bu, Bapak butuh tranfusi urgent. Ibu doakan saja Bapak dan juga doakan saya semoga lancar mencari darah untuk Bapak." dan Aldo pun pamit.