
Adrian masih tercenung. Sepeninggal istrinya yang mengatakan ingin ke lantai bawah mengambilkan minum untuknya, lelaki itu keluar menuju balkon dan menyandarkan tubuh atletisnya ke pagar besi yang melingkari bangunan atap itu.
Kemarin, setelah sekian lama bersikap sedikit dingin pada sang sepupu, untuk pertama kalinya Adrian menjadi ramah pada lelaki anak sang paman itu selama Akio ada di Indonesia, bahkan Adrian membantunya dalam banyak hal. Termasuk mencari tempat tinggal dan dokter terbaik untuknya.
Apakah Adrian merasa bersalah? Tapi bersalah untuk apa? Apa karena wanita yang sudah berstatus menjadi istrinya itu yang juga dicintai oleh sepupunya sendiri? Akio datang saat Ara memang sudah dekat dengan Adrian. Meski hubungan bos dan asisten pribadinya itu tidak dikatakan baik. Kalau ditanya siapa yang lebih dahulu jatuh cinta? Tentu saja Ara jawabannya, namun Adrian tertarik dengan Ara sejak pertama kali mereka bertemu. Hanya tertarik, belum ada rasa, karena nyatanya ia malah mengerjai gadis yang kini menjadi istrinya itu daripada melindunginya.
Tapi mungkin, memang tali jodoh sudah mengikat mereka, sehingga apapun yang menjadi penghalang nyatanya malah membuat mereka semakin dekat.
Entahlah, yang menjadi pikirannya, mungkin Akio merasa tidak enak atau bagaimana hingga lelaki itu mendadak pulang kembali ke Jepang tanpa mengabarinya. Dan ditambah lagi, setelah operasi Akio malah koma . Tentu ia tidak bisa menginterogasi sepupunya itu, atas alasan apa dalam kondisi yang tidak memungkinkan lelaki blasteran Jepang itu malah memutuskan pulang ke negeri Sakura, tanah kelahirannya.
"Mas ...." Suara Ara memanggil, tadi wanita itu memutar matanya ke segala arah mencari sosok sang suami yang tidak ia jumpai di tempat semula ia meninggalkannya. Hingga kemudian wanita itu mendapati sang suami tengah membuka lengannya dan bersandar pada pagar besi menatap jauh ruang kosong di depannya.
"Minumnya." Ara mengangsurkan gelas berisi cairan bening ke arah Adrian. Dan lelaki itu meminumnya hingga tandas. Segar setelahnya ia rasakan, mengurangi sedikit kegalauan hatinya.
"Perasaanku tidak enak sayang," ucap Adrian kemudian, setelah ia mengembalikan gelas kosong yang telah ia habiskan isinya pada sang istri. Dan Ara masih mematung memegang gelas ditangannya seperti menunggu jawaban dari Adrian. "Entahlah, atau mungkin ini hanya perasaanku saja."
"Atau kita kesana saja, Mas?" tanya Ara. Matanya tak berpaling dari wajah tampan sang suami.
Adrian menoleh. "Jangan! Aku tidak ingin mengganggu," ucapan terjeda oleh helaan napas panjang Adrian. "Kecuali jika tante Aimi ataupun om yang meminta."
__ADS_1
"Mereka tidak akan pernah meminta, Mas. Tentu saja mereka berpikir akan merepotkan jika menyuruh kita kesana." Ara berspekulasi dengan pikirannya sendiri. Karena meskipun ia baru sebentar menjadi menantu di keluarga Ilyasa, ia sangat mengenal wanita humble dan sabar bernama Aimi itu.
"Mungkin ...." ucapan Adrian menggantung. "Apa menurutmu kita kesana saja?" Adrian yang tadi menenangkan sang istri malah ikut ragu.
"Aku ikut Mas saja. Bagaimana baiknya. Tapi tetap kabari tante dulu, supaya mereka tidak kaget," usul Ara dan sepertinya sang suami menerimanya. "Mas memikirkan apalagi?" Tangan Ara menyentuh lengan Adrian yang membuat lelaki itu kaget. Wanita itu kembali setelah beberapa langkah berjalan menjauh. Karena ternyata suaminya itu masih mematung tak mengekorinya.
Dengan memaksakan senyum, Adrian mengulurkam tangannya untuk mengusap puncak kepala sang istri. Kemudian tangan itu turun dan menangkup wajah cantik yang tidak pernah berhenti perhatian dengannya itu. "Tidak, maafkan aku beberapa hari ini," ucapan permintaan maaf Adrian dipahami sang istri. Namun sangat terlihat jika yang diucapkannya bukanlah hal yang sedang dipikirkannya.
"Mas, kau mengkhawatirkan sesuatu? Ini ... Aku tahu bukan itu." Ara memalingkan wajahnya, namun dengan sigap Adrian menarik kembali dagu sang istri kembali ke hadapannya.
"Kenapa aku selalu tak bisa berbohong denganmu, hem ..?" Adrian menatap lekat sang istri.
Lelaki itu menarik pinggang kecil sang istri, kemudian memeluknya dari belakang. Dagu Adrian yang kini menempel di bahu Ara membuat wanita itu merasa sedikit tidak nyaman.
"Ihhhh ... Mas, dagumu kenapa bergerak-gerak disana?" Wanita itu protes dengan perlakuan sang suami, dimana dagunya tidak hanya menempel namun juga menggerus dengan gerakan pelan membuat geli.
"Besok ... Dani berangkat." Pernyataan singkat itu cukup membuat Ara mengerti, mengapa lelaki itu terlihat galau dari tadi. Ia pikir Adrian masih memikirkan hal yang sama, rupanya ini tentang anak laki-lakinya yang sebentar lagi pergi melanjutkan sekolahnya.
"Aku ... boleh i-kut mengantarnya?" Ara bertanya dengan ragu. Padahal wanita itu sudah pasti tahu apa jawaban sang suami. Karena yang membuatnya ragu adalah reaksi Dani nanti, apalagi Ara tidak dapat meminta izin secara langsung dengan anak sambungnya itu karena tidak serumah lagi.
__ADS_1
"Kamu bicara apa, Sayang. Terlepas dari hubungan kalian yang seperti ini, kamu tetap ibu sambungnya. Dan tentu saja kamu harus ikut mengantarnya." Tanpa mengangkat dagunya, lelaki itu menempelkan bibirnya pada pipi sang istri dan memberi kecupan disana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sudah siap?" Adrian bertanya pada sang istri yang telah selesai menguncir rambutnya. Wanita yang dicintainya itu berpenampilan kasual hari ini. Kaos putih panjang dengan krah model V, celana jeans biru belel dan seperti biasa rambut kuncir kuda yang simpel namun malah membuat ia nampak lebih muda dari usianya. Dan Adrian pun sama, ia hanya mengenakan celana jeans panjang dan kaos pendek berkerah.
Jika dilihat, pasti banyak orang mengira mereka adalah pasangan kekasih dimana yang laki-laki anak kuliahan dan yang wanita masih di sekolah menengah atas. Padahal usia mereka lebih dari itu, meskipun selisihnya jauh.
"Ayo!" Ara mengulurkan tangannya dan Adrian menyambut. Mereka menuruni tangga dengan bergandengan.
"Tuan, tidak sarapan dulu?" Bibi Yulia yang sudah berdiri di dekat pintu masuk ruang makan menyapa. Ia tahu, majikannya hari ini hendak mengantar Tuan Muda mereka ke bandara. Namun sebenarnya masih ada waktu hanya sekedar untuk makan pagi, tapi yang terlihat sang majikan tampak terburu-buru.
"Sarapan di jalan saja Bi. Kami takut terlambat," ucap Adrian tanpa menghentikan langkahnya.
"Tuan ... Titip salam untuk Tuan Muda, dari kami semua. Kami pasti akan sangat merindukannya." Bibi Yulia menatap sendu sang majikan. Sekilas wanita paruh baya itu nampak memalingkan wajahnya, mengusap cairan bening yang menerobos keluar tanpa kompromi. Ia tahu, kehilangan kedua kalinya pasti sangat berat untuk sang majikan. Meski kali ini tidak untuk selamanya.
"Iya, Bi. Akan kusampaikan. Kami pergi dulu ya," pamit Adrian yang terpaksa berhenti sebentar. Kemudian lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Hari ini, Adrian ingin mengemudikan mobilnya sendiri. Sekalian quality time, memanfaatkan waktu singkat selama perjalanan menuju bandara.
Deru mobil yang melaju, terdengar setelahnya. Di dalam kendaran besi miliknya, lelaki itu bahkan lebih banyak diam. Sesekali Ara hanya memegang lengannya, mengingatkan untuk sedikit pelan. Karena sedari tadi Ara perhatikan, tatapan Adrian hanya kedepan, entah fokus dengan jalan atau hal lain. Namun kecepatan mobil diatas rata-rata.
__ADS_1
"Kita belum terlambat, Mas. Sabar sedikit ya," ucapan yang sama diulang beberapa kali oleh Ara. Dan setiap kali diingatkan, suaminya itu akan menurut dengan melambatkan kecepatan. Namun setelahnya akan melaju kencang lagi, terlihat tidak sabar.