
Pukul 15.00
Tony telah menghubungi Adrian beberapa saat yang lalu. Dia memang sudah memantapkan diri untuk menyerang markas Danang. Karena sudah ia pastikan bahwa Magda berlindung dibalik kekuatan lelaki tambun yang mempunyai sederet daftar hitam dalam dunia perdagangan di Indonesia itu.
Kemarin, ia mendapat kabar dari anak buahnya yang mengikuti Magda. Bahwa wanita licik itu telah turun di bandara bersama beberapa anak buah dan sebuah kotak besi berisi seorang wanita secara rahasia.
Menelisik lebih dalam, sang anak buah memastikan bahwa wanita yang berada dalam kuasa Magda bukanlah sang istri, Laura. Dari pakaian yang dipakai terakhir, maupun wajah yang katanya tidak mirip sama sekali. Karena wanita yang berada dalam penjara besi milik Magda sangat jelek, kurus, dan tidak terurus. Namun entah mengapa keyakinan bahwa Magda lah yang harus bertanggungjawab terhadap raibnya sang istri tidak bisa hilang dari pikirannya. Apakah dia terlalu membenci? Mungkin.
Lelaki berjambang itu kemudian keluar menuju mobilnya bersama beberapa bodyguard inti yang hanya beberapa orang.
"Tuan, kita bertemu dengan mereka di perempatan terakhir sebelum jalan Cempaka," lapor Fadli yang mengatakan keberadaan anak buah yang sudah menunggu di sebuah jalan menuju markas musuh.
Tony hanya mengangguk, di pinggang dan kaki kanannya telah terselip senjata jenis revolver, kemudian di kaki kirinya 2 bilah belati. Tidak kalah dengan sang tuan, Fadli pun membawa senjata yang sama. Namun dibalik jas hitamnya terdapat belati yang jumlahnya tidak sedikit.
Mereka segera masuk ke mobil dan meluncur membelah jalanan. Tampak wajah-wajah tegang mereka di dalam sana. Bahkan Tony sedari awal belum mengucap apapun. Ia hanya mengangguk, ketika laporan demi laporan disampaikan oleh Fadli yang kini menjadi tangan kanannya.
Tepat diperempatan jalan yang di maksud, anak buah Tony membunyikan klakson dua kali dan dijawab yang sama oleh sebuah mobil Jeep paling depan dari sebuah iring-iringan. Gegas jeep-jeep itu mengikuti mobil paling depan menuju target yang sudah direncanakan.
"Berhenti disini!" titah Tony. Jalan menuju kesana masih sekitar 500 meter lagi. Mereka berhenti di sebuah jalan yang sepi, baik dari perumahan maupun orang-orang yang lewat. "Katakan pada mobil belakang, mereka harus berjalan kaki kesana." Fadli mengangguk dan melaksanakan titah sang majikan.
Mobil hitam mewah itu meluncur perlahan. Kemudian berhenti di sebuah bangunan tua yang nampak dijaga ketat oleh beberapa orang. Kedatangan Tony tentu membuat anak buah Danang kaget. Tidak ada instruksi apapun dari sang bos bahwa mereka akan kedatangan tamu.
__ADS_1
"Suruh keluar bosmu!" perintah Tony pada anak buah Danang. Ia turun bersama empat anak buahnya. Sedangkan yang lainnya masih dalam perjalanan menuju kesana.
"Siapa kau? Berani-beraninya menyuruh kami," hardik salah satu anak buah Danang. Ia maju bersama 15 orang yang lain menghadang Tony.
Dor! sebuah tembakan peringatan ditembakkan Tony ke udara. "Aku tidak ada waktu untuk menjawabmu. Kalau kau tak segera memberitahu bosmu untuk keluar, peluru kedua yang akan dimuntahkan senjataku bisa bersarang di kepalamu" ancam Tony yang masih memasang wajah datar dan keras.
Rupanya para anak buah Danang yang belum mengenal siapa lelaki di depannya itu, tidak gentar sedikitpun. Namun begitu anak buah Tony yang tadi berjalan kaki menuju ke markas yang justru terlihat seperti gudang tua itu, nyali mereka menciut. Ada lebih dari 20 orang dengan membawa senjata kini bergabung dengan Tony.
Danang yang ternyata sedari tadi memperhatikan CCTV hanya tersenyum menyeringai. "Hanya segitu ternyata kekuatan yang kau bawa, mereka pasti akan menjadi makanan para sniperku,"
"Dia sudah datang?" Magda yang baru masuk ruangan langsung bersorak karena sebenarnya ialah yang akan menghubungi Tony dan membuat kesepakatan dengan lelaki itu. Namun saat ini lelaki yang dicintainya itu malah menyerahkan diri kesini.
"Sialan, kenapa aku malah dikunci," wanita itu menendang pintu melampiaskan kekesalannya. Ia khawatir Danang bertindak diluar rencana.
Di bawah sudah terjadi baku hantam antar anak buah. Melimpahkan tanggungjawab pada Reza untuk menghandel anak buahnya yang berkelahi Fadli menyusul Tony merangsek masuk dengan gerakan saling melindungi. Di dalam gudang itu, hanya ada beberapa anak buah yang berjaga yang tentu saja tidak membutuhkan tenaga lebih bagi mereka berdua untuk melumpuhkannya.
Saat Tony hendak naik ke sebuah tangga menuju ke ruangan lain tiba tiba listrik dipadamkan. Saling memberi kode antara mereka berdua untuk tetap melangkah sambil tetap mewaspadai sekeliling mereka. Tidak butuh waktu lama untuk mata beradaptasi dalam gelap, karena hanya dalam beberapa menit saja keduanya sudah bisa melihat kembali meski hanya satu dua sinar rembulan yang masuk lewat lubang angin-angin.
"Fadli awas!"
Shut!..belati Tony bergerak cepat seperti angin yang melibas segala sesuatu disekitarnya. Dan tepat mengenai dada anak buah Danang yang tadi terlihat menodongkan senjatanya dibelakang Fadli. "Kau ceroboh sekali!" alis Tony menukik tajam dengan gerakan mulut cepat memaki sang tangan kanan dengan berbisik.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan." Lelaki yang usianya hampir 40 an itu segera menghampiri sang majikan.
"Kta harus cepat. Mereka pasti sengaja mematikan saluran listrik untuk mengecoh kita," ucap Fadli dengan napas terengah namun harus ia tahan karena nada suarapun mereka pelankan.
"Kau ambil arah kanan, aku kekiri. Ingat segera beri kode jika butuh bantuan," titah Tony yang kemudian segera mengambil jalur kiri. Sedangkan Fadli sambil mengacungkan senjatanya, lelaki itu mengendap-endap menyusuri sebuah tangga ke arah kanan menuju ke atas.
Dor... dor... dor... aarrrgggghhhhhh. terdengar teriakan melengking seorang laki-laki yang kemudian disusul seorang wanita memaki-maki. meski samar namun masih terdengar oleh Tony.
Di jalur kiri lelaki berjambang itu tidak menemukan apapun. Hanya sebuah akses jalan tembus menuju taman belakang yang tampak lengang tak berpenghuni.
"Aarrgghhhh," lelaki itu berteriak saat sebuah lengan melingkari lehernya dan menariknya kebelakang dengan cepat.
"Ahhh,, uhuk.. uhukk" Tony terbatuk ketika lengan itu semakin kuat mencekik lehernya dan dengan siku kanannya ia memukul kuat ke belakang tepat di perut musuh yang berada di balik punggungnya.
Satu kali, dua kali, musuh yang berada di balik punggung Tony masih bertahan. Dan tidak mau kehilangan kesempatan, untuk ketiga kalinya, Tony mengerahkan seluruh tenaganya kemudian langsung memukulnya lagi. Hingga anak buah Danang yang berada di punggungnya terjengkang kebelakang dengan memegangi perutnya. Mepalanya memukul keras pagar taman hingga akhirnya lelaki yang bahkan postur badannya lebih besar dari Tony itu pingsan.
Tanpa membuang waktu, Tony menyusul Fadli yang berada di jalur kanan. Ia bertemu dengan anak buahnya yang lain yang menyusul keatas. Naik tangga dengan cepat karena suara baku tembak dari lantai atas belum berhenti sama sekali.
Begitu melihat majikannya, Fadli yang berpindah pindah tempat menghindari tembakan mencoba mendekat dengan perlindungan sang majikan. "Tuan, November Lima arah balik 2 kali " teriak Fadli lantang.
"Lima? Laura," gumam Tony yang kemudian senyum tipisnya mengembang bersamaan dengan kerjapan mata pelan yang berair.
__ADS_1