
"Hai, Dad!"
Dani terhenyak dari lamunannya, begitu sadar sang ayah masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dahulu.
"Pagi- pagi sekali kau berangkat?" Adrian mengambil duduk di sofa, dan mengangkat salah satu kakinya, ke kaki yang lainnya.
Dani tersenyum miring. "Aku sedang sangat semangat, Dad. Seperti baru mendapat mood booster kemarin." Pemuda itu menaikkan alisnya, menggoda sang ayah.
"Apa yang terjadi di Bandung?" Sebenarnya Adrian sudah tahu, tapi ia ingin mendengar cerita dari anaknya secara langsung.
Dani bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan mendekati sang ayah, dan duduk di sebelah lelaki tampan yang surai hitamnya kini sudah berubah warna.
Ya. Adrian memilih tidak menutupi beberapa rambut putih yang tumbuh diantara rambut hitamnya. Jika orang lain takut terlihat tua, tidak begitu dengan Adrian. Well, tidak bisa dipungkiri. Kharisma dan ketampanan seorang Adrian tidak menyusut sedikitpun hanya karena hal sepele semacam itu.
"Daddy lihat ini." Pemuda itu menggeser layar ponsel yang ia tunjukkan pada sang ayah. "Mereka membuatku bahagia, Dad," ucapnya tanpa sadar dengan bibir melengkung ke atas.
Adrian melihat satu persatu foto yang digeser oleh sang anak di layar ponsel pemuda itu. Berbagai perilaku anak-anak yang lucu memenuhi galeri albumnya . Juga tidak ketinggalan, ada beberapa video kegiatan Dani disana.
"Belajar darimana kau, bisa secepat itu dekat dengan mereka?" Adrian menatap Dani penuh selidik. Tentu saja menjadi tanda tanya besar dalam diri Adrian, karena dia sangat mengenal karakter anak lelakinya itu.
"Daddy serius sekali!" Dani berdecak kesal dengan pertanyaan sang ayah. "Aku belajar banyak hal di Swiss, Dad. Apa Daddy lupa aku tumbuh dewasa disana?"
"Termasuk mendekati anak-anak itu?"
"Mengajar, Dad! Aku mengajar mereka. Bahasa Daddy seperti aku penjahat saja." Decakan berulang keluar dari bibir Dani.
Adrian tergelak. Kemudian ia malah mengambil ponsel Dani dan melanjutkan melihat gambar gambar itu.
"Daddy lihat gadis kecil ini?" tunjuk Dani pada foto Merra yang tengah berdiri disamping Dani yang berjongkok. Mereka saling merangkul, itu foto terakhir saat ia pamit anak-anak untuk kembali ke Jakarta. "Menurut Daddy, apa kami mirip,?"
Adrian menatap lama kedua sosok dalam gambar itu. "Sepertinya iya. Kalian memang mirip."
"Aku juga merasa Dad,
begitupun dengan Leo. Tuhan menciptakan manusia luar biasa ya, kami bukan sedarah tapi bisa mirip,,, โโ
"Hemm." Adrian masih menatap gambar Merra, ada sesuatu yang membuatnya betah berlama-lama disana. "
Dia cantik." pujinya.
"Aku juga mengakuinya Dad. Gadis kecil yang cantik," ucap Dani sembari berdiri menuju kursinya. Namun langkah pemuda itu berhenti, ia ingat sekarang. Mata Merra sangat mirip dengan sang ayah. Bahkan ia sendiri kalah karena mata Dani percampuran mama dan ayahnya. Apa mungkin seseorang yang memiliki kemiripan wajah dan tanpa hubungan darah bisa identik itu?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Itu rahasia Tuhan, Dan. Kau ini ada-ada saja." Shella, teman dari sahabat Dani yang berprofesi dokter itu tengah dimintai pendapat oleh pemuda tu sekarang.
dani bertanya sangat detail, mengapa bisa sama? apa mereka benar-benar identik dan pertanyaan -pertanyaan lain diluar kuasa ilmu pengetahuan yang dipelajari shella.
"Memang bisa ya semirip itu? Tanpa saling kenal. Tanpa berhubungan darah? "Dani rela menghabiskan jam istirahatnya untuk menemui wanita yang berprofesi dokter itu daripada makan siang.
"Ya. Sejauh mata memandang. Kalian bukan identik. Jika diperiksa lagi lebih mendetail, tetap saja berbeda. Dalam dunia kedokteran disebutnya doppelganger yang artinya kemiripan tanpa berhubungan darah."
"Aku belum bisa mencerna penjelasanmu, Shel? Mirip tapi tidak identik. Apalagi itu?"
"Ya. Mirip itu mengacu pada hal yang sama Dan. Matanya mirip, hidungnya 6, wajahnya mirip tapi ukurannya jelas berbeda, kalau identik itu satu dengan yang lain benar-benar sama seperti kembar."
"seperti aku yang mirip ayahku?"
"Yes! Benar sekali. Itu contoh nyata," sahut Shella, yang berulang kali melirik arlojinya. "Maaf ya Dan. Sebentar lagi aku praktek, jadi kau harus ku usir sekarang, "
"No problem! terimakasih waktunya Shell, Bye! " ucap dani pamit pada. dokter spesialis anak itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ara, Esther dan Merra telah kembali ke rumah mereka. Rupanya, bu Fatimah hanya kelelahan, sakit tua begitu ucap beliau.
__ADS_1
Ya, wanita sepuh itu memimpin panti asuhan sudah lama sekali. Sebelum Ara ada disana, dan sekarang sampai ada Merra yang sudah sebesar itu.
Aanita sepuh itu sudah melewati beberapa generasi. sayang sekali tidak ada yang bersedia menggantikannya. mereka merasa belum pantas menjadi pemimpin serta pengelola sekaligus seperti bu Fatimah yang mereka tahu adalah wanita berpendirian teguh, sabar dan mampu bertahan dalam segala kondisi.
"Istirahatlah, Mer. Kamu pasti lelah," ucap Ara pada gadis kecilnya itu. Merra sangat senang bertemu anak-anak panti hingga mereka bermain bersama hingga waktu pulang tadi.
"Duduklah, Mi. Aku ku ingin menceritakan sesuatu," ucap Ara menepuk bagian kosong dari sofa tempat ia duduk. Esther menurut. Wanita paruh baya yang mengenakan gamis panjang itu segera mendekat dan duduk disana.
"Apa yang ingin Mami tahu tentangku?" tanya Ara yang tidak tahu harus memulai cerita darimana.
"Semuanya sayang, ceritakan semua selama kita tidak bertemu." Esther menautkan jemarinya pada putri angkatnya yang hilang tanpa kabar bertahun-tahun itu.
"Aku...." Ara menunduk. "Aku tidak keluar negeri mi."
"Apa?? Bagaimana bisa, Sayang? Bukankah Pak Karim mengantarkanmu ke bandara?" Jantung Esther mendadak memompa cepat. Apa dugaannya bertahu-tahun ini benar?.
"Suruhan Tuan Adrian menghadangku di jalan. Aku diculik, Mi." Jemari Esther mendadak berkeringat. Dan pandangannya mangabur dengan cepat.
"Mami!" pekik Ara melihat sang ibu mendadak limbung dengan mata yang belum sepenuhnya tertutup
"Mami tidak apa-apa, Sayang." Esther menguatkan dirinya. "Teruskan ceritamu," titahnya.
"Tidak, Mi. Kita masih bisa cerita lain kali. Mungkin mami kelelahan." Ara membantu esther melepas jilbabnya dan menyandarkan tubuh yang semakin kurus itu ke sofa.
"Sungguh mami tidak apa-apa, Sayang. Mami memiliki diabetes. Selalu begini jika pikiran mami kaget," ucap Esther menenangkan sang anak. "ambilkan minum saja, lalu kita lanjut ceritanya.,"
"Mi... "
Tangan Esther memberi kode jika dia tidak apa-apa, dan wanita paruh baya itu memaksa Ara meneruskan apa yang dimulai putri angkatnya itu.
Ara menyodorkan segelas air pada sang ibu. Dan wanita paruh baya itu menenggaknya hingga habis.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Oh Tuhan, Sayang...." Esther menarik tubuh Ara untuk memeluknya. Pikiran buruknya ternyata benar-benar terjadi. Padahal ia melepas putrinya itu sehari sebelum jatuh tempo. "Maafkan mami, maafkan mami, Sayang." Esther menangis sejadi-jadinya. Pikiran buruk itu masih membayanginya. Sanggup kah ia, mendengar kelanjutan dari cerita itu?
Berikutnya babak demi babak kehidupan dalam hidup Ara diceritakannya secara gamblang kepada sang ibu. Terkadang Esther menggenggam erat tangan Ara yang sedari awal tidak dilepaskannya. Terkadang genggaman itu mengendur dan tangan lainnya membelai punggung kecil yang tidak ia sangka sekuat itu.
"Jadi kalian suami istri?"
Ara mengangguk. "Sampai saat ini, Mi. Berulang kali aku meminta tolong kenalan temanku untuk mengecek di kua. Status kami masih sama. Dan hampir setiap tahun aku menanyakan status pernikahanku di pengadilan agama, Mas Adrian sama sekali tidak bertandang kesana." Ara mengusap airmatanya. Ia tidak tahu harus sedih atau bahagia. nyatanya bukan hanya ia yang teguh pendirian Adrian pun sama.
"dan Merra...."
"Merra darah dagingnya, Mi," Ara mengerjap untuk membuat tenang hatinya. Selama ini ia hanya mengikuti kemana angin membawanya,dan kemana Tuhan menentukan takdirnya
"Kau sama sekali tidak berniat memberitahukannya, Sayang?" Ara kembali menunduk. Ibu mana yang tidak ingin begitu? Tapi tentu saja itu akan mengubah jalan nasib yang telah ia pilih jika sampai terjadi.
"Aku ... Aku hanya menunggu Tuhan berbaik hati pada kami. Aku tidak ingin merusak hubungan mereka, Mi. Jika memang kami ditakdirkan untuk kembali, aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Termasuk dengan Dani."
Esther mengusap lembut punggung Ara. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin lelaki kaya seperti Adrian bisa tertarik pada putri angkatnya itu. Bukankah selama ini, lelaki itu dikelilingi para sosialita yang sepadan dengannya.
"Apa Tuan Adrian benar-benar mencintaimu, Sayang?" Esther tentu masih ragu. Meski Ara sudah menceritakan segalanya, dan meyakinkan dirinya berkali-kali, namun ia tidak begitu saja bisa menerimanya.
"Dulu aku juga tidak percaya, Mi. Tapi sekarang ... aku tidak pernah meragukannya." Tatapan Ara sendu. Bercerita tentang lelaki itu tentu saja seperti membuka kotak kerinduannya yang telah ia simpan rapi disudut hatinya. Nama lelaki yang bahkan ia tinggalkan bertahun-tahun namun tak bisa dihapusnya. Dan meskipun kemungkinan ia bisa kembali bersamanya masih abu-abu.
"Mami tidak bisa membantu apapun. Mami hanya takut ia melupakanmu Sayang. Hanya kau yang Mami miliki saat ini. Dan Mami sudah melakukan hal yang menyakitkan padamu, Mami ... takut itu terjadi lagi," ucap Esther terbata.
"Kami sudah melewati banyak hal bersama, Mi. Aku percaya suamiku. Seperti saat pertama ia mengikrarkan diri menjadi pelindungku. Dan ia tidak pernah mengingkari itu selama ini, meski perasaan kami bahkan belum terikat kuat saat itu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suara lift terbuka terdengar nyaring. Setelah sebelumnya, sesosok lelaki yang baru saja turun dari mobil bergegas masuk kesana, sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Aktifitas apartemen masih terbilang ramai. Namun lelaki itu sendirian didalam kotak besi itu. Bukan tidak ada orang lain yang kebetulan juga akan naik. Namun karena lift yang ia naiki adalah lift dengan VIP akses yang sengaja ia buat saat sang anak tinggal disana.
__ADS_1
Ya, lelaki itu adalah Adrian. Ia sengaja tidak pulang ke rumah dan bahkan menyuruh asistennya untuk naik taxi demi bisa mengendarai mobilnya sendiri ke apartemen miliknya ini, Orion Apartment.
Kotak besi itu melesat dari lantai dasar ke lantai tertinggi gedung tanpa hambatan. Baru saja ia keluar dari ruangan persegi yang membawanya itu, ia sudah takjub. Bukan karena suasana atau pemandangan yang terlihat dari lorong lurus sebelum masuk ke apartemennya. Tapi karena, sesuatu di dadanya yang berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Adrian terpaku, dengan dada yang kembang kempis tak teratur. mendadak bayangan ara seakan hadir disana. berjalan di depannya. Tersenyum padanya. Kemudian mengerucutkan bibir saat apa yang diharapkan wanita itu selalu diluar dugaan karena ulahnya.
Belum lagi, wajah pucat dan perasaan bersalah Ara ketika ia tanpa sebab menghukum wanita itu, jutek padanya, bahkan menzoliminya.
Menzoliminya? Ya, Adrian mengaku salah bahkan ia sering dengan sengaja menyakiti perasaan istrinya itu. Dan anehnya, itu diartikan oleh Adrian sendiri sebagai ungkapan rasa sayang.
Adrian memang luar biasa. Caranya menunjukkan cintanya sangat berbeda dengan orang lain. Bahkan kadang tidak masuk diakal. Dan Ara, wanita itu selalu memakluminya dan mengalah padanya.
Cinta memang seaneh itu ya? Seaneh perasaan rindu Adrian yang menggebu saat ini, hingga tiba-tiba saja ia ingin datang ke tempat ini sendiri.
Apartemen ini adalah saksi bisu tingkah aneh Adrian yang absurd dan tumbuhnya perasaan mereka berdua. Menyuruh ara tinggal bersamanya dalam satu ruangan padahal ia bisa jika harus memberikan salah satu unit apartemennya di lantai bawah itu. Mempekerjakannya sebagai asisten pribadi, yang tidak jelas job desknya. Serta perintah ini itu yang hampir semuanya membuat kesal. Tapi Ara malah tidak bisa kesal jika dengan Adrian.
"Sayang...." mata Adrian memanas, airmatanya menetes saat ia tanpa sengaja mengerjap. Airmata yang banyak terkuras untuk istrinya itu akhir-akhir ini. "Aku rindu denganmu...."
Dengan langkah lunglai, dibawanya tubuh yang sudah bertambah usia itu masuk ke dalam apartemen. Berharap bisa mengistirahatkan hati dan otaknya yang beberapa bulan ini sudah sering menolak bekerja sama lagi.
Hati rindu, otak pilu.
Namun apa daya, di dalam ruangan ini, semuanya malah semakin nyata. Bayangan Ara keluar masuk ke dapur seperti tengah lalu lalang di depannya. Belum lagi jika wanita itu khawatir dengannya saat ia sakit, hingga harus bolak balik dari ruang kerja ke kamarnya dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya ia marah dan memutuskan untuk menyuruh wanita itu tidur seranjang dengannya.
"Ara ... Ara... Kamu mengambil seluruh hatiku ... Seluruh hidupku." Dalam keadaan duduk di sofa, Adrian tertunduk pilu, mengerang kesakitan atas luka yang tidak nampak, tapi menggerogoti hatinya.
Drrtttt..
Ponsel lelaki itu bersuara. Dengan malas Adrian melihat siapa yang menghubunginya, kemudian dengan segera mengembalikan diri ke dirinya yang seperti biasa.
"Ya, Boy"
"Daddy dimana?" Suara ketus dari seberang membuat lelaki itu mengulas senyum. Jika orang lain yang khawatir sudah pasti terdengar dari nada bicaranya. tapi itu pengecualian pada anak laki-lakinya itu. Yang selalu menutupi perhatiannya dengan ucapan sebaliknya.
"Apartemen. Daddy menginap disini. Jangan katakan kau takut di rumah sendirian dan menyuruh daddy pulang," kelakar Adrian mencairkan suasana.
"Ck! Kebiasaan. Padahal seharian kita bersama di kantor, Dad. Kenapa tidak mengatakannya padaku? Bahkan juga tidak mengabariku sampai selarut ini."
"Apa Elang belum pulang?"
"Aku tidak tahu!"
"Daddy baik-baik saja. Lekaslah tidur."
"Aku bukan anak kecil! Kalau daddy begini lagi, aku akan mengambil penerbangan pertama ke Swiss. Saat itu juga!"
bibir Adrian melengkung keatas. Bagaimanapun pulangnya Dani atas campur tangan banyak orang, termasuk istrinya, meski anak lelakinya itu tidak perduli. Apakah pengorbanan sang istri akan ia sia-siakan begitu saja? Sementara Dani lebih keras kepala daripada dirinya.
"Ya ... Malam ini Daddy tidur disini, ya. Daddy rindu berada disini, Boy."
"Ok! Hanya satu hari"
Adrian hanya berdehem menjawab ultimatum Dani.
Dirumah utama. Setelah Dani menutup teleponnya, ia tidak beranjak dari ruang kerja sang ayah. Ruangan yang tidak pernah dikunci ini, sudah jarang dimasuki oleh pemiliknya karena semuanya dikerjakan oleh Dani. Dan pemuda itu tidak pernah membawa pekerjaannya ke rumah.
Hampir enam tahun tinggal kembali di rumah besar ini. Tidak sekalipun Dani ingin memasuki ruangan ayahnya yang termasuk semi pribadi ini. Meski Adrian tidak pernah marah jika sang anak menggunakannya.
Baru hari ini. Ia memaksakan dirinya berada disana karena ia kesal. Dengan sang ayah yang bahkan selarut ini belum sampai di rumah. Bahkan Elang disuruh pulang sendiri, dan dipesan untuk menyampaikan jika Adrian menginap di apartemen. Menyebalkan bukan? Menapa bukan ayahnya itu sendiri yang menyampaikan padanya, malah menyuruh asisten sekaligus bodyguardnya itu.
Baru saja masuk, ada sesuatu yang membuatnya tercengang. Hampir di seluruh sudut ruangan yang paling kecil diantara ruangan yang lain di rumah ini, ada foto kebersamaan ayahnya dan ibu sambungnya itu.
Sebegitu cintakah sang ayah pada wanita itu?
๐halo semua! Terima kasih masih mengikuti cerita ini. maaf ya kalau tidak sesuai keinginan kalian. apakah aku yang hanya mengikuti kata hatiku๐ i love u๐
__ADS_1