
"Enak sayang?"
"Lumayan." Adrian membelai puncak kepala sang istri dengan lembut. Begini ya, rasanya menemani istri mengidam. Dulu, dia tidak repot apapun saat Andina hamil Dani. Karena wanita itu lebih senang tinggal bersama ibunya daripada di rumah mereka yang katanya kecil dan tidak nyaman.
Sang istri mengatakan lumayan saja sudah membuatnya senang. Iya, daripada dikatakan tidak enak dan kemudian tidak jadi dimakan. Sakit hati bukan? Jauh- jauh perjuangan mencarinya, namun diacuhkan begitu saja. Pasti rasanya lebih dari sakit hati, karena ingin protes tidak mampu dan juga tidak dapat berbuat apa-apa.
"Coba, Mas." Satu sendok penuh berisi nasi, sayur dan suwiran ayam sudah berada di depan mulutnya. Melihatnya saja Adrian sudah tidak napsu. Lelaki itu tidak suka soto, apalagi yang katanya soto kering yang ternyata sama saja, hanya tidak pakai kuah. Namun tentu ia tidak mau mengecewakan istrinya.
Adrian membuka mulutnya setengah hati. Dan kemudian setelah makanan itu masuk, ternyata tidak seburuk perkiraannya. Hanya saja tetap aneh rasanya. Bayangkan mengunyah nasi bercampur sayur kol dan kecambah, sedikit bawang goreng, suwiran ayam dan jangan lupakan sambal kecap sebagai pelengkap. Hemm, krenyes-krenyes tidak jelas.
"Habiskan, ya," ucap Adrian kemudian. Sebuah perintah dan juga permintaan yang sebenarnya menguntungkan lelaki itu. Supaya sang istri tidak menyuapinya lagi.
"Hemm ... Enak lo, Mas. Mau lagi?"
"Sudah, nanti anakku tidak kenyang kalau aku ikut makan. Biar ibu hamil ini saja yang menghabiskan." dibelainya sayang puncak kepala sang istri.
"Pergilah, Mas. Elang pasti membutuhkanmu," ucap Ara yang membuat Adrian terhenyak.
Saat ini sudah hampir jam 12 siang. Dan istrinya itu baru menyadari jika secara tidak langsung ia telah menawan Adrian sejak saat di rumah sakit tadi.
Adrian mengerjap, senyum tipisnya nampak menawan meski seperti dipaksakan. "Ini sudah siang, Sayang. Kalau aku kesana, nanti pasti pulang malam. Memangnya ... Boleh aku pulang agak malam, hari ini?" tanya Adrian menggoda sang istri.
"Tentu saja boleh. Tapi tidur di ruang kerja," jawab Ara enteng. Wanita itu sama sekali tanpa beban saat mengucapkannya. Apa dia tidak tahu Adrian sudah ketar-ketir menunggu jawaban yang menghancurkan dunianya itu.
"Sudah aku tebak. Pasti aku akan diasingkan kembali entah untuk beberapa lama." Wajah Adrian berubah masam menanggapinya.
Senyum Ara mengembang. "Pergilah, Daddy sudah baik sekali hari ini ya, Nak." Wanita itu mengusap perutnya lembut, mengajak bicara si kacang kecil yang bahkan belum mengerti apapun. "Banyak kepala keluarga menggantungkan hidupnya pada Daddy, jadi kita harus sabar ya Sayang."
Adrian meleleh. Padahal dia sudah berniat tidak membanding-bandingkan lagi dua wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu. Dia menerima segalanya sebagai takdir yang harus dijalani. Melepaskan yang sakit, dan bertahan pada kebahagiaan. Tapi tetap saja rasanya beda. Kebahagiannya dengan wanita dihadapannya ini selalu berlipat-lipat karena ia dilibatkan bahkan dalam hal kecil seperti ini.
Cup!
Dikecupnya bibir yang masih saja cerewet menceritakan tentang dirinya pada anak mereka itu. Bahkan Adrian tidak perduli jika istrinya itu tengah asyik mengunyah soto kering yang ia belikan tadi.
"Mas ...." Ara mencebik kesal.
"Kamu menggemaskan." Kemudian dicubitnya pipi yang menggembung berisi makanan itu. "Terima kasih, mama sudah mengikhlaskan Daddy bekerja. Baiklah ... Daddy akan bekerja keras untuk kalian." dipeluknya sang istri dari samping kemudian lelaki itu pamit untuk berganti pakaian selanjutnya berangkat ke kantor sendirian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ceklek!
"Tuan." Elang kaget saat ia berbalik karena mendengar suara pintu terbuka, dan ternyata Adrian lah yang berdiri disana.
"Kamu seperti melihat hantu saja."
__ADS_1
"Tuan tidak bertemu Nyonya Laura?"
"Memang dia dimana?"
"Baru saja keluar, beberapa menit yang lalu. Tidak mungkin Tuan tidak bertemu." Padahal Elang bernapas lega mendengar pengakuan sang bos yang tidak bertemu dengan wanita seksi yang hampir setengah hari ini menunggunya di ruangan Adrian itu.
"Aku tidak melihatnya. Lagipula bukankah beruntung aku tidak bertemu dengannya."
"Maksud saya juga seperti itu Tuan. Nyonya Laura pergi karena kesal Tuan tidak juga datang, dan katanya Tuan tidak bisa dihubungi."
"Bagaimana urusan hari ini?" Adrian tidak menggubris penjelasan Elang. Lagipula apa yang harus ditakutkan, karena mereka tidak memiliki hubungan kerjasama apapun saat ini.
"Tinggal menunggu Tuan untuk tanda tangan saja." Elang menyodorkan beberapa berkas ke depan Adrian yang sudah menduduki kursinya. "Nyonya Laura menagih tawaran kerjasama yang ia ajukan kemarin itu, Tuan."
"Heh? Oh, iya aku melupakannya. Tolak saja kalau begitu, aku tidak ingin lebih jauh berhubungan dengannya." Adrian tentu masih ingat ucapan sang istri. "Tapi aku penasaran dengan kabar suaminya. Terakhir hubungan kami sudah membaik. Apa kau tak dengar apapun tentang Tony, Lang?"
"Kabar terakhir yang saya dengar, Tuan Tony sakit dan menyerahkan segala tampuk kepemimpinan perusahaannya pada sang istri, kecuali beberapa hotel yang sudah atas nama adiknya."
"Sakit? Mengapa aku tidak mendengar sedikitpun kabar itu, Lang?"
"Sepertinya Tuan juga sedang ada beberapa masalah waktu itu," ucap Elang mengingat kejadian demi kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir.
"Mungkin saja. Sudahlah, tidak usah dibahas, bukan urusan kita. Ingat- ingat saja untuk menyampaikan bahwa kita menolak tawaran itu, Lang," titah Adrian
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ara mengangguk.
"Selamat Nyonya. Saya senang sekali, akhirnya..." Wajah sumringah bibi Yulia tidak dapat ditutupi. Perempuan paruh baya itu langsung memeluk Ara dengan erat.
"Eh, Bi ... Jangan erat-erat, lukaku masih nyeri," protes Ara mengingatkan.
"Maaf, maaf Nyonya. Saya melupakannya karena saking bahagianya. Nyonya mau makan apa? Saya siap untuk memasaknya," ucap wanita paruh baya itu bersemangat.
"Nanti saja. Bibi baru saja tiba, istirahat dulu."
"Saya kan cuma belanja dan jalan-jalan Nyonya. Tidak ada yang melelahkan." Bibi Yulia masih dengan senyum manisnya setia disamping Ara.
"Sudah ... nanti saja, Bi. makananku baru saja habis. Masih kenyang." Wanita itu mengusap perutnya yang terasa sedikit tegang karena kepenuhan.
"Nyonya, mengapa mereka tidak adil menghukum Nona Lola, " ucap bibi Yulia tiba-tiba.
"Maksudnya tidak adil bagaimana, Bi?"
"Mereka hanya menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara, Nyonya. Bukankah seharusnya hukuman seumur hidup saja,"
__ADS_1
"Jadi Lola dihukum 4 tahun?" Ara memastikannya, dan bibi Yulia mengangguk mengiyakan. "Semoga ditempat tinggalnya yang baru ia benar-benar belajar lebih baik, Bi,"
"Semoga saja, Nyonya."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mas, sudah pulang?" Ara yang baru saja keluar dari kamar mandi kaget melihat sang suami yang sudah duduk di ranjang mereka, tanpa jas dan tengah menggulung lengan kemeja birunya hingga ke siku.
Lelaki itu tersenyum. Kemudian menepuk pahanya menyuruh sang istri untuk duduk disana.
Ara menaikkan alisnya kemudian mengerjap pelan. Entah mengapa ia serasa menerima sinyal diinginkan oleh suaminya itu. Padahal lelaki itu hanya menginginkannya duduk di pahanya. Bolehkah ia bertanya kenapa harus dipaha, sedangkan banyak sekali tempat kosong disekeliling suaminya itu.
Mendadak Ara merutuki dirinya yang lupa membawa piyamanya. Hingga keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kemarilah!" Adrian mengulang perintahnya.
"Mas ... Tidak menginginkan sesuatu, kan?" Selanjutnya Ara malah mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia malah memperjelas dan terdengar memancing padahal belum tentu Adrian menginginkannya.
"Ingin apa? Ingin kamu duduk disini, iya," tunjuknya pada bagian tubuh yang tertutup celana dengan warna gelap itu.
Selanjutnya Ara berjalan pelan mendekati Adrian.
"Aaaaaa ...." Dan Ara akhirnya jatuh terduduk dipaha kekar suaminya itu. Akibat tarikan Adrian yang tiba-tiba pada pinggang kecilnya.
Bagaimana Adrian tidak gemas, istrinya itu berjalan layaknya kepiting dengan pelan dan sesekali melempar tatapan seakan takut pada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Mas apa-apaan!" Ditahannya dada sang suami yang mendekat ke tubuhnya.
"Salah sendiri lama sekali sampainya. Padahal tidak ada satu meter, kenapa kamu jalannya seperti itu?" Adrian masih mengalungkan tangannya di pinggang sang istri, seakan tidak membiarkan wanita itu lepas.
"Itu ... Itu ... Yahhhh...." Ara yang mau menjawab ucapan suaminya, malah memekik kaget melihat handuknya yang melorot hingga terlihat dua bukit tandus yang sontak membuat tangannya menutupi benda itu.
"Kenapa kau panik seperti itu, Sayang. Aku sudah melihatnya berkali-kali, bahkan aku_"
Cup!
"Sudah ... Lepaskan aku, Mas." Wanita itu mengecup bibir sang suami tiba-tiba, kemudian mengiba dengan memasang wajah memelas.
"Sebenarnya tadi aku tidak berpikiran kesana. Tapi kau malah mengingatkannya." Adrian tersenyum menyeringai merasa menang.
"Aku ... Aku ... Lukaku belum kering, Mas." Ara menjepit bibirnya.
"Hah? Hampir saja aku lupa, Sayang." Adrian menyugar rambutnya kasar. Mencoba menyembunyikan kekecewaannya. Mau bagaimana lagi. Memang istrinya sekarang sedang sakit. "Maaf, Sayang. Kalau begitu turunlah, aku mau mandi saja," ucap Adrian setengah memaksa hingga ia angkat tubuh sang istri dan memindahkannya di ranjang kemudian lelaki itu terburu ke kamar mandi.
"Maaf ya, mas?"
__ADS_1
"It's ok." Masih terdengar suara sang suami menjawab sebelum pintu kamar mandi tertutup rapat.