
Adrian memgemudikan mobilnya pelan-pelan. Karena semenjak dari Rumah Sakit, sang istri nampak lebih pendiam.
"Sayang?" dipanggilnya sang istri sambil sesekali ia melayangkan tatapannya pada wanita yang duduk di sebelahnya. Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir ranum yang biasanya selalu cerewet itu.
"Hei," tangan kirinya meraih punggung tangan sang istri hingga wanita itu tersentak.
"Iya, Mas,"
"Kenapa?"
"Tidak ada. Aku hanya lapar," ucap Ara sendu. Terlihat sekali jika wanita disebelahnya itu memaksakan diri menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Mau mampir ke rumah makan?" tawar Adrian. Ia tidak yakin istrinya itu sedang lapar.
"Langsung pulang saja Mas. Kasihan Mommy dan Dani pasti menunggu kita," wanita yang menatap hampa ruang kosong di depannya itu, lebih seperti melamun saat menjawab pertanyaan sang suami.
"Bagaimana kalau kita ke apartemen?" masih terfokus pada jalanan, lelaki itu mendapat cubitan kecil dipahanya hingga ia mengaduh. Kemudian Adrian menarik tangan lembut sang pelaku dan membawanya untuk digenggam.
"Mau apa ke sana?" tanya sang istri penuh selidik. Ara tidak bisa menarik tangannya dari sang suami karena eratnya genggaman tangan lelaki itu.
"Nostalgia. Bukankah di kantor tadi kau mengucap demikian? Selain kantor, dulu kita lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen berdua bukan?" Adrian melirik sang istri yang berubah sengit tatapan matanya.
"Kita pulang saja," ucap Ara tegas.
"Baiklah mau di rumah atau apartemen, kau tetap akan jadi milikku," ucapan lirih Adrian ambigu. Membuat sang istri mengernyit dengan sinis.
"Maksud Mas apa? Membicarakan kepemilikan disaat seperti ini," Ara semakin kesal. Hatinya memang sedang tidak baik-baik saja.
"Setidaknya kamu tidak diam saja, Sayang. Aku lebih suka kau memarahiku atau memukulku juga boleh," Adrian mencondongkan tubuhnya mendekati sang istri.
"Aku tidak sedang marah. Apalagi denganmu," sontak Ara mendorong sang suami untuk kembali ke tempatnya.
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku hanya sedang kecewa dengan diriku sendiri. Apakah ingatan Laura seburuk itu tentangku, Mas?" Ara menunduk, wanita itu nampak memainkan rantai dari tas tangan yang ada dipangkuannya.
"Ingatan buruk apa? Kalian hanya bertemu sebentar bukan. Bahkan tidak saling mengenal dekat," ucap Adrian menanggapi.
"Iya, tapi aku tahu ia masih mengharapkanmu saat kau mengajakku ke pernikahannya dulu. Terlihat dari sikapnya," wanita itu mendongak, melihat mimik sang suami apakah berubah mendengar ucapannya.
Lelaki itu tersenyum tipis. "Bagus itu. Berarti dari awal kau memang sudah menyukaiku kan? Hebat sekali aku menjadi rebutan 2 wanita?"
Dan langsung mendapat pukulan dipaha, cubitan diperut serta dorongan pelan yang sama sekali tak berarti apa-apa untuk Adrian. Namun lelaki itu berakting tersakiti, hingga membuat Ara mengerucutkan bibirnya.
Lelaki itu langsung merangkul mesra sang istri, menciumi puncak kepalanya dan berkata, "Aku mencintaimu dan kau tidak pernah merebutku darinya. Titik."
"Tapi aku hadir setelahnya,"
"Stop! Tidak ada perdebatan. AKU MENCINTAIMU. Dan tidak ada yang lain," ucap Adrian yang membagi fokusnya dengan jalanan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ma, boleh ya aku pulang ke Indonesia?"
"Rumahmu disini, Ki. Kenapa harus di Indonesia? Pengobatan disini lebih canggih. Mama akan lebih tenang kalau kamu disini," ucap Aimi disela-sela ia menyeka lembut tubuh rapuh sang putra yang semakin menyusut dari minggu ke minggu.
"Bukankah aku memiliki darah Indonesia?"
"Bukan berarti kamu harus di sana kan? Di sini semua fasilitas dan pengobatan terbaik tersedia. Nanti kalau sudah sembuh, kamu boleh pergi kemanapun sesuka hatimu, Nak," mengusap kaki Akio yang bahkan kini tinggal sebesar tangannya, membuat naluri keibuannya mendadak seperti tersayat. Ia merasa tidak bisa menjaga dengan baik anak lelakinya itu.
"Aku hanya mau pulang ke Indonesia, Ma," hati Aimi seperti tertusuk sembilu. Apa yang diucapkan Akio lebih seperti keinginan terakhir daripada sebuah tujuan yang akan membuatnya bersemangat untuk sembuh.
Meski Aimi tahu, kenapa sang putra memilih Indonesia sebagai tempat terakhirnya. Tentu saja karena istri Adrian, sepupunya. Wanita satu-satunya yang mungkin sampai kapanpun namanya akan tetap bersemayam di hati terdalam Akio.
__ADS_1
Menghela napas panjang, wanita dari negeri sakura itu gundah. Bagaimana kalau hal itu benar keinginan terakhir Akio. Akan menjadi sangat menyakitkan jika ia tidak bisa mewujudkannya.
Keinginan terakhir? Apa yang ada dipikirannya? Ini seperti mendoakan sang putra lekas pergi, karena itu seperti mempercayai jika Akio akan benar-benar pergi setelah ini.
Air mata Aimi terjatuh tanpa sengaja membasahi lengan sang putra. Dan dengan segera ia usapkan handuk basah untuk menyamarkan tetesan yang keluar tanpa permisi dari mata indahnya itu. Namun suara isakan lirihnya, tak bisa membohongi Akio yang kemudian mencekal pergelangan tangan sang mama.
"Mama menangis?"
"Tidak, Ki. Itu hanya tetesan air dari handuk," ucap Aimi. Wanita paruh baya itu sampai memalingkan wajahnya hanya untuk menyembunyikan wajah sembab yang semakin kentara, akibat beberapa malam ini ia hanya menangisi takdir sang putra.
"Ma.. jangan menangis aku tidak akan tenang kalau Mama seperti ini," ucap Akio yang membuat air mata sang mama semakin deras.
Wanita itu tergugu dalam diamnya. Mematung dan meremas erat handuk basah yang berada dalam genggamannya. Tulangnya yang seakan rapuh dan lemas membuat salah satu tangannya akhirnya menopang pada tepi ranjang.
"Mama adalah cinta pertamaku dan selamanya." Dengan susah payah Akio memiringkan tubuhnya yang lemah.
"Mau kemana?" ucap sang mama yang menangkap pergerakan Akio di ranjangnya. Wanita itu tidak memperdulikan airmatanya yang terus saja mengalir, ia langsung berbalik dan hendak menolong sang putra.
Namun ternyata Akio malah meraih tangan sang mama. Membawanya menangkup kedua pipi cekungnya. "Ma, Mama adalah hidupku, begitu juga Papa dan Shaikha. Aku sangat mencintai kalian di seperempat lebih umurku ini. Kalaupun harus berhenti disini, aku rela. Kalian sudah lebih dari cukup membuatku istimewa selama ini."
Air mata lelaki itu menetes, mengalir menembus celah antara pipi pucat yang cekung dengan telapak tangan sang mama yang memutih dan basah. Ini takdir, dan kondisinya memang sudah sangat final. Lelaki itu menyadarinya. Bahwa hidupnya sudah bukan miliknya lagi. Ia hanya menunggu perpanjangan tangan Tuhan, lewat opsi operasi yang disarankan Dokter. Dan ia ingin bertemu Ara, sebelum akhir mengambil kehidupannya.
Susah payah Aimi menahan isakannya di depan sang putra. Mendengar ungkapan sayang untuknya, runtuh juga pertahanannya.
Dengan pekikan yang menyayat hati, wanita itu menumpahkan segala rasa yang menyakiti hatinya. Selama ini, dia hanya berpura-pura kuat di hadapan Akio, hanya agar anak lelakinya itu mendapat energi positif darinya hingga selalu bahagia dan membantu proses penyembuhannya. Namun sepertinya, kekuatan itu telah hilang entah kemana.
Aimi jatuh terduduk di bawah ranjang. Tangannya masih menggenggam erat tangan Akio. Lelaki itupun tak bisa menyembunyikan sedihnya. Sakit dan sedih yang menyatu dalam dadanya seakan semakin menusuk-nusuk mendengar tangisan pilu sang mama. Takdir ini, sungguh menghancurkan hatinya.
Namun hari ini, Aimi merasa semua sudah seperti mendekati akhir dari perjuangan lelaki tampannya itu. Benarkah Akio sudah menyerah dengan sakitnya? Dalam hatinya, wanita paruh baya itu tidak bisa menerima begitu saja.
"Kita ke Indonesia ya ma, aku mohon.... "
__ADS_1