
Dug
Dug
Dug
Adrian berlari menuju UGD, bahkan lelaki itu meninggalkan Elang begitu saja saat mendapat kabar dari Mela tentang kecelakaan yang terjadi pada istrinya.
"Bagaimana istri saya, Dok?"
Adrian terlambat beberapa menit dari masuknya Ara ke UGD, jadi ia belum bertemu sama sekali dengan istrinya itu.
"Tenang ya, Pak. Kami tangani dulu istri Bapak. Mohon bersabar," ucap Dokter yang segera masuk dan diikuti perawat yang menutup pintunya.
"Mel! Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa kalian tidak hati-hati?"
"Kenapa kau tidak bisa menjaganya dengan baik?"
Adrian menyugar kasar rambutnya. Banyaknya yang ia tanyakan dan sikapnya membuat gadis yang merupakan sahabat istrinya itu ciut nyalinya.
Adrian terdiam kemudian. Perasaan khawatir menyusup kedalam dadanya. Khawatir yang sangat, tentang keselamatan sang istri dan juga bayinya.
Bukannya menjawab, Mela nampak gemetar dan ketakutan. Ia bingung merangkai kata untuk menceritakan runutan kejadian hingga ia menemukan sahabatnya itu.
"Maaf, Tuan. Saya teledor, saya tidak menjaganya dengan baik." Gadis itu menunduk dalam, nampak menghapus titik air mata yang jatuh ke pangkuannya.
"Ara meninggalkan saya begitu saja ketika selesai memesan asinan. Bahkan saya masih menunggu pesanan itu. Setelah itu, saya kesana kemari dan tidak menemukannya. Dan ... Dan nampak banyak orang berkerumun, kemudian orang-orang itu mengatakan ada yang jatuh. Dan setelah saya lihat, ternyata Ara."
"Dia jatuh sendiri?"
"Sepertinya iya, Tuan. Saya kurang jelas kronologinya. Ara hanya memanggil saya kemudian pingsan. Saya tidak sempat bertanya padanya ataupun orang-orang disana." Gadis itu menghela napasnya, matanya nampak merah dan berkaca.
"Tapi tadi, saya sempat mendengar ada yang mengatakan, jika alAra didorong seseorang. Dan orang itu pergi begitu saja tanpa menolongnya," ucap Mela gugup.
Sebelas duabelas dengan Adrian, Mela sangat mengkhawatirkan sahabatnya apalagi bayi dalam kandungannya. Gadis itu tentu tidak lupa, jika celananya sempat basah terkena darah dari tubuh bagian belakang Ara. Adrian tidak mengetahuinya karena gadis itu mengenakan celana panjang berwarna gelap. Dan Mela, ia berperang dengan hatinya sendiri. Ia sungguh takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Adrian nampak berpikir keras. Lelaki itu hanya diam sambil sesekali terlihat menyugar rambutnya yang basah oleh keringat.
"Keluarga Nyonya Ara?" panggil seorang perawat yang nampak keluar dari pintu UGD.
"Iya, Saya."
"Silahkan masuk, Pak. Istri anda sangat lemah kondisinya dan ... Maaf dengan sangat, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dalam kandungannya," ucap Dokter yang menemui Adrian.
"Apa?" Adrian terdiam sesaat. Tulangnya seakan lemas tidak bertenaga. Tidak bisa dipungkiri hatinya hancur mendengar berita ini. Mereka berdua sudah lama menantikan kehadirannya. Tidak terasa, airmata lelaki itu menetes, dan Adrian menyekanya dengan segera. "Istri saya, Dok?"
Dokter itu tersenyum. "Istri anda baik-baik saja, seperti yang yang saya katakan tadi kondisinya sangat lemah. Silahkan ditemui, Pak. Dia pasti sangat membutuhkan Anda saat ini. Anda harus lebih kuat." Dokter sampai menepuk punggung Adrian untuk menenangkan.
__ADS_1
Tidak ada yang kuat dengan takdir seperti ini, sekalipun itu laki-laki. Karena anak menjadi kekuatan sekaligus kelemahan bagi para orang tua yang mendambakan para malaikat kecil itu hadir diantara mereka.
Adrian terhenyak. Dokter bahkan telah pergi beberapa menit yang lalu dan dia masih berdiri di tempat yang sama.
Dengan langkah yang berat ia melangkah memasuki UGD, menghampiri sang istri yang terkulai lemas di ranjang pesakitan itu.
Wajah wanita yang dicintainya itu nampak pucat. Dan sesekali terlihat Ara meringis seperti menahan sakit.
"Sayang...." Adrian memghambur, memeluk sang istri yang nampak mengerjap sayu.
"M-mas, aku dimana?" suaranya lirih hampir tak terdengar. Sepertinya membuka mata saja sangat susah dilakukan oleh Ara.
"Di rumah sakit, Sayang." Tak kuasa menahan rasa, airmata Adrian tumpah kembali. Dengan cepat lengannya menyeka, sebelum akhirnya ia melepas pelukannya dan menatap sendu sang istri yang belum mengetahui jika mereka kehilangan calon buah hati mereka.
"Aku ... Ssshhh ... Perutku sakit, aku_"
"Iya, Sayang. Dokter sudah merawatmu, tidak apa-apa istirahatlah," ucap Adrian dengan jemari yang tak henti membelai puncak kepala sang istri.
"Dia mendorongku, Mas." Selanjutnya Ara terisak. Tampak sekali raut wajahnya kecewa. "Padahal aku cuma menyapanya."
"Iya, Sayang? Siapa yang mendorongmu?" Adrian yang awalnya menahan diri dengan menampakkan ekspresi biasa karena takut dengan kondisi sang istri, menjadi geram.
Dia seperti diingatkan kembali akan pengakuan Mela, tentang hal yang sama. Ini disengaja! Dan sebuah kejahatan bukan lagi kecelakaan.
"Laura...."
Tangan Adrian mengepal. Lagi- lagi wanita itu. Setelah berulah dikantor rupanya ia dendam karena penolakan kerjasama perusahaan antara mereka. Kali ini Adrian tidak akan memaafkannya. Dia akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
"Emm ... Tdak Sayang, tidak_" Sungguh Adrian bimbang saat ini. Cepat atau lambat, istrinya itu tetap harus mengetahuinya. Tapi bukan saat ini yang ia inginkan, saat sang istri masih menahan sakit dan juga kecewa.
"Aku mendengar suara mereka yang panik tadi saat menanganiku. Mereka bilang darah, wanita ini berdarah, cepat!"
Adrian tak mampu menjawab lagi. matanya kembali berair, bukan hanya karena sedih kehilangan calon buah hati mereka tapi juga takut reaksi sang istri saat mengetahui yang sebenarnya. Ia palingkan wajahnya, dan menggigit bibirnya sendiri meluapkan emosi sedihnya.
"Mas....?" Ara mulai curiga, tangannya menarik tubuh Adrian untuk melihat kepadanya. "Katakan, ia baik-baik saja kan? Katakan, Mas!?"
Lelaki itu menunduk, mengumpulkan keberanian untuk mengatakan dan juga ketegaran demi sang istri. "Maaf, Sayang." Hanya itu yang mampu terucap saat ia melihat air mata yang terus jatuh dari mata sang istri.
"Tidak! Ini tidak benar! Aku hanya jatuh, kenapa dia pergi meninggalkan kita, Mas. Aku pasti mama yang buruk, tidak bisa menjaganya dengan baik...." Tangis Ara menyayat hati, kekecewaan dan kesedihan yang begitu dalam terasa merobek semua harapan baik yang telah ia sematkan untuk sang malaikat kecil. Bahkan janin itu belum genap berusia 10 minggu dalam kandungannya. Dan kehadirannya memberikan efek luar biasa dalam hidupnya.
"Sabar, Sayang...." Adrian menarik punggung kecil itu kedalam pelukannya. Memberikan ciuman dan kata-kata cinta yang menenangkan.
Dadanya sesak mengingat kembali sang istri yang antusias dengan kehamilannya. Bahkan setiap malam meskipun mereka baru beberapa hari ini ada di rumah, Ara paling bersemangat mengingatkannya untuk membelai perutnya dan mendoakan hal-hal baik untuk calon bayi mereka itu.
Lukanya baru saja kering. Ya, luka akibat tusukan Lola yang untung saja hanya ringan tidak mengenai organ vital istrinya itu. Kemudian mendapatkan berita bahagia ini yang ternyata hanya bertahan sebentar.
Semua hal buruk yang terjadi pada wanita yang dicintainya itu berhubungan dengan dirinya. Lola dan sekarang Laura.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik," ucap Adrian mengurai sesak dalam dadanya. Ia merasa kecolongan lagi, ia pikir Laura tidak senekat itu sampai menyakiti istrinya.
__ADS_1
Ara tidak menjawab, hanya menangis keras dan bersembunyi di dalam dada suaminya. Beberapa lama kemudian tangisnya berangsur mereda. Namun ia terus memeluk Adrian. Hingga akhirnya tidur dalam pelukan suaminya itu.
Adrian menyuruh Zen dan Mela untuk menjaga istrinya. Mela tak henti-hentinya menangis melihat nasib sahabatnya. Ia merasa bersalah tidak segera mengikuti Ara yang pergi lebih dulu hingga ia sangat terlambat saat menemukan sahabatnya itu.
Gadis itu terus saja berada di sebelah Ara, membelainya dan memberikan semangat meski Ara nampak terlelap.
\=\=\=\=\=\=\=
"Membuat emosi saja wanita itu!" teriak Laura ketika sudah sampai di apartemennya. Wanita yang kini berpenampilan seksi itu bahkan melempar tasnya ke ranjang dan juga high heelsnya ke sembarang arah.
Dia yang tadi sedianya mampir membeli souffle pancake kesukaannya malah tak sengaja bertemu Ara di tempat itu.
Melihatnya saja sudah membuat emosinya naik ke ubun-ubun, ditambah istri Adrian itu malah menyapanya. Ia tentu tidak lupa saat di kantor Adrian tadi, lelaki itu membela istrinya dengan gigih. Dan mereka terlihat saling mencintai.
Laura lebih banyak pulang ke apartemennya akhir akhir ini. Dia bosan setiap pulang kerja atau dari manapun mbok Darmi pembantunya yang paling setia itu selalu tak henti-henti membujuknya untuk menemui Tony. Jika bukan karena perusahaan ini, ia pasti sudah meninggalkan Tony dari lama.
Kekecewaannya pada suaminya itu berubah dendam. Meskipun sang suami mempertaruhkan nyawanya dulu saat menyelamatkannya. Tak tersisa sedikitpun perasaan cinta dihatinya. Dan hubungan mereka yang sudah membaik sebelumnya, ternyata menguap begitu saja di hatinya.
Drrt.
Drrt.
"Apa?" bentaknya pada sang sopir yang menghubunginya.
"Maaf, Nyonya. Istri tuan Adrian berdarah-darah," ucap sang sopir terbata.
"APA? Apa kau tak salah lihat! Aku tidak ... Hasss!" Laura mendadak panik, "Aku tidak berbuat apapun padanya! Aku hanya mendorongnya, dan ia jatuh terduduk, kepalanya juga tidak membentur apapun bagaimana mungkin bisa berdarah?" bentaknya pada sang sopir.
"Sungguh, Nyonya. Ketika Nyonya menyuruh saya kembali untuk mencari tahu keadaannya, saya melihat ia diangkat kedalam ambulan dan bagian bawahnya tubuhnya berdarah, Nyonya."
"Bagian bawah? Hei dia jatuh tidak keras, jangan bicara sembarangan!"
Klik! Laura menutup sepihak telepon dari sopirnya.
Drrt
Drrrtt
"Apalagi?"
"Maaf, Bu. Ini dari kantor," suara seorang lelaki yang merupakan bagian keamanan perusahaan Tony yang menghubungi.
"Ahh, maaf. Aku kira kamu ... Ada apa?"
"Pak Adrian datang mencari Anda. Ka_"
"Katakan kau tidak aku dimana. Sekalipun dia memaksa!"
Klik! Panggilan dari kantornya ia tutup sepihak lagi.
__ADS_1
Laura gemetar. Adrian pasti sudah tahu yang terjadi. tlTapi kenapa wanita itu berdarah? Dia bahkan bersumpah tidak mendorongnya dengan keras.