Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Menahan Malu Di Depan Umum


__ADS_3

Akhirnya Erlan dan Rain sudah berada di restoran xx tempat di mana Erlan dan Andi akan makan siang bersama.


"Maaf Tuan Erlan kalau saya terlambat." ujar Andi yang terlambat hadir karna ulah putri kesayangannya yang ingin ikut bersamanya untuk menemui Erlan.


"Tuan tau kan kalau saya paling tidak suka menunggu." ujar Erlan dengan raut wajah dingin nya.


"Maaf kan saya Tuan." ujar Andi.


"Baik untuk kali ini saya maafkan." ujar Erlan.


"Anita duduk sini sayang." ujar Andi pada putrinya agar duduk di samping nya.


"Nggak ahh Dad aku mau duduk di sini aja." ujar Anita menunjuk kursi tepat di samping Erlan.


"Tapi maaf Nona kursi ini tempat duduk sekretaris saya sekarang dia lagi di toilet mungkin sebentar lagi balik." ujar Erlan dingin.


"Di sini kan masih ada kursi kosong Tuan dekat Daddy saya Tuan suruh saja sekretaris Tuan itu untuk duduk di samping Daddy saya." ujar Anita yang tak ingin kesempatannya untuk duduk dekat dengan Erlan gagal karena hanya seorang sekretaris.


"Tapi maaf Nona saya alergi deket-deket dengan perempuan." ujar Erlan.


"Saya cuma duduk aja kok Tuan nggak akan deket-deket sama Tuan kok." ujar Nita dengan genitnya.


"Maaf Tuan saya telat." ujar Rain yang langsung mendudukan bokong nya di kursi kosong samping Erlan.


"Maaf Tuan ini kursi saya."ujar Anita tanpa rasa malu sedikit pun.


"Tapi maaf Nona di samping Tuan Andi kan masih ada kursi kosong lebih baik Andi duduk di sana saja bersama Daddy Anda." ujar Rain pada Anita.


Anita akhir harus duduk di samping Daddy nya karna tidak mau image nya di depan Erlan hancur hanya karna memperebutkan satu kursi kosong.


"Pesan lah makanan yang ingin kalian makan." ujar Erlan dingin.


"Kalau aku samain aja makanan nya sama Kakak." ujar Anita genit pada Erlan.


Sedangkan Erlan langsung jijik mendengar ucapan dari Anita yang membuat dia ingin muntah.


"Kamu yakin." tanya Erlan.


"Aku yakin Kak." ujar Anita.


"Rain Lo udah tau makanan apa yang paling di hindari Anita." bisik Erlan di telinga Rain.

__ADS_1


"Asam pedas lobster dan kepiting asam manis." ujar Rain sambil berbisik di telinga Erlan.


Setelah tau Erlan langsung memanggil pelayan untuk menyebutkan menu makanan apa yang akan mereka siapkan untuk mereka.


"Mau pesan apa Tuan." tanya Pelayan.


"Asam pedas lobster nya 2 terus asam manis kepiting juga 2, kau mau pesan apa Rain." tanya Erlan pada Rain.


"Steak daging aja sama jus alpukat." ujar Rain.


"Anda mau pesan apa Tuan." ujar Erlan pada Andi.


"Samain aja sama Tuan Rain tapi minum jus jambu aja Tuan." ujar Andi tanpa rasa malu sedikit pun.


"Baik." jawab Erlan.


"Baik Tuan saya ulang pesanan Anda kembali agar tidak salah pesanan nanti." ujar pelayan itu yang langsung mengulang pesanan tamu nya.


Anita yang mendengar kalau Erlan memesan makanan yang paling tidak dia sukai atau lebih tepatnya alergi pada makanan itu seketika raut wajah nya langsung berubah menjadi pias, saat membayangkan akan mengaruk-garuk di depan umum.


"Anda kenapa Nona Anita." tanya Erlan.


"Ahh saya tidak apa-apa Kak." ujar Anita yang berusaha mengontrol raut wajahnya agar tidak ketahui oleh Erlan kalau saat ini dia sedang ketakutan.


"Kenapa Tuan bukannya tadi putri anda sendiri yang bilang kalau dia ingin makanan yang sama dengan saya." ujar Erlan yang berpura-pura tidak tau.


"Dad nggak usah aku suka kok makanan yang di pesan sama Kak Erlan." ujar Anita yang tak ingin berbeda makanan dengan Erlan.


"Tapi Nak." ujar Andi yang langsung di potong oleh putrinya.


"Nggak apa-apa Dad." ujar Anita yang menyakinkan Daddy nya.


Andi hanya bisa pasrah dan berharap agar anaknya tidak membuat dia malu di depan umum nanti.


"Tapi kamu harus inget jangan bikin malu Daddy di depan umum." bisik Andi di telinga putrinya.


Anita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban nya.


Selang beberapa menit semua pesanan Erlan telah terhidang di atas meja.


"Ayo makan." ajak Rain yang tak ingin membuang waktu lagi untuk menyantap makanan enak di depannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua menyantap makanan mereka masing-masing, Anita yang tidak suka dengan makanan nya pun harus rela memakan makanan yang sudah di pesan oleh Erlan untuknya.


"Silahkan Nona di nikmati makanan nya." ujar Erlan.


"Baik." jawab Anita yang masih ragu-ragu untuk memakan makanan yang di pesan oleh Erlan. Tapi karna desakan dari Erlan terpaksa Anita harus memakan makanan itu.


Selang beberapa menit kemudian Anita merasa kan badan nya mulai gatal-gatal bahkan sudah timbul bintik-bintik merah di wajahnya akibat alergi dengan makanan yang di pesan oleh Erlan.


*Aduh gatel banget pengen garuk.* batin Anita yang berusaha menahan agar tidak mengaruk-garuk di depan umum.


"Dad nita nggak kuat Dad ini gatel banget Dad." bisik Anita di telinga Andi.


"Kan Daddy udah bilang jangan makan makanan itu kamu ngeyel sih Daddy bilangin sekarang jadi gini kan." ujar Andi.


"Aku nggak mau image aku hancur di depan Erlan Dad." ujar Anita yang masih memikirkan image nya di depan Erlan.


"Di saat genting kayak gini kamu masih mikirin image, kalau kamu kehabisan nafas karna sesak gimana masih mau mikirin image kamu." ujar Andi yang tak habis pikir dengan putrinya yang selalu mementingkan image dari pada keselamatannya.


"Dad aku udah nggak kuat Dad." ujar Anita yang langsung mengaruk-garuk wajah agar sedikit mengurangi rasa gatal nya.


"Ihhh liat deh kenapa tuh muka kok merah-merah gitu." ujar salah satu pengunjung yang tak sengaja melewati meja tempat Anita makan.


"Serem deh." ujar temannya lagi.


"Alah palingan dia alergi kan zaman sekarang banyak wanita yang mikirin image dari pada keselamatan diri sendiri. Dia pasti lagi caper sama cowok orang sekarang." ujar temannya yang satu lagi.


Masih banyak lagi cacian yang di berikan para pengunjung lain pada Anita dan tak sedikit dari mereka memandang rendah ke arah Anita dengan tatapan jijik dengan penampilan Anita.


*Rasain kamu makanya jangan bermuka dua di depan ku.* batin Erlan.


*Bagus juga ide Erlan dengan gampang nya membuat seorang Anita Grahaja malu di depan umum tanpa mengotori tangan sendiri.* batin Rain yang takjub dengan rencana Erlan yang sangat sederhana.


"Diam ya kalian memang kenapa kalau muka aku kayak gini masalah." ujar Anita yang sudah tak tahan dengan semua hinaan semua orang padanya.


"Idihh muka udah jelek kayak gitu masih kepedean banget jadi orang, jadi orang kok nggak tau malu sih." ujar salah satu orang yang maju untuk bisa berhadapan dengan Anita.


"Vanya." ujar Anita yang mengenali siapa orang yang ada di hadapannya.


"Iya ini aku kenapa heran kenapa aku bisa di sini." ujar Vanya.


"Bukannya kamu." ujar Anita yang langsung di potong oleh Vanya.

__ADS_1


"Nggak akan semudah itu kamu lenyapin aku Anita." ujar Vanya.


Semua orang yang mendengar itu kaget dengan ucapannya Vanya, sekarang reputasi yang di bangun oleh Anita hancur sudah dengan ucapan Vanya yang singkat namun memiliki banyak arti dan itu membuat dia tidak bisa berkutik lagi.


__ADS_2