
Tok
Tok
Masuklah dua orang laki-laki dan satu perempuan. Elang, dokter Kim, dan juga Mela.
"Ra, kamu sudah baikan?"
"Lebih baik daripada beberapa jam yang lalu, Mel. Terimakasih ya, menyelamatkanku. Mas Adrian menceritakannya tadi," ucap Ara.
"Benar, ini tidak apa-apa?" Tangan Mela mengusap pelan sisi perut milik Ara.
"Sakit, jangan ditekan."
"Hah? Maaf- maaf, ya ampun bagaimana aku bisa lupa letak tepatnya." Mela tidak sengaja menyenggol bagian tubuh Ara yang sakit.
"Selalu seperti itu. Kamu selalu membuat orang agar tidak khawatir padamu," ucap Mela mencebik, ia menjauh dari bed kemudian menata tas yang berisi pakaian ganti miliknya ataupun milik sahabatnya itu.
"Semoga lekas sembuh, Nyonya," ucap Elang bersuara setelah lama terdiam melihat interaksi sangat nyonya dengan sahabatnya itu.
"Terimakasih, Lang. Dokter kesini juga?"
"Iya Nyonya. Semoga Nyonya lekas membaik. Tuan Adrian yang menghubungi saya langsung untuk datang menjenguk Nyonya. Dan tadi Tuan berpesan agar saya menunggunya karena ada hal yang ingin dibicarakan," ucap Dokter Kim.
"Nyonya kami tunggu di luar saja. Barangkali Nyonya dan sahabat Nyonya ingin ...." Tangan Elang menirukan isyarat dua orang yang ingin berbicara.
"Baiklah. Terima kasih Dokter sudah berkunjung."
Dokter Kim mengangguk hormat. Setelah itu, Elang dan kemudian diikuti Dokter Kim pamit keluar.
"Aku boleh menginap disini kan, nanti malam?" pinta Mela dengan memohon. Ia ingin merawat sahabatnya meskipun hanya satu hari karena setelahnya, ia akan disibukkan oleh tugas barunya sebagai Asisten Manager.
"Boleh. Mas Adrian juga sudah mengizinkanmu kan?"
"Hemm, tapi aku tak yakin. Bisa saja suamimu itu berubah pikiran. Mungkin saja tidak enak karena aku yang menolongmu. Memangnya dia mau menginap disini bertiga denganku nanti?" tanya Mela sedikit ragu.
"Entahlah. Tapi kalau ia sudah mengatakan iya, berarti kan boleh. Kenapa kamu mesti takut?"
"Aku hanya merasa tidak enak, Ra. Jadi obat nyamuk." Mela meraup wajahnya. Salah dia sendiri tadi menawarkan akan menginap untuk menjaga sahabatnya itu. Sepertinya dia harus tahan menjadi obat nyamuk, orang ketiga asal tidak jadinsetan saja disana.
"Tidak apa-apa." Tangan Ara mengusap lenganela, seakan memberitahu jika suaminya tidak semenakutkan itu.
"Wanita yang menusukmu itu, sebenarnya siapa Ra? Kamu mengenalnya? Jangan katakan kamu memiliki musuh?" tanya Mela heran. Karena setahu Mela, Ara tidak pernah ingin mencari masalah dengan siapapun. Kalaupun terpaksa terlibat, wanita itu sudah pasti memilih untuk mengalah.
"Itu ... Dia masih sepupu jauh Mas Adrian. Sempat datang juga pas aku menikah, Mel. Tapi entahlah, hati orang tidak ada yang tahu bukan?"
"Hah? Saudara? Mengapa sejahat itu jika saudara? Orang kaya tidak bisa diprediksi ya, Ra pikirannya. Tidak sesederhana kita yang hidup sebatang kara." Bukannya sedih mengingat mereka berdua yang tumbuh di panti asuhan alias sebatang kara aslinya, gadis hitam manis itu malah cengengesan.
__ADS_1
"Kamu ini, memang hati orang tidak ada yang tahu kan, Mel. Seperti hatimu saat ini. Aku lihat kamu mencuri pandang terus pada mereka." Ara mengedikkan dagunya menuju ke arah luar kamar.
"Mereka siapa?"
"Dua orang yang bersamamu tadi," jawab Ara menebak, namun instingnya tidak pernah meleset.
"Hah? Ha ha ha." Mela tersenyum masam. Ara memang jeli dari dulu. Padahal tadi ia sudah waspada pada sahabatnya itu. Jangan sampai ketahuan karena sepertinya rasa yang biasa miliki bertepuk sebelah tangan, ternyata ketahuan. "Mereka para lelaki tampan, memang. Siapa yang tidak tertarik?"
"Termasuk kamu?" Tebak Ara.
"He he he ... Iyain aja lah. Siapa tahu Tuhan meridhoi." Mela meringis malu, padahal dalam hatinya mengucap amin ribuan kali.
"Aminn ...."
"Eh, tapi kalau seumpama aku jadian sama bodyguard suami kamu, apa aku juga akan jadi bodyguard kamu, Ra?" Mela menanyakan rasa penasaran yang rupanya dipikirkannya sejak tadi.
Ara tersenyum geli. Aturan darimana seperti itu. slSahabatnya itu ada-ada saja. "Ya harus! Kan sudah otomatis," jawab Ara meyakinkan. Ia tak sabar melihat reaksi sahabatnya itu.
"Tidak jadi kalau begitu. Kamu kan tahu aku tidak bisa beladiri, nanti kalau ada orang mencelakai kamu yang ada aku pingsan duluan. Lalu aku juga tidak mau sering-sering bertemu suamimu itu."
"Kenapa? Takut terkesima dengan tampannya suamiku?"
"Hussss! Suamimu itu mengerikan, nada bicaranya tidak ada ramah-ramahnya sama sekali. Kemarin mengucap terimakasih padaku saja, terdengar datar dan tidak ikhlas," bisik Mela, kepalanya menoleh kesana kemari seakan tengah waspada, padahal ia juga tahu Adrian tidak ada disana.
Ara memaklumi ucapan Mela. Karena memang begitu adanya. Adrian adalah tipe lelaki yang tidak bisa berbasa-basi.
"ADA YA, LELAKI SEPERTI ITU???"
Mela melotot kaget. Selama ini dunianya hanya sedih karena hidup sebatang kara, bukan karena mengenal orang aneh macam Adrian. Berarti sahabatnya itu satu tingkat diatasnya. Dia malah sudah menikah dengan lelaki itu.
"Buktinya, ada."
Mela langsung menepuk jidatnya. Kira-kira ada dosa apa Ara di masa lalu, bernasib sial seperti ini.
Ara tersenyum melihat tingkah laku Mela, rasa sakitnya teralihkan karena kepolosan sahabatnya itu.
Ting!
Ara membuka ponselnya. Wanita itu nampak serius membaca dan membalas pesan, hingga beberapa lama mengabaikan sang sahabat yang duduk di kursi disebelahnya.
"Suamimu, Ra?"
"Heh? Bukan, Eh iya. Mas Adrian memberitahu jika om dan tantenya telah bertemu dengan Dani di Swiss."
"Dani? "
"Anak Mas Adrian, Mel. Sekolah di Swiss sekarang," terang Ara.
__ADS_1
Gadis hitam manis itu nampak menguap beberapa kali. Mungkin ia kelelahan karena mengurusi Ara seharian.
"Istirahatlah, Mel. Kamu pasti capek seharian kesana kemari karena aku."
"Kamu bicara apa, Ra? Aku kan sahabatmu. Jadi jangan berpikir yang terlalu berlebihan, aku bantu membersihkan tubuhmu, ya?" Ara mengangguk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adrian nampak menghela napas berulang kali melihat CCTV yang menangkap keberadaan Lola di store aksesoris sebelum kejadian penusukan. Polisi memperlihatkan bukti itu kepadanya saat ia mendatangi kantor mereka sore ini.
"Jadi Nona Lola masih sepupu anda, Tuan Adrian?"
"Iya, Pak."
"Sangat disayangkan, ya. Tapi memang terkadang, musuh terbesar kita adalah orang-orang terdekat kita." Ucapan polisi itu ada benarnya. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini memang begitu, sangat meresahkan.
"Boleh saya bertemu dengannya, Pak?"
"Silahkan. Mari saya antar."
Saat ini Lola masih dalam tahanan kepolisian. Setelah bukti benar-benar lengkap, baru kasusnya akan dilimpahkan ke Kejaksaan.
Adrian duduk di sebuah bangku yang disediakan. Polisi yang mengantar kembali ke depan setelah memberitahu temannya bahwa salah satu tahanan ada yang menjenguk.
"Add, aku tahu kamu pasti akan kesini. Maafkan aku. Aku tak sengaja, aku ... Aku hanya terlalu emosi," ungkap gadis yang masih saudaranya itu. Bahkan Lola langsung mengatakannya sebelum duduk terlebih dahulu. Kalau kejahatan itu dilakukan oleh orang lain, mungkin Adrian tidak akan sudi menemuinya.
Adrian hanya menatap sekilas pada Lola selanjutnya lelaki itu membuang muka.
"Nangan tuntut aku ya, Add. Siapa yang akan mengurusi mamaku kalau aku juga dipenjara?" Tatapan Lola kosong, bayangan buruk menggelayut di pelupuk matanya. Penyesalan memang selalu ada di belakang.
"Kenapa kau tak berpikir seperti itu sebelum melakukannya? Bukankah sekarang sudah terlambat? Bahkan istriku sudah terluka. Dan yang lebih terluka lagi adalah aku. Disini," tunjuk Adrian pada hatinya. "Karena kalian keluargaku tapi malah menyakiti orang yang paling berarti dalam hidupku."
"Iya aku tahu. Aku mohon Add, maafkan aku. Bersujud pun aku mau. Aku sungguh-sungguh terbawa emosi karena mamaku dipenjara, aku tak bisa berpikir jernih saat itu." Lola menunduk, isakan tangisnya terdengar ditahan.
"Maafkan kami, Add. Soal diagnosa sakit itu. juga, mama yang merencanakan karena kami tidak terima Tante Lina menghentikan begitu saja apa yang sudah kalian beri untuk kami setiap bulannya. Dan kami berpikir bahwa semua itu terjadi setelah Ara masuk dalam keluarga besar kita. Jadi kami terpaksa membohongimu."
"MENIPU lebih tepatnya!" ucap Adrian setengah meninggi.
"Terpaksa? Lelucon apa lagi ini? Kalian melakukannya dengan sadar dan kalian mengatakannya terpaksa? Setelah tidak sengaja lalu alasan terpaksa?" Adrian sampai mengeraskan rahangnya saat mengatakannya. Jika bukan saudara pasti ia akan lebih lagi membuat perhitungan dengan gadis itu.
Lola sama sekali tidak berani menatap Adrian. Bahkan hari ini saja disetiap ucapannya, berulangkali ia mengucap kata maaf. Namun semuanya telah dipatahkan oleh Adrian. Lelaki itu benar-benar murka kali ini.
"Jika kau menyesal, jalani hukumanmu tanpa mengeluh dan akui kesalahanmu pada polisi. Termasuk kasus penipuan kalian padaku. Perbaikilah dirimu di dalam sana. Bagaimanapun kalian harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kalian lakukan." Adrian menatap Lola yang terduduk dan diam mendengarkan.
lola masih berperang dengan hatinya. Jika dia mengatakan segalanya pada polisi, sudah pasti hukuman sang mama akan semakin berat begitupun juga dirinya.
Tapi jika tidak mengaku, apa ia sanggup menghadapi Adrian? lelaki itu mempunyai seribu cara untuk menemukan dan mencari bukti yang mendukung.
__ADS_1