Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 145 Menjaga Kepercayaan


__ADS_3

"Mas? Nama kak Akio tidak ada di rumah sakit ini," ucap Ara setelah wanita itu berjalan menjauh dari resepsionis menghampiri sang suami.


"Heh...." Adrian yang sedang lepas konsentrasi menurunkan alisnya. "Ya ampun, Sayang. Aku lupa."


"Sudah, nanti saja lupanya. Ini bagaimana, kak Akio tidak ada di rumah sakit ini, apa mas lupa nama rumah sakitnya?" Ara menebak-nebak sendiri.


"Iya, aku lupa. Tadi setelah tante menghubungi dan mengatakan Akio pindah kamar, ia mengirimkan pesan lagi jika Akio minta pulang. Bagaimna aku bisa melupakan hal sepenting ini, Sayang," ucap Adrian merasa bersalah pada sang istri. Karena jarak rumah sakit dan hotel lumayan jauh.


"Ya ampun, Mas. Kamu benar-benar di level mengkhawatirkan," Ara membawa tubuhnya lebih dekat pada sang suami, kemudian wanita itu menempelkan punggung tangannya di kening lelaki itu. "Biasa saja."


"Aku tidak apa-apa, hanya kurang fokus saja. Ayo!" Digandengnya tangan sang istri untuk pergi dari rumah sakit itu.


Dalam perjalanan mereka kembali diam. Seperti ada celah kosong diantara kedua orang itu. Padahal yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Adrian hanya tidak fokus akibat banyak pikiran.


"Benar ini hotelnya?" tanya Ara memastikan sebelum mereka masuk ke tempat parkir. Ia tidak ingin sang suami kembali lupa dengan informasi yang didapat dari tantenya itu.


"Iya, Sayang benar ini. Hotel Amaris kan ini?" Sang istri mengangguk mengiyakan.


Setelah memarkir mobilnya kedua orang itu segera masuk ke lobby hotel. Dan Ara lega ketika bertanya kepada resepsionis, ternyata nama Aimi dan Akio terdaftar disana.


Drrrtttt ... Drrrrrt


Ponsel Adrian bergetar dan melihat nama kontak yang muncul, lelaki itu segera mengangkatnya. Setelah berbicara singkat di telepon, lelaki itu mendekati istrinya.


"Sayang, maaf. Ada urusan penting dengan ... perusahaan. Aku harus segera kesana," pamit Adrian pada istrinya.


"Keatas dulu ya, Mas. Sebentar saja. Bertemu dan menyapa sebentar dengan kakak. Lalu Mas lanjutkan ke perusahaan," protes Ara yang mendadak ragu menemui Akio sendirian.


"Tidak bisa, Sayang. Ini urgent. Elang memintaku datang cepat. Nanti setelah selesai, aku akan menjemputmu, ya," bujuknya melihat sang istri yang nampak kecewa. "Aku percaya padamu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan untuk Akio."


"Mas tidak ... cemburu?" tanya Ara. Keinginan untuk merawat Akio menguap begitu saja, padahal ia mengatakan pada sang tante akan meminta izin pada suaminya itu. Namun entahlah, melihat Adrian yang begitu percaya padanya serta banyaknyaa masalah yang membenani pikiran suaminya itu membuatnya tidak tega.

__ADS_1


Wanita itu menjepit bibirnya, berharap sang suami luluh dan mengantarkannya sebentar bertemu Akio. Karena ia takut jika ia melakukan sesuatu yang tidak suaminya itu sukai. Bukankah dalam keadaan seperti ini sangat rawan muncul rasa kasihan yang terkadang mengalahkan logika dan rasa tidak enak alias sungkan.


"Aku ... percaya padamu. Dan aku yakin kau bisa menjaganya," ucap Adrian. Sungguh jika bisa memilih, ia akan dengan senang hati menemani istrinya. Tapi ini urgent. Dan menyangkut nyawa seseorang.


"Baiklah. Tapi Mas janji menjemputku, kan?" Wanita itu mendongak dengan wajah penuh harap pada sang suami.


"Iya. Nanti kalau sudah selesai, pasti aku jemput."


Adrian meninggalkan sang istri sendirian di lobby hotel. Setelah pamit dan mengecup sebentar bibirnya, lelaki itu bergegas pergi dari sana.


Dengan langkah gontai, Ara berjalan menyusuri lorong hotel. Mencari nomor kamar yang dimaksud berdasarkan pada informasi yang ia dapat dari tantenya.


Didepannya kini sudah terpampang kamar yang ia cari. Setelah beberapa saat ia terdiam, akhirnya Ara memberanikan diri mengetuk pintunya.


Ternyata hatinya tidak tenang, ketika ia menemui Akio sendiri tanpa sang suami. Entah mengapa rasanya seperti sedang menemui laki-laki Jepang itu diam-diam, padahal ia sudah mendapatkan izin dari Adrian.


Ceklek!


"Nak." Aimi menyapa. Wanita Jepang itu menyembulkan kepalanya keluar dan seperti sedang mencari seseorang. " Kamu sendirian? Mana Adrian?"


"Ohh ... ya sudah tidak apa-apa. Masuklah. Ayo." Aimi mengajak Ara masuk ke dalam kamar hotel.


Mendengar suara sang ibu dan wanita pujaannya, Akio membuka matanya. Ia yang terbaring di ranjang dengan selang infus yang menancap di tangannya nampak masih pucat.


"Kak, bagaimana keadaanmu?" tanya Ara begitu wanita itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Lelaki itu nampak masih mengenakan selang oksigen yang sungkupnya menutup hidung hingga mulutnya.


"Aku baik. Kau sendiri?" a


Ara mengangguk. "Mendekatlah," titah Akio, namun hal itu membuat Ara bergeming, disana tidak ada kursi. Hanya ada sofa namun letaknya lumayan jauh dari ranjang. Jika Akio memintanya mendekat, berarti wanita itu harus duduk di tepi ranjang.


"Mencari apa?" tanya Akio melihat gerak mata dan kepala Ara seperti tengah mencari sesuatu.

__ADS_1


"Aku duduk duduk disini saja ya," ucap Ara yang kemudian lebih memilih sofa sebagai tempat duduknya daripada harus ditepi ranjang yang terlalu dekat dengan Akio.


"Kau takut denganku? Atau suamimu melarangmu?" tebak Akio, namun wanita cantik di hadapannya itu menggeleng.


"Tjdak, Kak. Mas adrian yang mengantarkanku kesini. Kenapa kakak berpikir seperti itu?" Sungguh, Ara tidak bermaksud demikian. Ia hanya menjaga kepercayaan sang suami meski laki-laki itu tidak mengawasinya.


"Mamaku mengatakan apa padamu, Ra?" tanya Akio setelah ia memastikan sang ibu benar-benar tidak berada di ruangan yang sama dengan mereka.


"Tante? Tentang apa, Kak?" Ara mengernyit mendapat pertanyaan aneh dari sepupu Adrian itu.


"Sakitku."


"Jangan berpikir yang buruk, Kak. Kakak harus bersemangat untuk sembuh. Aku dan Mas Adrian akan membantu kalian mencari tempat tinggal disini. Lalu kita mencari dokter terbaik untuk menangani Kakak." Ara mengalihkan jawabannya atas pertanyaan Akio yang akan berujung pada hal yang sensitif.


"Itu ... sudah stadium akhir, Ra." Akio menatap kosong ruang hampa dihadapannya. Ia seperti orang yang tengah putus asa. Padahal, kemarin-kemarin lelaki itu nampak kuat menghadapi penyakitnya.


Ara mendekat, dengan duduk bersimpuh di sebelah ranjang Akio, wanita itu seakan ikut merasakan beban ketakutan sepupu Adrian itu.


"Kak ... berjuanglah selagi kau masih diberi kesempatan untuk melakukannya. Apapun yang menjadi takdirmu biarlah hanya Tuhan yang mengaturnya. bukan atas prasangkamu atau putus asamu." Akio melepas sungkup oksigen yang membuatnya tidak nyaman itu. Memudian tangannya menggenggam tangan Ara dengan erat.


"Jangan dilepas, Kak. Nanti Kakak sesak lagi." Ara melepaskan genggaman tangan Akio kemudian memasang kembali alat bantu pernapasan itu ke tempatnya.


Akio tersenyum samar. Berada sedekat ini dengan Ara membuat memori yang ia. simpan beterbangan kembali ke dalam otaknya. Padahal sebelumnya, mereka biasa saja saat dulu sering jalan bersama, saling merangkul, saling menjitak namun kini setelah wanita pujaannya itu menikah, hal-hal seperti itu terasa tabu untuk dilakukan. Dan nampak sekali jika Ara membatasi ruang geraknya sendiri.


Sungguh, Adrian sangat beruntung, mendapatkan orang yang mencintainya dan sekarang juga dicintainya. Seperti kisah dalam novel saja percintaan mereka itu.


"Makan ya Ki, hampir waktunya minum obat." Kedatangan Aimi mengagetkan mereka berdua. Dibelakangnya ada Hiro, yang tersenyum mengejek kakak kelasnya yang nampak berbinar meski pucat masih menghiasi wajahnya.


"Biar aku yang suapin Tante." Ara menawarkan diri membantu.


"Aku saja, Kak. Itu tugasku," ucap Hiro yang langsung maju namun seketika berhenti karena mendapatkan lemparan pulpen dari Akio.

__ADS_1


"Hei ... kamu sakit, kenapa lempar-lempar seperti ini?" pekik Hiro sambil mengeluarkan jurus menghindar.


"Sudah, puaskan sana berbincang dengan kekasihmu. Sebelum aku tak melepasmu dengan menyuruhmu ini dan itu,"


__ADS_2