
Elang menatap sang majikan yang begitu bersemangat hari ini. Bahkan, Adrian memeriksa berkas dengan cepat dan tepat. Meski hari beranjak sore, namun pesona luar biasa pewaris perusahaan Ilyasa itu masih terpancar. Nampak segar dan jauh dari kata lelah.
Padahal yang sebenarnya terjadi, Adrian ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karena ada sang istri yang menunggunya. Tanpa Elang tahu, setiap lelaki itu keluar, Adrian selalu menatap pintu yang membatasi ruangannya dengan ruang pribadinya tempat sang istri menunggunya saat ini, dengan ujung bibir yang tak henti tertarik keatas.
Lalu kenapa ia tidak masuk saja? Bukankah ia bos dan bebas mau melakukan apa yang ia mau? Tentu saja itu tidak mungkin, karena kalau sudah masuk kesana, sudah bisa dipastikan ia tidak akan keluar lagi.
"Masih ada lagi, Lang?" Pertanyaan Adrian mengagetkan lelaki yang berdiri disampingnya itu.
"E ... Anu ... sudah Tuan. Ini lembar yang terakhir sepertinya," jawab Elang merutuki kebodohannya, yang malah melamunkan sang majikan yang luar biasa hari ini.
"Kamu, lapar?"
"Hah? Maaf, tidak Tuan. Bukankah tadi di restoran, saya sudah makan bersama Tuan." Elang menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia heran dengan majikannya yang malah menanyakan soal lapar.
"Lalu? Aku perhatikan kamu menatapku terus sejak tadi." Membubuhkan tanda tangan terakhir, Adrian kemudian mendongak melihat sang asisten yang salah tingkah.
"Tidak ada, Tuan. Mungkin hanya perasaan Tuan saja." Elang terburu-buru menutup map terakhirnya sebelum pertanyaan sang majikan menjurus ke mana-mana.
"Karena aku sedang berbaik hati, pulanglah lebih awal setelah ini. Dan terimakasih untuk hari ini." Elang terpaku.
Ini adalah ucapan terima kasih yang kesekian kalinya ia dengar dari bibir Adrian. Banyak hal yang berubah sejak Ara masuk dalam kehidupan Adrian sebagai istri. Memang tidak langsung berubah, namun begitu sang majikan menyatakan jika ia memang benar-benar jatuh cinta dengan wanita yang awalnya tawanannya itu, sikap lelaki yang dulu cuek dan dingin itu berangsur mencair.
Seperti saat ini, ucapan terima kasih Adrian dianggap hal paling luar biasa oleh Elang. Meskipun itu bukan hal yang wajib karena Adrian adalah atasan Elang, namun tentu saja perubahan itu disambut baik oleh lelaki yang telah lama bekerja untuk Adrian itu.
"Hei ....!" Adrian mengibaskan tangannya. "Kalau kau tak segera pergi dari hadapanku, maka kucabut perintahku, dan kau lanjutkan lem_"
"Terima kasih, Tuan." Tanpa banyak berkata, Elang melesat pergi bersama setumpuk berkas yang akan ia serahkan pada sekretaris Adrian, Vina.
Sepeninggal sang asisten, Adrian berdiri kemudian menggerak-gerakkkan kakinya. Ternyata duduk satu jam disana tanpa peregangan sama sekali membuat kedua kakinya kebas dan kaku.
Setelah kakinya membaik, lelaki itu bergegas menuju ruang pribadinya yang hanya berjarak dua meter dari tempat duduknya.
Ceklek!
__ADS_1
Suara TV terdengar mendominasi ruangan pribadi tempat ia istirahat saat di kantor itu. Memang ruangan mini itu didesain sedemikian rupa, sehingga setelah pintu masuk tidak langsung menuju ke tempat tidur. Tapi seperti lorong panjang, baru setelah itu dibalik lorong ada ruangan yang didalamnya ada fasilitas lengkap mulai dari tempat tidur, lemari es, TV dan kamar mandi.
"Sayang. Saayang ... Ara..?" panggil Adrian berulang-ulang, namun tak terdengar sang istri menjawab. Mungkin suaranya kalah dengan suara TV.
Baru setelah berbelok dan terlihatlah ranjangnya, lelaki itu tersenyum tipis, ternyata sang istri tertidur disana.
Adrian mematikan TV, kemudian menghampiri sang istri yang nampak nyenyak tidur dalam keadaan miring menghadap padanya.
Lelaki itu membelai lembut surai hitam sang istri, sebelum akhirnya terdengar suara ponsel yang berada tidak jauh dari bantal tempat Ara berbaring.
Nama Aimi terlihat di layar ponsel itu. Dan baru dua kali memanggil, Adrian langsung mengangkatnya.
"Halo, Tante."
"Hei Add. Kok kamu yang mengangkat?" tanya Aimi dengan nada heran.
"Ara sedang tidur. Tante pulang ke Jepang?"
"... Iya. Maaf, ya Add. Tante begitu merepotkanmu di Indonesia." Aimi terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab.
"Sayang, maafkan tante. Maksudnya bukan seperti itu. Sebenarnya ... Akio lah yang mengajak kembali ke Jepang. Itupun mendadak, tante baru diberitahu malamnya sebelum esok pagi berangkat. Tante merasa tidak enak denganmu. Kalian membantu kami dalam segala hal. Mencari rumah, mencari dokter, bahkan Tante tahu dari Ara kalau kau meminta istrimu itu mencari dokter terbaik untuk menangani Akio. Tapi sungguh, tante tidak bisa membujuk anak keras kepala itu untuk tinggal." Menahan tangisnya Aimi bercerita pada sang keponakan. Suaranya serak dan beberapa kali terdengar mengambil napas.
"Bukankah operasinya tinggal beberapa hari lagi, Tan?" Suara Adrian melemah. Ia bisa mengerti perasaan istri pamannya itu kini. Sudah pasti wanita Jepang itu sangat khawatir dengan kondisi Akio.
"Iya ... Dan Akio akhirnya meminta dioperasi disini. Itulah alasannya. Tante ... Tante ... seperti sudah akan kehilangan dirinya, Add. Bahkan kemarin ia sudah meminta kepada papanya, jika operasinya gagal, dan ia benar-benar pergi. Ia ingin dimakamkan di taman belakang rumah kami ..." Tangis Aimi pecah bersamaan dengan ucapannya yang semakin terbata.
"Kio ...." Adrian mendesis, jemarinya mencengkeram erat ujung jas kerjanya. "Tan ... Aku kesana bersama Ara, ya?" Tiba-tiba terlintas keinginan di kepala Adrian untuk mendampingi dan menguatkan paman dan bibinya.
"Tidak usah, Add. Tante memohon doa terbaik dari kalian saja. Kio dijadwalkan operasi besok sore."
"Tapi, Tan. Kalian hanya berdua disana, dan saudara dekat tinggal kami." Adrian mencoba membujuk sang bibi.
"Perusahaanmu lebih membutuhkanmu, Add. Ada Shaikha juga disini. Sungguh, doa kalian lebih dari cukup untuk saat ini."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Sampaikan salam kami untuk Akio dan juga yang lain." ucap Adrian mengakhiri panggilan.
"Tentu, Add. Sampaikan juga salam kami untuk istrimu, ya." Dan panggilan diakhiri.
Adrian terdiam. Sebenarnya, Adrian tahu mengapa sepupunya itu ingin pulang ke Indonesia dan menjalani pengobatannya disini. Siapa lagi kalau bukan Ara yang menjadi alasannya. Namun Adrian juga tahu, bahwasannya sang istri tidak akan pernah mengkhianatinya dalam keadaan apapun dan dengan siapapun. Hal itulah yang membuatnya tenang dan selalu mengizinkan sang istri mengunjungi Akio.
Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang, mengapa Akio tiba-tiba memutuskan pergi. Rasanya, alasan yang diungkapkan sang bibi tidak bisa ia terima.
Adrian masih berkutat dengan pikirannya. Tanpa ia sadari, Ara bangun dan kaget mendapati sang suami duduk di sampingnya.
"Mas, jam berapa sekarang?" Ara yang kaget setelah sadar berada dimana ia saat ini, langsung bangun dan duduk.
"Kau sudah bangun rupanya. Nyenyak sekali tidurmu sayang." Bukannya menjawab pertanyaan sang istri. Ia malah mengatakan hal lain.
"Mengapa ponselku ada padamu. Bukankah tadi aku memegangnya?" Ara menatap telapak tangannya yang kosong setelah itu menunjuk ponselnya yang ada pada Adrian.
"Tante menghubungimu tadi, Sayang. Karena kau tidur, aku mengangkatnya," ucap Adrian. Ia mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
"Bagaimana, Mas? Mereka benar kembali ke Jepang?" Ara yang penasaran menarik maju tubuhnya mendekati sang suami.
"Hemm ...." jawab Adrian singkat. Bahkan lelaki itu tidak membuka mulutnya untuk berucap.
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Mereka, Mas. Mengapa mereka kembali ke Jepang? Padahal jadwal operasi Kak Kio kan tinggal beberapa hari lagi."
"Besok sore Kio menjalani operasi disana. Tante hanya meminta doa dari kita berdua," ucap Adrian menenangkan.
"Apa kondisinya ... memburuk?"
"Aku tidak tahu, Sayang. Kita doakan saja yang terbaik untuk Kio." Mendadak, mata Ara perih mendengar tentang Akio dari suaminya. Entah mengapa rasanya ia ingin menangis.
__ADS_1
Hati Adrian ikut perih. Bagaimanapun Akio sudah seperti saudara kandungnya meski mereka sering tidak akur. Adeian menebak, istrinya itu pasti membayangkan hal yang juga dipikirkannya tadi. Namun Adrian tidak banyak bicara. Ia hanya mendekap sang istri dalam pelukannya.