Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 149 Syarat


__ADS_3

"Besok, kau punya acara?" Sang istri menggeleng. Mereka yang kini sudah berada dikamar dan bersiap hendak tidur, tengah berbincang tentang banyak hal.


Ara menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakang ranjang, sementara sang suami berbaring dengan kepala berada dipangkuannya.


"Ikut ke kantor, ya?" ucap Adrian tiba-tiba. Padahal biasanya ia lebih suka sang istri berada di rumah.


"Boleh?" sontak Ara langsung menatap sang suami dengan berbagai pertanyaan yang melintas dikepalanya.


"Tentu saja. Aku takut kau bosan di rumah, Sayang. Sejak kepergian mommy, rumah ini menjadi sepi. Ditambah lagi Dani." Ketika menyebut nama anak lelakinya, ada yang nyeri di hati terdalam Adrian. Ia bingung bercerita atau tidak pada istrinya. Namun mereka sudah saling berjanji untuk saling terbuka tentang apapun, dan akan selalu menghadapinya bersama.


"Mas ... Soal Dani. Kemarin ...." Ara ragu untuk menanyakannya, tapi mumpung suaminya sendiri yang menyinggung mengenai anak lelakinya itu sekalian saja ia bertanya.


"Iya, Sayang." Adrian menerawang, helaan napas panjangnya berkali-kali ia ulang. "Dia ... Menolak untuk meminta maaf pada temannya itu. Katanya bukan dia yang salah."


"Berarti Dani siap di DO, Mas?" Ara terkejut, namun ia berusaha tenang. Kalau ia dulu sudah pasti takut ketika mendapat ancaman DO. Tapi lain bagi anak suaminya itu, mereka keluarga kaya dan tentu saja bisa pindah sekolah dengan mudah.


"Dia ingin melanjutkan sekolahnya di luar negeri," sahut Adrian datar.


"Apa?" Ara kembali kaget mendengar ucapan suaminya. "Apa mas tidak membujuk_"


"Sudah. Dia keras kepala sepertiku." Ara mengerjap, pantas saja Adrian seperti orang yang kehilangan fokus, ternyata Dani juga ingin meninggalkannya.


"Baiklah ... Besok pagi aku ikut ke kantor. Aku akan membantu pekerjaan Mas seperti dulu saat aku masih jadi asisten disana, tapi dengan satu syarat." Adrian tersenyum mengejek, pasti syarat yang aneh yang akan diminta oleh istrinya itu. Tanpa lelaki itu tahu bahwa sang istri sedang mengalihkan pembicaraan sensitif tentang Dani.


"Syarat apa? Sudah, kau di rumah saja menjadi istriku. Tidak usah aneh-aneh dengan mengatakan akan membantuku di kantor," ucap lelaki itu memasang wajah merajuk. Kmudian ia bangkit dan bersandar disamping sang istri.


"Syaratnya mudah, Mas. Mau ya?" dibujuknya sang suami dengan menggelayut manja di pundak kekar itu.


Masih dengan menekuk wajahnya Adrian berkata, "Hemm ... Pasti menyesatkan, mudahnya di awal saja."


"Tidak Mas ...." Wanita cantik dengan daster tanpa lengan gambar strawberry itu sontak melompat ke atas pangkuan suaminya. Lalu dipelukanya erat lelaki itu dengan mengancam, "Mau atau tidur diluar?"


Ya ampun, Ara makin berani kini. Apa ia lupa siapa bosnya disini. Dan Adrian tentu tidak pernah mau kalah dengan istrinya.Wanita itu benar-benar menantang sang suami dengan duduk dipangkuannya kemudian tahukah dia jika sang suami tengah kehabisan napas karena terhimpit diantara dua bukit kembar tanpa celah sama sekali.


"Sa ...."

__ADS_1


"Jawab dulu!"


"Sa ... Yang ... Hah ... Hahh...." Adrian terengah meraup oksigen sebanyak-banyaknya ketika dekapan sang istri akhirnya terlepas karena lelaki itu menggelitik pinggang istrinya.


Set! Ara terbelalak karena Adrian dengan cepat membalik posisi. Kini wanita itu berada di bawah sang suami dengan tubuh dan tangan yang terkunci oleh lengan kekar suaminya itu.


"Kau mengancamku?" Dengan cepat sang istri menggeleng. "Lalu? Berani sekali mengatakan seperti itu pada suamimu ini?"


"Mau ya, Mas?" Wanita itu masih kukuh dengan permintaannya. Wajah mengiba ia tampakkan demi meluluskan keinginannya.


"Mau, dengan syarat!" Ara mendelik. Ia yang pertama mengajukan syarat, kenapa ada syarat di dalam syarat. Sungguh, padahal Adrian belum mengetahui tentang syarat yang diajukan Ara, namun wanita itu malah terperdaya dengan suaminya.


"Baiklah ... Katakan." Ini akan lama jika dibuat lama. Maka Ara langsung ke pokok permasalahan.


"Kita lanjutkan pertempuran malam kemarin yang tertunda," ucap adrian lirih. Antara memohon dan memaksa.


"Pertempuran? Oh yang kemarin itu, bukankah


Mas hpppp ...." Ara tidak dapat melanjutkan ucapannya karena bibirnya langsng diserang oleh sang suami. Dengan sekuat tenaga, didorongnya dada bidang sang suami yang menempel ditubuhnya. Sayangnya ia seperti tengah berada diantara dua tembok kokoh saja. Semakin didorong semakin terhimpit.


Lalu, ia pun mengeluarkan jurus terakhirnya yang tidak pernah gagal, menancapkan dua dari lima jarinya menelusup diantara tubuh mereka dan menggelitik perut sexy sang suami.


"Mmmmassss ... Mas belum mendengarkan syaratku hpppp ... Hah ... Hah...." Sekarang ganti Ara yang butuh oksigen akibat aksi brutal sang suami. "Dengarkan dulu aku bicara, Mas."


"Kembali tentang syarat, kau menyetujui syaratku?" Adrian tidak mau kalah dengan sang istri.


"Iya ... Tapi dengarkan aku dulu." Ia mendorong kembali tubuh kekar yang mau menindihnya itu. "Syaratku?"


"Aku setuju!" ucap Adrian cepat. Dan ia melanjutkan aksinya kembali. Sebuah pertempuran yang sempat tertunda sehari sebelumnya. Dan kali ini bisa dipastikan, Ara akan bangun kesiangan. Tidak! Pasti lebih siang lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hei, antar aku ke taman," teriak Akio pada adik kelasnya yang tengah asyik bermain game diponsel.


"Pasien yang baik tidak memanggil dokternya sembarangan. Setidaknya hargai aku sekali saja, panggil aku dokter Hiro. Supaya sekolah profesiku yang menghabiskan uang salon ibuku ini sedikit berharga," ucap Hiro yang bosan mendengar suara Akio yang dari tadi pagi, hai hei memanggilnya minta bantu ini dan bantu itu yang tidak jelas gunanya.

__ADS_1


"Baiklah dokter Hiro yang tampan, antar aku ke taman ya,"


"Ihh ... aku geli mendengarnya, panggilnya biasa saja. Kau merayuku? Hari ini selang oksigenmu baru saja dilepas, berputar-putar di dalam kamar hotel saja aku takut kau kelelahan. Lagipula besok kita pindah di rumah yang dicarikan oleh sepupumu. Istirahatlah" Hiro yang sudah dirayu sekalipun tetap tidak mempan, membuat Akio yang dilanda kebosanan mempunyai ide untuk kabur.


"Ayolah, aku sudah lebih baik hari ini." Adik kelasnya itu tetap memberikan jawaban yang sama. "Kalau begitu, pergi sana ke kamarmu sendiri. Aku mau tidur!"


"Nah, begitu. Kalau kamu sadar dengan kesehatanmu seperti ini, aku dengan senang hati kau usir," ejek Hiro yang segera bangkit meninggalkan Akio sendiri.


"Untuk apa aku jauh-jauh ke Indonesia kalau hanya disuruh tidur," gumam Akio.


Lelaki itu mengambil syal dan topi rajut yang selalu menemani setiap ia keluar selama ini. Kebetulan sang ibu keluar dari pagi melihat rumah yang akan ia tempati nantinya bersama anak buah Adrian yang sudah diserahi tugas untuk mengurus segalanya.


Akio memacu kursi rodanya perlahan keluar dari kamar hotel. Sendirian dalam perjalanan membuatnya tak lepas dari banyaknya pasang mata yang melihat. Kebanyakan dari mereka menatap kasihan pada lelaki blasteran Jepang-Indonesia itu, selain penampilannya yang terlihat lebih tua dari umurnya juga kesendiriannya tanpa seorangpun yang bersamanya.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" Seorang karyawan hotel yang berdiri di dekat pintu sampai menawarkan bantuan karena melihat Akio yang seorang diri.


"Aku ingin ke taman yang disana. Jika tidak merepotkan, tidak apa-apa," ucap Akio membalas ucapan orang itu.


Akhirnya lelaki itu mengantar Akio ke taman yang lumayan masih sepi di pagi hari seperti ini. Dan Akio meminta untuk ditinggalkan disana.


Sedari pagi langit terlihat mendung namun juga tak kunjung jatuh hujan. Suasana menjadi syahdu dan dingin.


Akio membawa kursi rodanya untuk berjalan memutari taman. Ternyata ia membawa tongkat selfie yang ia sembunyikan dibalik sweaternya.


Sambil menjalankan kursi roda dengan satu tangan dan tangan lainnya memegang tongkat, ia mulai berbicara seakan menyapa seseorang.


Baru setengah jalan tiba-tiba hujan turun. Akio tidak sempat menghindar, sehingga baju dan ponselnya pun basah kuyup. Beruntung ada seorang pengunjung dibelakangnya, yang dengan cepat mendorong kursi rodanya untuk berteduh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nak, Akio bersamamu?" tanya Aimi ketika Hiro membuka pintu kamarnya.


"Dia ada di kamar, Tante. Sedang istirahat," ucap Hiro yakin. Padahal sudah berkali-kali peristiwa seperti ini berulang. Namun Hiro tidak juga peka.


"Tidak ada. Untuk apa aku tanya kalau dia ada di kamar," ucap Aimi dengan wajah yang mulai khawatir.

__ADS_1


"Ohh ... God! Di luar hujan Tan?" mata Hiro membelalak mengingat terakhir Akio mengatakan ingin kemana.


"Deras sekali. Hei, kau mau kemana?" teriak Aimi yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Hiro yang langsung berlari meninggalkannya.


__ADS_2