
"Sinta mana, Mi?" tanya Ara pada sang ibu, karena ia tidak melihat gadis panti itu ikut masuk ke ruang makan.
"Kamu tidak tahu? Katanya tadi ada orderan mendadak jadi dia tergesa pulang, kukira kamu tahu Sayang," jawab Esther yang tengah digandeng Merra masuk ke ruang makan.
"Aneh sekali," gumam Ara. Kenapa gadis itu tidak pamit pada Ara padahal ia melewati ruang makan ini.
"Bukankah Sinta tidak membawa motor, Ri?"
"Iya. Tadi aku yang mengajaknya dan kebetulan ia sedang berada di luar karena mengirim pesanan. Kenapa dia juga tidak bilang padaku jika mau pulang." Ori pun ikut heran dengan Sinta.
"Mungkin dia memang buru-buru, jadi tidak sempat memikirkan hal lain. kita makan saja dulu, nanti kita bahas lagi," ucap esther menengahi. "Sayang panggil nenek dan kakekmu, ya," titahnya pada Merra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sinta terengah setelah berlari cukup jauh. Entahlah apa yang ia pikirkan saat ini, ia hanya berlari sejauh mungkin untuk menghindar dari kecanggungan dengan orang-orang itu.
Berulang kali ia mencoba menyadarkan dirinya sendiri, jika ia tidak pantas memiliki perasaan pada dokter tampan idolanya itu. Tapi kenyataannya ia tak mampu. Perasaan itu bahkan sudah mendarah daging pada dirinya, meski beberapa tahun lamanya hubungan mereka biasa-biasa saja.
Kenapa? Kenapa harus seseorang yang ia panggil kakak itu, yang menjadi saingannya. Orang baik yang bernasib baik, tidak seperti dirinya. Satu-satunya kemiripan mereka adalah sama-sama dibesarkan di panti asuhan. Selain itu sepertinya jauh. Nasib baik Ara selalu berkali-kali lipat diatasnya.
Sinta termenung, kakinya gemetar karena kelelahan. Tenggorokannya terasa kering akibat dehidrasi dan lapar. Bahkan ia lupa jika sedari pagi ia belum makan. Dan ketika Ori menawarinya makan saat main bersama tadi, ia malah menolaknya dan hanya makan puding serta minum juice.
Hari sudah gelap, tadi sebenarnya dirumah Ara ia juga hampir makan malam. Namun karena kejadian ini, ia malah pergi melarikan diri. Menyebalkan bukan?
Menoleh kesana kemari, Sinta tidak mengenali jalan ini. Apes sekali dirinya. Dia tadi lari tanpa memperhatikan tujuannya. Yang ada sekarang malah tersesat, dan haripun merangkak malam.
Baru saja gadis itu melangkahkan kakinya, mendadak kepalanya pusing dan berputar. Ia ambruk ditempat itu, sendirian.
\=\=\=\=\=≠\=\=
"Kirim ini ke alamat yang sudah kukirimkan pada ponselmu," titah Dani. Pemuda itu memasukkan sehelai rambut pada sebuah plastik klip, kemudian mengeluarkan benda yang sama dari saku blazernya dan menyerahkannya pada Leo.
"Baik, Tuan."
"Jangan lupa tanyakan berapa hari waktu yang dia butuhkan untuk mendapatkan hasilnya. Aku mau yang paling cepat, dengan cara apapun," ucap Dani memberi pesan pada asistennya itu.
"Akan saya sampaikan, Tuan."
Leo undur diri dari depan sang majikan kemudian meninggalkan Dani seorang diri yang masih berusaha menata hatinya.
Apapun hasilnya, ia harus siap. Dan ini akan menjadi sebuah kejutan.
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=
"Tuan, agenda bulan depan seperti biasa?" tanya Elang di sela-sela kesibukannya membantu Adrian.
"Iya, seperti biasa. Jangan lupa pesan makanan untuk mereka seperti biasa. Mungkin aku akan menginap lebih lama. Dani sudah mampu berjalan sendiri, jadi aku tidak khawatir. Kalau kau ingin libur juga tidak apa-apa Lang, yang penting kau antar dan jemput aku kembali," ucap Adrian bermaksud memberikan libur pada asistennya itu.
"Tidak Tuan, saya ikut saja," jawab Elang menolak.
"Kau sudah lama tidak pulang. Kasihan ibumu," ucap Adrian beralasan. Elang memang jarang meminta cuti. Bahkan hari liburnya bisa dihitung dengan jari.
"Saya menghubunginya seminggu sekali Tuan. Dan beliau memahami tanggung jawab saya disini." Elang membungkuk, sebagai ucapan terima kasih atas perhatian yang diberikan majikannya.
"Terserah kau saja."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ri, jangan pulang dulu," pinta Ara pada dokter tampan itu.
"Ada yang ingin kau_" Ori sudah bersiap mendengar jawaban Ara. Namun ternyata, dia salah sangka.
"Kata bu Fatimah, Sinta belum sampai di panti asuhan hingga saat ini." Raut khawatir nampak di wajah cantik Ara. "Ini sudah malam, Ri."
"Bagaimana kalau kita susuri saja jalan-jalan di dekat sini. Siapa tahu belum jauh." Ori memberi usul pada wanita itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Sinta pergi sudah beberapa jam yang lalu. Jangan-jangan dia_"
Ara hampir lemas membayangkannya. Segala pikiran buruk terlintas begitu saja di otaknya. Bagaimana tidak khawatir? Gadis itu pulang seorang diri.
"Sudah, ayo kita cari," ajak Ori yang tanpa sadar merangkul Ara keluar dari rumah. Ara pun tidak memperdulikannya karena rasa kalut yang menyusup di dadanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sinta mengerjap. Kepalanya masih terasa pusing, bahkan pandangannya masih mengabur. Susah payah ia memfokuskan matanya untuk melihat dengan jelas berada dimana dirinya saat ini.
"Emm ... Ma ... Kak Ara," gumamnya. Dia tidak tahu berada dimana sekarang. Jika melihat ruangannya, seperti ruangan rumah sakit. Dan yang jelas wanita yang ia panggil kakak itu nampak tertidur di sofa yang ada di dekat ranjangnya.
Sinta melirik pada jam dinding yang ada diatas pintu. Ia mengingat kejadian terakhir yang menimpanya. Saat ia kabur dari rumah Ara hari memang sudah malam. Dan sekarang, jarum jam menunjuk di angka lima. Itu berarti sudah pagi. Ternyata lama juga ia pingsan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Sinta segera menutup matanya kembali berpura-pura belum bangun.
Suara pintu dibuka membuat Ara terbangun.
"Aku membangunkanmu ya, maaf," ucap Ori yang datang membawa sebuah kantong plastik berisi 2 kotak makanan.
"Tdak apa-apa. Rupanya aku ketiduran." Ara menarik kedua tangannya untuk melemaskan tubuh yang kaku, akibat posisi tidur yang tidak nyaman.
"Mengapa sampai sekarang Sinta belum bangun, ya. Kau yakin dia tidak apa-apa selain luka benjol di kepalanya karena terantuk itu? Atau perlu kita ct scan atau apalah Ri."
"Tenang, ra. Sinta tidak apa-apa. Dokter sengaja memberikannya obat agar ia istirahat. Nanti juga bangun. Sarapan saja dulu. Ini aku bawakan bubur untukmu dan Sinta," ucap Ori meletakkan kantong plastik yang ia bawa di atas nakas.
"Pulanglah, kasihan merra. Sinta biar aku yang menjaga, kebetulan aku senggang sampai jam 10 nanti. sekalian aku telpon panti, siapa tahu ada yang bisa menggantikanku sebentar disini," lanjut Ori.
"Iya, bahkan aku belum memberi kabar rumah juga panti asuhan tentang keadaan Sinta. Aku khawatir dia kenapa-kenapa." Ara bahkan tidak sanggup sarapan melihat Sinta terbaring disana. "Nanti kabari aku jika dia sudah bangun." Selepas berkata seperti itu Ara mendekat pada ranjang Sinta kemudian menyentuh tangannya sejenak, lalu ia pamit pada dokter tampan itu.
"Buburnya dibawa saja, buat sarapan di rumah." Lelaki itu menyodorkan satu kantong plastik setelah mengeluarkan satu kotak isinya.
"Terima kasih."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hai tampan. Ha ha ha ... Aku tidak bisa memanggilmu boy lagi." Wajah Carla berubah sedih. "Sekarang kau benar-benar menjelma menjadi lelaki yang tampan hem...." kelakar Carla.
"Ohh ... Ayolah baru dua minggu ini aku tidak menghubungimu. Dan kau mengatakan hal yang tidak-tudak tentangku. Bukankah aku memang tampan dari dulu." Dani menjawabnya dengan kesal.
"Aku tahu itu. Tapi selama ini kau tidak pernah memakai pakaian seperti ini saat menghubungiku. selalu casual dan santai," ejek Carla.
"Apa berarti aku hanya tampan saat mengenakan stelan ini," ucap Dani sambil menarik blazer yang dipakainya.
"Kau tampan mengenakan apa saja Dan," puji Carla yang membuat Dani senang. Wanita itu seperti oma yang selalu mengerti dirinya.
"Apa kabar ibumu? Dia wanita yang baik bukan? Jangan terlambat menyadari, Dan. Tidak ada ibu sambung yang benar-benar sempurna. Jika dia mau menerima dan menyayangi ayahmu dan juga dirimu, aku rasa itu lebih dari cukup." Nasihat Carla sungguh dalam.
Dani menghela napasnya panjang, ia membuang wajahnya sejenak.
"Apa benar seperti itu Carl? Kau percaya ada ibu sambung yang baik? Yang tulus mencintai kami dan bukan hanya demi harta kami?"
"Kau yang bisa menjawabnya, Dan. Setulus apa Ara. Bukankah kau sudah bersamanya beberapa tahun ini?" Waktu selama itu sudah cukup untuk mengenal karakter dan juga kepribadiannya." Carla menjawab pertanyaan Dani sambil memasukkan kue buatannya ke dalam oven. Membuat lelaki itu rindu akan semua tentang swiss.
Pemuda itu menunduk. Bersamanya? Bahkan ia yang menjadi alasan wanita itu dari hidup ayahnya sebagai persyaratan ia bisa pulang.
"Apa wanita itu baik seperti yang kau pikirkan, Carl?" tanya Dani dengan raut wajah yang tak bisa ditebak.
"Mungkin saja. Apa kau percaya aku benar-benar tulus padamu, Dan?" Carla membalik pertanyaan Dani.
Pemuda itu mengangguk yakin. Bahkan Carla terdiam cukup lama untuk memperhatikan gelagat pemuda itu. Apakah ia jujur, atau sekedar membuatnya senang diakui.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Carla kemudian.
"Aku merasakannya dengan hatiku Carl, bukan hanya dengan mataku." Pemuda itu menunjuk dadanya sendiri.
__ADS_1
"Dan aku tahu kau merasakan hal yang sama pada Ara. Tapi kau mengingkarinya, Dan," komentar Carla memukul telak pemuda itu. "Kau hanya bersembunyi dibalik sakit hatimu itu," ucapnya dan sayangnya itu benar.
"Aku dan Ara sama-sama orang lain dalam hidupmu. Kami berdua tidak mempunyai kepentingan khusus padamu. Selain Ara yang menjadi istri ayahmu dan tentunya harus juga menyayangimu, dan aku yang tidak memiliki keluarga dan bahagia bertemu denganmu. Kami dua orang asing dengan beda karaktet, tapi kami sangat menyayangimu."
"Kenapa kau yakin sekali, Carl. Apa alasanmu membelanya?" Dani menatap Carla dengan berkaca.
"Cinta tidak butuh alasan, Dan. Seperti aku juga Ara. Aku melihat sorot matanya saat menatapmu, menatap ayahmu. Aku tidak pernah mendapatkan kepura-puraan itu, yang ada justru ketulusan hingga ia pun mengorbankan dirinya untukmu. Kau masih ingat ucapanku saat itu kan?"
Dani mengangguk. Ya, Ara yang menutupi dirinya yang tidak pamit. Bahkan Ara hanya diam saat Dani mengancam dan mencemoohnya sebelum ia memutuskan pergi ke Swiss dulu.
Air mata pemuda itu akhirnya jatuh. Dari semua kebaikan ibu sambungnya itu, hanya kesalahpahaman tentang kematian omanya lah satu-satunya hal buruk yang membuat hubungan mereka merenggang.
"Daddy...." gumam Dani menahan diri.
"Tenangkan dirimu. Pikirkan baik-baik semuanya. Aku menyayangimu, Dan" ucap Carla yang menutup panggilan itu sepihak, karena ia tahu Dani butuh waktu sendiri untuk mencerna semuanya.
Pemuda itu hanya diam, meletakkan kembali ponselnya diatas meja. Mengingat kembali segala peristiwa antara dirinya, ibu sambungnya dan juga ayahnya.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
"Lang, katakan pada Dani kita pulang lebih dulu." Adrian nampak menahan sakit, keringat dingin mengalir di tubuhnya.
Setengah jam yang lalu, ia memang meminum obat asam lambung yang tak pernah absen berada dalam tasnya. Namun sepertinya rasa sakit yang menusuk hingga ke ulu hati ini tidak juga berkurang.
"Katakan saja aku ada urusan. Dan pastikan dia tidak kesini. Aku tidak ingin dia khawatir," ucap Adrian beralasan.
"Baik Tuan, Apa_"
"Hubungi juga dokter Kim, suruh datang ke rumah secepatnya," titah adrian pada Elang.
"Iya Tuan, segera." Elang berlari keluar ruangan. Namun ia berjalan biasa saja saat berpamitan dengan Dani. Agar Dani tidak curiga. Hanya Vina yang mengernyit bingung melihat Elang berlarian di depannya.
Elang memapah sang majikan keluar ruangan. Saat itu Vina mendekat karena melihat ada sesuatu yang tidak beres. Adrian hanya memberikan kode pada sekretarisnya itu untuk tidak banyak bicara. Dan Vina pun akhirnya urung menghampiri, hanya menatap kepergian sang bos bersama asistennya dengan wajah khawatir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dokter Kim memeriksa Adrian dan memberikan suntikan pereda nyeri pada lelaki itu. Sekarang Adrian sudah lebih tenang.
"Apa kau selalu telat makan?" tanya dokter Kim sambil menuliskan resep untuk teman sekaligus majikannya itu.
"Seringnya malah tidak makan, Tuan," jawab bibi Yulia yang masih ada disana setelah mengambilkan pakaian ganti untuk majikannya itu.
"Bibi...."
Wanita paruh baya itu hanya menyunggingkan senyumnya mendapat teguran dari Adrian.
"Pantas saja. Apa kau minum kopi? Ma_"
"Setiap pagi, Tuan. Kopi hitam sebelum sarapan pula, padahal saya sudah mengatakan kalau itu bisa menyebabkan sakit lambung dan ju_" Bibi Yulia dengan cepat membungkam mulutnya sendiri saat menyadari mendapat tatapan tajam dari Adrian.
Dokter Kim menggeleng mendapati kenyataan seperti ini. "Bahkan Bibi lebih pintar darimu. Apa kau mau menyiksa dirimu? Bagaimana kalau kau pergi sebelum bisa bertemu dengan istrimu?" ucap Dokter Kim kesal.
"Apa yang kau katakan Kim?" Adrian murka mendengar ejekan dari dokter Kim.
"Seharusnya kau menjaga kesehatanmu dengan baik." Dokter Kim menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Selepas ia memberikan resep yang ia tulis pada Elang untuk segera ditebus. "Bukankah kau tidak tahu kapan kau mendapat kesempatan bertemu dengannya lagi? Atau mungkin kau mau menyerah begitu saja?"
"Tidak!" jawab Adrian keras.
"Ck, maka dari itu, jagalah kesehatanmu. Bagaimana kau bisa menjaganya, kalau menjaga dirimu sendiri saja kamu tidak mampu. Aku saja kesal apalagi bibi Yulia yang setiap hari mengurusmu." Dokter Kim berdecak sambil memberikan nasihat pada Adrian.
"aku pulang. Kalau kau masih mengeluh sakit yang sama lebih baik aku pensiun dini saja menjadi dokter keluargamu," ucap Dokter Kim yang pamit kemudian meninggalkan lelaki itu disana bersama bibi Yulia.
Biasanya Adrian akan marah disindir macam-macam. Tapi kali ini, ia membenarkan ucapan dokter Kim tentang dirinya.
Beberapa tahun ini ia memnag tidak memperhatikan dirinya dengan baik. Karena rasa kehilangan dan kesepian yang mendominasi hidupnya. Meski dani sudah ada bersamanya. Rupanya masih tetap ada sisi kosong dalam hatinya, yang tetap menunggu dan merindukan orang yang sama. Estsaffa Ahiara, istrinya.
__ADS_1
😍grazie... Terima kasih masih mengikuti. Terima kasih juga untuk like, komen dan votenya💗