
"Bagaikan mengharapkan hujan di siang hari yang panas." Gadis cantik itu berceloteh sendiri di ruang tunggu bandara.
"Lagipula untuk apa kau menunggunya? Dia saja tidak tahu kau akan pergi hari ini," ucap sang kakak yang kemudian duduk di sebelahnya.
Apa mungkin Dani tidak membaca pesannya? Atau ia langsung membuang makanan yang dikirimkannya ke tempat sampah.
Kenapa tidak terpikirkan oleh Rheina, akan tindakan ekstrim pemuda pujaannya itu. Sudah terlambat untuk memberitahunya. Bahkan Rheina sudah mematikan ponselnya beberapa menit yang lalu. Ingin mengaktifkannya kembali, namun Rheina tidak siap kecewa. Sungguh simalakama.
"Semua ini gara-gara Kakak. Kenapa Kakak harus jahat padanya?" Mata Rheina mengembun. Selama ini ia berusaha tidak perduli dengan masa lalu yang terjadi antara sang kakak dan pemuda yang ia sukai, Dani. Namun, ternyata itu malah menjadi hal besar yang membuat pemuda pujaannya itu bahkan tidak bersikap baik padanya.
"Kenapa aku? Meskipun dimasa lalu kami tidak ada masalah sekalipun, Dani memang memiliki karakter seperti itu. Tidak ada satupun gadis yang menjadi temannya," ucap lelaki yang dipanggil kakak oleh Rheina itu sengit.
Rheina menunduk lesu. Belum juga mengucap suka pada pemuda pujaan hatinya itu, namun ia harus mengikuti kemauan sang ayah untuk memimpin perusahaan keluarganya yang ada diluar negeri.
Apes.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kau yakin dia berangkat hari ini?"
"Iya, Tuan. Dari pesannya pada makanan yang dikirim saat kita di Bandung," jawab Leo yang memacu mobilnya langsung ke bandara setelah keluar dari jalan tol.
Dani hanya terdiam sesudahnya. Ia tidak tahu mengapa ia mengikuti apa kata asistennya untuk menemui gadis cerewet yang menyebalkan itu hari ini.
Leo mengatakan, dia akan menyesal jika tidak ke bandara sekarang. Entah apa maksudnya.
Sampai di tujuan, Bos dan asistennya itu bergegas masuk.
"Kita terlambat Tuan. Pesawat sudah berangkat sepuluh menit yang lalu." Leo menunjuk papan di depannya.
"Kita pulang!" ucap Dani yang meninggalkan Leo lebih dulu, keluar dari ruangan yang tidak pernah sepi itu.
"Tumben Tuan bersikap wajar," gumam Leo, yang mengikuti langkah kaki Dani dari belakang.
Di belakang mereka, ada seorang lelaki yang melepas kacamatanya. "Hebat juga adikku itu, sampai membuat seorang Dani datang kesini." Lelaki itu menggeleng tidak percaya. Namun ia segera mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mengambil gambar teman SMP nya itu dari belakang.
"Bukti otentik," gumamnya dengan senyum menyeringai.
\=\=\=\=≠\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=
"Om Adrian," pekik Merra begitu melihat sosok lelaki yang ia kenali tengah menjemputnya bersama sang ibu di depan gerbang sekolah.
Merra menghambur kedalam pelukan Adrian yang sudah merentangknan kedua tangannya.
Pemandangan yang mengharukan. Ikatan batin antara ayah dan putri kecilnya itu tidak dapat dibohongi. Ara sampai tertegun melihatnya. Merra benar-benar merindukan Adrian di alam bawah sadarnya.
"Kok cuma, Om. Kak Dani?" Setelah melerai pelukan sang ayah, mata gadis kecil itu memicing kesana kemari mencari sosok sang kakak yang tidak ada disana. Mendadak kepalanya menunduk dengan wajah ditekuk.
"Kak Dani minta maaf karena dia harus pulang ke Jakarta hari ini. Tapi besok, mama dan Merra akan ke Jakarta dengan om, karena Kak Dani sudah menunggu disana," ucap Adrian penuh semangat.
"Iya Om?" Adrian mengangguk. "Mama, benar besok kita ke Jakarta?" Gadis kecil itu menoleh pada sang ibu meminta kepastian.
"Seperti kata Om." Wanita cantik itu mengangguk meyakinkan.
__ADS_1
"Horeee...," teriaknya senang.
Adrian menggendong gadis kecilnya dan tanpa berpikir lama langsung menggandeng Ara untuk menyeberang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pesannya masih kau simpan?"
"Ada, Tuan. Bersama makanan yang dikirimkannya saya simpan di kulkas," jawab Leo. Untung saja ia tidak menyuruh anak buahnya membuang makanan itu.
Leo membuka kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Puding? Kenapa kau tak memberikannya pada yang lain, Le?" Dani mengambil secarik kertas yang dijepit dipinggir puding buah itu.
"Saya tidak berani, Tuan," jawab Leo.
"Ambillah! Berikan pada Vina atau karyawan yang lain," titah Dani. Dan Leo bergegas membawanya keluar ruangan.
Padahal ia hanya ingin membaca isi dari secarik kertas yang sebenarnya sudah dibaca oleh anak buahnya itu, sendiri.
'Hai, Dan. Maaf jika aku mengganggumu lagi. Puding ini buatanku, sudah ku coba beberapa kali dan menurutku enak. Tapi aku tidak tahu seleramu. Buang saja jika kau ragu memakannya (emoticon tertawa kecil). Mulai besok aku tidak bisa mengganggumu lagi. Jika kau berkenan, datanglah ke bandara. Mungkin saja itu pertemuan terakhir kita, meski aku berharap sebaliknya (emoticon hati dan pelukan).'
Dani membuang muka. Pantas saja Leo mengatakan jika dia akan menyesal. Pemuda itu berdecih. Bukankah bagus jika gadis itu pergi, setidaknya tidak akan ada yang mengganggunya lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=≠\=
"Es krimnya, enak?"
"Enak, Ma. Terima kasih, Om," ucap Merra pada sang ayah yang menanggapinya dengan mengangguk kecil. Lelaki itu duduk di depan Merra. Sedangkan Ara sedang menyiapkan makan siang. "Om mau?"
"Boleh kalau mau, tapi sedikit saja. Karena ini enak sekali. Nanti kalau sudah di Jakarta, Merra mau meminta pada kak Dani untuk mentraktir es krim kita," ucap gadis kecil itu yang menyodorkan cone es krimnya ke pada Adrian.
Lelaki itu menerimanya, kemudian mencicipi sedikit pada bekas yang ditinggalkan oleh Merra. "Wahhh, memang benar-benar enak, " ucap Adrian berbinar dan membuat Merra senang melihatnya.
"Setelah ini, kita makan siang ya," ajak Ara yang sudah selesai menata meja makan.
"Siap Mama!" jawab ayah dan anak itu kompak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hemm ... Enak sekali masakan Mama," puji Adrian sambil melirik sang istri.
"Iya, Om. Masakan mama memang selalu enak. Apalagi kalau mama membuat ramen. Hemmm ... ramen terenak di dunia," celoteh gadis kecil itu yang nampak lahap menyantap masakan sang ibu.
"Om juga suka ramen. Tapi om tidak suka pedas. Apa ramen buatan mama memang seenak itu?"
"Om kan sudah besar kenapa tidak suka pedas? Kalau Merra masih kecil, dan Merra juga tidak suka pedas."
"Iya, om ada sedikit sakit perut jika makan pedas." Adrian mendekat ke sang istri. "Sayang, kenapa dia mirip sekali denganku. Aku sampai takjub dibuatnya. Tuhan benar-benar baik padaku," puji Adrian.
Ara hanya tersenyum menanggapinya. Padahal dulu, putri kecilnya itu hanya mencicipi ramen setiap kali Ara membuatnya karena rindu dengan Adrian. Tapi ternyata makanan itu juga cocok di lidah Merra.
"Merra. Apakah Merra masih ingin bertemu ayah?" Adrian membuka topik di saat santai sambil makan siang saat ini. Ia sudah meminta izin sang istri tadi, dan Ara menyerahkan semua padanya.
__ADS_1
"Mau, Om. Mama selalu bilang ayah masih kerja di tempat yang jauh. Tapi tidak pernah pulang atau menelepon Merra. Apa ayah tidak sayang lagi dengan Merra?" Gadis kecil itu mendadak menghentikan makannya. Ia menunduk dengan raut wajah yang sedih.
"Kalau Merra bertemu dengan ayah sekarang, mau?"
"Sekarang? Ayah mau datang sekarang?" Adrian mengangguk menatap gadis kecilnya yang berubah ceria kembali mendengar kata jika ayahnya akan datang. "Mau ... Mau Om! Merra rindu sekali dengan ayah. Merra mau bertemu ayah, Om."
Mata Adrian mengembun. "Kemarilah. Peluk om dulu." Lelaki itu merentangkan kedua tangannya.
Merra yang langsung menyergapnya, membuat Adrian semakin terharu. "Ini ayah sayang. Om Adrian adalah ayah Merra. Ayah Merra yang pergi jauh, bekerja untuk Merra dan mama. Sekarang ayah sudah disini. Dan ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi."
Merra melerai pelukannya. Gadis kecil itu tertegun mendengar ucapan Adrian yang ia dengar dengan sangat jelas. Dan mencoba mencerna setiap kata dengan jiwa anak-anaknya.
"Om Adrian, ayah Merra?"
Adrian mengangguk." Dan kak Dani adalah kakak Merra yang sebenarnya. Bukan lagi mimpi atau hanya doa Merra."
"Kak Dani kakak Merra?" Gadis kecil itu mengerjap, sepertinya masih bingung mencernanya.
"Iya, Sayang. Mereka datang untuk Merra. Dan kita akan tinggal bersama nanti. Daddy, mama, kak Dani dan juga Merra," ucap Ara ikut menjelaskan pada putri kecilnya itu.
Ara sudah berurai airmata sejak saat Adrian menyampaikan kebenarannya tadi. Akibat melihat interaksi ayah dan anak yang tidak bisa disangkal adanya ikatan batin antara mereka berdua.
"Daddy?"
"Merra panggil ayah, Daddy ya. Sama seperti kak Dani," ucap Adrian menghapus airmatanya. Ia sedikit lega karena putri kecilnya itu sepertinya bisa menerimanya.
"Daddy...." Merra kembali menghambur ke pelukan Adrian, mendekapnya dengan erat dan menangis. "Pokoknya Daddy tidak boleh pergi lagi. Daddy harus mengajak mama dan Merra k
jika pergi kemanapun. Merra tidak mau Daddy bekerja jauh lagi."
"Iya Sayang, daddy janji. Apapun yang Merra mau, daddy menurut." Suara Adrian terdengar parau. Lelaki itu bahagia sekaligus bangga pada sang istri yang bisa mendidik putri kecilnya untuk tetap mencintainya meski mereka tidak tahu kapan takdir mempertemukan mereka. .
Ara ikut merangkul mereka berdua. dalam hati kecil wanita itu berdoa, semoga keluarga kecil mereka akan selalu bersama apapun keadaannya.
"Merra mau telpon kakak, Dad," pinta Merra tiba-tiba.
"Oke princess kecil, daddy." Adrian menyodorkan ponselnya yang telah ia hubungkan pada Dani melalui panggilan video.
"Ya Dad! Harusnya aku yang mengganggu, mengapa malah Dad_"
"Kakak! Aku mau es krim yang banyak seperti yang dibelikan Daddy tadi. Kakak janji menginap tapi ternyata bohong. Kakak harus dihukum," celoteh gadis kecil yang membuat Dani akhirnya menoleh karena ia mengira ayahnya yang sedang menghubunginya.
"Daddy?"
"Iya, Daddy. Daddy Kakak dan daddy Merra sama kan?" Gadis kecil itu.tertawa sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Ohhhh...." Dani langsung paham apa yang diucapkan adiknya itu. "Siap Tuan Putri. Besok kakak siapkan es krim yang banyak dan enak, lalu kita jalan-jalan lagi seperti kemarin." Pemuda tampan itu meletakkan berkasnya dan menghadap pada kamera yang menampilkan wajah Merra.
"Oke ... Bye Kakak!" Dani melambaikan tangannya sebagai jawaban untuk mengakhiri panggilan video sang adik.
"Rupanya, Daddy sudah mengatakannya. Gerak cepat juga. Biarlah. Lebih cepat lebih baik, supaya mereka cepat pindah ke sini," gumam Dani.
"Le, panggilkan arsitek kita dan besok suruh ke rumah. Kamarku perlu di tata ulang untuk adikku," titah Dani pada asistennya.
__ADS_1
💜Terima kasih 💕