
Di Sekolah Menengah Atas Lexa mendapat hukuman dari guru nya karna membuat ulah yang sangat fatal.
Ya saat ini Lexa, Regan, Anya dan Sisil menuntut ilmu di salah satu Sekolah Menengah Atas yang cukup terkenal di kota mereka.
"Lexa Lo masih kuat, kalo nggak mending Lo istirahat dulu deh."ujar Anya.
"Gue masih kuat kok Anya, gue nggak mungkin biarin Lo buat berdiri di sini sendirian."ujar Lexa.
"Tapi Lo udah pucet banget Lexa."ujar Anya.
"Gue kuat kok."ujar Lexa yang tak ingin membuat Anya khawatir padanya.
Sedangkan di sudut lapangan Regan selalu memperhatikan Lexa yang sudah sangat pucat.
*Sial gue gagal lagi jagain Lexa.*batin Regan yang kesal dengan dirinya sendiri yang selalu gagal menjaga Lexa dari kejahatannya Sisil.
Lexa merasakan pusing yang teramat di kepalanya, Lexa memegang kepala nya berusaha menghilangkan pusing namun sayang rasa pusing itu semakin bertambah dan akhirnya Lexa pingsan.
Untung dengan sigap Regan langsung berlari ke arahnya dan menangkap tubuh Lexa yang sudah tidak berdaya.
"Astaga Lexa."ujar Anya yang langsung mengkhawatirkan kondisi sahabatnya itu.
"Gan kita bawa ke UKS aja mumpung sekarang gue yang lagi jaga."ujar Anya.
Regan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban karna saat ini Regan juga sangat mengkhawatirkan kondisi Lexa.
Regan langsung mengendong Lexa menuju UkS agar mendapat penanganan yang tepat.
"Astaga kok UKS penuh gini sih."ujar Anya yang kaget dengan ruangan UKS yang sangat penuh dengan murid-murid.
"Anya gimana."tanya Regan.
"UKS penuh Gan."ujar Anya.
"Akkhh sial."umpat Regan.
"Gimana dong Gan."ujar Anya panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang."ujar Regan yang langsung putar balik menuju ke tempat parkir mobilnya.
"Kalau ke rumah sakit nggak ke buru Gan."ujar Anya.
"Terus kita harus nunggu sampai mereka semua keluar gitu."ujar Regan.
"Kita tanganin di sini aja."ujar Anya.
"Lo gila ya di sini kan dingin bego."ujar Regan.
"Udah Lo nggak usah khawatir, Lo tunggu di sini sebentar jangan kemana-mana."ujar Anya yang langsung menuju ke ruang olahraga yang tak jauh dari sana.
"Ngapain si Anya ke ruang olah raga sih."ujar Regan kesal.
Anya keluar dari ruang olahraga dengan menyeret matras untuk tempat tidur Lexa agar tidak terlalu kedinginan.
__ADS_1
"Encer juga otak lemot Lo."ujar Regan setelah Anya sampai di hadapannya.
"Gue nggak bodoh-bodoh amat ya."ujar Anya.
"Ya ya ya ya."ledek Regan.
Regan langsung meletakkan Lexa di atas matras sedangkan Anya mengambil Kotak P3K.
*************
Byuuurrrr
"Astaga."ujar Lana saat gelas yang dia pegang tiba-tiba saja jatuh dan pecah berserakan di lantai.
"Mah, Mama kenapa kok gelas nya bisa jatuh."ujar Langit.
"Ahh Mama tidak apa-apa Nak mungkin gelas nya licin."ujar Lana berbohong pada anaknya.
"Bang kayaknya ada yang di sembuyiin Mama deh dari kita."ujar Fuji berbisik pada Abang nya.
"Udah nggak usah kepo."ujar Lintang dengan cuek nya.
"Bukan kepo Bang siapa tau masalah yang di hadapi Mama itu sulit gimana."ujar Fuji lagi.
"Kan ada Papa yang bakalan nolongin Mama Fuji."ujar Lintang yang sudah sangat kesal dengan adik nya itu.
"Izzzzhh Abang nggak asik."ujar Fuji kesal sambil melipat kedua tangan nya di dada menandakan kalau dia lagi kesal saat ini.
"Pagi."ujar Kenzo dari atas tangga bersama Mike.
"Kamu kenapa sayang."ujar Kenzo yang mendapati isteri nya tengah membersihkan pecahan gelas di lantai.
"Aku nggak apa-apa Mas, tadi tangan ku licin terus gelas nya jatoh."ujar Lana.
"Udah biarin aja nanti Bibi yang beresin."ujar Kenzo.
"Udah nggak apa-apa Mas nanggung dikit lagi."ujar Lana yang tak ingin melimpahkan semua pekerjaan pada Bibi.
"Sayang nanti tangan kamu kena pecahan gelas."ujar Kenzo.
"Enggak Mas."ujar Lana.
"Aww."rintih Lana saat tangan terkena pecahan gelas karna merasa firasat buruk sudah terjadi pada orang-orang terdekatnya.
"Tuh kan Mas bilang juga apa, kamu nggak mau dengerin kata Mas sih."ujar Kenzo yang langsung mengambil kotak P3K untuk mengobati luka istri nya.
"Mas kok perasaan aku nggak enak gini ya Mas, aku kepikiran Lexa terus Mas."ujar Lana.
"Lexa baik-baik aja sayang dia kan sekolah, kalau ada apa-apa pihak sekolah pasti sudah hubungi kita kalau terjadi sesuatu sama Lexa."ujar Kenzo.
Sedangkan di meja makan Mike mengobrol dengan triplets kenapa Lana sampai menjatuhkan gelas.
"Anak-anak kok Mama kalian bisa jatuhin gelas."tanya Mike.
__ADS_1
"Bengong Om."jawab Lintang seadanya.
"Bengong kenapa."tanya Mike lagi.
"Ya mana kami tau tanya aja sendiri sama Mama kenapa dia bengong."ujar Lintang yang sama persis dengan Kenzo nada bicara nya, dingin tapi Langit lebih dingin lagi dari ini.
*Astaga Bapak sama anak sama aja kayak kutub Utara.*batin Mike.
"Om nggak usah ngedumel dalam hati kayak gitu, kalau mau langsung aja mumpung lagi depan orang nya nih."ujar Lintang dengan enteng nya.
"Haa."Mike kaget dengan ucapan lintang yang tepat sasaran.
"Kenapa kaget Om."ujar Lintang.
"Kok tau."
"Ya tau lah Om, orang jelek kayak Om siapa sih yang nggak bisa baca fikirannya."ujar Lintang.
"Hahahahahah."gelak tawa Fuji pecah mendengar ucapan Abang nya yang tepat sasaran.
"Tuh mulut lemes amat ya sama kayak Bapak nya."ujar Mike.
"Ya jelas la Om dia kan Papa kandung kita, ya pasti mirip lah Om."ujar Lintang.
Mike hanya bisa menghela nafasnya kalau berdebat dengan para jagoan Kenzo yang tak bisa terkalahkan.
"Makanya Om kalau ngomong itu di gilir dulu jangan asal ceplas-ceplos aja."ujar Lintang.
"Kamu fikir Om bodoh."ujar Mike yang tidak terima dengan ucapan Lintang.
"Nggak tuh kan Om sendiri yang bilang kalau diri Om itu bodoh."ujar Lintang.
"Kapan."
"Barusan."jawab lintang tanpa takut sedikit pun pada Mike.
*Astaga kalau debat sama mereka kayak gini terus bisa mati berdiri gue.*batin Mike yang kapok kalau harus berdebat dengan triplets.
"Makan aja nanti kita telat."ujar Langit dengan tatapan mata dingin nya pada kedua adik nya yang terus berbicara dari tadi.
Glekk
Mike di tercengang dengan perintah Langit pada kedua adik nya yang langsung mereka laksanakan, makan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Makan Om."ujar Langit tanpa melihat lawan bicara nya.
"Ehh iya."jawab Mike gugup dengan perintah yang di berikan Langit bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu.
*Eehh buset mereka ini manusia atau apa sih dingin amat melebihi kutub es. Gue nggak bisa bayangin gimana kalau mereka bertiga debat sama Bapak yang sama-sama dingin kayak kutub Utara gitu.*batin Mike
"Jangan ngedumel terus Om."ujar Lintang.
*Astaga nih bocah bisa baca pikiran gue kali ya, dari tadi betul Mulu tebakannya.*batin Mike.
__ADS_1
"Makan aja Om atau aku aduin sama Papa kalau Om jelek-jelekin Papa."ujar Lintang.
"Iyaaa."jawab Mike yang akhirnya menyerah.