
Adrian melambatkan laju mobilnya, saat mereka sudah berada di pintu gerbang masuk Apartemen Orion. Lelaki itu langsung menuju basement, memarkir mobilnya disana dan segera menuju lift. Tangannya cekatan menekan tombol lantai teratas gedung apartemennya itu.
Adrian tidak melepaskan sekalipun gandengan tangannya pada sang istri. Ara sampai canggung saat di dalam lift, ketika beberapa orang berbisik membicarakan mereka berdua.
Dan yang lebih meresahkan, lelaki itu malah menggamit mesra pinggang Ara tanpa memperdulikan tatapan iri dari para perempuan yang ada bersama mereka.
Sisi posesif Adrian pada sang istri selalu saja nampak ketika mereka berada diluar seperti saat ini.
Satu persatu orang orang yang membersamai mereka sampai pada tujuan. Dan terakhir tentu saja pasangan suami istri itu.
Melangkah dengan gontai, Adrian menyeret kakinya bersama sang istri menuju apartemen dimana sang anak tinggal.
Tok ... Tok ....
Tak berapa lama, muncullah Dani. Anak lelaki itu telah siap dengan koper hitam yang berada di sampingnya.
"Langsung saja, Dad."
Tanpa banyak interaksi lagi, anak lelaki itu hanya mengangguk pada sang ayah yang menatapnya.
Meski tidak keluar sepatah katapun dari Adrian, namun Ara bisa merasakan galaunya hati seorang ayah yang akan berpisah dengan buah hatinya.
Entah sadar atau tidak, Adrian mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri. Seperti ada sebuah hati yang ingin diyakinkan, untuk rela melepaskan.
Adrian yang masih menggandeng tangan sang istri, menariknya untuk mengekor di belakang Dani. Dan bisa ditebak menit-menit berikutnya yang terasa lambat, karena minimnya komunikasi antar tiga orang yang berjalan bersama itu.
Bahkan hingga sampai mereka berada didalam mobil, kebekuan antara mereka bertiga tidak juga mencair.
Mereka bagaikan bongkahan es yang tenang. Tapi tidak dengan Ara. Wanita itu yang dari tadi kebingungan dengan sikap diam Adrian.
Bukankah tadi Adrian sangat antusias saat berangkat. Dan momen kebersamaan mereka tinggal beberapa menit lagi. Namun Ara sungguh jengah, mengapa sang suami tidak memanfaatkan waktu dengan baik selama perjalanan ini.
"Ehem!" Ara berdehem, mencoba mencairkan ketegangan dalam dirinya karena suasana yang menurutnya benar-benar dingin. Juga mencari perhatian dari dua orang yang duduk di jok depan itu, bersisian namun nampak tenang.
Tidak ada reaksi yang terjadi.
Keduanya nampak sibuk dengan pikirannya masing- masing. Bahkan menoleh pun tidak dilakukan oleh kedua orang itu.
Tidak kehabisan akal, wanita yang menjadi istri dari seorang Adrian Orion Ilyasa sekaligus juga ibu sambung dari Dani Aries Ilyasa mengerahkan seluruh ide cemerlangnya.
__ADS_1
"Ehem! Berapa menit kira-kira perjalanan ke bandara?" Dengan lantang Ara bertanya. Meski suaranya malah terdengar seperti seorang guru yang menegur muridnya. Jadi tidak mungkin kedua orang yang duduk di jok depan itu pura-pura tidak mendengar ataupun cuek.
"Tiga puluh menit jika tidak macet, Sayang," jawab Adrian lembut. Sedangkan Dani membuang pandangannya keluar jendela.
Lega rasanya, namun setelah itu sang suami terdiam kembali. Padahal Ara sudah memancing dengan membuka sedikit obrolan, apa suaminya itu tidak mengerti juga?
"Kabari kami setelah kau sampai disana ya, Dan!"
"Sampai di bandara saja belum!" jawab Dani sedikit ketus dan hampir tidak terdengar.
"Eh ... Iya." Ara menggaruk pelipisnya. Mengapa jadi pesan itu yang keluar dari bibirnya?
Menghela napas sejenak, wanita itu tidak ingin menyerah. "Tidak ada yang ketinggalan, kan? Kau sudah memeriksa ulang barang bawaanmu? Atau mungkin setelah sampai nanti, tante bisa membantumu memeriksanya lagi," celotehan Ara yang sudah seperti gerbong kereta api, terdengar memjemukan ditelinga Dani.
"Aku sudah berkemas sejak seminggu yang lalu. Dan sudah kuperiksa ulang pagi tadi. Jadi ... Tante tidak usah khawatir berlebihan."
Ara membungkam mulutnya cepat. Ia salah bicara lagi. Apa-apaan ini, Adrian sama sekali tidak menyahut atau paling tidak memberikan argumen yang sedikit membantunya.
Padahal semalam lelaki itu mengatakan akan memberi sedikit wejangan untuk anak lelakinya yang beranjak dewasa itu. Namun ternyata sepi.
Mengintip sebentar arlojinya, mereka sudah menghabiskan waktu selama 20 menit dalam perjalanan ini. Berarti sisa perjalanan tinggal sepuluh menit lagi, karena tidak nampak ada hambatan, macet ataupun gangguan berarti.
Dan akhirnya, Ara memutuskan diam. Biar saja nanti ketika sudah turun, ia tegur sang suami yang bahkan tidak berbicara sepatah katapun saat di mobil.
Setelah meminta tolong seorang juru parkir untuk memarkirkan mobilnya, Adrian membersamai anak lelakinya itu hingga ke lobi bandara. Mereka berjalan beriringan.
Saatnya berpisah. Di depan sudah terpampang mesin self check-in yang tidak begitu ramai.
Tanpa diminta, Dani memutar tubuhnya. Kemudian anak lelaki beranjak remaja itu berhenti dan menatap sang ayah yang nampak mendung. Meninggalkan kopernya, Dani memangkas jarak antara mereka dengan berlari, kemudian menubruk tubuh sang ayah yang juga tengah merentangkan kedua tangannya.
Pelukan hangat mereka bagaikan dua orang yang telah lama tidak bersua. Masing- masing mentransfer kekuatan, memberi keyakinan bahwa mereka akan dan selalu baik-baik saja.
Padahal mereka baru akan berpisah.
Terkadang, perpisahan memang jalan terbaik, agar dua orang yang memiliki hati yang keras untuk bisa saling menghargai satu sama lain.
"Dad, aku berangkat."
Adrian menepuk punggung anak lelakinya yang tingginya telah menyamai dirinya itu.
__ADS_1
Pelukan semakin erat dirasakan Dani. Adrian tidak ingin melepaskan.
"Iya. Jangan lupa berkabar, sesibuk apapun kegiatanmu disana," ucap Adrian parau, tepat disebelah telinga sang anak.
Setelah melerai pelukan, ayah dan anak itu melakukan tos tangan kemudian kembali memutar tubuhnya dan menarik koper hitam itu dengan tangan kirinya.
"Dan!" panggil Adrian, namun anak lelaki itu tetap melanjutkan langkahnya tanpa berbalik lagi.
"Hati-hati, Dan!" teriak Ara. Wanita itu bergegas mencekal lengan sang suami yang ingin mengejar Dani. Ara tahu, Adrian pasti akan menyuruh Dani untuk pamit padanya.
"Hmmmm," gumaman lirih Dani masih tertangkap oleh Ara. Meskipun terdengar setengah hati, anak lelaki itu menyahut pesan hati-hati dari ibu sambungnya.
"Dia tidak pamit padamu?"
"Sudah mas. Tidak apa-apa. Dia sudah menjawab pesanku, kan?" Ara menghibur Adrian dan juga dirinya sendiri. Mempermasalahkan sesuatu yang sepele akan membuatnya menjadi besar.
"Kita pulang ya," ajak Ara pada suaminya. Wanita itu memeluk lengan Adrian dengan mesra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ada apa ini Pak? Kami tidak salah apa-apa. Kalian mau apa? " Lola yang kaget rumahnya di datangi banyak polisi berteriak-teriak menghalau para lelaki berseragam itu.
Bahkan gadis seksi sepupu Adrian itu mendorong tubuh mereka keluar dari pintu rumahnya . Sehingga tubuh lelaki yang didorong Lola itu tak bergeming sedikitpun.
"Bukan ... Bukan saya yang salah. Fery yang salah ... Iya .. Dia ... Dia yang salah," berteriak dengan lantang, ucapan Laila terdengar terbata-bata. Tubuhnya gemetaran dan keringat dingin tidak hanya membanjiri pelipisnya namun hampir seluruh wajahnya.
"Mohon kerjasamanya, Bu. Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan," ucap salah satu dari mereka yang maju dan membawa surat penangkapan.
"Lola .. Lo ... La ... mama sesak," terbata Laila memanggil sang anak. Ia panik karena merasa digerebek oleh para polisi itu. Padahal mereka datang secara baik-baik.
"Mama ... bangun ... Mam.. Mama," teriak Lola seraya mengguncang tubuh sang ibu yang melorot dari sofa. Lola menangisi wanita yang melahirkannya itu.
"Pak. Mama saya sakit. Saya mohon jangan bawa dia." Gadis itu menangkupkan kedua tangannya memohon agar sang ibu tidak ditangkap.
"Kebetulan di dekat kantor kami ada rumah sakit. Jadi lebih baik kami bawa ibu Laila saja, sekalian kesana, " ucap salah satu dari mereka.
"Hah ... eh ... eh ... tidak bisakah mama saya dibiarkan dirumah saja?"
Tanpa mendengarkan celotehan panjang Lola, para lelaki berseragam itu saling bekerjasama untuk membopong Laila dan membawanya ke dalam mobil mereka.
__ADS_1
"Mari Nona ikut, sebagai pihak keluarga yang menemani," ajak mereka.
Mau tidak mau lola menurut. Pikirannya buntu mencari cara agar sang ibu tidak dibawa.