
"Aku merindukanmu," ucap Adrian lirih. Di dekatinya sang istri yang masih marah itu. Lelaki itu tidak segera mendekapnya, karena ia takut salah sasaran seperti tadi, untung hanya angin yang dia cium, bukan tembok atau benda keras lainnya.
"Bisa tidak, merayunya jangan disaat seperti ini? Tidak berpengaruh sama sekali." bibir Ara yang semakin meruncing malah melebarkan senyum sang suami.
"Tapi aku memang merindukanmu, Sayang." kembali dengan suara mendayu dan merayu ia bisikkan kata-kata itu pada istrinya.
"Baru saja tidak bertemu beberapa jam dan Mas mengatakan rindu? Mau membohongiku?" Ara memundurkan tubuhnya, bola matanya yang bulat melirik tajam ke arah sang suami.
"Tidak! Kali ini tidak, yang kemarin-kemarin juga tidak," ucap Adrian cepat ketika menyadari kesalahannya. "Ayo peluk aku, Sayang." Adrian terdengar mengiba. "Sebentar saja."
Tatapan Adrian yang begitu dalam menyiratkan beratnya sesuatu yang entah apa tengah membebaninya. Dan berikutnya tanpa berkata apapun lagi, Ara segera bangkit dan berdiri kemudian membawa sang suami dalam dekapannya.
"Terimakasih, Sayang," ucap Adrian tulus. Matanya terpejam merasakan rengkuhan hangat sang istri yang tidak pernah gagal membuatnya selalu baik-baik saja. Napasnya yang kemudian terdengar stabil, membuat sang istri sedikit lega, meski suaminya itu belum ingin cerita. Beberapa saat lamanya kedua suami istri itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing masih dalam keadaan berpelukan.
Terkadang saat hatimu resah dan gelisah, atau kau sedang dirundung masalah, yang kamu butuh bukan lagi sekedar teman cerita atau seseorang yang memberikan solusi. Namun sebuah pelukan hangat dari seseorang yang kamu sayang dan perduli padamu, akan selalu bisa mewakili semuanya.
"Bagaimana kabar Akio?" tanya Adrian begitu ia melerai pelukannya dan membawa sang istri untuk duduk di pangkuannya.
"Masih sesak, tapi sudah membaik," jawab Ara yang memainkan kancing kemeja suaminya. Ara selalu seperti itu jika telah selesai merajuk, entah mengapa kancing kemeja suaminya menjadi hal menarik yang ia ingin permainkan dengan tangannya.
"Berapa jam istriku menemaninya, hari ini?" Wajah Adrian tanpa ekspresi saat menanyakannya, membuat sang istri menebak jika lelakinya itu tengah cemburu.
"Seperti yang kau janjikan. Aku menemaninya sambil menunggumu hingga bosan dan tidak ada balasan sama sekali. Padahal aku berkali-kali menghubungimu."
"Maaf sayang, baterai ku lemah jadi ku alihkan ke mode diam." Adrian tidak jadi mencecar sang istri tentang apa saja yang dilakukannya dengan sepupunya disana. Karena ia merasa bersalah membiarkan sang istri menunggu tanpa kabar.
__ADS_1
Berikutnya, Adrian menceritakan tentang siapa yang selama ini menjadi dalang atas perjanjian pra nikahnya yang belum sempat dihapus dan malah menjadi viral.
Ara kaget, tidak pernah menyangka jika pelakunya adalah orang terdekat Adrian sendiri. Meski sudah menjadi mantan istri, tapi Adrian tetap menghormatinya sebagai ibu dari anaknya. Selama ini Andina sendirilah yang membuat orang tidak lagi baik padanya, karena tutur kata dan juga perbuatannya.
Adrian juga menceritakan bahwa ia akhirnya melepas Abe yang merupakan sahabat mantan istrinya itu dengan perjanjian bersyarat. Lelaki kemayu itu memang terbukti membantu Andina, namun tidak dalam hal yang besar.
Juga kejadian di rumah sakit yang membuat Adrian geram. Andina yang sengaja mendatangi sang ibu dengan alasan menjenguk ternyata hanya akal-akalannya saja. Karena ternyata disana, ia malah menceritakan hubungan Ara dan Adrian serta perbuatannya membohongi sang ibu sampai wanita paruh baya itu shock, dan malah meninggalkannya tanpa menolongnya.
Hal terakhir ini membuat Ara sedikit kecewa. Bagaimana bisa Andina melakukannya, padahal mereka, mommy Lina dan andina pernah satu rumah sebagai keluarga. Ketidakharmonisan pada hubungan mereka pun juga diakibatkan oleh ulahnya bukan dari pihak Adrian.
"Lalu mbak Andina kau serahkan ke polisi, Mas?" Adrian menggeleng. Pertanyaan dengan jawaban yang berat dilontarkan sang istri padanya.
"Dia berada di tempat aman sekarang, yang jelas dia tidak akan mengganggu keluarga kita lagi." ucap Adrian yakin.
"Mas tidak ...." ucapan Ara terhenti, di otaknya berputar-lutar perkataan Adrian bahwa mantan istrinya itu tidak akan pernah mengganggu mereka lagi. Jangan-jangan wanita cantik itu dihabisi.
"Ahhh ... Syukurlah...." Ara mengelus dadanya, lega mendengarnya.
"Sayang, kita ceritakan pada Dani tentang kejadian sebenarnya, ya. Supaya dia tahu dan tidak menghakimimu seperti ini," usul Adrian agar sang anak bisa berbaikan kembali dengan ibu sambungnya itu.
"Apakah hal itu akan benar-benar mengembalikan hubungan kami? Aku rasa tidak semudah itu, Mas. Awalnya pun Dani memang tidak menyetujui pernikahan kita. Dan ditambah lagi peristiwa ini."
Ara menerawang jauh kisahnya dengan sang anak sambung yang hampir berbaikan tapi malah diterpa masalah yang lebih berat hingga akhirnya Dani malah sangat membencinya.
"Tentu saja, Sayang. Ia jadi tahu bahwa yang sebenarnya jahat adalah ibu kandungnya, bukan kamu."
__ADS_1
"Tapi ... Tidak usah, Mas. Kasihan mbak Andina. Mas sudah melarangnya untuk menemui kita lagi. Biarkan namanya tetap menjadi baik walaupun hanya secuil dalam kenangan Dani."
"Dia tidak pernah baik dalam memori Dani, Sayang. Sejak awal dia sudah melukai hati anaknya sendiri. Selamanya akan tetap seperti itu."
"Setidaknya dengan tidak mengatakan yang sebenarnya, tidak akan menambah rasa benci Dani pada ibu kandungnya Mas. Mommy Lina adalah segalanya bagi Dani. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Dani jika mengetahui yang membuat kondisi omanya memburuk adalah ibu kandungnya sendiri."
"Lalu bagaimana denganmu? Kau akan tetap buruk dimatanya, Sayang. Ini tidak adil bagimu. Dia akan membencimu terus. Aku tidak bisa membiarkan itu."
"Yang terpenting, aku tidak membencinya Mas. Aku menyayanginya selayaknya anakku sendiri. Dan mencintainya seperti aku mencintai mommy." Adrian memandang wajah teduh sang istri yang selalu menenangkannya saat ia gundah itu. Bahkan hanya dengan memeluk wanita itu, segala yang memberatkan pikirannya terasa seringan kapas meskipun terkadang ia belum menemukan solusinya.
Berkali-kali, Adrian tidak habis pikir dengan wanita yang ia nikahi hanya untuk memenuhi tuntutan sang ibu itu. Wanita yang akhirnya membuatnya jatuh cinta tanpa ingin terlepas atau melepaskan lagi. Wanita yang selalu mengalah padanya. Wanita yang selalu memenuhi hari-harinya dengan ceria.
Mengapa ia harus mengorbankan diri hanya demi Andina, seseorang yang baru dikenalnya, seseorang yang jahat padanya dan bahkan membuat hubungannya dengan Dani semakin memburuk.
"Aku tidak bisa," ucap Adrian keras. Lelaki itu bangkit dan berjalan beberapa langkah membelakangi, setelah melepas tangan sang istri yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
"Mas ... Kasihan mbak Andina. Biarkan ia baik sekali saja dalam memori anak kandungnya. Memang hubungan mereka tidak baik, tapi lambat laun seiring Dani dewasa ia pasti akan merindukan sosok ibunya."
"Aku ingin kau yang dirindukannya bukan Andina. Karena selama ini kau yang baik dan sayang padanya."
Ara bangkit dan menabrakkan tubuhnya pada sang suami. Wanita itu memeluk Adrian dari belakang. "Aku mohon. Sungguh aku tidak apa-apa. Kali ini saja, Mas." Ara mengiba pada suaminya. Karena tidak menemukan cara lain lagi agar lelakinya itu mendengarkannya.
Dengan menggenggam erat jemari Ara yang memeluknya, Adrian hanya diam tidak memberi keputusan apapun akan permintaan sang istri. Hatinya masih bertarung tidak merestui keinginan yang akan merugikan wanita yang dicintainya itu.
🎼 Karena kau tak lihat, terkadang malaikat, tek bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
__ADS_1
Namun kasih ini, silahkan kau adu, malaikat juga tahu, aku yang jadi juaranya ....