Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 238


__ADS_3

"Sayang, ayo pulang," panggil Ara begitu masuk ke kelas putri kecilnya. Merra sedang asyik mewarnai di ruangan itu sendirian.


"Mama!" pekik Merra melihat kedatangan sang ibu. Gadis kecil itu segera membereskan bukunya kemudian membawa kotak besar yang diberikan Dani padanya.


"Sini mama bantu. Ini apa sayang? Besar sekali." Ara menggoyang-goyangkan kotak dengan pita merah jambu itu. "Dari siapa?"


"Boneka kuda poni, Ma. Dari Kak Dan. Ini juga, ini juga," ucap Merra yang tersenyum senang menunjukkan tas dan juga alat tulis lengkap yang ada didalamnya.


"Banyak sekali. Apa semua temanmu juga mendapatkannya?" tanya Ara mengintip isi dari kotak yang dibawanya itu. Dan matanya tertegun melihat isinya, meskipun Merra telah mengatakan apa yang ada didalamnya.


"Kalau boneka ... hanya Merra, Ma, " jawab gadis kecil itu jujur. "Merra tidak pernah memintanya, Ma. Kak Dan sendiri yang membawakannya untuk Merra." Sebelum sang mama bertanya, Merra pun menjelaskan yang sebenarnya.


"Mama percaya, Merra sudah mengucapkan terima kasih?" Wanita itu mengingatkan hal baik yang selalu ia ajarkan pada gadis kecilnya itu.


"Sudah, Ma. Ayo Mama ikut Merra dulu." Gadis kecil itu menarik lengan sang ibu menuju ruangan guru. Ia mencari sosok Dani yang rupanya sudah pergi, bahkan mobilnya pun sudah tidak ada di tempat parkir.


"Kenapa? Kok lesu begitu, Sayang?" Merra berhenti bahkan sebelum sampai ke ruangan berkumpul para guru itu. Suasana yang sepi, membuat Merea menyadari jika Dani sudah pergi dari tempat itu.


"Padahal Merra ingin mengenalkan mama pada Kak Dan. Tapi, ia pasti sudah pergi," ucapnya kecewa.


"Lain kali pasti Kak Dan kesini lagi. Jangan bersedih ya." Ara mengusap lembut puncak kepala Merra, kemudian merangkul gadis kecilnya untuk pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kita kembali ke Jakarta, Tuan?"


"Nanti sore saja. Aku masih ingin berjalan-jalan disini. Sudah kau periksa file yang kuberikan?"


"Sudah, Tuan. Tapi disini, nama ayah dan ibunya tidak ada. Dia diakui sebagai anak panti asuhan dan informasi lengkap tentang data diri yang dimilikinya disimpan di yayasan pusat," ucap Leo sambil membaca macbook ditangannya.


"Yayasan oma memang luar biasa ribetnya. Dia menggunakan keamanan ganda untuk segala data pribadi yang menyangkut warganya," gumam Dani yang kesal dengan apa yang tidak bisa didapatkannya dengan cepat.


"Alamatnya ada?" Leo mengangguk. "Gunakan mobil rental dan awasi rumah itu, ambil gambar segala sesuatu yang kau anggap penting lalu kirimkan padaku," titahnya pada sang asisten.


"Siap, Tuan."


"Aku akan keluar sebentar. Selalu hati-hati."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Leo melajukan mobilnya menuju Jakarta sore itu. Di dalam sana, Dani sedang duduk sambil menyilang kakinya. Ia menatap satu persatu gambar yang dikirimkan Leo melalui ponselnya.


Leo bisa mendekati rumah itu dengan mudah. Ia menyamar sebagai pembeli dengan sedikit bertanya-tanya pada orang yang melayaninya.


Mata Dani membola begitu ia sampai pada foto yang menampilkan siapa pemilik sebenarnya rumah dan usaha itu. Berdasarkan informasi yang didapatnya dari sang asisten, ada lima orang yang tinggal disana.


"Ternyata dia!" Dani nampak kaget dan tidak percaya.


"Apakah ia sudah menikah lagi? Secepat itu?" gumamnya pelan. "Tapi bukankah gadis kecil itu mengatakan jika ia tidak pernah bertemu ayahnya? Ah ... tidak-tidak, kenapa semua serba kebetulan?" Pemuda itu meremas jemarinya kuat. "Bukankah apapun bisa terjadi dalam beberapa tahun ini, termasuk pernikahan itu."


"Bagaimana, Tuan?"


"Bagus. Tapi kau masih punya satu tugas lagi di Jakarta,"


"Siap, Tuan."


"Bangunkan aku jika sudah sampai," titahnya pada Leo. Pemuda itu meletakkan ponselnya, kemudian menutup matanya dalam keadaan duduk.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pagi, Dad!"


Dani turun dan menyapa sang ayah yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.


Adrian menatap heran sang anak yang nampak bersemangat hari ini. Bahkan pemuda itu sempat mengajak bercanda bibi Yulia.


"Daddy kenapa? Biasa saja melihatnya," ketus Dani yang membuat Adrian kaget. Padahal pemuda itu sama sekali tidak menoleh padanya sedari awal.


"Aku juga biasa, Boy. Apa kau sedang sakit?" Adrian mengejek sambil menggigit sandwichnya sedikit demi sedikit.


"Aku sehat, Dad. Sangat. Apa ada masalah di kantor saat kutinggalkan?".


"Tentu saja tidak. Kantor kembali pada pawangnya bukan? Dan aku tidak pernah membuatnya menjadi rumit seperti yang kau lakukan di awal dulu,"


"Namanya juga baru belajar, Dad. Maklumilah. Lagipula aku sudah menggantinya dengan mendapatkan beberapa tender penting, bukan? Daddy harus mengakuinya, Jangan lupakan itu!" Mata Dani melirik tajam ke arah sang ayah yang tidak mempedulikannya.


"Jadi, kapan?"


"Apanya?"


"Kapan kau siap secara resmi menggantikan Daddy?" tanya Adrian santai. Inilah waktu yang ia tunggu-tunggu. Adrian ingin pensiun dini dan menikmati waktu untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mendadak aku tidak napsu sarapan." Dani menghentikan sarapannya. Dia hampir berdiri saat suara sang ayah mencegahnya.


"Habiskan sarapanmu. Kamu bukan anak kecil lagi, Dan. Jangan selalu lari jika Daddy mengajakmu berbicara serius. Ungkapkan alasanmu dengan jelas, bukan menghindar." Kali ini Adrian tidak akan membiarkan pemuda itu beralasan ini itu yang tidak masuk akal.


Dani mengambil duduknya kembali. Namun untuk meneruskan sarapannya, ia benar-benar sudah malas.


"Asal Daddy tetap mau ke kantor denganku seperti biasa setiap hari. Aku akan menerima menjadi pengganti Daddy," Dani menatap wajah ayahnya dengan berani.


"Jika kau resmi menjadi pengganti Daddy, maka jabatan Daddy selanjutnya adalah komisaris. Mana ada komisaris setiap hari harus juga bekerja sebagai CEO , denganmu pula."


"Lalu Daddy enak-enakan di rumah? Atau bahkan liburan di luar negeri dan tidak kunjung pulang?" ucap Dani kesal. "No! Aku tidak akan membiarkannya."


"Bagaimana kalau jabatanmu yang lama di Swiss kau berikan pada Daddy? Seperti yang pernah kau katakan, bahwa Daddy mempunyai bakat menjadi barista. Daddy akan menambah ilmu lagi supaya lebih ahli. Sepertinya lebih menyenangkan meracik kopi, daripada memegang pena dan bergelut dengan berkas yang kadang kala tidak jelas ujungnya." cerita Adrian untuk mencairkan suasana.


"Aku tidak kuat membayar tenagamu, Dad," celetuk Dani.


"Baiklah. Kuberikan tenaga gratis untuk coffe shopmu sampai kau mampu membayar Daddy dengan layak. Bagaimana? Atau kau membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan permintaan Daddy?" Adrian sangat lancar mengungkapkan keinginannya.


"Aku tidak akan memikirkan ataupun mempertimbangkannya. Sekarang ataupun nanti." Dani mempertegas keputusannya.


"Ayolah, izinkan Daddy istirahat. Kau boleh sekolah setinggi-tingginya, sesuai apa yang kau inginkan. Ini semua akan menjadi milikmu."


"Aku berangkat, Dad." Dani pamit sambil berlalu tidak menunggu jawaban sang ayah. "Aku ingin Daddy tetap dirumah ini," lanjutnya yang lamat-lamat masih terdengar di telinga Adrian.


Sepeninggal sang anak, Adrian melamun. Bahkan kopi yang masih separuh di cangkirnya tak ingin lagi disentuhnya.


Jika disini masih ada Ara, Adrian pasti sangat senang saat Dani memintanya tetap disini. Namun, istrinya itu telah pergi.


Bertahun-tahun bertahan disini, rupanya tidak juga membuat hatinya tenang. Ia hanya bertahan demi Dani. Demi membimbing anak semata wayangnya itu. Untuknya, akan ia lakukan apapun.


Tujuan utamanya adalah agar Dani siap memegang tampuk kepemimpinan, saat semua tanggung jawab yang selama ini ada di pundaknya beralih pada pewaris tunggalnya itu.


Mengapa sulit sekali menemukanmu Sayang? Usiaku hampir setengah abad, aku takut tak memiliki waktu untuk menemukanmu kembali.


Adrian mengesah, ia tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk anak lelakinya itu untuk menurut padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ibu, bagaimana keadaannya? kata Sinta ibu sakit,"


Saat ini, Ara sedang berkunjung ke panti asuhan. Sebenarnya dua hari yang lalu ia sudah datang ke tempat itu. Namun begitu mendengar kabar bahwa bu Fatimah sakit, Ara langsung menyempatkan diri kesana.


"Tuan Adrian setiap tahun selalu kesini, Nak. Di hari ulang tahun pernikahan kalian,"


"Aku tahu, Bu," Ara menghapus basah yang keluar di sudut matanya. "Aku ingin sekali melihatnya, datang juga kesini dihari ia ada disini, tapi aku takut, Bu. Aku takut tidak sanggup pergi darinya lagi."


"Bukankah seharusnya kau mengatakan padanya tentang Merra? Itu hak Merra, Nak."


"Merra juga bertanya terus tentang ayahnya. Hingga terkadang aku bingung membuat alasan, Bu. Entah sampai kapan aku sanggup menyembunyikannya." Mata Ara berkaca kembali, ia tidak lagi bisa menahan isakan tangisnya.


Disini, di kamar ini hanya ada dirinya dan bu Fatimah. Sosok yang sudah ia anggap sebagai ibunya. Hingga ia merasa bebas mengeluarkan segala keresahan dan kesedihan yang ia simpan sendiri selama ini. bahkan ketika ia tidak bisa bercerita pada maminya.


"Jika suatu saat, Tuhan memberimu kesempatan untuk bertemu kembali dengan Adrian. Apa kau mau berjanji pada ibu untuk memenuhi hak Merra mengetahui siapa ayahnya. Meskipun mungkin kondisi hubungan kalian sudah berbeda,"


"Maksud Ibu?"


"Siapa tahu salah satu diantara kalian memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan orang lain."


"Tidak Bu, aku tidak pernah berpikir akan hal itu. Jika mas Adrian memang ingin menikah lagi, aku akan menerimanya." Ara menunduk, hatinya pilu mengatakannya. Nerpisah seperti ini saja membuat hatinya sakit, apalagi mendapatkan kenyataan lelaki yang dicintainya itu menikah lagi.


"Dokter Ori sepertinya menyukaimu." Ara mendongak, kaget dengan apa yang diucapkan bu Fatimah. "Maaf bukannya ibu ikut campur, Nak. Tapi, jika memang sudah tidak mungkin kembali dengan Tuan Adrian. Kau harus menerima orang lain yang ingin menjagamu dan Merra. Gadis kecil itu membutuhkan sosok seorang ayah."


Ara terdiam. Ia meremas jemarinya sendiri kuat-kuat. Seumur hidup ia hanya ingin menjadi istri Adrian, mencintai Adrian, tidak ada orang lain lagi.


Apakah yang dilakukannya dimasa lalu adalah suatu keegoisan? Dan apakah yang dipertahankannya hingga saat ini adalah sesuatu yang dianggap tidak adil untuk putri kecilnya itu?


Dimana seharusnya Merra mendapatakan keluarga yang utuh. Bukan seperti sekarang ini. Tidak mengetahui siapa sosok ayahnya, yang selalu dengan rapi Ara sembunyikan.


"Aku menganggap Dokter Ori seperti adikku, Bu. Tidak ada perasaan apapun padanya."


"Tapi sepertinya tidak dengan dirinya, Nak. Ibu melihatnya beberapa kali menatapmu suka."


"Sinta menyukainya, Bu. Fatma sepertinya juga. Ibu jodohkan saja mereka. Aku ... Aku tidak bisa."


Ara menatap bu fatimah dengan sendu. Atas alasan apapun, ia tidak akan menggantikan Adrian dengan lelaki manapun, baik untuk Merra apalagi dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hai cantik!" Ori melambaikan tangannya pada Merra yang baru keluar dari pintu gerbang sekolahnya.


"Om Ori," pekik Merra sambil melompat kegirangan. Beberapa minggu ini, Ori memang sama sekali tidak mengunjungi Ara. Mungkin gadis kecil ini sangat merindukannya.

__ADS_1


Dokter tampan itu membungkukkan badan dan merentangkan kedua tangannya. Dan Merra langsung berlari memeluknya.


"Nanti mama_"


"Tenang. Om sudah izin sama mama Merra, kalau Om yang akan menjemput di sekolah siang ini," ucap Ori yang juga merindukan Merra. Sungguh, ia tidak pernah dekat dengan anak kecil lain sedekat hubungannya dengan Merra. m


Mungkin ikatan batin mereka kuat, karena terjadi sejak gadis kecil itu baru lahir.


"Mau main ke Time*one?" lelaki berprofesi dokter itu menawarkan pada Merra.


"Berdua saja, Om?"


"Ada seseorang di dalam mobil. Lihat saja." tunjuk Ori ke mobilnya.


Merra mendekat untuk mengetahui siapa sosok yang dimaksud oleh Ori.


"Tante Sinta!" pekiknya kegirangan. Ia juga rindu dengan cerewetnya penghuni panti teman ibunya itu.


Gadis kecil itu bergegas masuk ke mobil meninggalkan Ori yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tante ikut main, kan?" tanya Merra pada gadis kurus yang duduk di depan di sebelah Ori.


"Tante belum pernah kesana. Apa arena bermainnya seperti yang ada dipasar malam, Mer? Tante pusing kalau naik yang berputar-putar itu. Lebih baik tante tidak ikut saja." ucap Sinta yang sebenarnya ingin sekali ikut karena ada Ori namun apa daya, tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.


"Tidak ada seperti itu, Sin. Itu arena permainan bukan wahana-wahana seperti didunia mainan. Ada basket, balapan, capit boneka dan masih banyak lagi." Ori tersenyum geli mendengar penuturan Sinta. Bagaimana mungkin orang segarang sinta malah tidak bisa naik wahana ekstrim yang menurutnya harus dicoba setiap orang itu.


"Benarkah? Tante ikut kalau begitu," Sinta menjadi semangat sekali saat mengucapkannya. "Kita habiskan uang om Dokter ya, Mer," lanjutnya sambil melirik Ori.


"Pasti tante!


"Tenang. Om kuat membiayai kalian seharian ini. Asal jangan minta Time*one nya dibawa pulang saja," kelakar Ori yang disambut tawa ketiganya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Merra kok belum pulang, Nak?" Esther berulang kali mondar mandir ke depan untuk melihat kedatangan cucunya.


"Oh, maaf Mi. Aku lupa mengatakannya. Merra diajak Ori dan Sinta main. Ori sudah lama tidak kesini karena dinas di luar kota. Ia kangen dengan Merra." Ara menjelaskan pada sang ibu sambil menanam beberapa bunga baru.


"Ori siapa, Nak?"


"Aku belum menceritakannya pada Mami ya. Maaf aku lupa Mi" Ara berpindah dari duduknya dibawah mendekat pada esther kini.


"Ori adalah dokter anak di rumah sakit tempat Merra dilahirkan. Ia juga yang mengumandangkan adzan untuk Merra saat itu, Mi." Esther membuka kembali kisah masa lalu.


"Apa kalian_?" Esther menggantung ucapannya. Tapi matanya tak beralih dari Ara.


"Tidak, Mi. Kami hanya berteman. Aku sudah menganggapnya adik." Ara kembali mempertegas statusnya. Ia sampai heran mengapa kedua wanita yang sudah ia anggap orangtuanya itu mengungkapkan hal yang sama.


"Apa ia pernah mengungkapkan isi hatinya padamu?" Ara menggeleng.


Esther merasa semakin aneh. Apa benar-benar masih ada orang seperti itu? Tulus tidak mengharapkan suatu balasan dari apa yang telah dilakukannya bertahun-tahun. Tidak mungkin bukan?


"Kami hanya teman, Mi. Tidak lebih." Ara mempertegas kembali ucapannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Horee...!"


Merra naik bom bom car bersama Ori. Sementara Sinta naik mobil sendiri. Ori berhasil menabrak mobil Sinta hingga gadis itu terdorong mundur. Membuat Merra berteriak senang karena berhasil mengalahkan gadis kurus yang ia panggil tante itu.


"Sudah ah, tante kalah. Harusnya Merra yang melawan tante bukan Om Ori," sungutnya sambil turun dan keluar dari arena bom bom car.


"Yahh ... tante marah, Om." Raut wajah Merra sedih, ia merasa bersalah.


"Kamu hampiri tante Sinta, Sayang. Ajak main capit boneka saja. Biar Om pergi dulu membeli minuman untuk kalian," ucap Ori yang menyusul turun kemudian diikuti Merra dibelakangnya.


"Tante! Kita main capit boneka aja yukk?" Merra menghampiri Sinta yang duduk tidak jauh darinya. "Kita capit boneka yang banyak," ucap Merra yang langsung menarik tangan Sinta ke tempat yang ia inginkan itu.


"Tidak boleh curang lagi, ya." Sinta memberikan syarat pada gadis kecil itu.


"Tidak. Mana bisa capit boneka curang. Kalau tidak bisa mencapit dengan benar, sudah pasti tidak dapat boneka yang diinginkan bukan," ucap Merra cengengesan.


"Berarti kalau main yang lain, Merra berniat curang dong sama tante?"


"Tidak, Tan. Sebenarnya Merra tidak curang tante. Tapi Om ori yang mempunyai ide seperti itu," bisik Merra mendekat pada sinta.


"Ide apa?" Mata Sinta melotot karena kaget.


"Rahasia! ha ha ha,"


💞Hai readers tercinta, apakah aku tanpa kalian. Semoga menikmati hari ini dan menikmati membaca karyaku ini sampai selesai🌹

__ADS_1


__ADS_2