Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 190 Ada Apa dengan Laura?


__ADS_3

"Soto apa itu, Sayang?"


"Soto ayam, Mas. Tapi tidak pakai kuah."


"Bukankah dinamakan soto karena ada kuahnya itu." Adrian semakin bingung mencerna ucapan istrinya.


"Pokoknya aku mau seperti itu." Ara menatap suaminya dengan wajah mengiba. Membuat sang suami serba salah dibuatnya.


"Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar ya. Kita tunggu Elang datang, nanti biar dia yang carikan," ucap Adrian menenangkan wanita di depannya itu.


"Elang? Aku mau Mas yang membelinya. Memangnya aku mengandung anak Elang!" Ara melotot pada sang suami. Ia hanya ingin suaminya yang berangkat, bukan orang lain.


"Hah? Memang tidak boleh ya, Sayang," ucap lelaki itu. Diusapnya tengkuk yang sama sekali tidak gatal. "Aku pikir Elang boleh membantu." Adrian tertawa masam.


"Boleh. Kalau Mas izinkan aku menikah dengan Elang!"


"Eh. Tidak bisa begitu Sayang. Baiklah ... Baiklah daddy yang akan berangkat, Sayang." Adrian mengecup perut serta bibir Ara. Kemudian memeluk istrinya itu dengan cinta.


Untung saja Elang segera datang. Adrian tak mungkin tega meninggalkan sang istri sendiri, serentetan peristiwa yang terjadi membuatnya semakin ketat menjaga keamanan wanita yang dicintainya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nyonya, Tuan terus memanggil nama nyonya,"


Wanita yang sedang naik ke lantai dua itu berhenti. Menoleh dan menatap dengan tatapan menghujam pada asisten rumah tangga yang dengan berani bicara padanya saat ia baru saja tiba.


"Apa kau tak punya sopan santun? Aku baru saja tiba dan bahkan belum mengganti pakaianku!" ucap Laura yang akhirnya berbalik namun tetap bertengger di tangga yang menuju lantai dua itu.


"Maaf, Nyonya. Saya kasihan dengan Tuan. Nyonya sudah lama tidak menemui beliau, sepertinya beliau sangat rindu dengan Nyonya." Asisten rumah tangga yang berumur sekitar 50 an itu mengatakan alasannya.


"Itu bukan urusanmu, Mbok. Kerjakan saja apa yang aku perintahkan, karena sekarang akulah yang menggajimu bukan Tony. Dan satu hal! Jangan pernah mencampuri urusan kami." Laura langsung berbalik dan meneruskan kembali langkahnya yang sempat terhenti.

__ADS_1


"Tapi, Nyonya?"


"Atau kau angkat kaki dari rumah ini!" sahut Laura dengan lantang tanpa memutar tubuhnya ataupun menghentikan langkahnya.


Peringatan keras yang diberikan Laura pada hampir setiap orang yang bekerja di rumah ini, akhirnya mampir juga di telinga Mbok Darmi. Kemarin-kemarin banyak pelayan lain yang mengeluhkan hal yang sama, dan akhirnya mereka keluar karena tidak tahan.


Selalu kasus yang sama, dengan alasan kasihan dengan sang majikan laki-laki mereka memberanikan diri memohon pada sang Nyonya untuk menemui Tuan mereka. Dan jawaban yang sama pula seperti yang didengarnya hari ini.


Mbok Darmi sudah berumur. Disini, tinggal ia sendiri yang senior, hampir semuanya baru termasuk keamanan di depan. Dan wanita paruh baya itu kukuh tidak mau berhenti karena kasihan dengan sang majikan laki-laki yang tengah sakit dan malah terkesan tidak diurus sama sekali oleh istrinya. Tepatnya istri yang sangat dicintainya.


Bahkan, wanita cantik itu telah mengalihkan semua aset Tony atas namanya secara diam-diam.


Coba saja Tuan Besar, yaitu ayah Tony masih ada. Pasti semua ini tidak akan terjadi.


Sayang sekali, orang tua Tony telah meninggal tidak lama setelah Laura ditemukan. Kedua orang itu kecelakaan tunggal saat hendak berangkat mengunjungi anak perempuannya yang merupakan adik Tony.


Sejak saat itulah Tony sendirian. Merawat Laura dan membawa wanita itu ke banyak psikiater. Adik Tony sama sekali tidak mau pulang ke Indonesia, karena masih trauma dengan kejadian yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Dan Laura, wanita itu berubah 180 derajat dari kepribadian sebelumnya.


Ceklek!


Wanita paruh baya itu melangkah ragu. Takut mengecewakan hati Tuannya lagi. Padahal tadi ia yang sudah berjanji akan membawa sang nyonya ke kamar ini untuk bertemu dengan Tuannya. Namun ternyata ia datang sendirian.


"Mbok."


"Iya, Tuan. Maaf, saya ...."


"Sudah tidak apa-apa. Aku sudah tahu. Dia baik-baik saja, kan?"


"Nyonya sangat baik, Tuan." Mbok Darmi menghampiri sosok yang ia panggil Tuan itu. Seorang lelaki yang duduk di kursi roda, ia dapat berbicara dengan lancar tapi tidak dengan alat gerak lainnya. Semuanya lumpuh total.


"Hari ini, siapa lagi yang ia pecat?"

__ADS_1


"Belum ada, Tuan. Tapi Nyonya sudah mengancam saya," ucap Mbok Darmi dengan kepala tertunduk. Ya, dirumah ini hanya tinggal mbok Darmi yang tersisa. Semua ART, keamanan bahkan pengawal dari depan hingga belakang sudah dipecat. Dan tentu saja yang menggantikan adalah orang-orang baru yang lebih memilih uang daripada mementingkan hati nurani serta empati mereka. Hingga mereka menjadi seperti robot.


"Mbok, kalau mbok ingin pergi, pergi saja tidak apa-apa. Aku mengkhawatirkan keselamatan Simbok. Aku sudah tidak dapat melindungi Simbok. Melindungi diriku sendiri saja aku tak mampu." Ucapan Tony seperti orang yang tengah putus asa. Mbok Darmi sampai menghapus airmata mendengarnya. Bagaimana mungkin, takdir hidup Tuan Mudanya menjadi seperti ini. Namun lelaki itu tetap kuat dengan tanpa menunjukkan raut wajah sedihnya.


Siapapun yang mengenal Tony tentu mengetahui kisah cinta luar biasanya pada sang istri. Dia bahkan berkorban apa saja untuk menemukan cintanya yang sempat menghilang itu. Namun, sepertinya yang saat ini terjadi sungguh tidak pernah diduga oleh lelaki itu.


"Saya tidak akan ke mana-mana, Tuan. Saya sudah tua, dan seperti yang Tuan tahu saya tidak mempunyai keluarga. Saya akan mengabdikan hidup saya disini dan menemani Tuan, menjaga tuan, sampai datang pertolongan dari Tuhan."


Benar sekali ucapan mbok Darmi, menunggu pertolongan Tuhan. Tony terpuruk dengan keadaannya, dan yang tersisa hanya mbok Darmi, wanita paruh baya yang setia pada keluarganya.


Sebenarnya, awal-awal dulu saat sang Nyonya dikatakan sudah sembuh oleh Tony, mbok Darmi sudah curiga. Namun cinta Tony yang begitu besar pada istrinya menutupi segalanya. Hingga suatu hari, Tony jatuh sakit parah dan Laura memutuskan untuk berpisah kamar, kemudian mengalihkan semua aset yang Tony miliki atas namanya. Dengan alasan agar Laura lebih mudah melakukan segala sesuatu tanpa bolak -balik izin pada suaminya itu.


Ternyata kejadian yang menimpa Laura berbulan-bulan lamanya menggoreskan trauma mendalam pada wanita itu.


Laura membenci Tony atas segala apa yang terjadi padanya. Karena ia diculik oleh Magda, seorang wanita yang merupakan mantan tunangan suaminya itu. Ya, secara tidak langsung suaminya lah akar masalah dari penculikan dan penyekapan itu. Dan yang terjadi sekarang adalah buah dari dendam Laura.


"Ahhhh ... jangan! Pergi! Jangan siksa aku ... Apa salahku?" pekik Laura dengan mata terpejam.


"Tdak ada yang salah denganmu," Wanita itu tersenyum menyeringai, membawa cambuk kecil dalam tangannya yang beruang kali ia lecutkan. Suaranya menggema, dalam tempat gelap yang berbulan-bulan ini ia huni. " Salahnya adalah, karena kaulah wanita yang dicintai oleh Tony."


"Tapi, tapi ... itu bukan salahku."


Ceter! Ceter! Ceter!


"Aaaaaa ... Sakitt ... Hentikan!Sakit ...."


"Hah ... Hahh." Laura terbangun dengan tubuh yang basah oleh keringat. Wajahnya sayu, dengan rambut yang acak-acakan.


Segera diambilnya gelas diatas nakas dan ia teguk isinya hingga tandas. Selanjutnya ia akan keluar menuju balkon dan berdiri disana hingga hampir pagi. Tidak lupa berbatang-batang rokok yang selalu setia menemani.


Mimpi-mimpi itu selalu datang mengganggu tidur nyenyaknya setiap malam. Dia kira dengan membalas semua pada sang suami, yang menurutnya adalah penyebab utama, akan menyembuhkan atau bahkan menghilangkan bayangan-bayangan buruknya selama ini. Namun rupanya tidak, dan semuanya semakin menjadi.

__ADS_1


"Magda *ialan! Bahkan wanita itu sudah mati, namun ia tetap saja menggangguku!" Kepulan asap rokok keluar dari setiap hembusan napas Laura. Hanya benda itulah yang memberikannya sedikit ketenangan pada malam-malam panjangnya.


__ADS_2