
"Ada yang ketinggalan, Pak?" tanya bagian keamanan kepada Adrian dan Elang, yang kembali lagi mendatanginya setelah beberapa saat yang lalu pergi.
"Laura menyuruh saya menunggunya di dalam," ucap adrian membohongi lelaki berseragam keamanan itu.
Ternyata lelaki di depan Adrian itu tidak begitu saja percaya. Ia mengambil ponselnya dari dalam pos dan nampak menghubungi seseorang.
Adrian nampak tenang, meski Elang sudah wara wiri dibelakangnya. Asisten Adrian itu nampak khawatir jika rencana Tuan-nya ini tidak berjalan lancar.
Sudah menjadi prinsip Adrian. Bermain apapun dia akan total. Seperti hari ini, ketika dia memutuskan menolong seseorang yang membutuhkan, dia akan total pasang badan. Jika akhirnya baru mulai saja dia sudah ketahuan, kepalang tanggung. Seandainya terjadi perlawanan hingga akhirnya bentrok pun akan ia lakukan. Yang terpenting, ia bisa menyelamatkan orang yang benar-benar membutuhkan pertolongannya saat ini.
Setelah beberapa lama menunggu, satpam itu kembali menghampiri Adrian.
"Maaf Tuan, sudah menunggu. Saya tidak bisa menghubungi Nyonya Laura. Mungkin beliau sedang sibuk dan menginginkan Anda menunggu." Lelaki itu membukakan kembali pintu gerbang yang telah ia kunci, kemudian mempersilahkan kedua orang yang ia yakini sebagai tamu sang nyonya itu masuk ke dalam rumah.
Elang bernapas lega, begitu juga Adrian. Suatu keberuntungan bukan Laura tidak bisa dihubungi, karena jika tidak, sudah pasti rencana mereka terbongkar.
"Boleh aku minta ganti minumku?" Adrian mengangkat gelas berisi minuman yang tadi disiapkan oleh mbok Darmi dan sama sekali belum ia sentuh. "Sudah dingin."
"Tentu, Tuan. Sebentar." Satpam di rumah Laura itu menuju ke dapur memanggil seseorang.
"Ganti minumannya ya!" ucapnya pada seseorang. Satpam itu entah berbicara kepada siapa karena yang terlihat hanya lelaki berseragam keamanan itu dari ruang tamu.
Adrian berharap wanita paruh baya itu lagi yang muncul. Karena ialah kunci dari semuanya.
"Saya tinggal keluar, Tuan. Permisi." ucap satpam itu, dibelakangnya mengikuti seorang wanita berambut sebahu yang berseragam khas pelayan menuju Adrian.
"Kamu baru disini?"
"Iya, Tuan. Dua bulan ini." ucap wanita yang berumur sekitar tiga puluhan itu.
"Dimana wanita yang sebelumnya?"
"Hah? Oh ... mbok Darmi, dia sedang di kamar Tuan Besar. Dia sebenarnya sudah tidak bekerja di dapur, Tuan. Khusus melayani Tuan Besar saja," ucap wanita itu segera mengambil gelas keatas nampannya.
"Aku mau dia yang mengganti minumanku."
Pelayan wanita itu melirik Adrian, kemudian Elang. Nampak kecurigaan dari tatapan matanya.
"Dia lebih lama darimu bukan? Saat dulu aku sering kesini dialah yang membuatkan minuman sehingga dia sudah hapal. Aku hanya mau dia." Adrian menjelaskan, agar pelayan baru itu tidak curiga.
"Oh, iya Tuan. Semoga dia tidak sibuk, silahkan menunggu," ucapnya sambil berlalu membawa nampan yang diatasnya ada dua gelas minuman yang sudah dingin.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kau mengenal mereka Mbok?"
"Mereka siapa?" tanya mbok Darmi yang sedang merapikan pakaian sang majikan. Ia belum mengerti arah pertanyaan Siti, pelayan baru sang nyonya.
"Dua orang yang dibawah itu," ucap Siti, ia baru diterima Laura dua bulan yang lalu. Seperti perintah sang majikan, ia harus tahu hal sekecil apapun yang terjadi di rumah ini.
Mbok Darmi terhenyak, dia yang sedari tadi menunduk karena sibuk melipat pakaian akhirnya menyadari sesuatu.
__ADS_1
Dua orang yang mengaku tamu sang nyonya tadi rupanya kembali. Apa mereka berdua kembali karena membaca pesannya? Atau ketidaksengajaan karena hal lain?
"Dua orang yang tampan itu?" pancing mbok Darmi untuk memastikan siapa dua orang yang dimaksud Siti.
"Hemm, mbok Darmi mengenalnya?" ulang wanita itu penasaran.
"Oh, mereka tamu Nyonya Laura_"
"Katanya mbok Darmi sudah biasa membuatkan minumannya," potong Siti. Wanita itu menghempaskan tubuhnya diatas kasur kecil tempat yang sama mbok Darmi duduk.
"Hemm? Oh, iya setiap kesini aku yang membuatkannya minum dulu." Sambil menjawab wanita paruh baya itu berpikir, berarti kedua orang itu menerima pesannya. Dan ia bisa meminta tolong pada kedua orang itu karena nyatanya mereka kembali lagi.
"Mbok! Mbok Darmi! Jangan diam saja, cepat sana buatkan minuman untuk mereka. Nanti Nyonya Laura marah-marah karena membiarkan tamunya menunggu tanpa diberi minum." Pelayan baru itu menepuk paha mbok Darmi yang nampak terdiam melamun.
"Oh, iya."
"Jangan ah oh saja, cepat sana!" hentak Siti lagi agar wanita paruh baya itu bergegas.
Mbok Darmi segera berdiri kemudian dalam perjalanan menuju dapur, wanita paruh baya itu nampak menoleh kesana kemari memperhatikan sekelilingnya. Ia berharap dalam hatinya, semoga tidak ada yang mengawasi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Silahkan, Tuan."
Akhirnya mbok Darmi membuatkan minuman baru untuk Adrian dan Elang. Ini adalah sebuah cara, agar jika ada yang melihat mereka, ia bisa cepat mendapat alasan yang tepat.
"Berapa jumlah orang yang ada di rumah ini, Bi. Saat ini?" tanya adrian tanpa basa basi lagi untuk memastikan. Karena Adrian harus tahu siapa saja yang harus dihadapinya.
"Pelayan baru ada lima, Tuan. Saat ini satu ada di ruang laundry, empat lainnya sudah istirahat di kamarnya. Dua keamanan di depan, dan dua orang pengawal Nyonya juga tengah istirahat di kamar mereka, serta saya."
"Dimana kamar Tony?"
"Setelah ruangan ini ada lorong ke belakang hingga ujung, kemudian kekanan, Tuan," Mbok Darmi menjabarkan ruangan tempat Tony berada.
"Apa yang terjadi dengan Tuan-mu?"
Mbok Darmi nampak menyeka air matanya. "Saya tidak bisa menjelaskannya, Tuan. Tapi Tuan Tony pasti bisa menceritakannya pada Tuan-tuan." Suara wanita paruh baya itu parau menahan isakan.
"Ceritakan keadaan Tony saat ini?"
"Tuan ... Tuan lumpuh disemua anggota geraknya. Beruntung tidak dibagian kepalanya. Jadi, Tuan Tony masih bisa berbicara." Mbok Darmi akhirnya tidak dapat lagi menahan tangisan. Yang terdengar saat ini adalah isakan lirihnya.
Jelas sudah. Memang dari awal ada yang janggal dengan Laura. Namun hal itu Adrian abaikan, karena ia hanya orang lain. Tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan rumah tangga mantan kekasihnya itu.
Tony adalah kepala keluarga di rumah ini. Namun mengapa kamarnya ada di lantai bawah? Rumah ini luas dan mewah, memiliki tiga lantai dan juga fasilitas lift. Tidak ada alasan tepat bagi Laura menempatkan sang suami di lantai bawah hanya karena keadaannya.
Wanita paruh baya itu kemudian mendongak, "Saya mohon tolong majikan saya, Tuan. Bawa keluar dari rumah ini, kemana saja asal tidak disini. Saya bersedia merawat beliau."
"Tunjukkan padaku dimana kamarnya, Bi. Kita harus cepat karena ini sudah malam, akan mencurigakan jika kami terlalu lama disini," ucap Adrian segera berdiri.
"Amankan disini, Lang!" titah Adrian yang dijawab anggukan oleh asistennya itu.
__ADS_1
Adrian mengikuti mbok Darmi melewati lorong yang tidak begitu panjang. Nampak keduanya terlibat pembicaraan serius dan mbok Darmi mengangguk-angguk mengerti.
"Kalian mau kemana!?"
"I-ini, Sit. Tuan ini mau ke kamar mandi, kamar mandi tamu sedang rusak krannya jadi aku membawanya ke kamar mandi belakang," mbok Darmi mengucap alasannya.
Mereka berpapasan dengan pelayan baru yang bernama Siti tadi, rupanya wanita itu belum kembali ke kamarnya sedari tadi.
"Oh iya Sit, tadi kedua pengawal Nyonya meminta es teh. Biar aku yang membuatnya, nanti kamu yang antar, ya?"
"Oke!" sahut Siti singkat. Wanita itu nampak bahagia sekali saat tahu akan bertemu pengawal sangat nyonya yang masih muda dan bertampang lumayan itu.
Mbok Darmi menunjukkan kamar mandi beserta kamar Tony dengan bahasa isyarat. Hingga Siti tidak mendengar ataupun menyadari komunikasi mereka berdua.
"Silahkan, Tuan."
Mbok Darmi berbalik setelahnya, dan segera mengajak Siti ke dapur. Wanita paruh baya itu sengaja mengalihkan perhatian Siti dengan menanyainya banyak hal, hingga wanita itu malah berfokus menjawab pertanyaan mbok Darmi.
"Ini Sit. Kalau mau tambah lagi, sudah kubuatkan lebih banyak untuk mereka," ucap mbok Darmi yang menata 2 gelas berisi es teh, dan masih ada lagi 1 teko penuh.
Siti segera membawa nampan itu menuju bangunan belakang rumah, tempat para pengawal Laura istirahaat.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Siapkan Tony, Bi"
Mbok Darmi mengangguk, menyiapkan kursi roda yang ada di sudut kamar. Kemudian bergegas membangunkan sang majikan.
"Tuan, Tuan bangun."
Sayup-sayup suara lirih mbok Darmi menyapa gendang telinga Tony. Tidak biasanya wanita paruh baya itu membangunkannya malam-malam begini.
Tony mengerjap mengumpulkan nyawanya. Samar terlihat ada seseorang dibelakang mbok Darmi.
"Add?" Tony memicingkan matanya, apa benar itu Adrian, atau matanya saja yang sudah tidak baik akhir-akhir ini. Karena beberapa kali ia memang mengeluh pusing, dan semua obat yang disarankan oleh dokter telah ia minum. Namun sepertinya, tidak berefek sama sekali.
"Mau berhutang menceritakan segalanya padaku. Karena Bibi tidak mau mengatakan apapun tentang apa yang kau alami," ucap Adrian mendekat saat ia membantu mbok Darmi mengangkat tubuh Tony.
Lelaki yang menjadi suami mantan kekasih Adrian itu tiba-tiba tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia masih belum percaya jika Adrian lah yang datang menolongnya. Dalam hatinya bertanya, apa yang dilakukan pelayannya itu sampai lelaki seperti Adrian bisa sampai disini.
"Maaf merepotkanmu lagi, Add." Air mata Tony jatuh, rasa hatinya seperti di palu dengan godam raksasa. Karena mendapati kenyataan bahwa bukan tangannya sendiri yang menghapusnya. Namun tangan wanita yang selama ini setia merawatnya bagaikan seorang ibu.
"Sudah, Mbok? Bawa yang diperlukan saja. Jangan lupa bawa semua obat yang dikonsumsi Tony selama ini." Adrian tidak memperdulikan apa yang diucapkan Tony. Bukan karena ia tidak mendengar, tapi lebih karena ia prihatin dengan keadaan lelaki itu saat ini.
Teman sekolah yang tidak pernah dekat dulunya itu sepertinya bertalian takdir dengannya. Karena dua kali ini Adrian lah yang menolongnya.
Tony seperti dirinya, lelaki sukses dan tampan meski garis nasib mereka berbeda. Namun setiap orang belum tentu kuat menjadi seorang Tony apalagi dengan keadaannya saat ini.
🌱Terkadang melakukan sesuatu hanya membutuhkan keyakinan. Namun yang kita miliki selalu kebimbangan🌱
Selamat Hari Senin🌺
__ADS_1
Thank u so much for like 'n comment love❤️