Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 236


__ADS_3

"Nek, Merra menang. Merra mendapatkan dua piala." Gadis kecil itu membanggakan dirinya begitu sampai di rumah.


Pak Santo dan istrinya yang menyambut kedatangan mereka, ikut berbahagia.


"Cucu nenek dan kakek memang hebat," puji bu Santo yang langsung dipeluk Merra.


"Mami kemana, Bu?" Ara celingukan karena tidak melihat sosok sang ibu disana. Biasanya mami Esther paling antusias menyambut Merra pulang.


"Bu Esther tadi izin pergi ke Jakarta. Katanya pembeli tanahnya yang ada di jakarta ingin bertemu," jelas bu Santo.


Ara terdiam sesaat. Mengapa maminya itu berangkat sendiri tanpa memberitahukan padanya. Meski Jakarta hanya beberapa jam dari Bandung, namun ia tetap saja khawatir. Karena beberapa hari ini, sang ibu mengeluhkan kakinya yang sakit.


"Dari pagi, Bu?"


Bu Santo mengangguk membenarkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Esther tertegun di stasiun. Ia berencana pulang ke Bandung sore ini setelah menyelesaikan segala urusannya disini.


Tanah sang suami, satu-satunya yang tersisa dari semua kenangannya di Jakarta telah ada yang membeli. Sebenarnya sulit, sangat sulit melepaskan semuanya.


Apalagi sang suami dimakamkan di kota ini. Jika ia benar-benar menetap di bandung, itu berarti ia harus berpisah dengan sang suami.


Wanita paruh baya itu mengingat masa-masa indahnya dengan Damar sang suami. Seseorang yang meyakinkan dirinya untuk pindah ke Jakarta. Seseorang yang mencintainya tanpa syarat, karena bahkan Esther hanyalah gadis miskin dari sebuah kampung di Bandung.


Dan satu lagi, Esther tidak bisa memiliki anak karena rahimnya diketahui bermasalah saat itu. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil anak dari panti asuhan dari Bandung, kota kelahirannya


Wanita paruh baya itu menghela napasnya panjang. Ditangannya ada kartu nama Adrian yang sedari tadi hanya ia putar-putar tidak jelas.


Selama Ara menjadi putri angkatnya, Esther merasa belum pernah bisa memberinya kebahagiaan sedikitpun. Selalu saja kesedihan dan kesedihan.


Ia bingung apa yang harus ia lakukan untuk memberi Ara kebahagiaan. Jika ia memberi tahu Adrian sekarang dimana istrinya itu berada, sepertinya percuma. Masih ada Dani, anak Adrian yang tidak pernah menyukai putri angkatnya itu.


Jika Adrian membawa Ara kembali, sudah pasti dilema lama akan terulang kembali, dan ujung-ujungnya tidak ada penyelesaian sama sekali.


Esther bangkit, ia mengurungkan diri untuk membeli tiket pulang ke Bandung. Ia akan menemui seseorang berbekal kartu nama itu. Disana tertulis alamat sebuah perusahaan besar. Semoga saja apa yang ia lakukan kali ini membuahkan hasil. Terutama untuk Merra, cucunya yang sangat ia sayangi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Selamat malam, Bu. Ada yang bisa kami bantu," tanya seorang satpam yang mendekati Esther. Karena dilihatnya, wanita paruh baya itu nampak celingukan mencari sesuatu.


"Malam, Pak. Apa benar ini kantor pak Adrian?"


"Benar bu. Tapi pak Adrian sudah pulang sejak sore tadi. Apa ada perlu yang lain?"


"Apa pak Dani juga berkantor di gedung ini ?"


"Maaf Anda siapa ya? Apakah ada janji dengan beliau?"


Esther mengulas senyumnya. Tentu saja wanita paruh baya itu merasa jika bagian keamanan perusahaan besar itu mencurigainya.


"Ini,Pak," Esther menunjukkan kartu nama yang diberikan Adrian. "Saya ada perlu dengan beliau, maksud saya putra pak Adrian. Namun saya tidak tahu dimana kantornya sehingga saya datang kesini," Esther menyampaikan keperluannya meski tanpa diminta.


"Pak Dani memang berkantor disini Bu. Anda sudah ada janji dengan beliau?" tanya satpam mengulangi kembali pertanyaannya. Lelaki yang bekerja di bagian keamanan itu, kini memegang kartu nama Adrian. Ia tahu, jika sang bos tidak pernah memberikan kartu nama sembarangan, sehingga bisa ditebak jika Adrian atau Dani pasti mengenalnya.


"Tidak, Pak." Esther menunduk. "Saya dari luar kota," ucapnya kemudian.


"Sayang sekali. Pak Dani baru saja pulang, Bu. Apa ada yang perlu saya sampaikan, barangkali ibu mau menitip pesan atau apa." Satpam yang awalnya tegas dan kini menjadi ramah itu merasa kasihan terhadap Esther.


"Kalau rumahnya? Ah ... tapi tidak usah saja Pak. Ini sudah malam, saya pasti akan terlambat sampai di rumah nanti," ucap Esther mengurungkan niatnya.


"Nama ibu siapa dan darimana?"


"Saya Esther dari Bandung. Terima kasih ya pak informasinya. Saya pulang saja," ucap Esther pamit.


"Baik Bu, Silahkan."

__ADS_1


Esther meninggalkan gedung besar itu dengan sorot mata kecewa. Karena tidak bisa menyampaikan niatnya. Dia hanya berselisih beberapa menit, setelah pemuda itu meninggalkan kantornya.


Untuk datang ke rumahnya, wanita itu tentu tidak mau. Waktunya sangat sempit. Saat ini sudah malam, Ara juga pasti mengkhawatirkannya. Bahkan ia sengaja menonaktifkan ponselnya, agar putri angkatnya itu tidak bertanya macam-macam. Esther butuh waktu untuk memikirkannya alasannya tentu harus memikirkan alasan kenapa ia sampai malam baru pulang.


Esther mengerjap pelan, duduk di ruang tunggu stasiun malam itu sendirian. Ia tahu, untuk lain waktu nyalinya tidak akan sebesar hari ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Istirahatlah. Nak. Biar ibu yang menunggu mamimu." Bu Santo mengusap lembut punggung Ara yang berdiri di dekat kaca jendela ruang tamu. Matanya tidak lepas memandang keluar dari sehabis Isya sampai sekarang. Bahkan Merra sudah tidur saat ini.


"Mami kemana ya, Bu? Ponselnya tidak bisa dihubungi." Gurat cemas nampak jelas di wajah cantik wanita itu. Berulang kali ia menggigit bibirnya, gelisah karena jarum jam sudah menunjuk di angka 9 malam.


"Berpikirlah yang baik. Mungkin mamimu kehabisan baterai, hingga ponselnya mati. Kami orang tua sering lupa, Nak. Tidak seperti kalian yang masih muda." Bu Santo menenangkan Ara, wanita lanjut usia itu ikut berdiri disampingnya.


"Pakaiannya di kamar masih ada kan, Bu?" tanya Ara tiba-tiba. Membuat bu Santo yang disebelahnya mengernyit bingung.


"Kamu berpikir mamimu pergi meninggalkanmu? Jika ia memang ingin pergi, ia tidak mungkin pamit, Nak. Karena tadi ibu dan bapak ada di kebun sebelah. Ia pasti akan pergi begitu saja, bukannya malah mendatangi kami dan pamit."


"Aku trauma Bu. Dulu juga tidak ada firasat apapun. Mami dan papi baik-baik saja juga sikapnya kepadaku. Tapi ternyata aku diitinggalkan." Mata Ara berkaca. Dadanya sesak mengingat masa lalu. Bagaimanapun Ara merasa Esther adalah ibu terbaik kedua yang ia miliki setelah bu Fatimah.


"Ibu yakin, tidak. Duduklah, kita menunggunya sambil minum teh. Dia pasti kembali." Ara hanya menurut saat bu Santo membimbing dirinya untuk duduk kemudian memberikan secangkir teh yang hampir dingin kepadanya.


Baru saja mereka duduk, terdengar suara motor berhenti diluar. Ara langsung berdiri dan mengintip melalui jendela. Hatinya lega melihat sang ibu tengah turun dari motor ojek online.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Add, apa kabarmu? Kau bahkan lama sekali tidak pernah menghubungiku. Bagaimana juga kabar Ara?" Suara dari seberang mendominasi pembicaraan malam itu.


Aimi, ibu dari Akio tiba-tiba menghubungi Adrian lagi. Selama ini Adrian bukan tidak mengingat wanita Jepang itu. Aimi pun beberapa kali menghubungi, namun Adrian seperti mengacuhkannya. Tentu saja ia hanya ingin menghindari pembahasan tentang Ara. Karena Aimi sudah pasti akan menanyakan istrinya itu. Bibinya itu memang lebih dekat dengan Ara dibanding dirinya.


"Maaf, Tante. Beberapa tahun ini aku sangat sibuk. Aku harus mengajari Dani ini itu tentang perusahaan sebelum hak waris sepenuhnya kuserahkan padanya. Tante sekeluarga sehat?"


"Ya ampun, Add. Kamu sibuk sampai melupakan kami. Kamu sangat keterlaluan, kalian berdua menjadi maniak kerja seperti Om mu saja. Jaga kesehatan Add. Ara_"


-


Adrian menutup panggilan itu sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari sang bibi. Sungguh ia tidak tahu harus membawa pembahasan kemana lagi jika Aimi sudah bertanya tentang hal yang di hindarinya.


Sementara itu di seberang negara, Aimi duduk terdiam. Pemutusan sepihak panggilan teleponnya sangat membuatnya kecewa. Namun Aimi merasakan ada hal lain yang terjadi di Indonesia, yang sengaja ditutupin oleh keponakannya itu. Tapi entah apa. Apakah aimi perlu menyewa seseorang untuk mengetahuinya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mi, capek?" tanya Ara yang duduk di tepi ranjang, melihat sang ibu yang berjalan kesana kemari membersihkan diri kemudian berganti pakaian.


"Maafkan mami, ya. Malam seperti ini baru sampai di rumah," jawab esther yang kini akhirnya duduk di samping Ara, sambil memijat kakinya sendiri.


"Mami ... sebenarnya kemana?" tanya Ara ragu. Ia memang sudah mendengar dari bu Santo, namun tentu Ara ingin mendengarnya sendiri dari sang ibu.


"Mami menemui pembeli tanah, Sayang. Satu-satunya peninggalan ayahmu yang tersisa," ucap Esther sambil menunduk. Mendung bergelayut dimatanya. "Mami ingin tinggal bersamamu disini tanpa memikirkan apapun yang ada di Jakarta. Itu adalah milik ayahmu yang tersisa yang masih mengikat mami disana selain makam papimu."


"kenapa harus dijual? Biarkan itu menjadi tabungan mami,"


"Mami banyak merepotkanmu. Rencananya, hasil penjualan tanah itu akan mami berikan padamu, kamu bisa menggunakannya untuk menambah usahamu ini, Nak." Esther menggenggam erat jemari Ara.


"Tidak perlu, Mi. Jika masih bisa, dibatalkan saja. Biarkan itu untuk tabungan mami."


"Itu keinginan papimu, Nak. Sebelum belum ia menghembuskan napas terakhirnya. Kami tidak memiliki apapun untuk diwariskan padamu. Bahkan mami pikir, kami benar-benar sudah tidak memiliki apa-apa saat pergi dulu. Karena harta kami yang tersisa telah digunakan untuk membayar pendidikanmu. Mami tidak tahu papimu menyimpan ini untukmu." Mata esther basah. Bahkan ia dengan suaminya rela hidup apa adanya hanya untuk mempertahankan tanah itu, agar tidak sampai terjual.


"Mami...." Ara memeluk sang ibu, menangis dibahu wanita paruh bayan


itu karena haru. Padahal ia tadi sempat berpikir jika Esther akan meninggalkanya.


"Biarkan dijual saja, ya. Jika kamu tidak mau menerimanya bisa kamu simpan untuk Merra. Masa depannya tanggung jawab mami juga. Ia cucu mami satu-satunya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Selamat pagi, Tuan. Maaf." Dani berhenti saat mengangguk menjawab salam satpam di perusahaannya yang sepertinya sengaja mencegatnya.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kemarin ada seorang wanita tua, berumur sekitar 50 lebih mencari Tuan. Beliau dari Bandung dan bernama bu Esther," ucap satpam itu setelah diberi izin untuk berbicara oleh Dani.


"Esther, Bandung? Kau mengenalnya Le?" tanya Dani yang dijawab gelengan kepala oleh Leo." Apa mungkin salah satu guru di Tunas Bangsa?"


"Mungkin saja, Tuan. Izinkan saya mencari tahu dulu," ucap Leo yang di jawab anggukan oleh Dani. Pemuda tampan itu pergi ke ruangannya setelah mengucap terima kasih pada bagian keamanan di perusahaannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pe_"


"Dani! apa kabar, susah sekali menemuimu," ucap seorang gadis cantik yang menyanggul rambutnya, dia juga mengenakan stelan blazer dengan rok mini yang memperlihatkan kaki jenjangnya.


"Periksa ini dulu, Le. Setelah ini berikan pada Elang untuk diperlihatkan pada Daddy." Dani hanya melirik sekilas pada gadis yang saat ini menghadangnya. Ia melanjutkan perintahnya pada sang asisten dan dengan kode tangannya, ia segera menyuruh Leo pergi dari sana.


Dani melewati gadis itu begitu saja. Tanpa menyapa apalagi mengajak. Membuat gadis yang tadi berbicara padanya itu kesal. bahkan terlihat menghentakkan kedua kakinya.


namun gadis itu mengekorinya tanpa malu. Vina hanya melotot melihat tingkah tamu Dani yang tidak dikenalnya itu.


"Ada perlu apa?" tanya Dani tanpa basa basi, bahkan pemuda itu tidak mempersilahkan duduk tamunya.


"Ini jam makan siang. Aku mengundangmu ke restoranku, Dan." Wajah cantik itu mengiba di depan Dani.


"Aku masih banyak pekerjaan. Silahkan keluar jika telah selesai," ucap Dani tanpa menatap lawan bicaranya.


"Bagaimana kalau besok?"


"Besok aku juga sibuk!" ketus Dani.


"Baiklah kapan kamu tidak sibuk?" Gadis itu kehabisan cara untuk mengajak Dani.


"Tidak ada! Semua waktuku digunakan untuk sesuatu yang berguna."


"Jadi makan di restoran ku tidak ada gunanya? Ayolah Dan, aku tahu kau membenciku karena perlakuan kakakku dulu padamu. Bahkan aku sudah meminta maaf untuk hal yang tidak kulakukan. Apa itu masih kurang?"


"Kita bukan teman baik. Jadi berhenti mendatangiku apalagi mengajakku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan." Dani memperjelas penolakannya.


Rheina adalah gadis cantik adik kelas Dani dulu waktu SMP. Siapa yang menyangka jika kakaknya adalah teman Dani yang sempat ia pukul karena mengejeknya dulu. Tentu itu alasan yang kedua, sedangkan yang pertama adalah ... karena ia wanita.


"Aku tidak akan menyerah!" ucap Rheina menggertak.


"Terserah! Sekali lagi kau kesini, kau akan berhadapan dengan pengawalku!" jawab Dani santai.


"Aku tidak takut!"


Tanpa pamit, Rheina pergi. Ia sempat berpapasan dengan Leo yang akan masuk ke ruangan majikannya. Wajah Rheina nampak tak seramah di awal.


"Tuan baik-baik saja?" tanya Leo khawatir. Karena dilihatnya, dani memijat pelan kedua pelipisnya.


"Apa aku terlihat tidak baik?" Pemuda itu melirik tajam Leo yang berdiri disebelahnya.


Bagaimana Dani tidak pusing. Ia saja awalnya tidak mengenal Rheina sama sekali. Bahkan ia tidak pernah ingat mempunyai adik kelas tepat di bawahnya yang bernama Rheina. Tapi gadis itu pantang menyerah mengganggunya. Membuatnya kesal bukan main.


Apalagi ketika Rheina menceritakan dengan bangga jika ia adik dari temannya yang pernah bermasalah dengannya, semakin memuncak lah kemarahannya.


Tenggorokan Leo tercekat. Ia hanya khawatir karena tahu sang majikan sangat membenci gadis itu. Namun pertanyaannya yang selalu langsung ke pokok permasalahan sering membawa masalah & sendiri.


"Maaf Tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Sepertinya kita harus memberitahu satpam untuk mengawasi siapa saja yang ingin menemui, Tuan."


"Lakukan saja. Mood ku sangat buruk karena dia." Dani melonggarkan dasinya


Ia berpikir bertengkar sebentar dengan gadis itu membuatnya sangat kesal hingga mempengaruhi dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍎Terima kasih untuk readers semua🍊

__ADS_1


__ADS_2