
"Merra? Sayang, ini sudah jam 6, loh. Perasaan tadi kamu sudah bangun, kok tidur lagi?" Ara masuk ke kamar anak perempuannya. Gorden sudah terbuka, namun gadis kecilnya itu malah meringkuk di ranjang, dengan keseluruhan tubuhnya tertutup selimut.
"Kamu sakit, Sayang?" Ara membuka selimut yang menutupi tubuh kecil itu, kemudian mengulurkan tangannya dan menempelkannya di dahi Merra.
Biasa saja, sedikit hangat mungkin karena tubuhnya terbalut selimut. Tapi Merra tidak mungkin sakit, ucap Ara dalam hati.
Gadis kecil itu menggeleng sambil menatap sang mama dengan sorot sendu. "Ma. Boleh ya, Merra tidak masuk? Bari ini saja," mohon gadis kecil itu tiba-tiba.
"Merra tidak sakit. Apa Merra kecapekan?" Gadis kecil itu menggeleng. "Lalu kenapa tidak masuk sekolah? mama jadi bingung nanti izinnya ke Bu Guru. Tidak apa-apa, tapi tidak mau ke sekolah," ucap Ara lembut.
Wanita itu memasang wajah mengiba pada gadis kecilnya. Ia ingin menunjukkan jika dirinya tidak melarang Merra yang tidak ingin ke sekolah. Namun bukankah alasannya harus jelas.
Dari kemarin, Merra memang sudah nampak berbeda. Sepulang sekolah ia banyak memgurung diri di kamar. Namun ketika dipanggil untuk makan malam, Merra tetap hadir dan setelah itu juga masih ikut berkumpul bersama kedua neneknya. Makan dari itu Ara tidak terlalu memikirkannya, karena putrinya itu masih ceria. Dan hari ini cukup membuatnya terkejut, dengan aksi mogok ke sekolah tiba-tiba.
"Merra tidak mau ikut lomba di sekolah ma," ucap gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.
Sejak kapan Merra menjadi seperti ini. Biasanya ia paling antusias mengikuti lomba. Dari kecil hampir tidak pernah absen mengikuti lomba disekolahnya. Bukan karena sang ibu memaksanya, namun itu keinginannya sendiri.
"Lomba apa, Sayang? Kok malah tidak ikut?" Ara membelai surai hitam gadis kecilnya itu dengan lembut. "Tapi kalau Merra sakit atau lelah, ya ... tidak apa-apa kalau tidak ikut." Ara menegaskan ucapannya namun tetap dengan nada sayang seperti biasa.
"Merra tidak sakit juga tidak lelah!" Gadis kecil itu tiba- tiba berpaling dan membelakangi sang ibu. "Merra tidak punya ayah," bisiknya lirih.
Sepelan apapun suara Merra, karena mereka berdua kini berdekatan tentu tertangkap dengan jelas di telinga Ara.
Lagi.
Pembahasan ini akan terus berulang. Entah sampai kapan.
Wanita itu menghela napasnya panjang. Ternyata tindakannya di masa lalu, mengakibatkan kesedihan untuk putri kecilnya. Sungguh, Ara tidak pernah berpikir sampai kesana.
"Merra mempunyai ayah kok, Sayang," ucap Ara sambil menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan air mata. "Ayah Merra memang tidak disini, tapi dia sangat sayang pada Merra,"
Gadis kecil itu masih nampak merajuk. Dia hanya diam saja saat sang ibu menghiburnya.
"Masuk sekolah, ya. Nanti mama yang menemani Merra lomba." Ara mencoba membujuk gadis kecil itu.
"Tidak bisa, Ma. Kemarin-kemarin sudah sama Mama. Bu guru kemarin mengatakan harus sama ayah, karena akan ada ucapan terima kasih untuk ayah." Merra menarik kembali selimutnya hingga menutupi kepalanya.
"Nanti mama yang izin sama Bu Guru, kalau ayah Merra tidak bisa datang karena harus bekerja."
"Memangnya ayah kerja dimana, Ma? Jauh? Kenapa tidak pernah pulang? Teman-teman Merra yang ayahnya kerja diluar kota sering pulang. Bahkan tiap pulang selalu mengajak mereka bermain. Kenapa ayah Merra tidak bisa. Apa ayah tidak sayang dengan Merra?"
"Ssttttt ... Sayang tidak boleh bicara seperti itu. Ayah dan mama sayang Merra." Napas Ara mendadak sesak mendengarnya. Wanita itu langsung merangsek ikut berbaring kemudian memeluk gadis kecilnya dengan erat. "Ayah belum bisa pulang sekarang. Suatu saat nanti ayah pasti akan menemui kita, Sayang," ucap Ara pilu.
Janji yang mungkin tidak pernah bisa Ara tepati. Karena hal itu sudah menjadi rahasia Tuhan.
"Mama selalu berdoa waktu itu akan datang, Nak. Selalu. Kita berdua merindukan daddymu," ucap Ara dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=
"Kakak tidak mau menikah lagi?"
"Tidak!"
"Sampai kapan menunggunya? Iya kalau dia bisa kembali, kalau tidak?"
"Kamu mau mendahului Tuhan, Ri," ucap seorang lelaki pada sepupunya, Ori.
"Bukan begitu. Dia itu wanita yang sangat beruntung, tapi tidak bersyukur. Bagaimana bisa kakak yang sangat mencintainya malah dibuat sakit. Dan ia malah memilih orang yang dia cintai," ucap Ori berdecak kesal.
Kisah cinta kakak sepupunya yang ia tahu dari awal memang sangat dramatis dan horor. Penuh aksi dan tangis. Tidak seperti dirinya yang lurus. Bagaimana tidak lurus, jika sampai usianya sekarang yang sudah 30 tahun lebih ia malah masih jomblo. Lurus bukan? Dan gelap.
"Buruan cari istri. Profesi kamu sudah menjanjikan, tidak mungkin tidak ada yang mau sama kamu bukan? Perawat, sesama dokter atau bagian kantor di rumah sakit tempat kamu praktek. Banyak pilihan Ri. Sepertinya kamu yang terlalu pemilih," tatap lelaki misterius itu penuh arti.
"Sekalian tukang masak dan juga tukang parkir, lupa ya menyebutnya?" sindir Ori yang jengah karena kakak sepupunya itu selalu begitu. Dia sendiri saja tidak bisa berpaling dari satu orang wanita, malah menasihati dirinya yang jomblo.
"Ha ha ha ha...." Lelaki itu terbahak melihat ekspresi Ori yang bersungut.
"Lagipula mengapa aku yang harus duluan? Seharusnya kakak yang mencari istri dulu. Kakak jauh lebih tua dariku. Jangan menunggu yang itu, sampai kapan?" cibir Ori tidak mau kalah. Bagaimanapun saat ini ia memang belum terlihat dekat dengan wanita, kecuali Ara dan segenap penghuni panti asuhan. Itupun juga karena misi kakak sepupunya itu.
Memikirkan tentang Ara, Ori jadi ingat Merra. Gadis kecil yang sudah seperti anaknya sendiri itu, sangat ia sayangi. Bahkan Ori masih mengingat kala gadis kecil itu lahir, dialah yang mengumandangkan adzan untuk bayi chubby yang sekarang tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik itu.
"Sedekat apa kamu sama Ara?"
"Hah? Biasa saja. Hubungan kami masih seperti dulu. Ara orang yang teguh pada pendirian. Bahkan ia tidak pernah menghubungiku hanya untuk meminta bantuan jika tidak sedang sangat butuh. Seringnya aku yang menawarkan, itupun karena anak buah kakak selalu bergerak cepat mengawasinya," ucap Ori sambil meminum habis es kopi yang ada di depannya.
"Apa ia pernah membicarakan tentang Adrian padamu?" tanya kakak sepupu Ori penasaran.
__ADS_1
"Tidak sedetail itu, Kak. Sekian lama mengenalnya, ia juga tidak seterbuka itu padaku. Aku hanya tahu jika suaminya bernama Adrian dan mereka terpisah bukan berpisah. Aku malah tahu yang lainnya dari Kakak."
"Ara memang unik dan menarik. Pantas Adrian sangat mencintainya," ucap kakak sepupu Ori menambahi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan."
Gadis manis itu mengangkat tangannya, sambil tersenyum menyapa Adrian. Bahkan ia rela menunggu di luar ruangan, berdiri di dekat ruangan Vina.
Mata Vina berbinar. Ia yang berada di belakang Adrian, malah ikut melambaikan tangannya membalas seseorang yang ia kenal itu. Meski bukan sahabat baik, keduanya nampak dekat. Seperti persahabatan mereka dengan Ara.
"Sedang apa kau disini?" tanya Adrian ketus. Padahal sebenarnya ia kaget dengan kedatangan Mela yang bahkan tanpa memberi kabar.
Lagipula, untuk apa memberi kabar padanya. Bukankah yang berhubungan baik dengan gadis itu adalah istrinya.
"Aku...." Wajahnya menghadap Adrian namun mata gadis itu melirik orang dibelakangnya, Elang. Yang bahkan membuang muka tidak mau menatapnya sama sekali.
"Masuk...." titah Adrian kemudian.
Mela mengikuti mereka berdua dari belakang masuk ke ruangan Adrian. Setelah sejenak gadis itu bertegur sapa dengan Vina.
"Aku ingin bertemu Ara, Tuan. Bolehkah?" tanya gadis manis itu tanpa ada rasa bersalah. Mela mengetahui jika Ara pergi dari rumah. Dari saat Adrian menghubunginya untuk menanyakan keberadaan istrinya itu.
Mela pikir, sahabatnya itu pasti kembali. Mana bisa sahabatnya itu tanpa Adrian. Dan ia memang telah lama tidak saling menghubungi dengan Ara.
Kemarin, setelah dari luar pulau ia mendapatkan tawaran bekerja di kantor sebuah tambang di pedalaman Afrika. Disana akses internet tidak stabil, sangat terpencil dan ia tidak pernah pergi keluar dari kondominium yang ia tinggali. Itulah mengapa dia lost contact dengan sahabatnya itu. Dan kini, pengorbanan itu berbuah manis. Beberapa bulan yang lalu, ia dipindahkan ke kantor pusat yang bertempat di ibukota, yaitu Pretoria.
"Keluarlah, Lang," titah Adrian. Elang membungkuk hormat kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Ara tidak ada disini," ucap Adrian yang kini berdiri menatap keluar jendela ruangannya. Dia baru leluasa berbicara sepeninggal Elang.
"Sejak saat aku menghubungimu dan kehilangannya, ia belum sekalipun kembali," ucapan Adrian tak sekeras tadi. Jika tadi ia berkata lantang dan ketus, yang terdengar sekarang lebih ke seseorang yang mengungkapkan kesedihannya.
"Tuan? Selama itu....? Ini bahkan sudah lima tahun lebih berlalu." Mela yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Adrian, tidak bisa menahan air matanya.
"Kukira ia sudah kembali. Tidak mungkin ia bisa pergi darimu, Tuan. Ia sangat mencintaimu," ucap Mela menyangsikan kebenaran yang Adrian sampaikan.
Adrian tidak bisa menjawab apapun. karena kenyataannya cinta saja tidak cukup membuat istrinya itu untuk tetap berada disampingnya. Terlebih lagi, dialah yang menyebabkan Ara harus pergi dan berkorban untuknya.
"Tuan sama sekali tidak mendapatkan kabarnya? Bukankah Tuan orang hebat? Bahkan Tuan tahu siapa yang menculikku dulu hanya dengan mengerahkan anak buah tuan." Mela mengucapkan segala yang ada di kepalanya. Bagaimana mungkin Ara tidak bisa ditemukan, ia tahu sahabatnya itu. Mereka berdua tidak memiliki siapapun di dunia ini kecuali orang-orang di panti asuhan.
"Tuan sudah mencari ke panti asuhan?"
"Iya. Bahkan aku sudah beberapa kali menginap disana."
"Menginap?"
"Setiap hari ulang tahun pernikahan kami. Aku menginap disana, tidur di kamarnya, menempati tempat tidurnya," ucap Adrian sambil menahan sesak di dadanya yang mendadak menyerang.
"Tidak mungkin, Tuan,"
"Sepertinya Ara memang tidak ingin kutemukan. Itulah pesan terakhir yang ditinggalkannya. Dan mungkin Tuhan mengabulkannya. Aku tidak menemukannya dimanapun. Beberapa bulan terakhir, bahkan aku menyewa orang-orang milik sahabatku untuk mencarinya di beberapa kota terdekat. dan hasilnya nihil." Adrian nampak kacau, ia berlarut kembali dalam kerinduannya.
"Bahkan sampai kemarin saat aku masih ada di pedalaman aku tidak percaya Ara bisa meninggalkan anda Tuan. Aku tidak pernah melihat cinta yang begitu besar di matanya kecuali pada anda. Dan bahkan hari-hari aku mengenalnya saat bersama anda, dia selalu saja heboh menyiapkan ulang tahun anda, meskipun anda sering mengajaknya makan malam di luar. Dia tidak pernah mengingat hari ulang tahunnya sendiri, tapi jika aku bertanya tentang anda, semuanya dia hapal di luar kepala." Panjang lebar Mela mengungkapkan apa yang diketahuinya.
"Kau membuatku semakin bersalah Mel," ucap Adrian dalam hati.
Kemana langkahku pergi,
Selalu ada bayangmu,
Kuyakin makna nurani,
Kau takkan pernah terganti,
Saat lautan kau seberangi,
Janganlah ragu bersauh,
Kupercaya hati kecilku,
Kau takkan berpaling.
Walau ke ujung dunia pasti akan kunanti,
Meski ke tujuh samudera pasti kukan menunggu,
__ADS_1
Karena ku yakin, kau hanya untukku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ayo, Sayang, kita masuk," Ara menggandeng gadis kecilnya yang nampak ragu melangkah.
Perjalanan dari rumah sampai ke sekolah yang biasanya hanya setengah jam, hari itu menjadi hampir satu jam.
Hal itu dikarenakan merra sering tiba-tiba berhenti. Kemudian sorot bimbang menggelayut di mata gadis kecil itu.
"Kita sudah terlambat, Ma. Kita pulang saja," ucap Merra yang langsung berbalik menuju mobil.
"Sayang ... mama sudah izin ke Bu Guru,
Merra belum terlambat. Karena hari ini hanya diisi lomba, makanya tidak ada kata terlambat." Ara sampai jongkok di depan gadis kecil itu yang berdiri didekat pintu mobil.
Tatapan Merra serba salah. Ia ingin sekali masuk kesana, dan mengikuti lomba-lomba yang diadakan hari ini. Namun ia malu jika ia datang dengan sang ibu sementara teman-temannya dengan ayah mereka.
"Itu lihat, masih ada yang datang," tunjuk Ara pada seorang gadis kecil berkuncir kuda seusia Merra, bersama seorang perempuan yang ditebak Ara adalah ibunya.
Gadis kecil itu menoleh, dan melihat ke arah Merra. "Merra, ayo masuk bareng aku. Aku juga terlambat." Gadis kecil itu tersenyum, lalu menarik tangan sang ibu mendekati Merra.
"Kamu dengan mamamu juga, Bel?"
"Bukan, dia tanteku. Mama dan papa tidak bisa datang," ucap teman Merra yang bernama Abel, dengan santai.
"Saya bibinya. Orang tua Abel sangat sibuk jadi saya yang menggantikan," ucap wanita itu yang membuat Merra melongo.
Saat ini, ia merasa menjadi anak yang paling tidak beruntung karena tidak bisa bersama ayahnya saat lomba nanti. Namun ternyata masih ada Abel, yang mungkin lebih tidak beruntung.
"Ayo kita masuk," ucap Merra langsung menggandeng Abel. "Ayo Ma, aku mau mengikuti semua lombanya!"
\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mela keluar dari ruangan suami sahabatnya itu. Setelah panjang kali lebar mereka seperti bernostalgia tentang Ara sahabat sekaligus istri yang sangat mereka cintai.
Sebagian besar masa kecil hingga remaja Mela memang dihabiskan dengan sahabatnya itu. Mereka tinggal bersama di panti asuhan sampai sebuah keluarga mengambil Ara untuk dijadikan sebagai anak angkat mereka.
Gadis manis itu menoleh kesana kemari. Mencari sosok Elang yang bahkan tidak terlihat jejaknya sama sekali. Lorong ini nampak sunyi tanpa manusia.
"Kau mencari siapa?"
"Eh...." Mela kaget, kemudian memutar tubuhnya. Dan ia mendapati Elang tengah menjulang dibelakangnya menatap dengan serius. "Tuan Adrian memanggilmu."
Elang hanya mengerjap, untuk menjawab pesan yang disampaikan Mela. Kata-katanya seperti berharga mahal untuk gadis didepannya itu.
Elang hendak pergi saat merasakan tangannya ditarik Mela. Ia berhenti kemudian menoleh dan menatap tangan mereka yang saling melekat.
"maaf." Mela segera melepaskan tangannya. "Lang, masih bolehkah kita...." Gadis itu menatap Elang penuh harap.
"Menikahlah. Dan hiduplah dengan baik. Kamu pantas bahagia." Elang melanjutkan langkahnya.
"Sekalipun hanya untuk bersahabat?"
"Tidak ada persahabatan yang tulus antara laki-laki dan perempuan."
"Aku hanya bahagia saat berada di dekatmu, Lang."
"Kau akan bahagia dengan orang yang menyayangimu." Sejenak kemudian, Elang bergegas membuka pintu, memasuki ruangan Adrian dan menutupnya kembali.
Pintu itu seperti hati Elang. Benteng yang sengaja di bangun lelaki itu pada hatinya terlalu kokoh. Hingga sama sekali tak tersentuh oleh Mela.
Haruskah Mela menikah dengan orang lain? Bahkan kemarin sudah ada yang melamarnya, tapi ia masih ingin berjuang untuk mendapatkan hati asisten Adrian itu. Lanjut? Atau berhenti?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Yee ... Mama... Merra menang," teriak gadis kecil itu kencang. Dari 10 lomba yang diselenggarakan sekolah dan ia mengikuti semuanya, Merra mendapatkan 2 kali juara satu. Ia terlihat sangat bahagia.
Apalagi Ara, wanita itu sedikit bernapas lega melihat merra sudah kembali ceria. Sungguh, pembahasan tentang Adrian dengan Merra adalah hal tersulit untuknya. Ia harus beralasan ini itu untuk menenangkan gadis kecilnya yang sudah mulai berpikir kritis.
Karena selain menenangkan Merra dia juga harus menenangkan dirinya sendiri yang selalu terbawa perasaan jika mengingat suaminya itu.
Merra berlari menyongsong sang ibu yang menatapnya dengan senyum dan merentangkan kedua tangannya.
Ia baru saja menerima 2 hadiah dari hasilnya menjadi juara 1.
"Merra hebat!" ucap Ara bangga. Wanita itu memeluk erat gadis kecilnya.
__ADS_1
"Merra sayang Mama. Merra kangen dengan ayah." Terdengar isakan Merra diantara tangis bahagianya.
💛readers tercinta... Terima kasih selalu dukungannya. Selalu berpikiran positif ya. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Ambil yang baik buang yang buruk.. ganbatte! 💓